NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Rumahhantu
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Setelah berjalan menembus tembok kegelapan yang terasa padat seperti air selama berjam-jam, hambatan pohon dan semak belukar akhirnya menipis. Tanah di bawah kaki mereka kini lebih datar, dan terlihat jelas bekas-bekas jalan setapak batu yang sudah sangat tua, tertutup lumut tebal dan licin oleh genangan yang tak pernah kering.

"Bo bos.. lihat itu..." suara Herman tercekat, jarinya gemetar menunjuk ke depan.

Di tengah perut hutan yang tak tersentuh, terbentang sebuah pemukiman. Namun itu bukan tempat tinggal. Itu adalah kuburan bangunan.

Puluhan rumah panggung kayu dan bambu berdiri berderet rapat. Namun semuanya dalam kondisi mengerikan. Atapnya ambruk terkulai seperti tulang patah, dindingnya bolong-bolong dimakan rayap dan waktu, tiang penyangganya miring nyaris roboh, seolah satu hembusan angin saja sudah cukup untuk meruntuhkan segalanya.

Tidak ada suara. Tidak ada asap. Tidak ada tanda kehidupan. Bahkan serangga dan burung pun sepertinya enggan bersuara di sini. Suasananya mati suri, sunyi yang membekap.

"Kampung hantu," gumam Deri, tubuhnya menyusup bersembunyi di balik punggung Herman. "Tidakkah kalian mencium sesuatu? Ya ampun baunya busuk sekali."

Benar. Bau yang menusuk hidung bukanlah bau kayu lapuk biasa. Itu adalah bau daging busuk yang sudah mengering menjadi debu, bau bangkai yang mendarah daging ke dalam serat kayu. Bau kematian yang tak pernah hilang.

"Mungkin ditinggalkan karena wabah atau pembantaian," kata Sulaiman dingin, matanya mengamati setiap sudut dengan waspada. "Tapi setidaknya ada atap. Kita cari tempat yang masih kokoh."

Mereka melangkah masuk. Suara langkah kaki mereka memecah keheningan yang sebenarnya tak ingin diganggu.

Krak... krak... krak...

Suara papan kayu kering yang diremas beban terdengar sangat nyaring, seperti persendian patah yang digerakkan.

Di sini, teror berubah wujud. Bukan lagi bisikan atau teriakan. Sekarang, mata mereka mulai melihat apa yang seharusnya tak terlihat.

Di antara celah rumah-rumah rusak itu, terlihat bayangan-bayangan samar. Sosok-sosok transparan berpakaian adat kuno, berjalan dengan kepala tertunduk lesu, membawa beban di punggung, atau memikul keranjang. Mereka bergerak lambat, seperti berenang di dalam air yang sangat kental. Mereka tidak menoleh ke arah tiga manusia yang sedang berdiri mengamati, seolah dunia mereka dan dunia manusia bersinggungan namun tak tersentuh.

"Jangan sentuh. Jangan sapa. Jangan memancing," bisik Sulaiman, napasnya tertahan. "Kita hantu di mata mereka, atau mereka hantu di mata kita. Jangan ganggu siklus penjara mereka."

Tiba-tiba, dari bangunan terbesar di tengah kampung, terdengar suara genderang dipukul pelan.

Dummmm... dum... dummmm... dumm..

Getarannya bukan sampai ke telinga, tapi sampai ke ulu hati dan membuat perut terasa sakit, membuat gigi mereka juga bergemeretak tak terkendali.

"Itu... suara sebuah acara," bisik Deri, matanya membelalak ketakutan. "Tapi kenapa sepi sekali? Kenapa tidak ada orang?"

"Acara seremoni kematian, mungkin," jawab Herman datar, sambil tangannya mencengkeram gagang parang erat-erat. "Atau pesta penyambutan tamu... yang tak pernah diundang dan takkan pernah pulang."

Mereka melanjutkan langkah. Di dinding-dinding kayu yang gelap, terlihat noda-noda cokelat kehitaman yang mengering dan mengerut. Sulaiman mendekat, menyentuhnya dengan ujung jari. Teksturnya lengket dan berbau amis.

"Darah," ucap Sulaiman dingin. "Banyak sekali. Seperti ada sungai darah yang mengalir di sini."

Bayangan-bayangan itu semakin padat. Ratusan sosok berjalan bolak-balik, melakukan aktivitas sehari-hari dalam kebisuan total. Wajah mereka pucat pasi, mata mereka kosong melompong, hanya rongga hitam pekat yang menatap ke arah kehampaan.

"Pura-pura buta dan tuli," perintah Sulaiman. "Jangan tatap matanya. Kalau mereka sadar kita nyata, kita akan ikut tinggal di sini menjadi bagian dari mereka."

Di tengah perkampungan mati itu, terdapat sebuah balai desa besar yang atapnya masih sebagian utuh. Tanahnya bersih dari semak belukar, tetapi sedikit licin dan mengkilap, seolah ada yang menyapu setiap hari dengan darah.

"Kita bakar api di sini," seru Sulaiman. "Tempatnya sedikit luas, kita bisa melihat bahaya datang dari segala arah."

Herman dan Deri segera mengumpulkan kayu kering. Api dinyalakan. Percikan api membesar menjadi nyala oranye yang hangat. Cahaya itu menembus kegelapan, memberikan rasa aman yang sangat palsu.

Mereka duduk melingkar. Hanya suara kriuk... kriuk... kayu terbakar yang terdengar hidup di antara orang mati.

"Bos..." panggil Deri pelan, matanya tak lepas dari bayang-bayang di kejauhan. "Kalau kita berakhir di sini... apa kita akan jadi seperti mereka? Berjalan terus menerus tanpa tujuan sama sekali?"

"Kalau kau lemah, ya," jawab Sulaiman ketus. "Tapi kita masih bernapas. Kita diberikan nyali. Adapun mereka hanya sisa-sisa kenangan busuk yang tak bisa pergi."

Namun baru saja kalimat itu selesai diucapkan, angin berubah arah.

Bau kayu bakar tertiup, dan tercium bau lain yang sangat kontras. Bau bunga kamboja yang menyengat bercampur bau pusara kuburan yang mencekik.

Kriuk... krak... kriuk...

Suara langkah kaki kecil menginjak papan kayu kering. Sangat pelan, tapi sangat jelas.

"SIAPA ITU?!!"

Deri melompat berdiri, parang di tangannya gemetar hebat. "KELUAR!! JANGAN SEMBUNYI!!"

Dari balik tiang kayu besar di sudut balai, perlahan muncul dua sosok kecil.

Seorang anak laki-laki dan perempuan. Usia mereka tampak sekitar tujuh dan sembilan tahun. Mereka mengenakan baju kemeja dan gaun kuno yang warnanya pudar, lusuh, dan penuh tambal sulam yang kotor. Rambut mereka panjang, hitam, kusut, dan menjuntai menutupi seluruh wajah.

Mereka berjalan. Kaki mereka tidak menyentuh lantai sepenuhnya. Mereka melayang beberapa sentimeter, meluncur mendekati api unggun tanpa suara.

"JANGAN MAJU!!" teriak Herman, mengacungkan parang tajam. "SIAPA KALIAN?!!"

Dua sosok itu berhenti. Perlahan, dengan gerakan lambat yang mengerikan, mereka mengangkat wajahnya.

Wajah mereka pucat seperti santan basi, dingin seperti bangkai yang sudah tiga hari dikubur. Tapi yang paling membuat darah membeku adalah senyum mereka.

Senyum itu terlalu lebar. Terlalu lebar hingga merekah sampai ke telinga, membelah pipi mereka, memperlihatkan deretan gigi-gigi kecil yang tajam, runcing, dan berkarat seperti besi tua.

"Paman... lapar..."

Suara anak laki-laki itu keluar bukan hanya dari mulutnya, tapi bergema dari seluruh ruangan, dari dinding, dari lantai, dari atap. Suaranya datar, berat, dan tanpa emosi.

"Mau makan... daging..."

"Paman... main... sama kami..." sahut anak perempuan kemudian. Suaranya melengking tinggi, tajam seperti paku yang digoreskan ke kaca, membuat gendang telinga perih dan ingin pecah.

"PERGI KALIAN SETAN!!" teriak Sulaiman kehilangan kesabaran. Ia berdiri dan meraih gergaji mesinnya. "KAMI BUKAN MAKANAN! KAMI BUKAN TEMAN KALIAN!!"

Alih-alih takut, kedua anak itu justru tertawa.

Kikikikiki... hahahaha... wkwkwkwk...

Tawa mereka berubah. Dari suara dua anak kecil, berubah menjadi suara ratusan orang tertawa bersamaan, keras, memekakkan telinga, penuh ejekan dan kebencian.

Tiba-tiba... dunia berubah.

Balai desa yang reyot dan gelap itu seketika bersih, indah, dan terang benderang. Lampu-lampu minyak menyala terang, musik gamelan berdenting keras dan cepat, dan ribuan orang berdiri rapat di sekeliling mereka sambil bertepuk tangan dan menyoraki.

"LIHAT! ADA ORANG GILA! ORANG GILA MASUK KAMPUNG!" teriak orang-orang itu dengan wajah memutarbalik.

"BUNUH MEREKA! MEREKA PEMBUNUH! MEREKA PEMAKAN DAGING!" Teriak kerumunan orang-orang dengan mata yang mulai melotot.

"AAAAAAHHHH!!!" Deri menjerit histeris, menutup mata dan telinganya rapat-rapat. "BOS! JANGAN DENGAR! ITU BOHONG! KITA TIDAK GILA!"

"BUKA MATA KALIAN! ITU ILUSI!!!" raung Sulaiman. Ia mencoba menenangkan suasana, meski suasana hatinya terasa berantakan.

Kedua anak itu berjalan mendekat lagi. Tangan kecil mereka terulur. Jari-jarinya memanjang panjang, melengkung seperti cakar burung bangkai, kuku-kukunya kuning dan tajam.

"Masukkan ke mulut paman... hangat... enak..." bisik mereka bersamaan.

"ARGH!! MATI KALIAN SEMUA!!!"

Sulaiman kehilangan kendali. Dengan sekuat tenaga, ia menendang tumpukan kayu api di dekatnya ke arah kedua sosok jin tersebut.

BYURRR!!!

Api memercik besar ke mana-mana.

Dan seketika...

WUUUUSSSH!

Semuanya lenyap.

Anak-anak hilang. Orang-orang hilang. Musik hilang. Keanehan hilang.

Kembali hanya ada balai kayu reyot, api unggun kecil yang berwarna oranye biasa, dan keheningan yang mematikan.

Namun...

Di lantai kayu yang kering itu, tepat di hadapan kaki mereka yang gemetar, terlihat jelas.

Jejak kaki kecil. Basah. Mengeluarkan air kotor berwarna hitam.

Dan bau anyir darah... yang semakin lama semakin kuat, seolah sumbernya berada tepat di bawah lantai tempat mereka berdiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!