NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Oek... oek...

Tangisan bayi Qinar membelah kesunyian hutan yang mati. Suaranya yang melengking seolah menjadi lonceng makan malam bagi penghuni kegelapan. Di bawah akar pohon raksasa yang melilit seperti jemari monster, keranjang bambu itu tergeletak pasrah di atas tanah yang becek.

Sret... sret...

Semak belukar tersingkap. Seekor serigala hutan bertaring ganda muncul dengan air liur yang menetes-netes. Matanya yang kuning berkilat lapar menatap gundukan daging segar di depannya. Hewan itu merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menerjang dan merobek tenggorokan sang bayi.

Wush!

Sebuah sandal kayu butut melayang cepat dari kegelapan, menghantam dahi serigala itu dengan bunyi tak yang sangat keras.

"Aduh, gusti! Ganggu orang cari jamur saja kau ini, anjing buduk!"

Serigala itu melolong kesakitan sebelum akhirnya lari terbirit-birit masuk ke dalam kabut. Dari balik batang pohon yang besar, muncul sesosok pria tua dengan pakaian yang lebih mirip gombalan lap dapur. Bajunya penuh tambalan, jenggotnya putih berantakan mirip sarang burung, dan baunya... baunya seperti campuran keringat dan arak murah.

Tap. Tap.

Lelaki tua itu mendekati keranjang Qinar. Ia membungkuk, lalu mengupil santai sambil menatap bayi yang kini terdiam itu.

"Heh, bocah. Kamu ini dibuang atau sedang piknik mandiri?" tanya si kakek dengan suara serak yang cempreng.

Qinar kecil hanya berkedip. Bukannya takut melihat wajah keriput yang mirip kulit kayu itu, ia justru menarik-narik ujung jenggot si kakek.

"Aduh! Aduh! Lepas! Wah, tanganmu kecil-kecil begini kuat juga ya," si kakek terkekeh. Matanya yang semula terlihat mengantuk tiba-tiba berkilat tajam saat melihat tanda merah di pergelangan tangan sang bayi.

"Tanda Merah Surgawi?" gumamnya. Ekspresinya berubah serius sejenak, sebelum kembali cengengesan. "Walah, walah... Sepertinya takdir sedang ingin bercanda denganku. Namaku Ki Kusumo, bocah. Dan karena aku sedang tidak punya mainan di gubuk, kamu ikut aku saja."

Hup!

Ki Kusumo mengangkat keranjang itu dengan satu tangan, seolah berat bayi itu tidak lebih dari sehelai bulu. Ia mulai berjalan mendaki lereng terjal Gunung Sandaran yang mustahil dilewati manusia biasa. Anehnya, meskipun ia melompat dari satu batu runcing ke batu lainnya, keranjang di tangannya tetap stabil tanpa guncangan berarti.

"Dengar ya, Qinar—oh, ada tulisan di kainmu. Qinar, ya?" Ki Kusumo bicara sendiri sambil melompat melewati jurang sedalam puluhan meter. Set!

"Di gunung ini, tidak ada pangeran, tidak ada rakyat. Hanya ada yang kuat dan yang mati. Kamu mau yang mana?"

Qinar tentu saja tidak menjawab. Ia justru tertidur pulas di tengah angin badai gunung yang mulai mengamuk.

"Tidur yang nyenyak, bocah. Mulai besok, aku akan memastikan kamu berharap tidak pernah dilahirkan," Ki Kusumo nyengir lebar, memperlihatkan satu giginya yang tersisa di bagian depan.

Sruk... sruk...

Mereka sampai di sebuah gubuk reyot yang bertengger di tepi tebing curam. Atapnya hanya dari daun rumbia, dan pintunya miring hampir lepas dari engsel. Ki Kusumo menendang pintu itu—brak!—lalu meletakkan Qinar di atas meja kayu yang penuh dengan botol-botol ramuan berbau menyengat.

"Selamat datang di neraka kecilmu, Pangeran Buangan."

Ki Kusumo menuangkan cairan berwarna hijau dari botol kusam ke dalam mulut Qinar. Bukannya susu, itu adalah sari pati tanaman gunung yang sangat pahit.

Glek.

Qinar terbangun, wajahnya memerah karena rasa pahit yang luar biasa. Ia hendak menangis, tapi Ki Kusumo langsung menaruh jarinya di depan bibir.

"Jangan menangis. Di sini, air mata itu lebih tidak berguna daripada kotoran kambing. Kalau lapar, olah energi itu jadi tenaga dalam. Ayo, mulai!"

Itulah awal dari hidup baru Qinar. Di bawah asuhan seorang pertapa gila, di sebuah tempat yang bahkan Tuhan pun seolah lupa pernah menciptakannya.

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!