Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24
Iring-iringan tiga mobil SUV lapis baja berwarna hitam pekat membelah jalan tol Cipularang yang diselimuti kabut tebal dan gerimis. Malam itu, perjalanan menuju Lembang tidak terasa seperti sebuah perjalanan nostalgia, melainkan seperti operasi infiltrasi militer.
Di dalam kabin SUV yang berada di tengah, Yvone duduk dengan jantung yang berdebar ritmis. Ia mengenakan jaket kulit hitam, celana jeans gelap, dan sepatu bot pakaian praktis yang disiapkan oleh tim keamanan Dylan dalam waktu kurang dari satu jam.
Di sebelahnya, Dylan sedang memasukkan peluru ke dalam magasin pistol Glock 19. Bunyi logam yang bergesekan itu terdengar dingin dan mematikan di dalam kabin yang sunyi. Sang CEO telah melepas jas mahalnya, kini mengenakan sweater turtleneck hitam ketat dan tactical vest yang tersembunyi di balik jaketnya.
Yvone menatap senjata api di tangan suaminya dengan perasaan campur aduk. "Kau selalu membawa itu?"
Dylan menghentikan gerakannya, menoleh menatap Yvone. Ia menyarungkan pistol itu ke dalam holster di pinggangnya, lalu meraih tangan Yvone yang terasa dingin, menggenggamnya erat untuk menyalurkan kehangatan.
"Hanya saat aku tahu aku akan berjalan ke dalam kegelapan," jawab Dylan tenang. Mata kelam pria itu menatap ke luar jendela yang buram oleh hujan. "Menteri Hadi bukanlah birokrat yang hanya tahu cara memanipulasi kertas. Dia menggunakan pembunuh bayaran untuk melenyapkan ayahku. Aku tidak akan mengambil risiko sedikit pun malam ini."
Yvone mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya ke bahu bidang suaminya. "Rumah kakekku sangat terpencil. Letaknya di pinggiran hutan pinus, jauh dari jalan raya utama. Tidak ada tetangga dalam radius satu kilometer. Ayahku selalu bilang itu adalah tempat yang paling aman untuk bersembunyi dari dunia."
"Dan tempat yang paling mudah untuk disergap tanpa ada saksi mata," gumam Dylan, insting predatornya bekerja. Ia mengangkat tangannya, menyentuh earpiece di telinga kanannya. "Marco. Bagaimana pantauan satelit di lokasi?"
Suara Marco terdengar dari speaker kecil di dasbor. "Visual tertutup kabut tebal, Bos. Tapi detektor termal kami tidak menangkap adanya hawa panas manusia di dalam rumah tersebut. Kosong. Tim penyapu jalan di depan kita juga melaporkan rute aman."
"Tetap siaga. Hadi mungkin tidak tahu dokumen itu ada di sana, tapi dia tahu itu adalah aset keluarga Larasati. Jangan lengah," perintah Dylan, lalu memutus komunikasi.
Dylan menunduk, mengecup puncak kepala Yvone dalam-dalam. "Apa pun yang terjadi di sana nanti, tetaplah berada di belakangku. Mengerti?"
Yvone menengadah, mempertemukan tatapannya dengan suaminya. Tidak ada lagi keraguan di matanya. "Aku mengerti. Tapi berjanjilah, kita berdua harus keluar dari rumah itu hidup-hidup."
"Itu bukan janji, Sayang," bisik Dylan, menyapukan ibu jarinya di pipi Yvone. "Itu kepastian."
Pukul 01.15 WIB. Lembang, Jawa Barat.
Udara dingin pegunungan langsung menusuk tulang begitu Yvone melangkah turun dari mobil. Suara gemerisik daun pinus yang tertiup angin malam terdengar seperti bisikan hantu. Di hadapan mereka, berdiri sebuah rumah kayu dua lantai peninggalan Belanda yang tampak rapuh dan lapuk dimakan usia. Tanaman rambat liar telah menguasai hampir seluruh dinding depannya.
Delapan pria dari tim taktis Alexander Group semuanya bersenjata lengkap dengan peredam suara langsung menyebar, mengamankan perimeter luar dalam keheningan yang disiplin. Pak Joko, yang malam ini mengenakan jaket antipeluru, memimpin jalan menuju pintu utama.
"Kuncinya sudah berkarat, Bos," lapor Pak Joko setelah memeriksa gembok pintu.
Dylan memberi isyarat dengan dagunya. Salah satu anggota tim taktis maju dengan alat pemotong baja hidrolik. Dalam hitungan detik, gembok itu patah tanpa suara bising.
Pintu berderit terbuka, mengeluarkan bau debu, kayu lapuk, dan kenangan yang sudah lama ditinggalkan.
Senter taktis dengan cahaya putih menyapu ruang tamu yang kosong. Perabotan lama ditutupi kain putih yang kini telah menguning. Jaring laba-laba menggantung di setiap sudut. Yvone merasakan dadanya sedikit sesak; bayangan dirinya semasa kecil yang berlarian di ruangan ini berkelebat, kontras dengan kenyataan mematikan yang membawanya kembali ke sini.
"Loteng," bisik Yvone, menunjuk ke arah tangga kayu di ujung ruangan.
Dylan menggenggam tangan istrinya erat, membimbingnya melangkah menaiki tangga yang berderit memprotes setiap pijakan mereka. Pak Joko dan dua pengawal mengikuti di belakang, sementara sisanya berjaga di lantai bawah.
Sesampainya di lantai tiga sebuah ruangan loteng bersudut miring dengan satu jendela bundar berdebu yang menghadap ke hutan pinus Yvone melepaskan genggaman tangan Dylan. Ia melangkah maju perlahan, menghitung bilah papan kayu di lantai, dimulai dari bawah jendela.
"Satu... dua... tiga," gumam Yvone. Ia berjongkok di atas papan kayu ketiga. Tangannya menyapu debu tebal di atasnya. "Di sini."
Dylan berjongkok di sebelahnya. Pria itu mengeluarkan sebuah pisau lipat taktis dari sakunya, menyelipkan mata pisau itu ke celah papan, dan mencongkelnya dengan satu hentakan kuat yang presisi.
Krak!
Papan kayu itu terangkat. Di dalam rongga berdebu di antara balok lantai, tergeletak sebuah kotak logam berwarna abu-abu kusam yang sudut-sudutnya mulai berkarat.
Napas Yvone tertahan. Ia mengangkat kotak logam yang terasa berat dan dingin itu. Ini dia. Bukti yang selama sepuluh tahun mengubur kebenaran dan menghancurkan dua keluarga.
Yvone menyerahkan kotak itu kepada Dylan. Pria itu menatap kotak tersebut dengan rahang yang mengeras sedemikian rupa hingga otot-ototnya terlihat menyakitkan. Lima belas tahun ia memburu hantu yang membunuh ayahnya, dan jawabannya ada di dalam kotak logam ini.
Dengan sekali sentakan, Dylan mematahkan engsel kotak yang sudah rapuh itu.
Kotak terbuka. Di dalamnya, dibungkus dengan plastik kedap udara tebal, terdapat sebuah gulungan cetak biru ( blueprint ) berukuran besar dan beberapa lembar dokumen resmi bertempelkan materai.
Dylan mengeluarkan dokumen teratas. Di bawah cahaya senter, Yvone bisa melihat tanda tangan yang tertera di sana. Tanda tangan Abraham Hartono dan stempel resmi kementerian dengan nama Hadi Suwarno sebagai direktur jenderal saat itu. Dokumen itu secara eksplisit menginstruksikan pembangunan bunker rahasia tanpa pencatatan negara.
"Ini dia," suara Dylan terdengar sangat parau, bergetar oleh amarah murni dan rasa pedih yang akhirnya menemukan muaranya. "Bukti otentik. Bukan sekadar salinan digital. Tinta ini... ini adalah surat perintah kematian ayahku yang ditandatangani langsung oleh Hadi."
Yvone menyentuh lengan suaminya, meremasnya lembut. "Kita dapatkan dia, Dylan. Kau berhasil. Ayahmu akhirnya akan mendapatkan keadilannya."
Dylan menutup kotak itu kembali, memasukkannya ke dalam tas ransel anti air yang dibawa oleh pengawalnya. Ia menatap Yvone, matanya yang kelam kini memancarkan rasa terima kasih yang tak terhingga. Pria itu menarik Yvone, mencium keningnya dalam-dalam.
Namun, momen kemenangan itu hancur dalam hitungan detik.
"BOS! KONTAK SENJATA! RING LUAR DITEMBUS!" Suara panik Marco meledak melalui earpiece Dylan, bersamaan dengan suara rentetan tembakan assault rifle yang memecah keheningan malam pegunungan dari arah depan rumah.
DOR! DOR! DOR!
Kaca jendela loteng pecah berkeping-keping akibat peluru nyasar yang menembus dari luar.
Secara insting, Dylan menerjang tubuh Yvone, menjatuhkan wanita itu ke lantai kayu dan menutupi tubuh Yvone sepenuhnya dengan tubuh besarnya sendiri, menghindari pecahan kaca yang berterbangan.
"Matikan senter!" teriak Dylan, menarik pistol dari holster-nya. Loteng itu seketika tenggelam dalam kegelapan total, hanya diterangi oleh kilatan cahaya tembakan dari arah hutan.
Yvone memekik tertahan, menutupi telinganya. Jantungnya seakan melompat keluar dari dadanya. Udara dingin seketika tercampur dengan bau mesiu yang menyengat.
"Hadi mengirim anjing-anjingnya," geram Dylan di telinga Yvone, matanya memindai kegelapan layaknya serigala malam. "Berapa banyak, Marco?!"
"Dua van tanpa pelat nomor baru saja menerobos gerbang depan! Setidaknya ada belasan orang bersenjata laras panjang, Bos! Mereka menggunakan taktik militer! Seseorang membocorkan pergerakan kita!"
Dylan mengumpat kasar dalam bahasa asing. Ia menarik Yvone bangun, menekan tubuh istrinya agar tetap merunduk di bawah garis jendela.
"Joko, amankan tas itu. Lindungi dengan nyawamu," perintah Dylan dingin. Ia kemudian menatap dua pengawal lainnya. "Kita turun lewat tangga belakang. Buka jalan."
Hujan peluru terus menghantam dinding kayu rumah tua itu, membuat serpihan kayu berterbangan layaknya hujan jarum. Dylan memeluk pinggang Yvone erat-erat, memaksa wanita itu berjalan setengah membungkuk menuruni tangga yang sempit dan gelap.
Di lantai satu, situasi sangat kacau. Tim taktis Alexander Group menggunakan meja dan sofa tua sebagai barikade, membalas tembakan ke arah jendela dan pintu depan yang telah hancur. Kilatan moncong senjata (muzzle flash) menerangi ruangan secara sporadis.
"Bos, pintu depan diblokir! Mereka mengepung kita!" teriak salah satu komandan regu sambil memberondongkan senjatanya.
"Lewat pintu dapur! Menuju SUV nomor tiga di area belakang!" balas Dylan.
Ia menarik Yvone menuju lorong sempit menuju dapur. Namun, tepat saat mereka mencapai pintu dapur yang terbuat dari kayu lapuk, pintu itu didobrak paksa dari luar.
Dua sosok pria bertopeng balaclava dengan senapan submachine gun menyerbu masuk.
Waktu seakan berjalan melambat bagi Yvone. Ia melihat moncong senjata itu terangkat ke arah mereka. Ia memejamkan mata, bersiap menyambut rasa sakit yang mematikan.
Tapi rasa sakit itu tidak pernah datang.
Dalam gerakan yang lebih cepat dari pandangan mata, Dylan mendorong Yvone ke balik tembok lorong, memutar tubuhnya, dan melepaskan dua tembakan beruntun dengan presisi absolut.
DOR! DOR!
Kedua penyusup itu ambruk ke lantai tanpa sempat menarik pelatuk, dahi mereka berlubang oleh peluru Glock 19 sang miliarder. Yvone membelalakkan matanya ngeri. Suaminya... suaminya baru saja mencabut dua nyawa dalam sekejap mata tanpa sedikit pun keraguan di wajahnya. Ini bukanlah CEO yang ia lihat di ruang rapat; ini adalah pembunuh berdarah dingin yang lahir dari trauma masa lalu.
"Jangan melihatnya!" bentak Dylan, menarik tangan Yvone dengan kasar agar melangkahi kedua mayat itu dan keluar dari pintu dapur. "Lari menuju mobil!"
Mereka berlari menembus hujan dan lumpur di halaman belakang. Suara baku tembak di dalam rumah terdengar semakin brutal. Marco dan sisa tim yang berada di luar sudah bersiap di samping SUV lapis baja yang mesinnya menderu.
"Masuk! Masuk!" teriak Marco, membukakan pintu penumpang.
Dylan mendorong Yvone masuk ke dalam kabin mobil lebih dulu. Namun, tepat saat Dylan hendak menyusul, sebuah tembakan jitu dari arah rimbunan pohon pinus di atas bukit membelah udara.
Yvone melihat tubuh Dylan terdorong ke depan dengan kuat. Sang tiran tersentak, raut wajahnya mengeras menahan sakit.
"DYLAN!" Yvone menjerit histeris. Tangannya dengan putus asa menarik kerah jaket pria itu dari dalam kabin.
"Aku tidak apa-apa!" geram Dylan. Darah segar mulai merembes dari lengan kiri atasnya, mengotori sweater hitamnya. Peluru itu menyerempet bahunya, nyaris menembus dadanya jika ia tidak bergerak sepersekian detik lebih cepat.
Mengabaikan rasa sakitnya, Dylan melompat masuk ke dalam SUV. Pak Joko yang memegang ransel berisi bukti melompat ke kursi depan. Marco membanting pintu hingga tertutup rapat.
"JALAN! TABRAK APA PUN YANG MENGHALANGI!" raung Dylan kepada pengemudi.
SUV raksasa bermesin V8 itu mengaum layaknya monster mekanik, ban besarnya menggerus lumpur dan melesat maju. Mobil itu menabrak pagar kayu pembatas rumah hingga hancur berkeping-keping, mencari jalur pelarian alternatif membelah hutan pinus untuk menghindari kepungan van musuh di depan.
Beberapa peluru kembali menghantam badan mobil, namun lapisan pelat baja dan kaca antipeluru level B6 milik Alexander Group dengan mudah memantulkannya.
Di dalam kabin yang gelap dan terguncang hebat, napas Yvone tersengal-sengal. Tangannya yang gemetar berlumuran darah segar darah suaminya.
"Kau berdarah... ya Tuhan, Dylan, kau tertembak!" Yvone terisak, segera melepas jaket kulitnya dan menekan luka di lengan kiri Dylan dengan putus asa untuk menghentikan pendarahan.
Dylan bersandar di kursi kulit, napasnya sedikit berat, namun matanya tetap tajam dan tenang. Ia mengangkat tangan kanannya yang tidak terluka, menangkup pipi Yvone yang basah oleh air mata.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Hanya luka gores. Jangan menangis," bisik Dylan, mencoba tersenyum di tengah rasa pedihnya. "Kau aman sekarang. Itu yang paling penting."
"Jangan bicara, simpan tenagamu!" Yvone menekan lukanya semakin kuat, tak mempedulikan tangannya yang lengket oleh darah. Ia menatap Marco yang duduk di depan. "Marco! Hubungi dokter pribadi, siapkan ruang operasi di penthouse atau rumah sakit yang aman! Cepat!"
"Sudah, Nyonya! Helikopter medis darurat sedang menunggu kita di titik ekstraksi Padalarang dalam lima belas menit!" jawab Marco dengan wajah tegang.
Dylan memejamkan mata, membiarkan Yvone merawat lukanya. Di tengah kekacauan dan rasa sakit yang menderanya, ada kepuasan absolut di dadanya.
"Marco," panggil Dylan parau.
"Ya, Bos?"
"Apakah ranselnya aman?"
Pak Joko mengangkat tas ransel yang berlumuran lumpur itu. "Aman, Bos. Buktinya ada di sini."
Bibir Dylan melengkung membentuk seringai iblis yang mematikan. Pria es itu membuka matanya, menatap lurus menembus kaca mobil yang dibasahi hujan.
"Besok pagi," titah Dylan dengan suara rendah yang menggetarkan, "bawa salinan cetak biru dan dokumen itu kepada Kepala Staf Kepresidenan. Berikan juga bukti aliran dana Yanto dari Nadia Pramudya. Menteri Hadi dan keluarga Pramudya telah bermain api. Sekarang... aku akan membakar mereka di tiang pancang."
Hujan turun semakin deras saat konvoi lapis baja itu melesat meninggalkan Lembang, membawa serta senjata rahasia yang akan mengguncang pondasi politik republik ini. Perang yang sesungguhnya belum berakhir; ini adalah permulaan dari kejatuhan para korup ibu kota.