NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:756
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — Mereka Mulai Mendekat

Kegelapan menelan segalanya.

Raka tidak bisa melihat apa pun. Bahkan tangannya sendiri menghilang dalam hitam yang pekat.

Namun justru di situlah semuanya terasa lebih nyata—napas yang bukan miliknya, langkah yang tidak ia buat, dan kehadiran… yang semakin dekat.

“Tenang… tenang…” bisiknya gemetar.

Ia meraba dinding, mencari sakelar lampu.

Jarinya menyentuh permukaan dingin, namun sebelum sempat menekannya—

Sesuatu menyentuh tangannya lebih dulu.

Lembap.

Dingin.

Dan bergerak.

Raka tersentak mundur.

Napasnya memburu.

Jantungnya seperti hendak melompat keluar dari dada.

Lalu terdengar suara.

Bukan dari satu arah.

Dari segala arah.

Dekat.

Sangat dekak.

“Raka…”

“Raka…”

“Raka…”

Namanya dipanggil berkali-kali, dengan nada berbeda. Ada yang pelan, ada yang berat, ada yang seperti berbisik di dalam air.

Ia menutup mata, meski tak ada bedanya dalam gelap.

L

“Pergi… kalian pergi…” katanya, hampir menangis.

Namun suara itu justru semakin jelas.

“Kau yang memanggil.”

Tiba-tiba—

Klik.

Lampu menyala.

Raka langsung membuka mata.

Kamar itu kembali terlihat… tapi tidak seperti sebelumnya.

Dindingnya basah.

Langit-langitnya meneteskan air.

Dan jejak kaki di lantai kini tak terhitung jumlahnya.

Seolah bukan satu makhluk yang masuk—

Melainkan banyak.

Raka berputar perlahan.

Dan saat itulah ia melihatnya.

Bukan hanya satu.

Ada beberapa sosok.

Berdiri di sudut-sudut kamar.

Diam.

Menghadap ke arahnya.

Wajah mereka samar, tertutup bayangan. Namun mata mereka… terlihat jelas.

Kosong.

Gelap.

Dan menatap tanpa berkedip.

Tubuh Raka gemetar hebat.

“Kalian… siapa…?” suaranya nyaris hilang.

Salah satu dari mereka melangkah maju.

Air menetes dari tubuhnya, membasahi lantai.

Langkahnya pelan.

Namun terasa berat.

Seolah setiap pijakan membawa sesuatu yang lebih dari sekadar tubuh.

“Kami… yang kau cari…” suara itu terdengar dari dalam kepala Raka.

Bukan dari mulut makhluk itu.

Yang lain ikut bergerak.

Satu per satu.

Mendekat.

Mengepung.

Raka mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Tidak ada jalan keluar.

Matanya melirik ke meja.

Buku itu.

Masih terbuka.

Halaman berikutnya terlihat jelas.

Cara keempat: Biarkan mereka melihatmu, sebelum kamu mencoba melihat mereka.

Raka terdiam.

Kalimat itu terasa berbeda.

Lebih… mengancam.

“Melihatku…?” bisiknya.

Makhluk di depannya berhenti.

Sangat dekat.

Lalu perlahan…

Wajahnya terangkat.

Untuk pertama kalinya, Raka bisa melihatnya dengan jelas.

Kulit pucat.

Mata hitam kosong.

Dan senyuman yang terlalu lebar untuk manusia.

“Kami sudah melihatmu sejak awal.”

Lampu kembali berkedip.

Dan dalam sepersekian detik—

Semua sosok itu menghilang.

Kamar kembali normal.

Kering.

Sunyi.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Raka terjatuh ke lantai, napasnya terengah-engah.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Karena dari balik pintu kamarnya—

Terdengar suara ketukan.

Pelan.

Teratur.

Tok…

Tok…

Tok…

Raka menatap pintu itu dengan tubuh kaku.

Dan perlahan, gagangnya mulai bergerak sendiri.

Gagang pintu itu bergerak perlahan.

Berderit.

Sekali.

Berhenti.

Lalu bergerak lagi.

Raka terpaku di lantai, napasnya tertahan.

Matanya tidak lepas dari pintu yang kini menjadi satu-satunya batas antara dirinya… dan sesuatu di luar sana.

Tok… tok… tok…

Ketukan itu kembali terdengar.

Lebih pelan.

Lebih dekat.

Seolah bukan dari luar—

melainkan tepat di balik daun pintu.

“Siapa…?” suara Raka nyaris tak terdengar.

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan.

Namun gagang itu kini berputar lebih keras.

Klik.

Pintu terbuka sedikit.

Celah gelap muncul, memanjang seperti mulut yang siap menelan.

Tidak ada cahaya dari luar. Padahal seharusnya lampu lorong masih menyala.

“Ini… nggak mungkin…” bisik Raka.

Ia berdiri perlahan, kakinya gemetar. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai menahannya untuk mendekat.

Namun rasa penasaran—atau mungkin sesuatu yang lain—memaksanya maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Semakin dekat ke pintu.

Udara di sekitarnya menjadi dingin.

Sangat dingin.

Hingga napasnya mulai terlihat seperti uap tipis.

Raka berhenti tepat di depan celah itu.

Ia ragu.

Sangat ragu.

Namun akhirnya, dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu itu perlahan.

Pintu terbuka sepenuhnya.

Dan yang ada di luar…

bukanlah lorong rumahnya.

Melainkan sebuah koridor panjang yang gelap, dengan dinding kusam dan lantai basah.

Lampu-lampu redup menggantung di atas, berkedip pelan, menciptakan bayangan yang bergerak tak wajar.

Raka mundur setengah langkah.

“Ini bukan rumahku…”

Suara langkah terdengar dari dalam koridor itu.

Pelan.

Menggema.

Seolah datang dari kejauhan—

namun sekaligus sangat dekat.

Raka menelan ludah.

Di sisi pintu, buku itu kembali jatuh dari meja. Halamannya terbuka, seolah dipanggil oleh sesuatu.

Cara kelima: Ikuti mereka ketika mereka membuka jalan. Jangan berhenti di tengah, atau kamu tidak akan kembali.

Raka membaca tulisan itu dengan napas terputus-putus.

“Ikuti… mereka?”

Seolah menjawab, bayangan muncul di dalam koridor.

Satu sosok berdiri jauh di ujung.

Diam.

Menghadap ke arah Raka.

Rambut panjangnya tergerai, menutupi wajah.

Sara.

Sosok itu tidak bergerak.

Namun perlahan… mengangkat tangannya.

Memberi isyarat.

Memanggil.

Raka membeku.

“Aku nggak boleh… ini pasti jebakan…” bisiknya.

Namun kakinya… melangkah sendiri.

Satu langkah ke depan.

Masuk ke dalam koridor.

Begitu ia melewati ambang pintu—

BRAK!

Pintu di belakangnya tertutup sendiri.

Raka tersentak dan berbalik.

Pintu itu hilang.

Tidak ada lagi kamar.

Tidak ada jalan kembali.

Hanya koridor panjang yang terasa tak berujung.

Lampu di atasnya berkedip lebih cepat.

Sosok di ujung sana mulai berjalan.

Perlahan.

Menjauh.

Seolah mengajak Raka untuk mengikuti.

Raka menatap ke sekeliling.

Kosong.

Sunyi.

Namun suara lain mulai muncul.

Bisikan.

Dari dinding.

Dari lantai.

Dari dalam dirinya sendiri.

“Jangan berhenti…”

“Ikuti…”

“Ikuti…”

Raka mengepalkan tangan.

Ia tidak punya pilihan.

Dengan langkah ragu—

ia mulai berjalan.

Mengikuti sosok itu.

Masuk lebih dalam ke tempat yang tidak ia kenal.

Dan tanpa ia sadari—

setiap langkahnya menjauhkan dirinya…

dari dunia yang seharusnya ia tinggali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!