NovelToon NovelToon
GOMA: THE REBORN

GOMA: THE REBORN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Action
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Obsidian Dan Dunia Yang Berubah

Episode 10

Aku berdiri di puncak tertinggi Tebing Ratapan sambil merasakan hembusan angin yang jauh lebih berat daripada sebelumnya. Di bawah kakiku permukaan tanah tidak lagi berupa pasir abu abu yang gembur melainkan hamparan batuan obsidian hitam yang mengkilap layaknya cermin gelap. Setiap kali aku menghembuskan napas aku bisa melihat uap tipis keluar dari mulut baruku yang kini sudah memiliki bibir serta jaringan gusi yang lengkap. Rasanya sangat luar biasa sekaligus menakutkan karena aku mulai melupakan rasa hampa saat aku masih menjadi seonggok tengkorak kering beberapa waktu yang lalu.

Dug... dug... dug...

Jantung baruku berdetak dengan ritme yang sangat stabil di dalam rongga dadaku yang kini tertutup otot serta kulit abu abu tebal. Aku bisa merasakan aliran hangat esensi darah merah tua mengalir ke seluruh ujung jari jariku memberikan tenaga ekstra yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sebagai pendaki aku tahu bahwa jantung yang kuat adalah mesin utama untuk bertahan hidup di medan yang ekstrem. Sekarang aku merasa seolah olah aku memiliki mesin abadi yang tidak akan pernah lelah memompa kekuatan ke seluruh otot ototku.

"Selamat datang di Wilayah Tengah Goma. Tarik napas mu sedalam mungkin karena mulai dari titik ini udara yang kau hirup bukan lagi sekadar sisa pembuangan namun adalah energi murni yang bisa memperkuat jiwamu atau justru menghancurkannya jika kau tidak kuat menahannya."

Kharis terbang melayang di sisiku. Ia tampak lebih kecil dibandingkan dengan pemandangan luas di depan kami. Di kejauhan aku melihat sebuah struktur raksasa yang menyerupai sebuah kota kuno namun seluruh bangunannya terbuat dari susunan tulang hitam dan obsidian. Cahaya ungu dari langit Gehenna terpantul di dinding dinding kota tersebut menciptakan suasana yang sangat megah namun penuh dengan aura kematian yang pekat.

"Tempat apa itu Kharis. Itu tidak terlihat seperti sarang mahluk liar."

"Itu adalah Kota Oksidian salah satu dari tiga gerbang menuju pusat Gehenna. Di sana mahluk mahluknya bukan lagi sekadar binatang buas yang bergerak karena lapar. Di sana ada peradaban ada hukum serta ada kasta bangsawan iblis yang memiliki kekuatan yang tidak bisa kau bayangkan saat ini."

Aku menyipitkan mata kuning keemasanku yang baru. Dengan penglihatan Eyes of the Abyss aku bisa melihat aliran energi yang membungkus kota tersebut. Ada semacam dinding transparan yang melindungi wilayah kota dari badai debu luar. Itu adalah penghalang energi yang sangat kuat yang hanya bisa dilewati oleh mahluk mahluk yang memiliki tingkat esensi tertentu.

[ SISTEM: MEMERIKSA STATUS STATUS EVOLUSI ]

[ SISTEM: RAS: DEMON SKELETON (EVOLVED) ]

[ SISTEM: TINGKAT KEKUATAN: LOW TIER MIDDLE REGION ]

[ SISTEM: ATRIBUT UTAMA: KEKUATAN FISIK DAN PENGLIHATAN TEMBUS ]

[ SISTEM: PERINGATAN: ANDA MEMBUTUHKAN IDENTITAS ESENSI UNTUK MEMASUKI KOTA OKSIDIAN ]

Identitas esensi. Itu artinya aku tidak bisa masuk begitu saja sebagai orang asing tanpa tanda pengenal. Dunia ini ternyata jauh lebih teratur daripada yang kuduga sebelumnya.

Aku mulai melangkah menuruni puncak tebing menuju arah dataran obsidian yang sangat luas. Setiap kali telapak kaki baruku yang memiliki bantalan kulit tebal menyentuh batuan obsidian aku merasakan cengkeraman yang sangat kuat. Batuan ini sangat keras jauh lebih keras daripada granit di Bumi. Jika aku harus memanjat dinding kota itu nanti aku akan membutuhkan kuku kuku yang jauh lebih tajam serta kekuatan jari yang lebih besar lagi.

"Kharis bagaimana cara mendapatkan identitas esensi tersebut. Aku tidak ingin tertahan di luar gerbang itu selamanya."

"Kau harus menemukan mahluk bernama Gatekeeper Larvae atau kau harus mengalahkan salah satu prajurit patroli yang biasanya berkeliaran di pinggiran kota. Mereka memiliki kepingan jiwa yang berfungsi sebagai kunci masuk. Tapi ingat Goma membunuh prajurit kota berarti kau menyatakan perang dengan penguasa wilayah ini."

Aku berhenti sejenak kemudian menatap tangan kiri dan kananku. Sekarang kedua tanganku sudah sempurna lengkap dengan otot kulit serta kuku kuku hitam. Aku mengepalkan tinjuku merasakan tekanan udara yang pecah di antara sela sela jariku.

"Aku sudah mati sekali Kharis. Aku sudah kehilangan segalanya di dunia atas. Jika aku harus menyatakan perang dengan seluruh neraka ini hanya untuk mendapatkan apa yang kuinginkan maka aku akan melakukannya tanpa ragu sedikit pun."

Suaraku terdengar sangat dalam serta bergetar dengan penuh otoritas. Kharis sedikit gemetar mendengar ucapanku. Ia menyadari bahwa mahluk di depannya ini bukan lagi sekadar jiwa manusia yang bingung melainkan seorang predator yang sedang membangun kekuasaannya sendiri.

Kami terus berjalan selama berjam jam melintasi dataran obsidian yang sunyi. Di tengah perjalanan aku melihat banyak reruntuhan tulang raksasa yang berserakan. Beberapa di antaranya masih memiliki sisa sisa baju zirah yang sudah berkarat menunjukkan bahwa pernah ada pertempuran besar di tempat ini. Aku membungkuk kemudian mengambil sebuah pecahan pelindung lengan yang terbuat dari logam hitam yang sangat berat.

Logam ini terasa sangat dingin. Ini bukan besi biasa. Ini adalah logam esensi yang bisa menghantarkan energi jiwa.

[ SISTEM: OBJEK TERDETEKSI: PECAHAN ZIRAH BLACK IRON ]

[ SISTEM: ANALISIS: DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN PENGUAT TULANG ]

[ SISTEM: APAKAH ANDA INGIN MENGINTEGRASIKAN LOGAM INI KE DALAM STRUKTUR KERANGKA? (YA/TIDAK) ]

"Ya. Integrasikan sekarang."

Begitu aku memberikan perintah di dalam pikiran telapak tanganku mengeluarkan serat serat syaraf halus yang langsung melilit pecahan logam hitam tersebut. Logam itu perlahan lahan hancur menjadi debu hitam yang kemudian meresap masuk melalui pori pori kulitku menuju ke arah tulang lengan bawahku.

Rasanya sangat panas seolah olah ada cairan timah panas yang sedang dituangkan langsung ke dalam sumsum tulangku. Aku mengerang menahan rasa sakit tersebut sambil mengatur napas ku agar tetap stabil. Aku bisa merasakan tulang radius dan ulna di lengan kiriku menjadi jauh lebih padat serta lebih berat.

"Argh... hrrngh..."

"Apa yang kau lakukan Goma. Kenapa tanganmu mengeluarkan asap hitam."

"Aku sedang memperkuat pondasi ku Kharis. Aku merasa tulang tulang ku masih terlalu ringan untuk menghadapi senjata senjata berat yang mungkin akan kutemui di kota itu nanti."

Setelah beberapa menit rasa sakit itu mereda. Aku mencoba memukulkan lengan kiriku ke arah sebuah bongkahan obsidian yang ada di sampingku.

Brakk!

Bongkahan obsidian yang sangat keras itu retak seketika sementara lengan kiriku tidak merasakan sakit sedikit pun. Tulangku sekarang sudah dilapisi oleh partikel Black Iron yang membuatnya hampir tidak bisa dihancurkan oleh senjata biasa.

[ SISTEM: INTEGRASI LOGAM SELESAI ]

[ SISTEM: ATRIBUT PERTAHANAN TULANG MENINGKAT 30 % ]

[ SISTEM: BERAT TUBUH BERTAMBAH 5 KILOGRAM ]

Berat tambahan ini bukan masalah. Justru ini memberikan momentum yang lebih besar saat aku melayangkan pukulan atau melakukan tendangan.

Kami sampai di sebuah area yang dipenuhi oleh pilar pilar tulang yang tersusun rapi layaknya sebuah kuburan massal yang megah. Di tengah pilar pilar tersebut aku melihat ada tiga sosok mahluk yang sedang berdiri diam. Mereka mengenakan jubah abu abu yang compang camping namun di tangan mereka terdapat tombak panjang yang terbuat dari tulang manusia yang diruncingkan. Wajah mereka tertutup oleh topeng kayu yang memiliki simbol mata satu di tengahnya.

"Goma mereka adalah Silent Watchers. Mereka adalah pengintai dari kota yang ditugaskan untuk mengawasi mahluk mahluk liar yang mencoba mendekati perbatasan. Jangan menyerang mereka jika tidak perlu karena mereka bertarung secara kolektif," bisik Kharis sambil bersembunyi di balik rambut hitamku yang panjang.

Aku mengamati mereka menggunakan Eyes of the Abyss. Aku melihat adanya benang benang energi yang menghubungkan ketiga mahluk tersebut satu sama lain. Jika aku menyerang satu maka dua lainnya akan langsung tahu serta bereaksi dalam waktu yang sama. Ini adalah taktik kerjasama yang sangat efisien.

[ SISTEM: ANALISIS LAWAN: SILENT WATCHERS ]

[ SISTEM: TINGKAT BAHAYA: MENENGAH ]

[ SISTEM: KEMAMPUAN KHUSUS: HUBUNGAN JIWA (SHARED SOUL) DAN MANIPULASI BAYANGAN ]

Salah satu dari mahluk itu menoleh ke arah posisiku. Meskipun wajahnya tertutup topeng namun aku bisa merasakan tatapan matanya yang menembus jiwaku. Ia mengangkat tombaknya sedikit seolah olah sedang memberikan peringatan agar aku tidak melangkah lebih jauh lagi.

"Siapa kau mahluk asing. Kau memiliki bau wilayah luar namun kau memiliki detak jantung wilayah tengah. Sebutkan urusanmu atau jiwamu akan menjadi bagian dari pasir obsidian ini."

Suara mahluk itu terdengar sangat hampa seolah olah suara itu berasal dari dasar sumur yang sangat dalam. Ini adalah pertama kalinya aku berinteraksi dengan mahluk yang memiliki kecerdasan serta kemampuan bicara yang baik selain Kharis.

"Namaku Goma. Aku datang untuk memasuki Kota Oksidian. Aku tidak memiliki urusan dengan kalian kecuali kalian menghalangi jalanku."

Aku menjawab dengan suara yang tenang namun penuh dengan ancaman yang tersirat. Aku tidak akan membiarkan mahluk mahluk ini mengintimidasi ku meskipun mereka adalah prajurit resmi dari kota tersebut.

Ketiga mahluk itu bergerak secara bersamaan membentuk formasi segitiga yang mengurungku. Tombak mereka mulai mengeluarkan aura hitam yang dingin.

"Goma jangan cari masalah dengan mereka sekarang. Kita belum siap menghadapi pasukan kota!" teriak Kharis dengan nada panik.

Aku tidak mendengarkan Kharis. Aku justru merendahkan posisi tubuhku memasang kuda kuda pendaki yang sangat stabil. Aku mengepalkan tangan kananku yang kini sudah diperkuat oleh esensi jantung Blood Vulture sementara tangan kiriku yang sudah dilapisi Black Iron bersiap untuk menangkis serangan apa pun.

"Aku tidak mencari masalah. Aku mencari jalan pulang. Dan jika jalan itu ada di balik kota kalian maka tidak ada satu pun dari kalian yang bisa menghentikan ku."

Atmosfer di sekitar kami menjadi sangat tegang. Debu obsidian beterbangan tertiup angin yang tiba tiba berhenti berhembus. Pertarungan pertama Goma di wilayah peradaban Gehenna akan segera dimulai. Ini bukan lagi tentang memangsa binatang liar untuk bertahan hidup namun ini tentang pembuktian kekuatan di hadapan hukum dunia bawah.

Setiap detak jantungku sekarang adalah genderang perang. Setiap tarikan napas ku adalah persiapan untuk pembantaian. Aku adalah Goma yang telah terlahir kembali serta kota di depan sana hanyalah satu lagi puncak yang akan ku taklukkan dengan tangan berdarah ku sendiri.

1
diy
tetap semangat 💪
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
diy
hmmm menarik☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semakin menarik ☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semangat author💪
M Agus Salim: selalu 💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!