"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.
Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.
Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.
"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Keduanya pun bergegas menuju rumah sakit dengan mobil tersebut, setelah pak Hasan membawa barang-barang pribadi milik pria itu.
Sesampainya di rumah sakit, pak Hasan meminta Dian untuk pergi terlebih dahulu ke ruang rawat inap yang kini ditempati oleh laki-laki yang telah ditolong nya. sementara pak Hasan langsung mengurus administrasi rumah sakit tersebut.
Sesampainya di ambang pintu, terlihat deretan ranjang pasien yang terdiri dari tiga ranjang saling berhadapan dan hanya terhalang oleh gorden.
Diam sendiri sempat mematung saat ini karena dia sendiri tidak tau pasti orang yang telah ayahnya tolong kemarin karena kondisinya dalam keadaan berlumuran darah.
"Maaf nona anda cari siapa?" tanya salah satu keluarga pasien yang kini menghampiri Dian yang terlihat celingukan.
"Saya mencari pria yang kemarin mengalami kecelakaan dan ayah saya yang menolong nya"ucap Dian yang sebenarnya tidak tahu kronologi kejadian tersebut.
"Oh yang kecelakaan itu, nona disana," ucap salah seorang lainnya yang kini menujuk kearah ranjang yang ada di sebelah kiri dari deretan ranjang pasien tersebut.
Dian pun mengangguk pelan dan berjalan melewati pasien lainnya sampai dia tiba di ranjang yang kini menunjukkan keberadaan seorang pria tampan yang terdapat lilitan perban di bagian kepala nya sedang menatap kearah nya.
"Maaf saya anak dari bapak yang menolong anda kemarin"ucap Dian yang kini meletakkan buah tangan, berikut dengan handbag.
Pria tampan itu pun mengangguk pelan, sambil bertanya kepada Dian dengan pertanyaan yang sungguh membuat Dian bingung setengah mati.
"Boleh saya tahu saya ini siapa?" tanya pria tampan itu.
"Astaghfirullah, apa yang saya dengar tidak salah tuan. Apa anda benar-benar tidak mengingat tentang siapa anda?"ujar Dian yang kini menatap kearah lain, karena pria tampan yang ada di hadapannya terus menatap lekat kearahnya saat ini.
"Saya tidak ingat apa-apa bahkan nama saya sendiri pun tidak tahu"ucap nya yang kini terlihat sangat putus asa.
"Anda bisa tunggu bapak saya, mungkin bapak bisa bantu anda mengingat semuanya"ucap Carolina.
"Ada apa nak?"ujar pak Hasan yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ayah tuan ini sepertinya hilang ingatan, dia tidak mengingat apapun tentang dirinya"ucap Dian.
"Astaghfirullah, maaf tuan muda saya pun tidak tau apa yang terjadi pada anda karena yang pertama kali menemukan anda di tepi jalan adalah Mbah Aden yang melihat anda dibuang oleh beberapa orang dari sebuah mobil yang melintas dalam keadaan terikat dan berlumuran darah. Tapi perawat yang menangani anda pertama kali menemukan ini di saku celana yang anda kenakan mungkin ini bisa sedikit membantu"ucap pak Hasan yang kini memberikan dompet dengan isi yang utuh sesuai dengan yang dia terima dari perawat tersebut.
Pria tampan itu pun langsung membuka dompet tersebut dan melihat kartu identitas dirinya. Dan benar saja foto dari identitas itu sama persis dengan dirinya yang sempat bercermin di dalam toilet sebelum mereka datang dengan bantuan perawat.
"Gideon Alexander Tama"lirih nya.
"Ya, tuan, mungkin dengan itu anda bisa mencari tahu tentang Anda karena saya pun belum memberikan barang bukti tersebut pada polisi karena takut anda mencarinya. Semua masih utuh tuan muda, saya tidak mengambil apapun dari sana dan untuk biaya rumah sakit sudah diselesaikan oleh putri saya, mungkin nanti sore kita bisa pulang dan untuk sementara sebelum keluarga anda datang untuk mencari anda, sebaiknya anda tinggal di rumah kami dulu" ucap pak Hasan.
"Terimakasih banyak tuan, saya tidak tau jika anda tidak menolong saya"ucap nya lirih.
"Tidak apa-apa tuan muda, bukankah sesama manusia kita harus saling tolong menolong,"balas pak Hasan sambil menepuk bagian kaki pria tampan itu dengan pelan.
"Eum... tuan, saya tadi belikan bubur. Mungkin ini bukan menu kesukaan anda tapi setidaknya anda harus mengisi perut anda agar obat cepat direspon tubuh dan anda bisa segera pulih. Dan ini, saya tidak tahu apa itu cocok dengan anda atau tidak. Tapi setelah ini anda juga butuh pakaian, meskipun itu barang murah tapi itu baru, maaf tuan saya hanya mampu belikan itu untuk anda"ucap gadis cantik itu.
"Terimakasih banyak nona, maaf merepotkan Anda"ucap pria tampan itu.
"Boleh saya panggil tuan muda dengan panggilan tuan Alex, maaf jika saya lancang"ucap pak Hasan.
"Panggil saja saya Alex, jangan ada kata tuan muda nya. Saya sendiri bingung dengan semua ini"ucap pria tampan itu dengan sopan.
"Ya nak Alex, perkenalkan nama bapak Hasan, dan ini putri pertama bapak, namanya Diandra, tapi orang-orang sering panggil dia Dian, usianya 20 tahun dan ulang tahun nya tinggal satu bulan lagi, dia adalah anak saya satu-satunya, tapi dia memiliki adik sambung yang juga seusianya bernama Nina. Maaf jika kepanjangan semua saya lakukan karena saya tidak ingin anda bingung saat tiba di rumah kami nanti"ucap pak Hasan sambil tersenyum kecil.
"Nona, terimakasih untuk semuanya. Saya janji suatu hari nanti saya akan membalas kebaikan anda"ujar Gideon Alexander Tama.
"Tidak usah pikirkan itu, tuan yang terpenting sekarang anda baik-baik saja, dan simpan semua itu untuk bukti bahwa anda selamat dari kecelakaan maut itu"ucap Dian.
"Beruntung ayah tidak langsung lapor polisi saat itu, Dian yakin bahwa tuan ini adalah korban pembunuhan yang terselamatkan. Dan kalau ada yang tau bahwa dia selamat di media massa atau cetak atau apapun itu. pasti pembunuh nya akan mencarinya kembali"ucap Dian dengan lirih meskipun masih bisa didengar dengan jelas oleh pria yang sedang dia bicarakan dan pria itu pun menatap kagum pada gadis cantik itu.
"Pak Hasan pun membantu pria tampan itu untuk makan, mengingat tangan pria itu masih terdapat bekas luka dan di perban, sementara tangan kirinya masih terdapat jarum infus.
"Ayah Dian pergi kerja dulu, sebaiknya ayah disini jaga tuan ini, biar Dian saja yang beroperasi hari ini"ucap Dian yang kini melihat kearah handphone nya.
"Tidak nak, sebaiknya batalkan saja. Jalur yang akan dilalui hari ini cukup curam, apalagi muatan full"ucap pak Hasan.
"Tidak apa-apa pak, Dian bisa atasi itu, bapak doakan saja agar semua lancar dan dian bawa setoran banyak hari ini"ucap Dian yang tetap kekeuh untuk narik hasil panen orang-orang desa saat ini.
"Kamu memang putri ayah yang paling baik, tapi ingat jangan memikul padi atau apapun, ingat bahu mu baru sembuh dari cedera"ucap pak Hasan yang kini membuat Alex merasa bersalah.
...*****...
Sore hari pun tiba, Alex dan juga pak Hasan sudah tiba di rumah, dan Nina terlihat sangat senang menyambut pria tampan yang pernah dia lihat di beberapa acara TV dan sosial media tersebut.
Nina yakin kedua orang tuanya tidak tahu itu, bahwa pria yang telah sang ayah selamatkan adalah seorang pengusaha muda sukses dengan harta tidak terhitung.
Gadis cantik itu langsung memasang wajah ramah dan lemah lembut, karena dia tau bahwa saat ini pria itu tengah dicari oleh semua orang di kota besar sana.
"Nina, apa kakak mu sudah pulang?"tanya pak Hasan yang tidak melihat keberadaan putrinya itu.
"Ah ayah, kaya yang baru kenal kakak saja. Dia kalau sudah bawa mobil mana bisa pulang cepat, paling juga mampir ke tempat lain ke rumah sesama tukang kuli"ucap Nina yang kini tengah membantu sang ayah untuk membawakan barang-barang milik Alex masuk.
"Kalian sudah tiba, ibu baru dari pasar, soalnya Nina ingin makan malam dengan rendang"ucap wanita paruh baya yang kini terlihat bahagia saat melihat pria tampan yang mungkin akan cocok untuk menjadi calon mantu nya.
"Bu, ini tuan Alex yang ayah selamatkan bersama warga kemarin, silahkan duduk tuan, saya akan siapkan kamar untuk anda istirahat"ucap Nina yang kini dibalas anggukan pelan oleh Alex.
"Bu, apa Dian tidak menghubungi ibu, kenapa jam segini belum kembali"ucap pak Hasan yang kini terlihat gelisah.
"Oh tadi dia titip pesan pada Afandi, dia bilang masih nguli, mungkin sedikit pulang terlambat."ucap wanita yang kini membawa belanjaan tersebut menuju dapur.
"Nak, nak, kamu itu selalu seperti ini... andaikan saja dulu kamu kuliah mungkin tidak akan seperti ini. Maafkan ayah,"lirih pria paruh baya tersebut.
"Boleh saya tahu Dian kerja apa pak?"ucap Alex.
"Dia selama ini kerja serabutan nak, kadang nanam padi di sawah, kuli panggul padi dan terkadang jadi kernet bapak saat angkut hasil panen orang. Putri bapak tidak pernah bisa diam, dia juga selalu membantu perekonomian keluarga"ucap pak Hasan.
"Lalu sekarang kenapa belum kembali, ini sudah larut sore?"ucap pria tampan yang kini ikut khawatir pada gadis baik itu.
"Dia ngangkut hasil panen orang-orang di desa sebelah, menggantikan bapak yang tidak bisa pergi. Mungkin saat ini dia sedang kesulitan karena jalanan cukup terjal dan extreme"ucap pak Hasan yang kini bangkit dari duduknya.
"Nina ayah pinjam motor mu dulu, ayah mau nyusul kakak mu"ucap pak Hasan.
"Ya ayah,"balas Nina dari arah kamarnya.
"Nak saya tinggal dulu ya, obat-obatan ada di tas yang dibawa Nina jika bapak terlambat pulang"ucap pria paruh baya itu.
"Iya pak terimakasih, hati-hati dijalan semoga semua lancar"ucap Alex.
"Terimakasih na, Nina jaga nak Alex sampai ayah kembali nanti"pesan pak Hasan.
"Ya ayah jangan khawatir, Nina juga sudah selesai menyiapkan tempat istirahat untuk tuan Alex"balas Nina yang sudah tidak didengar oleh pak Hasan.
Sementara itu di jalanan perkebunan, Dian tengah sibuk memikul padi yang akan dia angkut ke mobil bersama yang lain berikut dengan pemilik padi.
Siang ini Nina sudah tiga kali mengangkut padi dan pisang milik orang yang selama ini selalu berlangganan pada ayahnya.
Gadis cantik itu bahkan sudah tidak peduli dengan peluh yang membanjiri wajah dan tubuhnya. Baginya tidak ada kata menyerah pada rasa lelah selagi masih ada pekerjaan yang bisa ia kerjakan untuk mengais rezeki yang halal.
Handphone nya pun habis baterai dan terletak di dalam dasbor penyimpanan, dia tidak tau kalau sang ayah menghubungi nya.
Sampai pukul delapan malam, setelah pak Hasan bolak-balik mencari keberadaan putrinya yang tidak kunjung ditemukan pun akhirnya suara deru mesin mobil pick up pun terdengar, saat ini semua orang sudah berada di ruang TV sedang menunggu kehadiran nya.
Pak Hasan langsung bangkit dan berjalan keluar rumah menyambut putrinya yang sudah membuat dia khawatir setengah mati.
"Ayah Dian pulang,"ucap nya sambil tersenyum manis meskipun raut wajah lelah dan keringat bercucuran di dahinya itu masih terlihat jelas.
"Nak, kamu darimana saja ayah sangat khawatir. Kamu tidak bisa dihubungi"ucap pak Hasan yang kini terdengar pelan oleh Alex yang sedang berada didalam rumah.
"Tadi ada dua rit tambahan yah, dan Alhamdulillah semua lancar berkat doa ayah, sepertinya besok kita bisa rawat si Optimus"ucap gadis cantik itu sambil berjalan masuk kedalam.
"Nak seharusnya kamu jaga tubuh mu baik-baik jangan terlalu lelah dalam bekerja, kamu masih sangat muda dan itu bukan pekerjaan untuk mu nak, ayah khawatir kamu kenapa-napa"ucap pak Hasan yang kini mengusap bahu putrinya itu.
"Justru karena Dian masih muda, Dian harus bekerja keras untuk membantu ayah, mungkin setelah menikah Dian tidak akan bisa melakukan itu lagi. Ayah jangan khawatirkan Dian yah, Dian akan baik-baik saja berkat doa ayah.
"Ah iya ini hasil narik hari ini"ucap Dian yang kini menyerahkan dompet setoran yang selama ini selalu menjadi tempat penyimpanan upah milik pak Hasan dan juga Dian.
"Nanti saja nak, sebaiknya kamu bersih-bersih dulu setelah itu makan dan istirahat"ucap sang ayah.
"Baik ayah, tapi ini terima dulu, Dian mau langsung mandi"ucap gadis cantik dengan t-shirt panjang yang lusuh dan juga celana jeans robek-robek yang selama ini menjadi pakaian dinas nya. Tidak lupa dengan topi yang masih bertengger di puncak kepala nya.
"Eh ratu nguli sudah pulang?"ujar Nina dengan sengaja.
"Hm..."balas Dian malas sambil berjalan meninggalkan mereka.
"Minta ganti ya, bensin aku habis gara-gara ayah bolak-balik nyariin kamu"ucap Nina.
"Minta sama ayah, dasar perhitungan"ujar Dian yang kini membuat seseorang menatap lekat punggung gadis cantik yang kini terlihat dekil itu.
"Tuan Alex, bagaimana rendang buatan ibu enak bukan?"ujar Nina sambil duduk di tepi sofa.
"Hm..."lirih Alex yang kini menatap kearah lain.
Dian sendiri kini melihat bekas luka lecet di pundak nya setelah memikul padi hampir dua puluh karung, mungkin luka itu tidak seberapa dibanding dengan lukanya saat melihat ketidakberdayaan sang ayah saat kedua wanita itu menuntut nafkah berlebih darinya.
"Ini tidak seberapa Dian, kamu harus kuat"ucap Dian pada dirinya sendiri.
"Wow, hebat juga dia cari uang"ucap Nina yang kini melihat beberapa juta uang yang ada di dalam dompet tersebut.
"Dia pasti kuli pikul lagi, karena kalau hanya ngangkut, uangnya dapat segini"ucap pak Hasan.
Sementara Alex merasa kasihan pada nasib dari gadis malang itu.