"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Suasana dapur yang tadinya hanya diisi suara denting sendok mendadak senyap total. Mbak Diana masih berdiri di ambang pintu, menatap Mas Dika dengan sorot mata yang tak percaya. Tawaran "rendang Ibu" itu jelas bukan sekadar ajakan makan, melainkan sebuah ujian kesetiaan. Aku menahan napas, jemariku meremas pinggiran kain daster, menunggu jawaban pria di sampingku.
Mas Dika tidak langsung menoleh. Ia menyendok nasi ke mulutnya, mengunyah pelan, lalu meletakkan sendoknya dengan tenang. Ia mendongak, menatap kakaknya dengan sorot mata yang kini jauh lebih tegas dari sebelumnya.
"Mbak, sampaikan salam buat Ibu. Bilang terima kasih rendangnya," ucap Mas Dika, suaranya rendah namun berwibawa. "Tapi Dika makan di sini saja sama Aira. Masakan di sini juga enak, kok."
Mbak Diana mendengus, wajahnya memerah padam. "Dika! Kamu sadar nggak sih apa yang kamu omongin? Ibu itu nungguin kamu! Kamu tega lebih milih makan di dapur kusam ini daripada pulang nemuin Ibu yang lagi sakit?"
Mas Dika berdiri, posisinya kini melindungi dudukku. "Dika tahu Ibu sakit, dan Dika bakal pulang sore nanti. Tapi Mbak harus ingat, sekarang Aira adalah istri Dika. Di mana pun Dika berada, Aira harus ada di samping Dika. Jadi, Mbak Diana pulang saja dulu bareng Mas Bayu dan Bapak. Sore nanti, Dika sendiri yang akan antar Aira ke rumah."
"Kamu mau bawa dia ke rumah Ibu?!" Mbak Diana berteriak kaget, jarinya menunjuk tepat ke arahku dengan jijik. "Kamu mau bikin Ibu pingsan lagi?"
"Aira bukan lagi orang asing, Mbak. Dia menantu Ibu sekarang," balas Mas Dika tanpa ragu. "Kalau Mbak nggak mau bareng kami, ya sudah. Tapi keputusan Dika sudah bulat. Aira pulang bareng Dika."
Mbak Diana menyambar tasnya dengan kasar, menatap kami berdua seolah kami adalah wabah. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan melangkah pergi dengan hentakan sepatu hak tinggi yang menggema di seluruh rumah. Tak lama kemudian, suara mobil Mas Bayu menderu meninggalkan halaman, membawa amarah yang belum padam.
Mas Dika kembali duduk di sampingku. Ia meraih tanganku yang gemetar, menggenggamnya erat. "Maafin Mbak Diana ya, Ra. Mulai sekarang, kamu nggak sendirian lagi. Mas yang bakal pasang badan buat kamu di rumah nanti."
Aku menatap piring nasiku yang tinggal separuh. Kelegaan sempat mampir di hatiku karena pembelaan Mas Dika, namun rasa takut yang baru justru muncul. Sore nanti, aku akan memasuki "kandang singa" rumah mertua yang sejak awal sudah menutup pintu untukku.
"Sore nanti kita mampir ke klinik ya? Kita periksa kandungan kamu. Mas mau tahu perkembangan anak kita di dalam sana, Yang," ucap Mas Dika lembut sembari mengusap punggung tanganku.
Kalimat itu seketika membuat gumpalan nasi di tenggorokanku terasa sulit ditelan. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena ini adalah pertama kalinya seseorang secara terang-terangan mengakui keberadaan janin ini sebagai "anak kita". Selama enam bulan ini, aku hanya mengenalnya sebagai "beban" atau "rahasia". Mendengar Mas Dika menyebutnya dengan nada penuh damba, ada sesuatu yang hangat namun perih menyelinap di dadaku.
Mas Dika meletakkan sendoknya, lalu dengan sigap meraih piring kosongku sebelum aku sempat beranjak. "Biar Mas saja, Ra. Kamu duduk saja, jangan banyak gerak dulu," ucapnya lembut. Aku terpaku melihatnya. Mas Dika, pria yang biasanya dilayani oleh Ibunya, kini dengan canggung membawa piring-piring kotor itu ke wastafel dapur. Ia menyingsingkan lengan kemejanya, membiarkan bunyi kucuran air menjadi latar keheningan di antara kami.
Baru saja ia hendak menyabuni piring, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Bapak muncul di ambang pintu dapur. Beliau masih mengenakan sarung dan kopiahnya, wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya yang tajam langsung tertuju pada Mas Dika yang sedang sibuk di depan wastafel.
Bapak terdiam sejenak, menatap pemandangan itu dengan kening berkerut. Seumur hidup, Bapak tidak pernah membiarkan dirinya atau tamu laki-laki menyentuh cucian piring, tapi kali ini beliau tidak menegur. Beliau melangkah masuk dan duduk di kursi kayu tepat di hadapanku.
"Dika," panggil Bapak, suaranya rendah namun berwibawa.
Mas Dika segera mematikan keran, mengelap tangannya yang basah pada serbet, lalu berbalik dengan sikap hormat. "Iya, Pak?"
Bapak menatap Mas Dika lekat-lekat, lalu beralih menatapku sejenak. "Kamu benar-benar mau bawa Aira ke rumahmu sore ini? Kamu sudah pikirkan risikonya? Saya tidak mau anak saya baru sampai di sana sudah disuguhi air mata lagi."
Suasana mendadak tegang. Pertanyaan Bapak adalah bentuk kekhawatiran seorang ayah yang sudah hancur hatinya, namun tetap ingin melindungi sisa-sisa harga diri anaknya.
Mas Dika menarik napas panjang, ia melangkah mendekat dan berdiri di samping kursiku, tangannya mendarat di bahuku seolah memberi perlindungan. "Dika sadar, Pak. Rumah Dika mungkin belum jadi tempat yang nyaman buat Aira sekarang. Tapi Aira istri Dika. Dika tidak mau memulai rumah tangga ini dengan cara bersembunyi. Dika janji, kalau ada yang menyakiti Aira di sana, Dika orang pertama yang akan berdiri di depannya."
Bapak terdiam cukup lama, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan ritme yang lambat. "Ingat janji kamu, Dik. Aira mungkin salah di mata hukum agama dan sosial, tapi di rumah ini, dia tetap anak saya. Kalau kamu tidak sanggup menjaganya dari mulut keluargamu sendiri, lebih baik biarkan dia di sini."
"Dika sanggup, Pak. Tolong... beri Dika kepercayaan sekali ini lagi," jawab Mas Dika dengan nada yang sangat bersungguh-sungguh.
Bapak akhirnya mengangguk pelan, meski gurat kecemasan tidak hilang dari wajahnya. Beliau bangkit berdiri, lalu menepuk pundak Mas Dika dua kali. "Bawa dia. Tapi kalau sampai besok pagi saya dengar dia menangis lagi karena perlakuan keluargamu, saya sendiri yang akan menjemputnya pulang."
Setelah Bapak pergi, suasana dapur kembali sunyi. Aku menatap Mas Dika, hatiku bergetar hebat. Sore ini, perjalanan menuju klinik bukan hanya untuk melihat nyawa di dalam rahimku, tapi juga awal dari perjuangan berat memasuki rumah mertua yang penuh benci.