Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Setelah kepergian Selly, suasana di ruangan kerja itu kembali hening dan mencekam. Hanya terdengar suara detak jarum jam dinding yang berirama lambat, seakan ikut menghakimi sikap dingin sang pemilik ruangan.
Darren Wijaya duduk tegap di kursi kebesarannya, namun matanya tidak fokus pada deretan angka dan grafik di layar monitor. Pandangannya tertuju tajam ke arah kotak kado hitam yang ia letakkan sembarangan di tumpukan berkas tadi.
Ada perasaan aneh yang mengganjal di dada. Rasa tidak nyaman, rasa bersalah yang tipis, namun segera saja ditimpa oleh tembok pertahanan diri yang begitu tinggi dan kokoh.
Banyak orang di luar sana yang mengira Darren bersikap dingin dan kejam semata-mata karena sombong, karena merasa hebat, atau karena merasa uang dan kekuasaannya membuatnya bisa berbuat apa saja.
Tapi tidak ada yang tahu... benar-benar tidak ada yang tahu... bahwa di balik topeng kejam itu, tersembunyi luka yang begitu dalam, luka yang belum pernah sembuh sedikitpun sejak lima tahun lalu.
Luka yang ditinggalkan oleh seorang wanita bernama Natasha.
Dan hari ini, saat melihat ketulusan Selly yang mulai terasa begitu menyiksa karena terlalu baik, ingatan tentang masa lalu itu kembali menghantui Darren dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Bagi Darren Wijaya, kata 'cinta' bukanlah sesuatu yang indah, bukan sesuatu yang memabukkan atau membuat hidup terasa berwarna.
Baginya, cinta itu ibarat pedang bermata dua yang bisa menikam kapan saja tanpa ampun. Atau ibarat api yang hangat namun bisa membakar habis segalanya jika tidak hati-hati.
Kejadian lima tahun lalu itu benar-benar merubah seluruh pandangannya tentang dunia dan tentang wanita.
Saat itu, ia bukan hanya sekadar putus cinta atau ditinggalkan. Ia dipermalukan, dimanfaatkan, dan dianggap bodoh oleh wanita yang ia percaya sepenuh hati, wanita yang bahkan sudah ia anggap sebagai calon ibu dari anak-anaknya.
Natasha... wanita itu pintar sekali bermain peran. Dia berhasil membuat Darren percaya bahwa dialah satu-satunya wanita yang tulus, yang menerima Darren apa adanya.
Tapi kenyataannya? Natasha hanya mencintai harta, status, dan kemewahan yang bisa Darren berikan.
Bayangan kejadian malam itu masih terpatri begitu jelas di otak Darren. Suara desahan nikmat, suara tawa sinis, dan ucapan-ucapan kejam bahwa 'Cinta mah gak bisa dimakan', 'Darren itu bodoh banget gampang dibohongin', dan 'Nanti setelah dapet semua hartanya gue tinggalin'... terus terngiang di telinganya setiap kali ia mencoba untuk sedikit saja melunak pada wanita lain.
Trauma itu begitu parah hingga membuat Darren memiliki fobia tersendiri terhadap rasa percaya.
'Jika wanita sebaik, seanggun, dan selembut Natasha saja bisa berbuat sejahat dan sekejam itu... bagaimana mungkin aku bisa percaya pada wanita lain?' batin Darren selalu bergumam seperti itu, penuh ketakutan.
Ia takut. Sangat takut.
Takut jika ia membiarkan seseorang masuk ke dalam hatinya, takut jika ia kembali merasakan bahagia, takut jika ia kembali menaruh harapan dan kepercayaan... pada akhirnya ia akan dikhianati lagi, ditinggalkan lagi, dan dibuat menangis lagi dalam kepedihan yang tak berujung.
Rasa sakit itu terlalu perih. Rasanya seperti mati hidup kembali. Darren tidak sanggup jika harus merasakannya untuk kedua kalinya. Ia lebih memilih mati rasa, lebih memilih menjadi pria yang dingin dan tidak punya perasaan, daripada harus merasakan pedihnya dikhianati lagi.
Itulah sebabnya kenapa ia selalu menolak Selly dengan begitu keras. Itulah sebabnya kenapa setiap kali Selly menunjukkan perhatian, Darren justru semakin menjauh dan bersikap semakin menyakitkan.
Di pikirannya yang sudah terracuni oleh trauma, semua wanita itu sama saja. Tidak ada yang berbeda.
Selly Adhitama... gadis itu cantik, kaya, dan berasal dari keluarga terpandang. Menurut logika Darren yang bengkok karena luka lama, mustahil ada wanita seperti itu yang benar-benar mencintai pria yang lebih tua 13 tahun darinya tanpa ada maksud tertentu.
Pasti Selly juga sama. Pasti Selly tertarik pada kekuasaan, pada jabatan, pada uang, atau mungkin hanya sekadar ingin mencari sensasi menaklukkan pria yang sulit didapatkan. Pasti nanti, saat gadis itu bosan, atau saat ada pria lain yang lebih menjanjikan, lebih kaya, atau lebih bisa memberikan kesenangan... Selly akan pergi dan meninggalkannya dengan patah hati.
"Jauh lebih aman kalau aku sendirian..." bisik Darren pelan, suaranya parau dan terdengar kesepian di ruangan yang luas itu.
"Dengan menutup hati, dengan menolak semua orang... tidak ada yang bisa menyakitiku. Tidak ada yang bisa mengkhianatiku lagi. Itu lebih baik," gumamnya mencoba meyakinkan diri sendiri.
Ia menatap kotak kado di sudut meja itu dengan pandangan yang rumit. Ada rasa bersalah yang menyelinap, melihat betapa kerasnya gadis itu berusaha. Tapi rasa takutnya jauh lebih besar daripada rasa bersalah itu.
"Maafkan aku, Selly..." gumamnya lirih. "Aku tidak bermaksud sekejam ini padamu. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku takut... aku sangat takut untuk percaya lagi pada siapapun."
Bagi orang luar, sikap Darren memang terlihat sangat menyebalkan, sangat jahat, dan sangat tidak berperasaan. Tapi siapa sangka, di balik semua itu... dia hanyalah seorang pria yang rapuh, yang sedang ketakutan setengah mati untuk kembali merasakan apa itu cinta.
Ia memilih untuk menyakiti orang lain sekarang, daripada harus disakiti nanti. Itu prinsip yang ia pegang teguh sampai detik ini.
(Bersambung...)
Semangattt thoorrr💚❤️🌺🍂🍁🌸🌼💮🔥