NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20

Jaiden berjalan menunduk menatap Meilan dengan tatapan dingin seolah melihat orang asing.

Ditatap dengan pandangan seperti melihat mayat, Meilan secara tidak sadar mencoba beringsut mundur. Namun, karena tendangan Jaiden sebelumnya terlalu kuat, tulang rusuknya sudah retak. Sedikit gerakan saja memberikan rasa sakit yang menusuk jantung. Meilan tidak bisa menahannya, ia mengerang kesakitan dan kembali memuntahkan darah merah segar.

Sudut bibir Jaiden terangkat membentuk seringai sinis. Tatapannya dingin dan kejam. Setelah menyapu wajah Meilan dengan acuh tak acuh, ia berbalik ke arah Zoya. Suaranya seketika berubah menjadi sangat lembut: "Kamu pasti ketakutan, ingin makan apa? Biar aku yang mengantarmu."

Baru saja ia menendang Meilan dengan penuh kemarahan, namun kini saat berbicara dengan Zoya, wajahnya dihiasi senyum hangat. Lengkungan bibirnya secara sempurna mendefinisikan apa yang disebut dengan kelembutan.

Perubahan wajah yang mendadak ini membuat Meilan tercengang. Ia ingin membuka mulut untuk memanggil Jaiden. Bukankah seharusnya ia yang menjadi kekasih Jaiden? Mengapa pria itu memperlakukannya seperti ini? Namun belum sempat ia bersuara, mulutnya sudah dibungkam oleh anak buah Jaiden dan ia diseret pergi.

Tulang rusuk Meilan sudah retak, dan saat diseret seperti menyeret anjing mati, tulang yang rapuh itu tidak sanggup lagi menahan siksaan. Terdengar suara "krek" saat tulang itu patah sepenuhnya. Rasa sakit yang luar biasa membuat Meilan mengerang pelan sebelum akhirnya pandangannya menjadi gelap dan ia jatuh pingsan.

Melihat nasib tragis Meilan dan menatap Jaiden yang berdiri di depannya dengan wajah berusaha mengambil hati, Zoya tentu saja tahu apa yang terjadi.

Sepertinya sikap Jaiden yang terlalu baik padanya telah membuat Meilan cemburu, dan kejadian hari ini adalah sandiwara yang dirancang oleh Meilan sendiri.

Hanya saja, karena kekacauan hari ini, Zoya benar-benar kehilangan nafsu makan. Menatap Jaiden yang merupakan penyebab awal masalah ini, nada suaranya pun menjadi ketus: "Saya tidak lapar. Saya mau pulang." Zoya berdiri dan hendak pergi.

Menatap punggung Zoya, ia tersenyum dan berkata: "Karena kau sedang tidak nyaman, lain kali saja kalau begitu." Meskipun nadanya tidak terlalu ramah, kata-katanya sangat perhatian.

Zoya hanya bergumam pelan lalu pergi berganti pakaian untuk pulang.

Jaiden mengantar Zoya sampai ke apartemennya. Tepat saat Zoya hendak membuka pintu mobil, Jaiden menoleh ke arahnya.

“Adik perempuan,” katanya santai, “apa tidak ada yang ingin kamu katakan pada kakak keduamu ini?”

Zoya menoleh dengan tatapan memelas.

“Kakak kedua… aku sedang tidak mood mengobrol.” Ia menghela napas kecil. “Lagipula, meskipun aku tidak menjelaskan, aku yakin kakak kedua sudah menyuruh anak buahmu mencari tahu.”

Setelah mengatakan itu, ia hendak turun dari mobil.

Namun sesaat kemudian, Zoya kembali terdiam seolah memikirkan sesuatu.

Sejak tadi ia memang tidak banyak bicara.

Ia tahu betul orang seperti apa kakak keduanya.

Meskipun sering bertindak seperti bajingan, Jaiden tetap seseorang yang sangat terukur. Semua wanita yang pernah berhubungan dengannya selalu membuat perjanjian sejak awal. Perjanjian itu sah secara hukum. Jika salah satu melewati batas, maka harus siap menerima konsekuensinya.

Di dalam keluarganya, kakak tertuanya adalah bagian terang, sedangkan kakaknya yang kedua ini adalah bagian gelap. Dalam keluarga besar seperti mereka, selalu harus ada seseorang yang menjaga nama baik di bawah cahaya… dan seseorang lagi yang bersedia mengotori tangan di balik bayangan.

Jaiden sangat pintar mencari uang.

Dan juga sangat pandai bersenang-senang.

Memikirkan sesuatu, Zoya menggaruk keningnya pelan lalu menghela napas panjang.

“Kakak kedua…” katanya pelan sambil menatap Jaiden, “kalau memang mau melakukannya, lakukan tanpa meninggalkan jejak.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan,

“Hati-hati.”

Setelah mengantar adiknya pulang, Jaiden kembali ke vila pribadinya. Baru saja ia melangkah masuk, seorang pria berpakaian hitam segera mendekat dengan sikap hormat.

“Tuan Muda…”

Jaiden melempar jasnya ke sofa sebelum duduk santai. Seorang pelayan datang menuangkan segelas air untuknya. Setelah meneguknya beberapa kali, barulah ia mendongak menatap pria itu.

“Bagaimana? Apa yang kamu temukan?”

Pria berpakaian hitam itu segera melaporkan hasil penyelidikannya.

“Tuan Muda Kedua, Nona Zoya tidak pernah pergi ke luar negeri. Selama dua tahun terakhir, dia selalu berada di negara ini. Rupanya Nona sedang perang dingin dengan Tuan Biyanaksa dan istrinya karena menolak masuk ke akademi instansi penelitian nasional. Mereka marah setelah mengetahui Nona justru memilih masuk ke industri hiburan.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Karena itu dibuatlah sebuah perjanjian. Jika dalam tiga tahun Nona tidak berhasil di dunia hiburan, maka ia harus pulang dan menyetujui pengaturan keluarga. Selain itu, Nona juga tidak boleh menggunakan koneksi keluarga Saksomo dan wajib merahasiakan identitasnya. Semua harus ia lakukan dari nol, dengan kemampuannya sendiri.”

Jaiden terdiam sambil menyandarkan tubuhnya.

Jadi selama satu setengah tahun terakhir, Zoya mencari modal sendiri melalui vlog memasak dan transaksi saham.

Adiknya itu memang sangat jenius. Apapun yang ia lakukan, ia akan melakukannya dengan sempurna.

Dan tahun ini adalah pertama kalinya Zoya terjun syuting.

Pantas saja gadis itu tidak ingin dirinya membocorkan hubungan mereka. Namun Jaiden terlalu terbiasa bersikap seenaknya pada adiknya, sehingga sulit baginya untuk berpura-pura menjaga jarak.

Meski begitu, ia sebenarnya tidak takut pada siapapun di keluarganya… Yah, kecuali neneknya.

Dan Jaiden tahu betul, nenek mereka pasti akan membiarkan Zoya melakukan apa pun yang ia inginkan. Tidak seperti paman dan bibinya yang selalu ingin mengatur hidup adiknya.

Berarti Zoya masih memiliki satu tahun lagi.

Memikirkan itu, Jaiden merasa ia harus membantu adiknya.

Huh…

Pantas saja selama ini Zoya disembunyikan. Ia dulu mengira gadis itu benar-benar pergi ke luar negeri dan sengaja tidak memberinya kabar. Karena harga dirinya, Jaiden pun ikut keras kepala dan tidak pernah mencari tahu keberadaan adiknya.

Kalau saja ia tahu lebih awal, ia tidak mungkin membiarkan Zoya menderita sendirian.

Namun Jaiden tidak tahu bahwa alasan Zoya tidak berpamitan justru karena gadis itu terlalu memahami sifatnya.

Berbeda dengan kakak pertama mereka yang tenang dan bijaksana, Jaiden adalah orang yang arogan dan terbiasa melakukan apapun sesuka hati. Zoya takut ia akan ikut campur dan diam-diam membantunya.

Sementara Zoya sendiri keras kepala. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa sukses tanpa bantuan keluarganya.

Setelah mendengar laporan itu, Jaiden awalnya mengira semuanya sudah selesai. Namun melihat ekspresi ragu pada wajah bawahannya, ia menyipitkan mata.

“Katakan semuanya!"

Pria itu tampak semakin gugup.

“Tuan Muda… saya menyelidiki kehidupan Nona di kampus. Sepertinya… Nona Zoya sedang jatuh cinta.”

Jaiden langsung mendongak tajam.

Ia benar-benar terkejut.

Adiknya menyukai seseorang?

Padahal Zoya sudah memiliki tunangan.

Memikirkan hal itu, kilatan rasa bersalah sempat muncul di matanya, meski hanya sesaat sebelum menghilang.

“Siapa bajingan itu?” tanyanya sambil mengepalkan tangan.

Ia takut Zoya ditipu seseorang.

Menyadari tuannya telah salah paham, pria berpakaian hitam itu buru-buru menjelaskan.

“Tuan… orang yang dikejar Nona Zoya adalah Tuan Muda Sadjatmiko… Tuan Arlo.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!