NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Teratai Di Atas Abu

Bab 29 — Undangan Dari Kota Langit Utara

Di ruang pertemuan utama Sekte Gunung Awan Putih, suasana sedang berlangsung khidmat. Seorang utusan berpakaian indah, bertanda lambang awan berkilauan di dadanya, berdiri tegak di tengah ruangan. Di tangannya tergenggam gulungan surat berbalut kain sutra berwarna emas, disegel dengan lilin bermotif matahari terbit—tanda khas Kota Langit Utara, pusat kekuasaan wilayah utara dan tempat berkumpulnya kekuatan-kekuatan besar dunia persilatan.

Undangan ini bukan hal biasa. Ia datang membawa berita tentang penyelenggaraan Turnamen Empat Sekte Besar, ajang pertemuan lima tahun sekali yang diikuti oleh empat kekuatan terbesar di wilayah utara: Sekte Gunung Awan Putih, Sekte Pedang Langit, Sekte Guntur Hitam, dan Istana Awan Putih. Turnamen ini bukan sekadar adu kekuatan, melainkan ajang penentuan kedudukan, pembagian wilayah kekuasaan, dan pencarian bakat-bakat luar biasa yang kelak akan menjadi tulang punggung dunia persilatan.

“Empat sekte besar, ditambah aliran-aliran kecil yang diundang, semuanya akan berkumpul di Kota Langit Utara bulan depan,” ucap utusan itu dengan suara lantang. “Pemenang turnamen ini berhak masuk ke Perpustakaan Agung Kota Langit, berhak memilih satu dari tiga pusaka warisan kuno, dan mendapatkan perlindungan langsung dari dewan tetua kota selama sepuluh tahun. Ini adalah kehormatan sekaligus kesempatan emas yang jarang datang dua kali.”

Setelah menyampaikan pesan, utusan itu membungkuk hormat lalu undur diri. Ruangan itu pun kembali sunyi, namun suasana kini terasa lebih berat dan penuh pertimbangan.

Tetua Agung memegang gulungan surat itu, jarinya mengusap tulisan emas yang berkilau. Wajahnya serius, matanya menyimpan pertimbangan mendalam. Di sekelilingnya, para tetua lain saling pandang, masing-masing memikirkan beban dan risiko yang dibawa undangan ini.

“Turnamen Empat Sekte Besar... ajang ini tak bisa dianggap remeh,” ucap Tetua Bai perlahan. “Para pesertanya adalah para jenius terbaik dari setiap aliran. Rata-rata kekuatan mereka sudah berada di puncak Inti Roh, bahkan ada yang sudah menginjak ambang Batin Bercahaya. Bagi murid biasa, ikut serta saja sudah berisiko kehilangan nyawa.”

“Namun kita tak bisa menolak,” sahut seorang tetua lain. “Menolak berarti mengakui kelemahan, dan posisi kita di wilayah utara akan terguncang hebat. Kita harus mengirimkan peserta terbaik kita.”

Perdebatan pun terjadi. Nama-nama murid inti terbaik disebut-sebut: Gao Feng yang tenang dan kokoh, Li Xuan yang cepat dan tajam, serta beberapa nama lain yang sudah lama terkenal bakatnya. Semua itu adalah pilihan yang aman dan teruji.

Namun Tetua Agung hanya diam, matanya menatap jauh ke luar jendela, ke arah kediaman puncak tempat Lian Hua berlatih.

“Murid-murid itu memang baik, mereka sudah mewakili kemampuan terbaik Sekte Gunung Awan Putih selama bertahun-tahun,” ucapnya perlahan, suaranya berat namun tegas. “Tapi di turnamen kali ini, lawan kita bukan hanya sekte-sekte saingan biasa. Di sana nanti pasti ada pengintai dari Menara Darah Hitam, bahkan mungkin kekuatan lain yang mengincar sesuatu yang khusus. Kita butuh seseorang yang bukan hanya kuat, tapi juga memiliki kekuatan yang bisa mengejutkan, seseorang yang bisa berdiri tegak di tengah badai, dan seseorang yang kelak akan menjadi tumpuan harapan kita semua.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap seluruh rekannya satu per satu.

“Aku memutuskan, peserta utama kita kali ini adalah... Lian Hua.”

Nama itu melayang di udara, membuat suasana ruangan seketika berubah kaget.

“Tetua Agung, ia baru saja menjadi murid dalam, baru saja menembus Inti Roh Tingkat Kedua!” seru salah satu tetua tak percaya. “Di sana nanti ada jenius yang sudah berlatih puluhan tahun, ada yang memiliki kekuatan warisan aliran kuno. Mengirimnya... bukankah terlalu berisiko? Bagaimana jika jati dirinya terbongkar? Bagaimana jika ia tak mampu menahan tekanan?”

Tetua Agung tersenyum tipis, namun senyum itu penuh keyakinan.

“Risiko memang ada. Tapi kalian lupa satu hal: Lian Hua bukan murid biasa. Ia membawa warisan teratai, kekuatan yang lahir untuk menaklukkan segala kegelapan. Semakin kuat lawannya, semakin tajam ia akan bertumbuh. Jika kita terus menyembunyikannya di sini, ia tak akan pernah bisa tumbuh menjadi pedang yang tajam dan kuat seperti yang kita harapkan.”

Ia menatap Tetua Bai, memberikan isyarat keputusan yang sudah bulat.

“Di sana nanti, ia akan bertemu musuh-musuh yang sesungguhnya, akan menguji kekuatannya, dan sekaligus kita bisa mengetahui seberapa jauh jangkauan dan kekuatan Menara Darah Hitam telah berkembang. Selain itu... hanya dengan menampilkannya di ajang sebesar ini, kita bisa diam-diam memperkenalkannya ke dunia sebagai jenius Sekte Gunung Awan Putih, bukan sebagai pewaris klan kuno. Itu adalah cara terbaik untuk menyamarkan asal-usulnya sekaligus mengangkat namanya tinggi-tinggi.”

Tetua Bai mengangguk mantap. “Aku setuju. Ini jalan terbaik. Lian Hua sudah siap. Ia memiliki kekuatan, ketenangan, dan naluri bertarung yang jarang dimiliki orang lain. Aku yakin, ia takkan mengecewakan kita.”

Perlahan namun pasti, para tetua lain pun setuju. Keputusan itu telah ditetapkan.

Sore itu, Tetua Bai datang ke kediaman Lian Hua. Pemuda itu sedang duduk bersila di halaman, energi spiritual berputar lembut mengelilinginya, jejak samar teratai putih-hitam terlihat melayang di sekitar tubuhnya. Saat ia membuka mata, cahaya jernih memancar dari manik matanya.

“Guru,” sapa Lian Hua sopan, bangkit berdiri.

Tetua Bai tersenyum, lalu menyerahkan selembar kartu undangan berukir indah, bertuliskan nama Lian Hua dengan tinta emas.

“Bersiaplah. Sebulan lagi, engkau akan pergi ke Kota Langit Utara,” ucap Tetua Bai pelan namun berat. “Sebagai peserta utama mewakili Sekte Gunung Awan Putih di Turnamen Empat Sekte Besar.”

Lian Hua memegang kartu itu erat, merasakan bobot dan makna besar yang tersimpan di dalamnya. Matanya berbinar tajam, bukan karena gembira atau bangga, melainkan karena tekad yang makin membara.

Ia tahu betul apa arti undangan ini. Ia tahu betul siapa yang akan ia temui di sana. Di Kota Langit Utara nanti, ia tak hanya akan bertemu jenius-jenius hebat dari seluruh penjuru, tapi juga pasti akan berhadapan kembali dengan jejak-jejak Menara Darah Hitam, dan mungkin... kekuatan lain yang tersembunyi di balik simbol mata hitam itu.

“Baik, Guru,” jawab Lian Hua tegas, suaranya tenang namun berisi gunungan keyakinan. “Aku akan pergi. Dan aku akan membawa nama sekte kita, serta warisan yang kubawa, berdiri tegak di sana. Tak peduli seberapa kuat lawan yang datang, aku takkan mundur selangkah pun.”

Matahari mulai terbenam, cahaya keemasan menyelimuti sosok pemuda itu. Kartu undangan di tangannya berkilau indah, menjadi tanda bahwa babak baru yang jauh lebih besar, jauh lebih berbahaya, namun juga jauh lebih agung, kini telah terbuka lebar.

Lian Hua... namanya kini tercatat di daftar peserta turnamen terbesar wilayah utara. Dan di sana nanti, di hadapan ribuan pasang mata, teratai itu akan mekar lebih indah dan lebih dahsyat daripada sebelumnya, mengguncang seluruh dunia persilatan hingga ke akar-akarnya.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!