Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Langit Damar
Di sebuah ceruk desa yang napasnya senantiasa berbau getah Agathis dammara, seorang gadis tumbuh dengan nama yang berarti fajar. Namun, bagi Arunika, fajar tak pernah benar-benar menyingsing terang.
Ia adalah seorang anak yang dipaksa dewasa oleh keadaan sebelum waktunya, dibesarkan dalam dekapan hangat kakek dan neneknya di sebuah penginapan kayu yang berdiri kokoh. Penginapan itu—meski kini sudah lebih dari layak dan memberikan kehidupan yang cukup bagi mereka—tetap menjaga ruh kesederhanaannya.
Dinding-dinding kayunya terawat rapi, namun tetap membiarkan bisikan tajam daun-daun jarum yang bergesekan ditiup angin lembah menjadi musik utama bagi siapa pun yang menginap di sana.
Nama "Arunika" adalah warisan terakhir yang ditinggalkan ayah dan ibunya di atas secarik kertas kusam yang kini tintanya mulai memudar—sebuah doa bisu yang dilangitkan agar ia tumbuh setangguh pohon Aru.
Ayahnya dulu selalu bilang, pohon Aru adalah petarung sejati; akarnya mencengkeram bumi begitu dalam, tak peduli meski badai lembah menghujam tanpa ampun, ia tetap tegak menantang langit. Namun bagi Ika—panggilan akrabnya—nama itu terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Ia merasa seperti sebatang pohon yang tumbuh di sela batu; bertahan hidup, namun selalu merasa terhimpit oleh sunyi yang ia ciptakan sendiri sejak ditinggalkan di usia tiga tahun.
Pagi itu, kabut masih betah menyelimuti tegakan pohon, menggantung rendah seperti kapas basah yang mendinginkan suhu udara hingga ke tulang. Arunika duduk di kursi kayu di beranda penginapan yang menghadap langsung ke arah pepohonan.
Jemarinya yang ramping dan lincah mulai memainkan bilah-bilah jarum rajut, menarik benang wol berwarna hijau hutan, menciptakan simpul demi simpul yang rapat. Bagi orang lain, merajut mungkin hanyalah cara membunuh waktu yang membosankan, namun bagi Ika, setiap tarikan benang adalah cara untuk mengikat kepingan hatinya agar tidak berserakan tertiup angin sepi.
Ia telah lama berdamai dengan kesendirian ini, mengubur semua ingatan masa kecilnya di bawah tumpukan daun kering hutan, dan memilih hidup dalam ritme yang monoton namun aman.
"Nduk," panggil sebuah suara serak dan berat dari arah koridor penginapan yang bersih.
Arunika menoleh pelan. Kakeknya, seorang lelaki tua dengan gurat wajah sedalam retakan kulit pohon kayu yang sudah ratusan tahun, berjalan mendekat. Langkahnya tak lagi seberat dulu di atas lantai papan yang kini sudah dipernis rapi.
Di tangannya, ia menjinjing sebuah keranjang rotan kecil berisi gumpalan getah yang baru saja ia unduh dari bukit belakang. Getah itu masih segar, bening keemasan bagai tetesan madu purba, memantulkan cahaya pagi yang temaram.
"Berhentilah sejenak, Nduk. Jemarimu itu sudah seperti akar yang tak kenal lelah, terus saja merambat meski malam sudah berganti fajar. Sini, duduklah dekat Simbah," ujar Kakek sambil menepuk sisi kursi panjang di paviliun depan.
Arunika tersenyum tipis, sebuah lengkungan halus di bibirnya yang sangat jarang ia perlihatkan pada dunia.
Ia meletakkan gulungan benangnya dengan hati-hati ke dalam kotak kayu di sampingnya. "Ika hanya ingin menyelesaikan satu baris lagi, Kek. Biar hati Ika tenang sebelum tamu-tamu bangun dan matahari menyapu kabut ini."
Kakek terkekeh pelan, duduk sambil menghirup aroma hutan yang masuk lewat sela ventilasi penginapan. "Hati itu tidak seperti rajutanmu, Nduk.
Kalau rajutanmu salah pola, kau bisa membongkarnya dengan sekali tarikan, lalu memulainya kembali dari nol seolah tak pernah terjadi apa-apa. Tapi hati? Kalau hati sudah salah simpul, butuh waktu seumur hidup untuk meluruskannya. Kadang, meski sudah lurus, bekas lipatannya akan tetap ada di sana, menjadi pengingat yang menyakitkan."
Belum sempat Ika menjawab, Nenek muncul dari arah dapur dengan nampan berisi teh hangat. Penginapan ini memang sudah cukup untuk mempekerjakan orang, namun Nenek tetap lebih suka menyeduh tehnya sendiri. Aroma melati yang ia bawa segera memenuhi ruangan, mengalahkan bau tanah basah dari luar.
Uap panas menari-nari di atas dua gelas seng—yang meski kini mereka sanggup membeli porselen mahal, tetap dipertahankan Nenek karena kenangannya. Nenek meletakkan teh itu di atas meja kayu dengan gerakan lembut, lalu ikut duduk di samping cucu semata wayangnya itu.
Nenek menatap lekat ke dalam mata Ika yang kelam. "Kau tahu, Nduk, kenapa pohon Aru di hutan sana tetap tegak meski angin lembah bertiup sekencang apa pun?"
Arunika menggeleng pelan, membiarkan dinginnya pagi menyapu wajahnya yang bersih. Ingatannya tiba-tiba ditarik pada satu bayangan samar yang sangat jauh. "Ibu juga dulu sering bilang begitu, ya, Nek?"
Nenek tertegun. Gelas di tangannya bergeming. Arunika menarik napas panjang, rasa penasaran yang selama ini ia kunci rapat mendadak mendesak ingin keluar. "Nek... Ika sudah dewasa sekarang. Tapi Ika masih merasa seperti anak kecil umur tiga tahun yang tidak tahu apa-apa. Kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah kembali? Apa yang sebenarnya terjadi hari itu?"
Nenek menghela napas, jemarinya yang keriput gemetar saat memegang pinggiran gelas. "Ada hal-hal yang terlalu berat untuk dipahami oleh ingatan seorang bocah, Nduk. Mereka... mereka hanya harus pergi."
"Tapi kenapa? Apa mereka tidak sayang pada Ika?" kejar Arunika. "Ika berhak tahu, Nek. Setidaknya ceritakan sedikit saja tentang mereka. Jangan biarkan Ika hanya mengenal mereka lewat nama di kertas kusam itu."
Nenek mencoba membuka mulut untuk menjawab, namun bibirnya bergetar hebat. Matanya mulai berkaca-kaca, menyimpan sebuah kepedihan yang begitu dalam hingga seolah sanggup meruntuhkan dinding penginapan mereka saat itu juga.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang renta, mencerminkan sebuah duka yang tak mampu ia suarakan. Melihat bahu neneknya yang mulai berguncang kecil dan napasnya yang memberat karena menahan tangis yang amat pedih, Arunika mendadak merasa bersalah.
Hatinya seperti disayat melihat perempuan yang telah menjadi dunianya itu harus menanggung beban seberat itu sendirian.
Arunika akhirnya mengalah. Ia meraih tangan neneknya yang kasar, menggenggamnya erat seolah meminta maaf. "Maafkan Ika, Nek. Tidak apa-apa. Jangan diceritakan jika itu membuat Nenek sakit. Ika tidak akan bertanya lagi. Ika janji."
Nenek hanya mengangguk pelan sambil menyeka air mata dengan ujung kebayanya. Arunika kembali menunduk, memandangi tangannya yang kini tak lagi memegang jarum.
Perkataan kakek dan neneknya selalu terasa seperti ramuan obat yang pahit namun menyembuhkan. Ia menatap ke arah rimba di depan penginapan, di mana ribuan pohon Aru berdiri kokoh. Hari-harinya selalu seperti ini—tenang dan tanpa kejutan.
Ia merasa telah berhasil mengunci pintu masa lalunya rapat-rapat, membiarkan kunci itu berkarat dan hilang di dasar danau ingatannya.
"Minumlah tehmu, Nduk. Mumpung masih hangat. Jangan biarkan pikiranmu mengembara terlalu jauh ke dalam hutan," ujar Kakek memutus lamunan Ika.
Arunika meraih gelas seng itu, merasakan panasnya merambat ke telapak tangannya. Ia menghirup dalam-dalam aroma teh dan bau getah dari keranjang Kakek.
Di sinilah ia merasa aman. Di dalam penginapan kayu yang nyaman ini, di bawah lindungan kakek dan neneknya yang bijak. Ia tidak pernah mendambakan apa pun lagi. Ia tidak menunggu siapa pun. Hidupnya sudah cukup dengan benang wol, jarum rajut, dan kesunyian yang menemaninya setiap fajar.
Namun, dunia punya caranya sendiri untuk mengejek ketenangan manusia.
Arunika tidak pernah tahu, bahwa jauh di luar sana, sebuah roda nasib mulai berputar ke arah yang salah. Di balik batas hutan yang tak terlihat, sebuah deru mesin mobil yang asing mulai memecah kesunyian lembah menuju penginapan mereka.
Esok hari, fajar yang ia cintai tidak akan lagi membawa kedamaian yang sama. Karena tepat saat matahari tergelincir nanti, langit akan berubah menjadi warna jingga yang menyakitkan—warna yang sama dengan sebuah nama yang telah lama ia kubur dalam-dalam.
Sesosok lelaki bernama Senja tengah melaju menembus kabut, membawa serta seluruh badai masa lalu yang paling ingin Arunika hindari. Pertemuan yang esok terjadi, akan menjadi tusukan pertama yang merusak seluruh pola rajutan hidupnya yang tenang.