NovelToon NovelToon
Mawar Memar

Mawar Memar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelajaran pertama

Tugas lapangan Delana berjalan dengan lancar. Anak-anak sekolah dasar itu sangat antusias dan senang saat Delana dan teman-teman nya memperagakan apa yang semalam mereka buat. Kini, selesai sudah.

“Kamu lihat gak anak tadi yang dikuncir dua? Lucu banget ya dia. Mana pipinya munel banget.”

“Iya, aku lihat. Mana dia pinter lagi. Berani. Ngejawab terus tiap kita nanya.”

Saat mereka sedang berjalan menuju halaman sekolah untuk pulang, sebuah mobil Eropa terlihat sedang menunggu di depan.

“Itu bos yang semalam bantuin kita bukan?” Tanya lestari.

“Mau jemput kamu ya, Delana?” Tanya Retno.

Tidak ada jawaban dari Delana selain diam. Delana merasa sedikit takut melihat keberadaan mobil itu karena dia tahu siapa pemiliknya. Bukan Rex.

Pintu mobil itu terbuka, seorang pria turun dari dalam lalu menghampiri Delana.

“Ikut papa pulang sebentar.”

“Baik, Pah.”

Delana bahkan tidak sempat pamit karena dia sendiri sudah sibuk dengan rasa takutnya dan melupakan teman-temannya.

“Papah?” Tanya Mira

“Ternyata Delana anak orang kaya? Mobilnya aja lihat, ada patung buket kecil di depan mobilnya.” Galang ikut berkomentar.

“Hebat ya, dia sederhana banget kalau di kampus, malah suka naik bis. Rupanya dia anak konglomerat guys.”

“Eh, yang samalam siapa? Bukan papa nya kan? Orang nya beda kok.”

“Gak tau siapa? Cuma pria yang semobil sama Delana tuh ngeliatin aja Delana, tatapan nya dalem banget. Kayak orang jatuh cinta gitu.”

“Tapi kan tua.” Seloroh Mira

“Sssttttt.”

“Jaman sekarang yang penting duit.” Ujar Galang.

“Tapi kan duit Delana banyak.”

“Bener sih kata Tari. Duit Delana banyak ngapain dia pacaran sama bapak-bapak?” Tanya Mira.

“Jangan-jangan dijodohkan. Pernikahan bisnis gitu.” Ujar Retno.

“Kasian ya Delana kalau sampai bener dia dijodohkan karena bisnis, mana tua lagi cowoknya.”

Mereka berempat berdiri sambil menghela nafas menatap kepergian Delana.

...***...

“Apa saja yang kamu kerjakan selama ini? Itulah kenapa aku tidak ingin kamu yang pergi ke kediaman Rex! Kamu itu bodoh!” Bentak Sharga.

“Maaf, Pah. Aku belum punya kesempatan.”

“Kesempatan? Bukankah kamu sering tidur di kamar pria brengsek itu!?”

Deg!

Dari mana papah tahu aku sering tidur di kamar Pak Rex? Apa jangan-jangan….

“Papah gak mau tahu, minggu ini kamu harus menyelesaikan misi kamu. Kalau tidak—“

“Jangan! Pah, aku mohon jangan lukai ibu dan ayah aku.”

“Kalau begitu lakukan tugasmu dengan benar!”

Delana mengangguk cepat sambil menunduk di atas lantai. Dia memegang pipinya yang terasa perih akibat tamparan keras dari Sharga.

Dari balik pintu dapur, Dara hanya bisa melihat dalam kebisuan. Dia tidak bisa membantu Delana meski ingin. Delana tersenyum.

Gadis itu menghela nafas saat melihat ujung bibirnya yang kembali terluka. Dia mengelap tetesan darah yang menetes dengan tisu basah. Perih.

Langkah Delana gontai saat meninggalkan kediaman Sharga. Matanya basah tapi air matanya selalu saja enggan menetes.

Saat membuka gerbang, dia melihat Rayden sedang bersandar pada pintu mobilnya.

“Terluka lagi?” Tanya Rayden saat melihat sudut bibir Delana.

“Udah biasa.”

“Kenapa tubuh sekecil itu selalu saja terluka? Padahal kamu berada dalam perlindungan Rex. Apa Rex tau kamu ke sini?”

Delana menggelengkan kepala ragu.

“Baiklah.”

“Nggak, Pak. Aku naik taksi saja.”

“Ke mana?”

Delana hanya diam. Dia juga tidak tahu dia hendak ke mana saat ini.

“Ayolah, aku tidak akan berbuat jahat sama kamu.”

“Kalau Pak Rex marah, gimana?”

“Kita rahasiakan saja pertemuan kita.”

Tiddddidddd

Sebuah mobil datang.

“Delana,” panggil Tias dari dalam mobil. Delana membalas lambaian tangan Tias.

“Mba kok ada di sini? Tau ya aku ke ada di rumah papah?”

“Kebetulan lewat aja sih. Mau pulang? Ayo.”

“Pak, aku duluan ya.” Delana berpamitan pada Rayden. Pria itu mengangguk pelan.

“Dipukul lagi?” Tanya Tias. Delana mengangguk.

“Kamu ngapain kembali ke rumah ini?”

“Tadi papa jemput. Mau gak mau aku ikut.”

“Ya sudah, kita kembali saja dulu. Lalu, apa yang akan kamu katakan jika Pak Rex bertanya soal luka kamu itu?”

“Bilang saja aku jatuh.”

“Oke. Meski aku ragu dia akan percaya.”

Delana menghela nafas.” Lagi pula, siapa yang mau percaya sama aku,” ujarnya sambil menatap jauh keluar.

Sesampainya di mention, Rex terlihat sudah menunggu di depan pintu.

“Mba, kamu jangan bilang aku dari rumah papa ya.”

“Oke, kita bilang aja ketemu di depan kampus kamu.”

Delana mengangguk.

Seolah tidak terjadi apa-apa, gadis itu keluar dengan riang gembira. Lari kecil nya terlihat sangat menggemaskan di mata Rex. Delana meloncat-loncat kecil seperi anak kelinci.

Dia terpaksa tersenyum meski bibirnya terasa perih, dan Rex menyadari hal itu.

“Ke—“

“Jangan bertanya apapun, aku mohon,” ujar Delana sambil memeluk erat tubuh Rex.

Semakin lama, pelukan Delana semakin erat. Dia bahkan bisa menangis dalam dekapan pria itu. Air mata yang semula enggan keluar, kini keluar tanpa malu-malu.

Rex hanya mengusap kepala Delana tanpa bertanya sepatah katapun.

Dengan sangat entengnya Rex menggendong Delana karena di luar banyak anak buahnya yang melihat, dan juga dia takut Delana akan merasa pegal jika harus terus berdiri.

Pria itu membawa Delana ke kamarnya. Bukan ke kamar Delana.

Delana duduk di tepi ranjang. Masih menangis.

Rex mengusap ujung bibir Delana yang terluka.

“Kamu pergi ke rumah Sharga?”

Delana membisu.

“Ada urusan apa?”

Masih membisu.

“Lain kali, datanglah bersamaku jika kamu merindukan orang tua kamu itu. Aku akan menemani dan menjagamu.”

“Jangan terlalu baik padaku, Pak.”

Rex tertawa kecil.

“Bagaimana bisa?”

“Karena aku pun bukan orang baik. Aku tidak bisa membalas apa yang Bapak berikan padaku.”

“Aku tidak sedang menyimpan hutang budi agar hisa kamu balas.”

“Pak, kenapa harus aku?”

Rex menatap Delana tidak mengerti. Apa Delana bermaksud kenapa Rex baik padanya? Atau ….

“Sudahlah, aku ingin istrihat.”

Rex menarik tangan Delana saya gadis itu hendak pergi.

“Istrihat lah di sini.”

Delana menoleh dan menatap Rex yang masih duduk di kursi. Gadis itu pun kembali duduk.

“Tidurlah, aku akan meminta chef membuat sup untukmu.”

“Jangan pergi.”

Rex yang hendak berdiri pun kembali duduk. Dia menatap lekat mata Delana yang masih saja basah. Matanya merah. Wajah cantik itu terlihat sangat kusut. Dengan perlahan Rex mendekatkan wajahnya agar dia bisa melihat luka Delana, lalu mengusapnya dengan tangan.

Siapa sangka, Delana menarik kepala Rex, lalu mencium bibir pria itu. Meski awalnya Rex terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Delana padanya, dia pun pasrah dan hanya diam menerima apapun yang Delana lakukan.

Benar-benar amatir. Bisik Rex.

Dia melepaskan ciumn Delana, menatap gadis itu lekat sambil berbisik, “Mau aku ajarkan?”

1
Mujria Ria
padahal ceritanya bagus TPI belum ada yg baca yaa?? di tunggu kelanjutannya thor
Chaw_Mully: Hehehe gak apa-apa kak, mungkin belum rezekinya 😄. Makasih ya udah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!