NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Sutradara menghela napas, lalu memberi isyarat kepada kru untuk mengatur adegan lain terlebih dahulu.

Matanya sempat melirik aktor pria itu dengan kesal, sebelum akhirnya berkata,

“Begini saja, kamu istirahat dulu sebentar sebelum kita lanjut.”

Aktor pria itu dikenal memiliki koneksi kuat di industri dan juga mendapat bagian peran yang tidak kecil di dalam drama ini. Sutradara enggan menegurnya secara langsung, sehingga ia hanya mengambil langkah aman dengan harapan Zoya tidak memperbesar masalah ini.

Zoya memahami niat sutradara… Tanpa banyak reaksi, ia berjalan menuju kursi paling ujung di area istirahat.

Di sana, seorang wanita berambut pendek sedang berdiri, namun Zoya tidak menyapanya. Ia hanya lewat, lalu duduk dengan tenang.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, kemudian memejamkan mata…

Zoya tahu bahwa hari ini ia telah menyinggung seseorang.

Tapi lalu kenapa?

Ia tidak takut. Ia tidak akan berkompromi seperti orang lain yang memilih diam demi aman. Jika konsekuensinya buruk, paling tidak… ia hanya tidak akan melanjutkan karir di industri ini.

Setelah beristirahat beberapa menit, giliran Zoya kembali ke set untuk melanjutkan syuting.

Aktor pria yang tadi sempat membuat masalah kini terlihat jauh lebih hati-hati. Setelah “peringatan” tak langsung yang terjadi sebelumnya, sikapnya berubah… jauh lebih terkontrol, bahkan cenderung menjaga jarak.

Seolah sepuluh keberanian pun tidak cukup untuk membuatnya mengulangi kesalahan yang sama.

Benar saja, proses syuting berjalan jauh lebih lancar. Tidak ada gangguan, tidak ada improvisasi yang tidak perlu. Adegan itu pun selesai lebih cepat.

Setelah syuting selesai, Zoya menerima notifikasi transfer dari pihak produksi… bayaran untuk peran minor yang ia mainkan di film tersebut.

Tanpa banyak reaksi, ia memasukkan ponselnya kembali, lalu menuju ruang ganti untuk berganti pakaian.

Di luar, asistennya sudah lebih dulu keluar untuk menyiapkan mobil yang akan menjemputnya pulang.

Karena perannya hanya muncul dalam satu adegan, ruang ganti itu dipakai bergantian oleh banyak orang.

Begitu Zoya selesai berganti pakaian dan belum sempat membersihkan riasan kuning kusam di wajahnya, ia melihat aktor pria yang tadi terlibat adegan dengannya berjalan mendekat dengan langkah cepat… raut wajahnya jelas dipenuhi amarah.

Zoya tetap berdiri di tempat, tidak bergeser sedikit pun. Matanya hanya menatap lurus ke arah aktor yang mendekat.

Aktor ini berperan sebagai antagonis, dan perannya cukup penting untuk alur cerita dalam film ini. Ia juga sudah memiliki nama yang lumayan di industri.

Namun kejadian sebelumnya membuat harga dirinya terasa terinjak. Dipaksa berlutut di depan kru dan dibongkar secara paksa oleh Zoya meninggalkan luka ego yang jelas belum reda. Di benaknya dia berpikir awas saja jika berada di tangannya akan ia buat zoya menjilat kakinya…

Kini, saat ia mendekat, tatapannya tajam dan penuh ketidaksenangan… tidak ada lagi sisa profesionalitas yang tersisa di wajahnya.

Melihat zoya hanya berdiri diam menatapnya, pria itu melangkah maju hingga jarak mereka nyaris tak bersisa.

Tangannya terangkat, lalu mendarat di bahu gadis itu.

Senyum terpasang di wajahnya… tipis, namun terasa dingin.

“Kejadian hari ini… benar-benar membuatku kehilangan muka,” ucapnya pelan. Suaranya rendah, tapi mengandung tekanan yang jelas.

Ia sedikit mencondongkan tubuh, menatap langsung ke mata Jiu Jiu.

“Tapi aku bisa melupakannya… kalau kamu mau makan malam denganku malam ini.”

Jeda singkat.

“Bagaimana?”

Zoya tentu mengerti makna di balik kata “makan malam itu.”

Di lingkaran hiburan, ajakan itu hampir seperti kode tak tertulis… sebuah ajakan yang terdengar biasa di permukaan, namun menyimpan maksud lain yang semua orang pahami.

Mengajak makan malam… lalu berlanjut ke sesuatu yang jauh dari sekadar makan.

Zoya bukan tipe orang yang mudah diintimidasi.

Aktor di depannya ini bernama Bimasya… memang ia cukup berpengaruh di dunia film. Kemampuan aktingnya diakui, dan reputasinya di mata penggemar pun hampir tanpa cela.

Itulah yang membuat Zoya sedikit terkejut.

Di balik citra sempurna yang ia tampilkan di depan publik, pria ini… ternyata sama saja. Senyumnya yang tadi terlihat sopan kini terasa berbeda… terasa lebih licin.

Zoya hanya mendongak, meliriknya sekilas, lalu berkata datar,

“Menurutmu… kenapa aku harus setuju?”

Wajah Bimasya yang semula penuh percaya diri langsung mengeras. Keningnya berkerut.

“Kalau begitu, karirmu akan terancam…” katanya, suaranya menekan. Tangannya yang berada di bahu Zoya tanpa sadar mengeras.

Namun sebelum ia sempat berbuat lebih jauh, Zoya bergerak dengan cepat. Tangannya mencengkeram pergelangan Bimasya… ia bukan sekadar menahan, melainkan menekan titik saraf tertentu. Meski tubuhnya terlihat ramping dan lembut, tapi ia paham dimana letak saraf yang membuat orang kesakitan.

Dalam sekejap, lengan Bimasya seperti kehilangan tenaga. Mati rasa menjalar, membuat lengannya terkulai lemah seperti tak bertulang.

Zoya melepaskan tangannya dengan satu kibasan ringan.

Bimasya tertegun. Rasa nyeri di lututnya dari kejadian sebelumnya masih tersisa, kini ditambah sensasi aneh di lengannya. Ia menatap Zoya dengan campuran marah dan tak percaya.

“Kau…”

Wajahnya memerah, dan ia melangkah mundur… ada sedikit ketakutan di matanya.

Di matanya, Zoya tampak begitu angkuh.

Hanya seorang food blogger biasa… beraninya dia?

Tatapannya berubah tajam, menyisakan ejekan yang dipendam.

“Hm… lihat saja nanti,” gumamnya sebelum berbalik pergi dengan amarah yang masih mendidih.

Ia sempat melirik sekeliling… beruntung, hanya sedikit orang di ruang itu, hanya MUA dan masing-masing sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Sementara itu, Zoya tetap tenang. Ia berjalan ke cermin, membersihkan sisa riasan kuning kusam di wajahnya hingga kembali pada tampilan aslinya. Kulitnya putih dan lembut.

Setelah itu, ia mengambil tas dan botol minumnya… lalu melangkah pergi.

Saat berada di dalam mobil, duduk di kursi penumpang, Zoya menendang dasbor dengan kesal.

“Berani-beraninya dia menyentuhku! Kini Image-ku sudah hancur…”

Ia menoleh ke samping, nada suaranya masih dipenuhi emosi.

“Nec… apa yang harus aku lakukan?”

Tangannya segera meraih tisu dari dasbor. Dengan ekspresi jijik, ia mengusap bagian pinggangnya berulang kali…

Necki meliriknya sekilas. Saat mobil berhenti di lampu merah, ia menoleh penuh arti.

“Daripada memikirkan hal ini, lebih baik kamu pikirkan kuliahmu besok. Dosen Matematika itu tidak setuju dengan sistemmu… datang hanya saat ujian. Kelasmu sudah dipindahkan.”

Zoya yang masih sibuk mengusap pinggangnya tiba-tiba terhenti. Ia menoleh cepat.

“Apa maksudmu…?” tanyanya bingung.

Necki memutar bola matanya. “Artinya kamu harus datang ke kelas lain…. Dan itu besok!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!