Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak-Riak Kecil di Kolam Kenangan
Pagi itu, langit tidak sepenuhnya biru, ada semburat abu-abu yang berarak malas ditiup angin yang membawa aroma tanah basah.
Senja melangkah keluar dari penginapan dengan kemeja santai yang masih tampak terlalu rapi untuk suasana pedesaan ini.
Langkahnya terhenti di pelataran rumah kayu milik kakek dan nenek Arunika.
Di sana, suasana sudah tampak hidup.
Arkala sedang sibuk memeriksa beberapa bilah bambu panjang yang ujungnya telah dipasangi senar dan mata pancing sederhana, sementara Arunika terlihat anggun dengan topi caping kecilnya, sedang menyiapkan wadah untuk hasil tangkapan.
Mereka tampak seperti satu paket masa lalu yang tak terpisahkan.
"Eh, Nak Adit sudah bangun?" sapa Nenek dari ambang pintu sembari mengibas-ngibaskan kain serbet.
"Daripada bengong di penginapan menunggu Papamu pulang dari proyek, lebih baik ikut mereka saja. Segarkan pikiran, Nak. Lihat air, lihat ikan, siapa tahu dapat inspirasi baru."
Kakek yang sedang menyesap kopi di teras pun mengangguk setuju. "Benar itu. Arkala, ajak si Adit. Dia butuh melihat bagaimana orang sini mencari hiburan."
Arkala mendongak, tatapannya langsung berubah menjadi malas. Ia menghela napas panjang, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal agar pria kota ini tidak merusak ritme paginya.
"Aduh, Kek, Nek... kayaknya jangan deh. Adit ini kan orang sibuk. Mana tahan dia panas-panasan di empang. Nanti kulitnya merah-merah, kita yang repot dimarahi Papanya."
Senja yang mendengar itu merasa tertantang. Ia melipat lengan kemejanya hingga ke siku, menunjukkan pergelangan tangan yang kokoh meski biasanya hanya memegang pena.
"Enggak kok, Kek. Saya lagi luang hari ini. Pekerjaan saya sudah saya siapkan semalam. Saya ikut ya?"
Arkala masih belum menyerah, ia mengangkat joran bambu di tangannya. "Beneran? Di sana banyak nyamuk lho, Dit. Belum lagi bau lumpur. Lu bisa pakai pancing bambu begini? Ini nggak ada mesinnya kayak pancing mahal orang kota."
"Ayolah, jangan pelit berbagi spot mancing, ucap Senja. Dan tenang saja, pancing bambu pun gue sikat."
Akhirnya, dengan wajah masam yang tak bisa disembunyikan, Arkala mengalah.
Mereka menuju ke kolam pemancingan milik keluarga Kakek menggunakan kendaraan unik—sebuah sepeda motor yang dimodifikasi memiliki bak di sampingnya, menyerupai becak motor.
"Biar gue yang nyetir," potong Arkala cepat saat Senja baru saja mendekati kemudi. "Orang kota mana becus nyetir ginian. Koplingnya kasar, jalannya sempit. Nanti lu malah bikin kita nyusruk ke selokan."
Senja mendengus tak terima, tangannya masih memegang pinggiran bak. "Yee, jangan ngeremehin. Gue juga bisa naik motor ya, motor kopling atau moge pun gue sikat."
"Moge lu nggak ada gunanya di jalan tikus begini, Bos," sindir Arkala sambil menyalakan mesin yang menderu kasar. "Udah, duduk manis aja di samping Ika. Pegangan yang kencang."
Arunika yang sejak tadi menyimak perdebatan kecil itu hanya bisa tertawa.
Suara tawanya lirih, beradu dengan suara mesin motor, namun bagi Senja, suara itu lebih jernih daripada air kolam mana pun. "Sudah, sudah. Kalian ini seperti anak kecil berebut mainan. Ayo berangkat!"
Sesampainya di kolam milik Kakek, suasana terasa sangat tenang. Permukaan air kolam yang berwarna hijau kecokelatan itu tampak tenang, hanya sesekali riak kecil muncul saat ikan-ikan di dalamnya menyembul ke permukaan untuk bernapas.
Mereka mulai memasang umpan pada kail pancing bambu masing-masing.
"Kita lomba," tantang Arkala dengan gaya pongah sembari melemparkan kailnya ke tengah kolam. "Siapa yang paling banyak, dia pemenangnya."
Satu jam berlalu. Arkala tampak sangat ahli memainkan joran bambunya. Ia sudah mendapatkan empat ekor ikan, meski ukurannya tidak terlalu besar, setidaknya wadahnya terisi.
Ia melirik Adit yang masih mematung menatap pelampungnya yang tak kunjung tenggelam. "Gimana? Masih nihil? Umpannya jangan dikasih curhat, kasih cacing!"
Senja hanya diam, fokusnya tajam. Tiba-tiba, pelampungnya menukik tajam ke bawah. Joran bambunya melengkung drastis, hampir menyentuh permukaan air. "Wah! Ini dia! Ini pasti gede, tarikannya beda!" seru Senja penuh semangat.
Ia mulai bertarung dengan tarikan ikan tersebut, menarik joran bambunya dengan hati-hati agar tidak patah.
Pas ketika kepala ikan itu muncul sedikit di permukaan, Senja berteriak bangga, "Tuh kan bener! Lihat, punya gue gede banget! Lu percuma dapet banyak kalau kecil-kecil gitu, Kal! Ini namanya kualitas di atas kuantitas!"
Namun, karena terlalu bersemangat dan tanah di pinggiran kolam itu sangat licin akibat lumut, kaki Senja terpeleset saat menarik joran bambunya kuat-kuat. "Woy—!"
Byuuur!
Senja terjatuh dengan sukses ke dalam kolam, bersama dengan ikan besarnya.
Arkala yang melihat itu langsung meledak dalam tawa yang sangat keras hingga memegang perutnya. "Sukurinnn! Haha! Percuma dapet ikan gede kalau ujungnya nyebur! Lihat tuh muka lu, Dit, udah penuh lumpur kayak lele!"
Arunika ikut tertawa, namun tawanya segera berganti menjadi kepanikan saat melihat Adit tampak megap-megap dan tangannya menggapai-gapai udara seolah tidak bisa berenang. "Adit! Adit, kamu nggak apa-apa? Kal, tolongin! Dia nggak bisa renang kayaknya!"
Arkala masih tertawa sambil melambaikan tangan. "Ah, dia pura-pura itu, Ika! Biarin aja, orang kota mau cari perhatian itu!"
Tapi Arunika melihat wajah Senja yang tampak serius ketakutan.
Tanpa pikir panjang, Arunika langsung menyebur ke dalam kolam, membasahi kainnya tanpa peduli.
Ia berenang mendekat ke arah Senja dengan wajah pucat. "Adit! Pegang tanganku!"
Saat Arunika sudah sampai di depan Senja, Senja tiba-tiba berdiri tegak. Air kolam itu ternyata hanya setinggi perutnya.
Ia mengusap wajahnya yang penuh lumpur lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Kamu kena prank, Arunika! Aku cuma bercanda!"
Arunika terpaku. Napasnya masih tersengal karena panik, sementara wajahnya sudah basah terkena cipratan.
Detik berikutnya, wajah khawatirnya berubah menjadi kesal yang amat sangat. Ia memukul bahu Senja dengan keras. "Ihh! Orang sudah serius, sudah takut kamu kenapa-napa! Jahat banget sih!"
Senja tidak berhenti tertawa, ia bahkan mulai usil menyiprat-nyiprati air ke wajah Arunika. "Habisnya kamu lucu kalau panik begitu."
Mereka akhirnya naik ke daratan.
Senja berusaha membersihkan sisa-sisa lumpur dari kemejanya yang kini sudah berubah warna, sementara Arunika sibuk memeras ujung kainnya yang basah kuyup di sisi lain kolam.
Arkala menghampiri Adit dengan langkah angkuh, masih menyisakan sisa tawa di bibirnya sambil menenteng pancing bambunya.
"Sukurinnn... percuma dapet ikan gede kalau ujung-ujungnya harus mandi lumpur," ejek Arkala sambil melirik kemeja mahal Adit yang kini hancur warnanya. "Tuh, muka lu udah nggak kayak Bos lagi, lebih mirip penunggu empang."
Senja melirik ke arah Arkala dengan muka mengejek, mengabaikan noda lumpur di wajahnya. Ia menyeringai tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang membuat Arkala mengernyit. "Setidaknya kali ini gua menang."
Arkala menaikkan alisnya, menatap Senja dari atas ke bawah. "Menang gimana maksud lu? Ikan lu tadi lepas balik ke kolam, baju lu kotor semua, dan lu hampir mati konyol gara-gara prank nggak lucu itu. Menang apanya? Menang malu?"
"Gue menang," balas Senja santai sambil mengusap sisa lumpur di pipinya. "Lihat aja tadi, Arunika panik banget kan? Dia sampai nyebur cuma buat mastiin gue nggak kenapa-napa. Itu artinya dia peduli."
Arkala mendengus remeh, tawanya berubah menjadi nada sinis. "Dia nggak panik karena sayang, Dit. Lu jangan kepedean.
Dia cuma takut kalau lu mati di sini, bokap lu bakal nuntut keluarga Dia. Repot urusannya sama orang kota kayak lu. Dia itu cuma takut dimarahin Kakek, tahu!"
Senja tidak langsung membalas, ia sibuk membersihkan lengannya yang masih berleleran lumpur hitam.
"Ah, masa? Gue cuma mau bilang, liat aja nanti. Gue yang bakal lebih deket sama dia. Toh, kalian selama ini cuma temen deket kan? apa cuma HTS an?" Ucap Senja sambil senyum menyeringai.
Wajah Arkala tiba-tiba berubah. Sisa tawanya lenyap, berganti dengan sorot mata yang gelap dan serius.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Senja, memangkas jarak di antara mereka di pinggir kolam itu.
"Sebenarnya... hubungan lu ama Arunika apasih?" tanya Senja dengan nada menantang, matanya menatap lurus ke netra Arkala.
Arkala menatap Senja dengan tatapan menyelidik yang dingin. "Kepo aja lu urusan orang" ucap Arkala.
"Yee, songong banget," balas Senja tak mau kalah. "Gue cuma nanya. Lagian kalian juga masih sekadar deket, kan? Belum ada ikatan apa-apa."
Arkala mendengus, kali ini ia menatap Senja dengan wajah yang sangat serius, tidak ada lagi candaan atau sindiran kasar yang biasanya meluncur.
"Siapa bilang kita cuma deket? Kita punya hubungan yang lebih dari sekadar 'deket' yang lu bayangin."
Wajah Senja berubah seketika. Senyum kemenangannya luntur, berganti dengan sorot mata yang kaget dan penuh tanda tanya. "Hubungan apa?"
"Kepo aja lu," jawab Arkala singkat. Suaranya merendah, terdengar seperti sebuah peringatan yang nyata.
"Pokoknya, awas aja ya kalau lu berani macem-macem sama Arunika, gue tonjok muka lu itu sampai nggak bisa dikenali!"
Suasana di pinggir kolam itu mendadak menjadi sangat panas, jauh lebih panas daripada terik matahari yang mulai menyengat kulit.
Mereka berdua berdiri berhadapan, saling menatap tajam seolah ada api yang siap meledak di antara mereka.
"Apasih kalian ini!" seru Arunika tiba-tiba, muncul di tengah-tengah mereka dengan wajah yang memerah karena marah.
"Masih saja berantem! Capek dengernya! Ayo minta maaf sekarang!" ucap Arunika tanpa tahu permasalahannya apa.
Keduanya terdiam, napas mereka masih memburu.
Dengan wajah yang sama-sama ditekuk dan tidak ikhlas, mereka mencoba saling menyalahkan dengan isyarat mata sebelum akhirnya menyerah pada tatapan maut Arunika.
"Maaf," gumam Arkala pelan sambil menendang kerikil kecil.
"Iya, maaf juga," sahut Senja sambil membuang muka ke arah lain.
Arunika menghela napas panjang, merasa lelah harus menghadapi dua laki-laki yang tingkahnya tidak lebih dewasa dari anak-anak yang hobi berkelahi di pinggir kali.
"Ya sudah, ayo pulang. Aku sudah lapar dan bajuku basah semua."
Arkala dan Senja hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka pun berjalan menuju motor becak dengan sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung di udara.
Di atas motor yang melaju membelah jalanan setapak, Senja terdiam.
Ucapan Arkala tentang "hubungan" itu terus berdenyut di kepalanya. Ia menatap punggung Arunika yang ditiup angin pagi, bertanya-tanya dalam hati, benarkah ada rahasia yang tidak ia ketahui di antara mereka berdua?
Angin berdesir membawa aroma lumpur dan air kolam yang mulai mengering di pakaian mereka.
Sebuah teka-teki baru telah lahir di tengah riak kolam tadi, dan Senja tahu, perjalanan ini baru saja dimulai.