NovelToon NovelToon
Lembayung Di Batas Timur

Lembayung Di Batas Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:195k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.

Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.

Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Kebimbangan ka'e Ivy

Kini mereka sudah berjalan demi mengelilingi sekolah, "disini jumlah tenaga pendidik hanya 4 kak, termasuk saya." ia menyentuh dadanya sendiri sambil meringis.

"Ha?!" Gege menutup mulutnya sendiri sambil melirik sekeliling, sorry-sorry.

"3 sudah ASN termasuk saya dan satu honorer." Lanjutnya. Ivy mendongak, menunduk dan menyisir seluruh area, yang benar saja honorer di tempat seperti ini, yang menurut penuturan Bu Santi barusan harus menempuh jarak jauh, sulit air, dan ya ampun....hampir-hampiran ia menangis. Lebih baik dagang kacang rebus di jalanan ibukota.

Lihatlah! Tak sepadan bayarannya untuk sebuah perjuangan mencerdaskan anak bangsa, terasa olehnya...mengerjakan tugas makalah saja bikin pusing, belum biaya semester, ditambah---ditambah...matanya mendadak panas. Jika itu dirinya, akankah sanggup?

Lalu ada banyak yang dibicarakan oleh Bu Santi kala mereka berbincang seraya berjalan, mulai dari titik ruang tata usaha yang merangkap kantor.

Lambang burung Garuda serta dua foto orang nomor satu terpampang nyata diantara dinding dengan nada sarang laba-laba. Tapi apa itu ada artinya sekarang? Siapa nomor satu, siapa yang terpampang, hanyalah kertas berdebu yang tak mampu memperjuangkan hak mereka disini.

"Jumlah kelas aktif 4, untuk kelas 1 dan 2 di pagi hari dari pukul 7 sampai 9.30 sisanya bergantian kadang disatukan jika kelas kecil belum pulang."

"Lalu gurunya, Bu?" Gabriel yang bersuara, sementara Ivy memilih menatap ke kedalaman kelas yang kini sedang berkegiatan belajar--mengajar. Sedikit gelap dari tempatnya, tapi cukup jelas terlihat.

Senyumnya terulas, melihat bocah lelaki menunjukan tangannya menjawab pertanyaan sang guru.

"Untuk guru, kami terbiasa merangkap kak. Jadi satu orang guru bisa memegang lebih dari satu kelas sekaligus berbeda tingkatan."

Ivy melangkahkan kakinya ke arah kelas yang sejak tadi memancing atensinya.

Suaranya begitu mantap dengan logat khas ketimuran, "Thomas Alva Edison, pada tahun 1879. Ia lahir di Milan, Ohio, Amerika Serikat pada tanggal 11 Februari. Dan wafat di West Orange pada 18 Oktober 1931."

"Bagus Silas, lalu---"

Langkahnya tanpa sadar sudah sampai di gawang pintu kelas yang terbuka itu, pintu kayunya sedikit terlihat miring dengan engsel sebelah yang copot, "Tapi sebenarnya Edison bukanlah orang pertama yang menemukan lampu pijar listrik...ada ilmuwan lain asal Inggris bernama Joseph Swan yang juga telah mengembangkan bola lampu serupa secara terpisah, lalu keduanya membuat perusahaan bersama yang diberi nama Edison and Swan United electric light company."

"Dan jauh sebelum itu ada penemu lain yang melakukan percobaan bola lampu yaitu Wallen de la Rue pada tahun 1840 dan Henrich Gobel pada tahun 1854 yang menjadi pondasi bagi teknologi penerangan modern." Jelas Ivy membuat mereka semua yang ada di ruangan itu terdiam memandang orang asing ini.

Ivy meringis lalu mengatupkan kedua tangannya di depan wajah, meminta maaf dan ijin pada guru di depan kelas sebab telah membuat suasana hangat jadi beku.

Bu Nera namanya, ia adalah guru honorer yang berasal dari kabupaten timur masih di kota seribu sunset ini, ia tersenyum kemudian mempersilahkan Ivy untuk masuk membuat bocah lelaki bernama Silas itu kembali ke arah bangkunya tepat di bagian belakang, tapi langkahnya itu ternotice Ivy, tanpa alas kaki sama sekali.

"Nah kebetulan sekali, anak anak, perkenalkan...ka'e pu nama..." Bu Nera melihat Ivy clueless dan seolah sedang mempersilahkan Ivy untuk memperkenalkan dirinya secara langsung.

Ivy, tanpa rasa malu dan canggung melangkah masuk ke dalam kelas, cukup----wahh macam dipanggang, sebab atap atasnya menggunakan asbes tanpa plafon menutupi, potret yang lagi-lagi membuatnya merasa patut bersyukur. Lantai, bukan lantai keramik dan yang jelas debu tebal sudah mengerak.

"Hallo, selamat---siang.."

Bu Nera tersenyum, "Tabe leso." Ucapnya diangguki Ivy.

"Tabe leso, ari..." say Hay Ivy pada mereka, (selamat siang, adek)

"Tabe leso, ka'e!" seru mereka. (selamat siang, kak!)

"Ka'e pu nama Pravita Ayudisa, dari ibukota. Bisa panggil nama ka'e Ivy."

Mereka berpisah dari ema Waro di dekat persimpangan rumah Ema.

"Sa, Lo yang bener aja...itu kita bakalan ngerjain proker segi pendidikan di SD Tunas 12, resiko tinggi Sa...menyangkut nyawa." Gabriel menolak program itu sekarang, jujur saja sejak tadi ia dilanda ketakutan jika sewaktu-waktu tiba-tiba mereka di serang atau chaos disana, berada di tengah-tengah perang adat itu bukanlah kkn impian.

"Terus apa solusi dan usul Lo, ini gue lagi ngajuin pengawalan sih...biar tenang aja. Lagian mungkin nanti Ivy ngga tiap hari di Tunas 12, kan Vy?" kini Arsa meminta suaranya.

"Ck. Susah emang...bisa aja kan misal kita ngadain program kerja segi pendidikan di balai dusun Tanjung komodo? Atau pake modelan sekolah alam gitu, Vy? Jadi outdoor yang penting ngga disana, serem banget tanah sengketa."

Gege sejak tadi ia hanya mengangguk-angguk saja setuju dengan Gabriel.

Tapi Ivy justru menggeleng, "tapi ngga semua anak dari dusun Tanjung komodo Gab, banyak juga anak-anak lintas desa, dan untuk sampe di tanjung 12 aja tuh udah perjuangan banget, apalagi mesti ke dusun Tanjung komodo?"

Tanpa sadar langkah mereka sudah sampai di basecamp pucuk kepala mereka sudah cukup panas meskipun Arsa sempat memberikan topinya untuk Ivy di tengah jalan tadi.

"Ya ampun, panas banget!" Gege berlari ke arah beranda, dimana Nanda dan Made sudah sibuk dengan alat-alat dan perkakas, lalu Raudhah dan Imel tengah sibuk di tengah ruangan, terlihat sekeranjang rumput laut yang masih segar tengah di bersihkan.

"Hey, ini mau dijadiin apa? Di masak bareng nasi atau dibikin agar-agar? Kalo agar-agar berarti harus beli serbuk agar-agarnya..."

"Wih apa tuh?" tanya Gege berseru masuk ke dalam.

Sementara Ivy, ia masih berjalan lemas setengah melamun, apa yang dikatakan Arsa tadi....

Ia duduk di beranda tepat di samping Made, dimana Tami dan Bumi belum kembali. Arsa dan Gabriel langsung bergabung.

"Sa, ini ukurannya ntar kita bikin segimana?" tanya Nanda.

Tak lama Bumi datang dengan sebuah motor, bukan matic tapi motor gigi yang tidak terlalu bagus, "Gab! Dapet nih!"

Mereka lantas berseru setelah Tami turun dari boncengan, "lumayan lah bisa angkut air bolak balik, mahal an jirrr."

Gabriel beranjak untuk melihat motor sewaan para cowok itu, "ya ngga apa-apa lah, yang penting bisa angkut terus dipake mobilitas darurat, daripada tiap hari mesti angkut air sambil jalan." Ucapnya, "bisa pecah tangan-tangan gue bawa jerigen air."

Keseruan dan kebahagiaan tim Adam tak serta merta membuat Ivy turut merasakan euforianya padahal Imel dan Gege saja sudah berseru senang.

Meski ada cibiran dan hinaan juga dari Gege, "ngga ada yang lebih bagusan dikit apa? Cuma satu?"

Ivy memilih menatap ponselnya, melihat nomor yang masih ia blokir sampai sekarang, "buka ngga ya blokirannya?"

Bukan ia kecentilan hanya saja, prokernya itu...cukup beresiko dan Panji adalah satu-satunya aparat yang ia kenal untuk saat ini. Meskipun Arsa sedang berusaha mengajukan pada pihak kepolisian.

.

.

.

.

1
Opi Sofiyanti
buka aja vy.... itu jg bkl buka jln jodoh kamu.... 🤭🤭🤭
Sri Wahyuni
grup ini sll bikin ngakak so hard, pokonya rame 😆😆😆😆
Sri Wahyuni
jodohnya kalingga --- lashira aj deh, sama" anak IT biar ributnya bareng komputer 😅😅😅
Sri Wahyuni
buka donk vy...
Salim S
teteh seneng banget sama daerah tomur ya dari beberapa cerita teteh banyak yg menjurus ke timur dari abi fath,ucel,prasasti,dan sekarang panji...emang daerah timur sangatlah elok nan memukau ya teh...
Salim S
dari sekedar minta bantuan pengawalan next lanjut jadi pengawalan seumur hidup vy 🤭🤭🤭🤭buka lah vy blokirannya biar bisa komunikasi sama calon suami 🤭🤭🤭🤭
𝔪𝔯𝔰.𝔢𝔩
buka aja vy kan butuh bantuan panji ya kan
𝔪𝔯𝔰.𝔢𝔩
teh sin update di jam kunti 🤣🤣🤣
𝔪𝔯𝔰.𝔢𝔩
nyesek banget 😫😫
ieda1195
eeee jgn gitu, jodoh bang kelana udah didepan mata, udah nguber dari kemarin dia 😅
ieda1195
kelelep di kolam penampungan air lebih tepatnya,
lagi berjuang dia., semangatin dong ra
ieda1195
bang nji ditinggal merried Mayra kesenengan dia, kmu gk tau aja Mayra hobbi celup
ieda1195
wkwkwkwkwk,
yahhhhhh gala buka kartu dongg,
nyebar juga deh akhirnya 🤣,

btw Mayra mau nikah sama zein, keciduk trus disuruh nikah pasti nya yaaa
ieda1195
ryu dari guru SD pantes keknya, fasih bener 🤣🤣🤣
ieda1195
🤣🤣🤣🤣🤣 mau ditikung ryu nji, hati hati,
ieda1195
ucel gk mau banget ketahuan belangnya🤣🤣
padahal gaka udah tau sedalem dalemnya
ieda1195
saingannya umi eyi ryu 😅😅
ieda1195
wkwkwwk, stalker nya lewat jalur ordal sih, detail kan jadinya
ieda1195
wihhh, langsung ngadu ke grup nya dong,
ieda1195
bapaknya belum disahkan bang, nunggu pulng kkn 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!