NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Kekuatan Luar Biasa dan Penyesalan Abadi

Suara logam beradu keras membelah udara berpendingin ruangan. Dentingan pelat besi seberat delapan puluh kilogram menghantam lantai karet berlapis.

Fais menarik napas pendek. Ia membiarkan udara dingin gym itu mengisi paru-parunya.

Lempengan besi di depannya baru saja ia angkat dengan sangat mudah. Terlalu mudah. Benda yang seharusnya merobek serabut otot dada manusia normal itu kini terasa seperti bungkusan kapas basah di tangannya. Fais menatap telapak tangannya sendiri. Tidak ada lecet. Tidak ada otot yang gemetar meronta kelelahan. Tubuhnya yang ditempa sistem keparat semalaman benar-benar sudah kehilangan batas kewajarannya.

Ia bangkit dari bangku dorong. Melangkah menjauh dari deretan mesin beban.

Langkahnya stabil. Tidak ada sisa kelelahan dari lari maraton gilanya semalam.

Ia mengarah ke sudut ruangan yang agak sepi. Sebuah samsak tinju kulit tergantung diam berteman rantai besi tebal. Fais berdiri tepat di depannya. Memandangi permukaan hitam buatan itu sejenak.

Satu pukulan melayang.

Brak.

Rantai samsak berderit ngeri. Permukaan kulit sintetis itu melesak tajam ke dalam.

Fais diam. Otaknya memproses hantaman barusan. Ia memutar tumitnya perlahan ke samping. Instingnya mendadak mengambil alih kesadaran. Tangannya bergerak menyusul.

Kiri. Kanan. Siku. Lutut.

Ia tidak pernah belajar seni bela diri profesional seumur hidupnya. Mantan kuli bangunan sepertinya hanya tahu cara melempar batu atau memukul asal saat mabuk. Tapi kini tubuhnya bereaksi mandiri. Setiap putaran sendi terasa sangat efisien. Alami. Mematikan. Tenaganya tersalurkan sempurna dari ujung kaki hingga ke buku jari.

Brak. Brak. Brak.

Permukaan samsak itu menjerit menerima pukulan bertubi-tubi. Fais terus bergerak. Ritmenya semakin cepat. Semakin beringas. Udara di sekitarnya seolah tersedot ke arah kepalan tangannya.

Seorang pria bertubuh raksasa dengan kaos ketat bertuliskan pelatih menghentikan langkahnya di dekat rak dumbel. Mulut pria itu sedikit terbuka. Menganga melihat teknik pukulan brutal yang baru saja disajikan Fais. Pelatih itu menelan ludah kasar. Tidak berani mendekat untuk mengoreksi postur atau sekadar menyapa.

Fais mengabaikan tatapan heran itu. Ia memukul dan terus memukul. Menguji sejauh mana refleks abnormal ini bisa ditekan sebelum tulang jarinya hancur. Tapi tulangnya menolak hancur. Tubuhnya beradaptasi lebih cepat dari kecepatan pikirannya sendiri.

Ini bukan lagi tubuh manusia. Ini mesin.

Fais menghentikan pukulannya mendadak. Samsak itu berayun liar menabrak dinding. Napasnya masih teratur. Ia mengusap peluh di dahinya menggunakan ujung kaos. Sudah cukup. Ia sudah tahu di mana posisi rantai makanannya sekarang.

Ia berjalan keluar melewati pintu kaca pusat kebugaran itu dengan tenang.

***

Jarak seratus meter dari sana. Di seberang jalan raya beraspal mulus, Maya berdiri terpaku di balik pilar beton sebuah kedai kopi.

Ia menatap pria yang baru saja keluar dari pintu kaca gedung itu.

Fais.

Dadanya mendadak terasa sesak.

Dulu mereka sama-sama biasa saja. Anak sekolah yang pulang naik angkot, makan di warung murah, dan saling menemani tanpa banyak mimpi besar. Fais selalu berjalan di sampingnya sambil membawa tas Maya tanpa diminta. Selalu mendengarkan cerita-cerita kecil yang bahkan tidak penting.

Dan perlahan, Maya terbiasa dengan keberadaan pria itu.

Mungkin... dulu ia memang sempat menyukai Fais.

Namun hidup tidak berjalan seperti drama romantis murahan.

Setelah lulus sekolah, hutang mulai datang menghantam hidup Fais. Ia bekerja serabutan. Wajahnya semakin lelah setiap hari. Masa depannya terlihat suram dan tidak pasti.

Sedangkan Maya takut.

Takut ikut tenggelam bersama pria yang bahkan kesulitan menyelamatkan dirinya sendiri.

Jadi ia pergi.

Memilih meninggalkan Fais sebelum hidupnya ikut hancur.

Waktu itu Maya merasa dirinya hanya sedang realistis.

Tapi sekarang...

Semuanya terasa berbeda.

Postur tubuh Fais berubah total. Tidak ada lagi bahu yang jatuh lesu atau langkah ragu-ragu. Pria itu berjalan tegak dengan ketenangan aneh yang sulit dijelaskan. Kaos hitam polos yang dipakainya terlihat sederhana, tapi jelas mahal. Tatapannya lurus. Tenang. Tidak lagi seperti seseorang yang meminta diterima dunia.

Penjaga lobi apartemen elit di ujung jalan bahkan membungkuk hormat saat Fais masuk.

Maya menggenggam tali tasnya erat.

Ada rasa nyeri aneh menjalar di dadanya.

Bukan cuma karena Fais berubah.

Tapi karena ia sadar... saat Fais berada di titik terburuk hidupnya, dirinya justru memilih pergi.

Sebelum sempat berpikir panjang, Maya melangkah cepat menyeberang jalan.

"Fais!"

Pria itu berhenti lalu menoleh.

Untuk sesaat Maya kehilangan kata-kata.

Fais menatapnya tanpa kebencian. Itu justru membuat Maya semakin sulit bernapas.

"Hai..." Maya tersenyum canggung. "Udah lama."

Fais mengangguk kecil. "Iya."

"Aku..." Maya menggigit bibir bawahnya pelan. "Aku minta maaf soal waktu itu."

Sunyi beberapa detik.

Maya mencoba tertawa kecil untuk meredakan gugupnya sendiri.

"Aku kadang masih ingat waktu kita sering makan mie di dekat sekolah dulu," katanya pelan. "Kamu selalu pura-pura kenyang biar aku yang habisin."

Tatapan Fais sedikit berubah.

Bukan marah.

Hanya seperti seseorang yang sedang melihat masa lalu yang sudah sangat jauh.

"Aku waktu itu takut, Fais," lanjut Maya lirih. "Hidup kamu lagi berantakan... dan aku gak tahu harus gimana."

Tangannya perlahan menyentuh lengan Fais, hati-hati.

"Aku tahu aku salah meninggalkan kamu kayak gitu."

Di dalam kepala Fais, suara mekanis Sistem Analisis Probabilitas muncul.

[Analisis selesai.]

[Target menyimpan penyesalan asli.]

[Namun terdapat kecenderungan ketertarikan terhadap peningkatan status pengguna.]

Fais diam beberapa saat.

Ia tahu sistem mendeteksi kebohongan kecil di balik ucapan Maya.

Tapi anehnya... ia tidak marah.

Karena sekarang ia akhirnya mengerti sesuatu.

Dulu Maya pergi bukan karena ia membenci Fais.

Ia hanya tidak percaya Fais bisa membawa mereka ke mana-mana.

Dan saat itu... Fais memang belum bisa.

Fais tersenyum kecil.

"Gak apa-apa," katanya pelan.

Maya menatapnya.

"Aku paham kenapa kamu pergi waktu itu."

"..."

"Kalau aku ada di posisi kamu dulu," lanjut Fais sambil terkekeh tipis, "mungkin aku juga bakal takut."

Mata Maya sedikit membesar.

Tidak ada nada sinis.

Tidak ada amarah.

Justru karena Fais terdengar tulus, dada Maya terasa semakin sakit.

"Aku senang kamu minta maaf," ujar Fais. "Serius."

Lalu ia melangkah mundur perlahan.

"Tapi menurutku... kita memang cuma sampai di situ aja."

Kalimat itu lembut.

Tidak menusuk.

Tidak dingin.

Namun justru karena itulah Maya sadar semuanya benar-benar sudah berakhir.

Fais mengangguk kecil sebelum berjalan pergi menuju lobi apartemen.

Dan kali ini...

Maya tidak memanggilnya lagi.

***

Di belahan kota yang lain. Asap rokok mengepul tebal menabrak lampu gantung ruangan kedap suara.

Seorang pria kurus berjaket kulit meletakkan sebuah map tipis di atas meja kayu jati. Ia menunduk sangat sopan hingga punggungnya nyaris melengkung sembilan puluh derajat.

Terdengar suara kertas tebal dibalik. Wawan membaca deretan teks di atas kertas itu dengan wajah luar biasa datar.

Keheningan perlahan turun merayap menutupi ruangan.

Bukan sekadar sepi biasa. Ada beban tak kasat mata yang menekan udara di sekitar mereka berdua. Berat. Sangat berat. Keheningan keparat yang membuat pria berjaket kulit itu menahan napasnya tanpa sadar. Takut sedikit saja tarikan napasnya akan memecah konsentrasi bosnya.

"Apartemen elit," suara Wawan parau memecah senyap. Ia mengetuk kertas laporan itu menggunakan ujung rokoknya. Abu panas jatuh berantakan mengotori meja. "Gaya hidup mewah tiba-tiba. Penampilan berubah drastis."

"Benar, Bos," jawab pria kurus itu pelan. Sangat pelan. "Kami sudah mengecek seluruh jalurnya. Tidak ada catatan transaksi bank masuk. Tidak ada sumber penghasilan pasti. Pergerakannya sangat rapi dan tertutup. Seolah uang tunai itu jatuh begitu saja dari atap kamarnya."

Wawan mengusap rahang bawahnya perlahan. Kulit kasarnya bergesekan dengan jemarinya.

Ia menyipitkan mata. Manusia malang tidak tiba-tiba kaya dan membeli akses apartemen mewah tanpa meninggalkan jejak kotor. Pasti ada pihak besar yang bermain di belakang layar. Atau mungkin, pria bernama Fais ini memang sengaja menyembunyikan taringnya sejak awal untuk membodohi semua orang.

"Terus awasi dia," perintah Wawan mutlak. "Jangan sentuh dulu. Biarkan saja. Aku ingin melihat seberapa jauh tikus kecil ini bisa berlari sebelum menabrak dinding."

Pria berjaket kulit itu mengangguk cepat. "Siap, Bos."

Ponsel pintar layar lebar di atas meja kayu itu tiba-tiba bergetar singkat. Satu notifikasi pesan masuk tanpa suara nada dering. Layar menyala menembus asap rokok. Menampilkan sebuah gambar resolusi tinggi.

Gambar curian dari informan bawah tanah.

Seseorang baru saja mengambil foto diam-diam dari sudut tersembunyi ruang ganti pusat kebugaran. Foto Fais yang sedang duduk menyeka keringat di lehernya. Pria di foto itu kebetulan menatap lurus menembus lensa kamera saat gambar itu diambil. Seolah ia tahu ada yang mengawasinya di sana.

Wawan meraih ponsel itu perlahan. Ia menatap layar itu lekat-lekat. Menatapnya cukup lama.

Detik jam dinding seolah nyangkut di kerongkongan dunia. Senyap kembali menelan ruangan itu bulat-bulat. Wawan membiarkan ujung rokok di sela jarinya terbakar habis perlahan menyentuh batas filter.

"Ini semakin menarik."

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!