Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es Jeruk yang Salah Alamat
Pagi di hari Jumat biasanya terasa lebih santai bagi kebanyakan mahasiswa Universitas Wikerta. Lorong-lorong kampus yang biasanya dipadati mahasiswa berlarian mengejar absen, kali ini tampak lebih lengang.
Sinar matahari pagi menerobos celah-celah ventilasi gedung Sastra, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di lantai tegel tua. Namun, ketenangan itu tidak berlaku bagi Kirana.
Ia berjalan menyusuri koridor lantai tiga dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Sepatu ketsnya berbunyi konstan di atas lantai, menciptakan irama yang dibarengi dengan bisik-bisik penuh semangat dari dua sahabatnya yang mengikuti di belakang.
Maya dan Sari tampak seperti agen rahasia yang sedang menjalankan misi penyusupan tingkat tinggi.
Meskipun mereka bertiga berasal dari jurusan yang berbeda—Maya di Komunikasi dan Sari di Psikologi—hari ini adalah pengecualian besar dalam sejarah pertemanan mereka.
Karena jadwal mata kuliah di hari Jumat sangat longgar dan kebetulan Maya serta Sari sedang tidak ada jadwal kelas, mereka memutuskan untuk "menyelundup" masuk ke kelas Kirana.
Rencananya sederhana namun krusial: setelah kelas selesai, mereka akan langsung meluncur ke rumah Kirana untuk menginap, maraton film, dan menyiapkan agenda jalan-jalan esok harinya.
"Aman kan, Ra? Dosennya nggak bakal absen manggil satu-satu kan? Gue nggak mau didepak keluar gara-gara ketahuan penyusup," bisik Sari cemas.
Kirana menoleh sekilas, memberikan senyum menenangkan. "Aman, Sar. Santai aja. Biasanya Pak Heru cuma muterin kertas absen buat tanda tangan keliling. Kalian duduk di pojok belakang aja, pura-pura sibuk baca buku atau buka laptop. Dia nggak bakal sadar kalau mahasiswanya nambah dua orang."
Saat mereka sampai di depan ruang kelas 302, Kirana sedikit terheran-heran. Pintu kelas tertutup rapat dan suasana di dalamnya tampak sunyi senyap. Padahal, biasanya jam segini sudah ada beberapa anak rajin yang stand by di dalam.
"Kok sepi sih? Jangan-jangan kita salah jam?" tanya Maya sambil mengintip dari jendela kaca kecil di pintu.
Kirana segera merogoh ponselnya dari saku jeans. Jari-jarinya menari cepat di atas layar, membuka grup WhatsApp kelas yang penuh dengan notifikasi baru. "Aduh, Pak Heru baru aja nge-chat lima menit lalu. Katanya dia ada urusan bentar di dekanat, jadi kelas diundur 20 menit lagi. Pantesan belum ada orang."
"Yah, tau gitu tadi kita nambah gorengan dulu di kantin," keluh Maya lemas.
"Ya udah, masuk aja dulu yuk, daripada berdiri di koridor pegel," ajak Kirana.
Mereka pun mendorong pintu dan melangkah masuk ke ruang kelas yang masih kosong melompong. Kirana langsung menuju kursi favoritnya—barisan ketiga dekat jendela, posisi paling strategis untuk melamun menatap taman atau fokus ke depan jika materi sedang menarik.
Namun, langkah Kirana terhenti mendadak.
Matanya membulat saat melihat sebuah benda asing yang tergeletak manis di atas meja kayunya. Di samping tote bag krem yang ia gunakan untuk "tag" tempat sejak pagi tadi—setelah mereka sempat sarapan nasi uduk di kantin—kini bertengger segelas es jeruk plastik.
Embun dingin masih menetes di permukaan gelasnya, menandakan minuman itu baru saja diletakkan. Di dekat gelas itu, buku antologi puisi milik Kirana terbuka sedikit, seolah habis dibaca oleh seseorang.
"Eh? Es jeruk siapa nih?" Kirana mengernyitkan dahi, menatap barisan kursi kosong di sekelilingnya.
Maya, yang radar gosipnya selalu aktif 24 jam, langsung memekik gemas meski suaranya ditahan agar tidak menggema di ruangan yang sepi itu.
"Cieee! Gila ya, Kak Danu effort-nya nggak main-main banget! Pasti dia sengaja naruh ini pas lewat tadi sebelum ke Lab. Kan gedung Teknik sama Sastra tetanggaan banget, cuma kepisah taman doang. Dia pasti tahu lo bakal kehausan nunggu kelas yang diundur gini."
Kirana merasakan sensasi panas menjalar ke pipinya. Sebuah senyum tipis yang sangat manis mengembang di bibirnya. "Masa sih? Tapi emang cuma Kak Danu yang tahu gue butuh yang seger-seger kalau kelas pagi. Dia emang perhatian banget, ya."
Ia menatap gelas es jeruk itu dengan tatapan lembut, seolah minuman itu adalah surat cinta yang sangat berharga. Namun, suasana romantis yang baru saja terbangun di kepala Kirana buyar seketika.
Sebuah bayangan tinggi tiba-tiba muncul dari arah ambang pintu. Sosok itu berdiri tegak, menciptakan aura intimidasi yang kuat. Bima berdiri di sana.
Hari ini dia tampak jauh lebih rapi dari biasanya; mengenakan kemeja PDL Teknik berwarna navy yang disetrika kaku dan celana jeans hitam pekat yang pas di tubuh tegapnya. Wangi parfum maskulin yang segar—bukan bau oli—seketika menyeruak masuk ke indra penciuman Kirana.
"Ngapain lu ke sini pagi-pagi?" tanya Kirana ketus. Senyum manisnya hilang secepat kilat, digantikan oleh wajah judes andalannya. "Salah gedung ya lo? Bengkel lo tuh di sebelah, bukan di sini. Bau oli lo bisa ngerusak aroma buku di sini tahu nggak."
Bima melangkah maju tanpa ragu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jeans-nya. Gerakannya tenang namun tegas. "Gua cuma lewat. Kenapa? Emang ada aturan tertulis dilarang anak Teknik napas atau lewat di gedung Sastra?"
"Ehh iya, lagi iuhh... males banget gue deket-deket ama bengkel jelek lu itu," balas Kirana sengit. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Kirana tahu jurusan Teknik Mesin itu hebat, tapi egonya terlalu tinggi untuk mengakui itu di depan Bima.
Bima mendengus kasar, tatapannya beralih ke gelas es jeruk yang ada di depan Kirana. Matanya menyipit sinis. "Minum es pagi-pagi itu nggak baik buat lambung. Otak lu bisa makin lambat kalau kebanyakan asupan gula pas kuliah. Nanti yang ada lu malah tidur pas dosen ngejelas."
Kirana mengernyitkan dahi, merasa benar-benar terganggu. "Emang apa urusannya sama lu? Mau perut gue sakit, mau otak gue lemot, itu urusan gue! Lagian ini pemberian orang yang tulus, gue harus hargain!"
"Pemberian orang?" Bima menatap gelas itu dengan tatapan yang sulit diartikan—antara sebal dan sinis yang dibuat-buat. "Jangan kepedean. Siapa tahu itu es sisa yang nggak sengaja ditaruh orang lewat karena males nyari tempat sampah. Lu jangan gampang baper cuma gara-gara air jeruk murahan."
Maya, yang duduk di kursi belakang Kirana, mulai mencium sesuatu yang tidak beres. Ia menatap Bima dengan tatapan menyelidik. "Bentar-bentar... kok tumben banget seorang Bima 'Mekanik Malam' yang terkenal anti-sosial dan cuek ini peduli sama urusan kesehatan orang lain? Apalagi urusan lambung Kirana?"
Bima sempat gelagapan sesaat. Jakunnya naik turun, tapi dengan cepat ia menetralkan ekspresi wajahnya menjadi sedatar tembok beton.
"Gua cuma nggak mau liat ada mahasiswa pingsan di jalanan kampus gara-gara asam lambung naik. Nyusahin orang Teknik yang harus gotong karena gedung kita paling deket sama gerbang."
"Dih, nggak jelas banget alasan lo! Mending lo pergi deh, Bim. Hush!" Kirana mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat.
Bima menatap Kirana tajam selama beberapa detik. Ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya, namun egonya memenangkan pertempuran. Perasaan gengsi mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Terserah," jawab Bima dingin. Ia berbalik badan dengan gerakan cepat dan melangkah keluar kelas. Langkah kakinya yang berat terdengar menghentak keras di koridor.
Setelah sosok Bima menghilang di balik pintu, suasana kelas yang sempat tegang perlahan kembali tenang. Maya segera mencondongkan tubuhnya ke arah Kirana, matanya memicing penuh kecurigaan.
"Ra... gue rasa ada yang bener-bener aneh sama si Mekanik itu," bisik Maya.
"Apalagi sih, May? Jangan mulai deh," sahut Kirana sambil mulai menyesap es jeruknya. Meski terasa segar, entah kenapa rasanya jadi agak hambar gara-gara emosi yang baru saja meluap.
"Si Bima. Kayaknya dia suka deh ama lu," ucap Maya dengan nada sangat yakin.
Kirana langsung tersedak.
Sari dengan sigap menyodorkan beberapa lembar tisu sambil mengelus punggung Kirana. "Amit-amit! May, lo kalau ngomong jangan ngasal ya. Mana mungkin cowok kaku, dingin, kasar, dan nyebelin kayak dia suka sama gue? Dia itu cuma hobi nyari perkara aja, seneng liat gue marah."
Sari, yang biasanya paling pendiam, akhirnya ikut bicara. "Tapi emang aneh sih, Ra. Logikanya, anak Teknik itu sibuk banget. Buat apa Bima bela-belain ke gedung Sastra pagi-pagi cuma buat komentarin es jeruk kamu? Padahal dia terkenal sangat dingin dan nggak peduli sama sekitar."
"Udah deh, stop bahas si bau oli itu. Kita fokus kuliah aja," balas Kirana, berusaha mengalihkan pembicaraan meskipun jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.
Meskipun mulutnya berkata tidak peduli, Kirana tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia teringat cara Bima menatap gelas es jeruk itu tadi—ada kilat kekesalan yang aneh, seolah-olah Bima merasa "dikhianati" oleh gelas plastik itu.
Namun, Kirana segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Baginya, Bima tetaplah gangguan frekuensi, sedangkan Danu adalah melodi indah yang sedang berusaha ia dengarkan.