NovelToon NovelToon
Vintage Heartbeats

Vintage Heartbeats

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan / Pernikahan Kilat
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.

Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.

"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."

"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.

Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

..."Cinta mungkin telah usang, tapi detaknya masih mengenali ritme yang sama."...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Gelas kristal di tangan Briella Zamora sudah tidak lagi dingin. Embun yang tadi menyelimuti permukaannya telah mencair, menyatu dengan keringat di telapak tangannya yang gemetar.

Di dalam bar eksklusif di sudut tersembunyi Los Angeles ini, Briella merasa dunianya sedang runtuh.

​"Tuangkan lagi!" serunya pada bartender tanpa menoleh.

​Pria di balik konter itu ragu sejenak melihat botol whisky mahal yang hampir tandas, tapi tatapan tajam Briella membungkamnya.

​"Tuangkan lagi, kubilang!" suaranya naik satu oktav, menarik perhatian beberapa sosialita di ujung bar.

​Briella menatap layar ponselnya yang menyala, menampilkan foto seorang pria dengan rahang tegas dan mata setajam elang yang sedang memberikan kuliah umum di sebuah universitas ternama.

Ribuan komentar di bawahnya memuja pria itu dengan kata-kata seperti "Jenius", "Sempurna", dan "Pria Idaman".

​"Sempurna?" gumam Briella dengan tawa getir yang terdengar seperti rintihan. "Kalian bilang dia sempurna?"

​Ia meneguk sisa minumannya dalam satu tarikan napas, merasakan panas yang membakar tenggorokannya.

Matanya memerah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena amarah yang telah ia pendam selama lima tahun.

​"Dasar gadis-gadis bodoh," bisiknya pada layar ponselnya. "Kalian hanya melihat apa yang dia ingin kalian lihat. Kalian hanya melihat mesin yang mengkilap tanpa tahu betapa bobroknya dia di dalamnya."

​Briella menyandarkan kepalanya di atas meja kayu bar yang dingin. Kilasan memori menyakitkan itu kembali tanpa diundang.

​"Aku pernah memujanya sebelum kalian semua memujanya," suaranya parau, tenggelam dalam dentum musik jazz yang rendah.

"Aku pernah menjadi orang yang paling percaya pada kejeniusannya, sebelum dia menggunakan kejeniusan itu untuk membedah harga diriku sampai tidak bersisa."

​Ia teringat masa-masa di mana ia menjadi satu-satunya orang yang menemani Lexington Valerio, membawakannya kopi saat pria itu begadang merancang transmisi mesin. Ia pernah mencintai setiap inci dari pria itu, termasuk kekurangan yang tidak diketahui dunia.

​Namun, rasa mual yang tiba-tiba menyerang bukan karena alkohol, melainkan karena rasa muak melihat Lexington kini berdiri di puncak dunia sebagai pahlawan otomotif sekaligus dosen yang dihormati, sementara Briella masih membawa bekas luka emosional yang pria itu tinggalkan.

​Dengan jari yang sedikit limbung karena pengaruh alkohol, Briella membuka kolom komentar pada unggahan yang sedang viral itu.

Jarinya menari di atas layar, mengetikkan kata-kata yang ia tahu akan menjadi bom bunuh diri bagi kariernya sebagai dokter bedah plastik ternama di Los Angeles.

​"Kalian terlalu memujinya. Di balik dia yang sempurna di depan mahasiswa, ia bicara tentang teori dan yang meledak-ledak... sebuah mesin mahal yang macet total setiap kali kuncinya diputar. Aku hanya merasa kasihan. Ada gangguan sirkulasi permanen yang dia derita yang membuatnya 'tidak berdaya' sebagai pria. Kasihan sekali, kehebatannya di teknik hanya kompensasi dari kegagalan biologisnya. Ilmunya mungkin berdiri tegak, tapi sayangnya, hanya ilmunya saja yang bisa berdiri. Selebihnya?"

​Ia menekan tombol post dengan sisa keberanian yang muncul dari botol whisky.

​Satu menit. Sepuluh menit. Satu jam.

​Dunia digital meledak. Briella melihat komentarnya disalin ribuan kali.

Nama Briella Zamora, pemilik klinik kecantikan ternama, kini bersanding dengan skandal penghinaan terhadap ikon baru Amerika, Lexington Valerio.

​"Setelah membuat kekacauan nasional, kau lari ke sini dan bersembunyi di balik botol, hah?!"

​Suara melengking itu memecah lamunan Briella. Belle, sahabatnya, berdiri di depannya dengan tangan bersedekap. Belle adalah satu-satunya orang yang tahu betapa rapuhnya Briella di balik jas putih dokternya.

​"Belle..." gumam Briella serak.

​"Jangan 'Belle-Belle' padaku! Kau gila? Kau baru saja menyerang 'kejantanan' Lexington Valerio di depan seluruh warga Los Angeles!" Belle menyambar tas Briella dan menarik lengan sahabatnya itu agar berdiri.

​Briella terhuyung, kepalanya berputar. "Aku hanya... aku ingin mereka tahu, Belle. Dia tidak sempurna. Dia brengsek... aku muak, Belle. Semua orang memujinya seolah dia tidak punya cacat."

"Dan kau pikir solusinya adalah mengumumkan pada dunia bahwa dia menderita disfungsi? Ayo pulang sebelum wartawan menemukanmu di sini." Belle memutar bola matanya, menyeret Briella keluar dari bar.

​"Sekarang netizen justru menyerangmu! Lihat ini!" Belle menyodorkan ponselnya.

​Briella membaca sekilas. Orang-orang mengatainya iri, pahit, dan yang paling menyakitkan: mereka bilang kecantikannya hanyalah hasil polesan operasi dan benang dari kliniknya sendiri.

​"Aku cantik sejak dulu! Mereka tahu apa tentang aku?!" Briella berteriak frustrasi saat Belle menyeretnya keluar dari bar menuju udara malam Los Angeles yang dingin.

​Di pinggir jalan, Belle melambaikan tangan menghentikan taksi. Briella yang mual hebat membungkuk, hampir muntah di trotoar.

​"Hei! Jangan muntah di situ!" bentak seorang penjaga keamanan bar dengan nada jijik.

​Belle berbalik dengan kilat di matanya. "Kau ingin dia menelan kembali muntahannya, brengsek?! Menyingkir dari hadapanku!"

​Penjaga itu menciut. Begitu masuk ke dalam taksi, Briella langsung ambruk di pelukan Belle. Ia menangis tersedu-sedu, melepaskan topeng dokter bedah yang dingin dan berwibawa.

​"Aku tidak suka dengan pujian-pujian itu, Belle... Kau tahu kan? Dia hanya pria Valerio yang brengsek," isaknya.

​Belle menghela napas, menepuk-nepuk punggung Briella. "Tenanglah. Iya, Lexington memang brengsek. Dan kau harus bangga, hanya kau yang tahu kebrengsekannya. Biarlah orang-orang memujinya. Kau sudah move on, ingat itu."

​Briella mengangguk lemah sambil melap ingusnya, terlihat sangat kekanakan dan ceroboh—sikap yang sama yang membuat Lexington memutuskannya lima tahun lalu tepat setelah malam yang panjang.

Di sisi lain kota, di dalam sebuah kantor penthouse yang menghadap ke gemerlap lampu Los Angeles, suasananya justru sangat tenang. Terlalu tenang.

Lexington Valerio duduk di balik meja kerja mahoninya. Di depannya, sebuah tablet menampilkan tangkapan layar komentar yang telah menjadi viral. Wajahnya datar, tidak terbaca, namun buku-buku jarinya memutih saat dia mengepalkan tangan di atas meja.

"Sirkulasi permanen... tidak berdaya sebagai pria... kegagalan biologis..." Lexington membisikkan kata-kata itu dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti desisan.

Di sudut ruangan, seorang pria bernama Hadiyan, asisten pribadi sekaligus teman lama Lexington, berusaha keras menutupi mulutnya. Bahunya bergetar hebat.

"Berhenti tertawa, Hadiyan," ucap Lexington dingin.

Hadiyan akhirnya meledak. "Maaf, Lex! Tapi ini... ini luar biasa! Briella benar-benar tidak berubah. Hanya dia satu-satunya orang di dunia ini yang cukup berani—atau cukup bodoh—untuk menyerang kejantanan seorang Valerio di platform publik!"

Lexington memejamkan mata sejenak. Bayangan Briella lima tahun lalu terlintas di benaknya.

Gadis yang selalu menjatuhkan es krimnya, yang lupa di mana menaruh kunci mobil, dan yang selalu menangis jika melihat film kucing sedih. Gadis yang dia lepaskan karena dia pikir dunia bisnis yang kejam akan menghancurkan kepolosan gadis itu.

Ternyata, gadis itu telah tumbuh menjadi dokter bedah yang tajam, tapi tetap dengan kecerobohan yang sama mematikannya.

"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora," lirih Lexington.

Ada kilat aneh di matanya—bukan hanya kemarahan, tapi juga sesuatu yang menyerupai gairah yang sudah lama padam.

"Apa rencana kita? Menuntutnya karena pencemaran nama baik?" tanya Hadiyan setelah berhasil menguasai dirinya. "Kliniknya bisa tutup dalam semalam jika kau membawa ini ke jalur hukum."

Lexington berdiri, merapikan kancing jasnya yang sempurna. Dia berjalan ke jendela besar, menatap ke arah pusat kota di mana klinik Zamora Beautiful berada.

"Tidak. Jalur hukum terlalu membosankan untuk seorang dokter yang sangat merindukanku sampai-sampai dia terobsesi pada sirkulasi darahku," Lexington menyeringai tipis, sebuah seringai yang akan membuat siapapun yang melihatnya merasa ngeri.

"Batalkan semua jadwal rapat besok pagi pukul sembilan. Kita harus mengunjungi mantan kekasihku itu. Aku ingin menunjukkan padanya secara langsung... mesin mana yang dia sebut macet total."

Keesokan Harinya: Klinik Zamora Beautiful

Briella terbangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Dia berharap semua yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk akibat terlalu banyak menonton drama medis. Namun, saat dia membuka ponselnya, ada 47 panggilan tak terjawab dari resepsionis kliniknya dan ratusan notifikasi baru.

Dengan sisa keberanian yang ada, dia bersiap pergi ke klinik. Dia mengenakan setelan kerja terbaiknya—blazer putih dan celana bahan yang memberikan kesan otoritas. Dia harus menghadapi ini. Jika dia harus meminta maaf secara publik, dia akan melakukannya demi menyelamatkan kliniknya.

Namun, saat dia melangkah masuk ke lobi kliniknya, suasana terasa sangat mencekam. Resepsionisnya, seorang gadis muda bernama Mia, tampak pucat pasi.

"Dokter... ada tamu di ruangan Anda," bisik Mia ketakutan.

"Siapa? Wartawan?" tanya Briella waspada.

"Bukan. Dia... dia bilang dia adalah 'subjek penelitian' Anda semalam."

Jantung Briella serasa berhenti berdetak. Dia mendorong pintu ruang kerjanya dengan tangan gemetar.

Di sana, duduk di kursi kebesaran Briella, adalah Lexington Valerio. Dia tampak sangat tenang, sedang membolak-balik brosur layanan tanam benang di klinik itu seolah-olah dia sedang mempelajari cetak biru mesin jet. Hadiyan berdiri di dekat pintu dengan wajah yang masih menahan tawa.

"Klinik yang bagus, Briella," ucap Lexington tanpa mengalihkan pandangan dari brosur. "Sangat... estetik. Apakah semua di sini asli, atau ada 'gangguan sirkulasi' juga pada peralatanmu?"

Briella mematung. "Lexington. Apa yang kau lakukan di sini?"

Lexington menutup brosur itu dengan suara keras dan berdiri. Dia berjalan mendekati Briella.

Pria itu jauh lebih tinggi dari lima tahun lalu, atau mungkin auranya saja yang terasa lebih mengintimidasi. Bau parfumnya yang maskulin dan dingin memenuhi indra penciuman Briella, membangkitkan kenangan-kenangan yang seharusnya sudah terkubur.

"Aku datang untuk konsultasi medis," ucap Lexington, suaranya berat dan dalam, tepat di depan wajah Briella. "Menurut diagnosamu yang sangat viral itu, aku mengalami kegagalan biologis. Bukankah sebagai dokter yang bertanggung jawab, kau harus memeriksanya sendiri?"

Wajah Briella memanas. "Itu... aku sedang mabuk. Aku akan mengeluarkan pernyataan maaf secara resmi."

"Maaf saja tidak cukup untuk memperbaiki 'reputasi mesin' yang kau sebut macet, Briella."

...****************...

......Happy reading dear 🥰 ......

...Tinggalkan Jejak Agar Author Semangat Lanjutkan Bab Berikut nya 🫶🏼...

1
Almeera
pengen aku getok, tapi dia ganteng
Binti Rusidah
bagus sekali
Almeera
best, konflik orang ketiga tidak berlarut 😍
azzura faradiva
next....☺️
azzura faradiva
kayaknya nanti ada sesuatu hal yang menyebabkan zane tdk jadi kembali....🤔
Ros 🍂: kak, silent 🤭😁
total 1 replies
Almeera
Latte kami cocoknya ratu lebah 🐝
Ros 🍂: ide baruuuu🤣 nanti tak jadikan Ratu lebah 🐝✌🏻🤣
total 1 replies
Almeera
enak yaa kalau hidungnya kek perosotan anak tk, kacamata anteng aja gak melorot😍
Almeera
sama sama gak gau diri artinya latte
Ros 🍂: heheh🤭
total 1 replies
azzura faradiva
biasanya tiap hari ngebut up terbaru bisa 3-4x,hari ini tumben enggak up...😔
Ros 🍂: Pengen Rasain dirindukan Reader dulu 🫶🌷🤭
total 1 replies
Almeera
Aku butuh Abang kaya gini, co di keranjang kuning ada gak ya?
Ros 🍂: bentar kak, author siapkan 😭🤭
total 1 replies
Almeera
Pasangan satu frekuensi 😍😍
Ros 🍂: Ma'aciww ya atas Jejak nya kak🫶😘
total 1 replies
Almeera
Kaaaaaa, Demi Tuhan aku kecanduan baca ini 😍😍😍
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya
Ros 🍂: Walahhh ma'aciww kak🫶😘
total 1 replies
Almeera
nih coffe latte ginii nih, percaya diri itu perlu tapi Tahu Diri lebih penting
Ros 🍂: coffee latte 😭🤣
total 1 replies
Almeera
Astaga
Almeera
definisi mari bertemu di versi terbaik 🥲🥲🥲
Ros 🍂: Aaakkk😭
total 1 replies
Almeera
jokes orang cerdas selalu tepat 😍😍😍
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Almeera
Diborong semua sih Lex, terus aku harus cari kamu di orang yang mana 🥲🥲
Ros 🍂: semoga bisa dicari di dunia nyata ya kak🤭😘
total 1 replies
Almeera
🌹🌹🌹🌹 mawar terkirim, bentar aku meeting dulu
Ros 🍂: aaa Cemunguttt kak🫶💪🏼
total 1 replies
Almeera
yaa masa nyalahin pak RT
Ros 🍂: pak RT angkat tangan kak 😭
total 1 replies
Almeera
Kaaan kaaann kaaannn apa aku bilang dibahas teros hahahhaa
Ros 🍂: hahah Lexington said : 100 kebaikan tetap kalah dengan 1 perkataan 🤭🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!