Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Perintah Sang Patriark
Suasana pagi di ruang makan kediaman Jacob selalu terasa seperti medan perang yang terbungkus rapi oleh taplak meja linen putih dan denting sendok perak. Bau kopi yang kuat bercampur dengan aroma ketegangan yang pekat. Vanya duduk dengan punggung tegak, matanya menatap piring sarapan yang nyaris tak disentuhnya.
"Kau pulang jam berapa semalam?"
Suara Olivia Jacob memecah keheningan. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting yang tajam. Matanya menatap Vanya dengan selidik, mencari celah untuk melempar kesalahan.
Vanya hanya diam. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia pulang dini hari setelah menandatangani kontrak ekspansi Lumina ke pasar Eropa. "Cukup malam, Bu," jawabnya singkat tanpa menatap sang ibu mertua.
Tepat saat itu, Devan turun dari lantai tiga. Rambutnya masih sedikit basah, wajahnya tampak segar namun tetap menyimpan ekspresi acuh tak acuh. Ia duduk di kursi yang berseberangan dengan Vanya, bahkan tanpa menyapa istrinya.
"Kau tidur terpisah lagi dengan suamimu?" serang Olivia lagi, kali ini lebih keras agar Devan mendengar. "Bagaimana kalian mau punya anak kalau kamarmu selalu terkunci dari dalam, Vanya?"
Vanya meremas serbet di bawah meja. Belum sempat ia menjawab, sebuah suara berat dan berwibawa menginterupsi dari arah pintu masuk.
"Siapa yang tidur terpisah?"
Itu adalah Davit Jacob. Ia melangkah masuk dengan setelan jas kerja yang sempurna, auranya membuat seluruh ruangan seketika menjadi sunyi. Olivia sempat tersedak ludahnya sendiri sebelum tertawa paksa untuk menutupi kecanggungannya.
"Haha... itu, Karlo dan Rose, Pah," bohong Olivia cepat. Ia melirik Rose yang baru saja masuk ke ruang makan dengan wajah bingung. "Maksud Ibu, kalian berdua jangan terlalu sibuk kerja, kan kasihan Mikaila."
Davit menarik kursinya di kepala meja. "Karlo dan Rose sudah ada Mikaila, jadi tidak usah buru-buru soal anak lagi. Mereka sudah membuktikan diri." Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Vanya. "Vanya, hari ini kau mau ke mana?"
"Hari ini hanya di rumah, Pah," jawab Vanya lembut.
Rose yang merasa tersindir karena namanya dibawa-bawa dalam urusan kamar, mendengus pelan sambil mengoles selai ke rotinya. "Tiap hari juga di rumah, memang bisa kerja apa dia? Hidupnya sudah enak dari kecil, sekarang tinggal duduk manis karena punya suami dan mertua kaya."
Olivia ikut menimpali, teringat akan kekesalannya soal kalung berlian semalam. "Oh iya, Vanya. Karena uang yang kuberikan sudah kau pakai habis untuk beli kalung mahal itu, jatah bulanann mu selama dua bulan ke depan kupotong, ya? Mengerti?"
"Iya, Bu," jawab Vanya tanpa membantah. Di dalam hatinya, ia hampir ingin tertawa. Jatah bulanan dari Olivia bahkan tidak cukup untuk membayar biaya asuransi pengiriman satu koleksi perhiasannya, namun ia tetap menjaga kedoknya sebagai menantu yang patuh.
Pak Davit berdehem keras, membuat semua orang berhenti bicara. Ia menatap Vanya dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan tatapan meremehkan seperti yang lain, melainkan tatapan penuh rencana.
"Vanya, ikut Papa ke kantor hari ini."
Seluruh meja makan mendadak hening. Devan yang sedang memotong telurnya berhenti bergerak. Rose bahkan nyaris menjatuhkan pisau rotinya.
"Aku, Pah?" tanya Vanya, pura-pura terkejut.
"Iya," ucap Pak Davit pendek sambil mulai menyantap sarapannya.
"Baik, Pah."
Devan tidak memberikan reaksi apa pun. Ia tetap tenang, seolah apa pun yang dilakukan ayahnya pada istrinya tidak ada hubungannya dengan dia. Baginya, Vanya ke kantor mungkin hanya akan menjadi asisten yang membawakan tas ayahnya atau sekadar hiasan di ruang rapat.
Namun, tidak bagi Rose. Wajahnya memerah karena kesal. Mengapa Vanya yang tidak tahu apa-apa soal bisnis justru diajak ke kantor oleh sang mertua? Padahal Karlo seringkali harus memohon untuk mendapatkan waktu bicara pribadi dengan Davit di kantor.
Selesai sarapan, saat mereka semua bersiap pergi, Rose menarik lengan Karlo ke sudut lorong.
"Lihat itu? Ayahmu benar-benar pilih kasih!" bisik Rose dengan nada tajam. "Aku yang sudah memberikan cucu saja tidak pernah di tawari kekantor secara khusus seperti itu. Ada apa dengan wanita Benjamin itu sampai Ayah begitu perhatian?"
Karlo hanya menghela napas, merasa lelah dengan kecemburuan istrinya. "Sudahlah, mungkin Ayah hanya ingin dia belajar sesuatu agar tidak terus-menerus dikurung Ibu di rumah."
"Belajar apa? Belajar menghabiskan uang?" ketus Rose sambil menghentakkan kakinya pergi.
Di depan mansion, Vanya berdiri di samping mobil Bentley hitam milik Davit Jacob. Sebelum masuk, ia melirik ke arah mobil Devan yang sudah melaju lebih dulu bersama Kenzi di dalamnya. Devan bahkan tidak menoleh ke arahnya.
Vanya masuk ke dalam mobil Davit. Di dalam, Davit tidak langsung bicara. Baru setelah mobil keluar dari gerbang besar, ia bersuara.
"Aku tahu kau tidak menghabiskan uang untuk kalung itu, Vanya," ucap Davit tanpa menoleh.Dan aku tahu siapa kamu, pemilik Lumina Jewelry yang sedang dibicarakan para kolega internasional di klub bisnis kemarin malam."
Vanya tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka Davit Jacob secepat itu mengendus rahasianya.
"Jangan terlihat terkejut," lanjut Davit dengan senyum tipis yang misterius. "Hari ini di kantor, aku ingin melihat seberapa tajam insting bisnismu di depan para direkturku. Dan jangan khawatir... rahasiamu aman denganku, asalkan kau bisa membantu Jacob Group keluar dari masalah keuangan yang sedang disembunyikan Devan dan Karlo dariku."
Vanya menarik napas panjang. Ternyata, diajak ke kantor bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah ujian, sekaligus aliansi baru yang sangat berbahaya.
Vanya melangkah keluar dari pintu mobil Bentley hitam milik Davit Jacob yang berhenti tepat di depan lobi utama Jacob Tower. Begitu ujung sepatunya menyentuh lantai marmer lobi, seolah-olah waktu berhenti berputar.
Pagi itu, Vanya tidak memakai gaun rumahan yang biasa ia kenakan di mansion. Ia tampil dengan setelan power suit berwarna krem dari bahan sutra premium yang membalut tubuhnya dengan sangat pas. Potongan jasnya yang tegas namun tetap feminin, dipadukan dengan celana palazo yang menyapu lantai, menciptakan siluet yang sangat elegan, mewah, dan berwibawa. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang cantik.
Begitu ia berjalan berdampingan dengan Pak Davit menuju lift eksekutif, para pegawai yang berada di lobi mulai berbisik-bisik.
"Wah... lihat itu! Memang pantasnya jadi menantu Jacob. Sudah cantik seperti model, anggunnya luar biasa," bisik salah satu staf pria yang matanya tak lepas dari sosok Vanya.
"Iya, aku suka banget cara dia jalan. Anggun, seksi, tapi tetap elegan. Auranya beda sekali hari ini, seperti bukan orang yang sama yang kita lihat di berita-berita," timpal staf lainnya dengan nada kagum.
Namun, di sudut lain, seorang staf perempuan mencibir sambil menyilangkan tangan. "Heh, buat apa kalian terpesona? Itu semua cuma bungkus. Kalo suaminya saja kayaknya cuek gitu, buat apa? Cantik-cantik tapi tidak disayang suami, apa gunanya?"
"Iya benar juga," sahut teman di sampingnya. "Ingat tidak pas pesta nikahan kemarin? Kasihan banget dia dipermalukan di depan umum. Mau secantik apa pun, tetap saja cuma jadi pajangan."
Bisik-bisik itu semakin riuh hingga memenuhi lobi, sampai sebuah suara dehaman yang sangat dikenal memecah kerumunan.
"Ehem... ehem!"
Itu adalah Kenzi. Sekretaris pribadi Devan itu berdiri di dekat pintu masuk dengan wajah serius. Di belakangnya, Devan baru saja masuk dengan langkah lebar dan wajah yang terlihat sangat tidak bersahabat.
"Bos datang! Bos datang!" bisik para staf dengan panik.
Seketika kerumunan itu bubar dan mereka semua berbaris rapi sambil menundukkan kepala. "Selamat pagi, Pak Devan! Selamat pagi!" seru mereka serentak.
Devan tidak menyahut. Matanya langsung tertuju ke arah lift eksekutif yang pintunya hampir tertutup. Di sana, ia sempat melihat sekilas punggung istrinya yang berdiri tegak di samping ayahnya.
"Siapa yang tadi mereka bicarakan, Kenzi?" tanya Devan dingin sambil terus berjalan menuju lift lain.
Kenzi sedikit ragu, namun ia menjawab jujur. "Sepertinya mereka membicarakan Nona Vanya, Tuan. Mereka terpesona dengan penampilan Nona pagi ini."
Devan mendengus sinis, meski ada sedikit rasa aneh yang menyelinap di hatinya saat mendengar orang-orang memuji kecantikan istrinya. "Hanya karena pakaian mahal, mereka langsung lupa siapa dia. Dasar tidak profesional."
Sementara itu, di dalam lift eksekutif, Davit Jacob melirik Vanya melalui pantulan cermin lift. Ia menyadari bahwa kehadiran Vanya hari ini telah mengubah atmosfer kantor dalam sekejap.
"Kau dengar mereka, Vanya?" tanya Davit pelan.
"Hanya angin lalu, Pah," jawab Vanya dengan suara yang tenang dan berkelas.
"Bagus. Karena setelah rapat ini, aku ingin mereka tidak hanya membicarakan pakaianmu, tapi juga bagaimana kau bisa membungkam mulut sombong putra-putraku."
Pintu lift berdenting terbuka di lantai paling atas, lantai tempat seluruh keputusan strategis Jacob Group diambil. Perang yang sesungguhnya di ruang rapat baru saja akan dimulai.