NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33: Garis Pulang yang Berbeda

Pagi di Jakarta setelah malam yang mencekam di basement hotel terasa begitu sunyi. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden kamar, namun hatiku tidak merasa tenang. Di ruang tamu, aku bisa mendengar suara rendah dua pria yang sedang berbicara. Suara Kak Hazel dan suara Lukas. Tidak ada lagi suara pukulan atau bentakan; yang ada hanyalah denting cangkir kopi dan gumaman rencana.

Aku keluar dari kamar dan menemukan pemandangan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya: Kak Hazel sedang membantu Lukas mengobati luka di lengannya yang terkena goresan saat perkelahian semalam.

"Sakit?" tanya Kak Hazel ketus, tapi tangannya sangat hati-hati saat menempelkan kapas alkohol.

"Tidak sesakit pukulanmu di parkiran kemarin, Zel," jawab Lukas dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Kak Hazel mendengus. "Jangan pikir ini berarti aku sudah setuju kamu memacari adikku. Aku hanya tidak ingin kamu mati sebelum membereskan kekacauan yang kamu bawa ke sini."

Aku berdehem pelan, membuat mereka berdua menoleh.

Lukas langsung berdiri saat melihatku, tatapan matanya langsung melembut, mencari tanda-tanda trauma di wajahku. "Rea, kamu sudah bangun? Kamu baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja, Luq," kataku sambil berjalan mendekat. Aku duduk di samping mereka. "Bagaimana dengan Elena? Dan serangan siber itu?"

Lukas menghela napas, wajahnya kembali ke mode profesional. "Elena sudah dibawa polisi untuk dimintai keterangan. Dia dianggap sebagai kolaborator awal, meskipun dia tidak tahu bahwa orang yang dia hubungi adalah jaringan kriminal industri. Sedangkan serangan siber itu... timku di Hangzhou sudah berhasil mengisolasi server. Kami kehilangan beberapa data non-vital, tapi kunci enkripsi utama yang mereka incar tetap aman."

"Jadi, kapan kamu harus kembali ke Hangzhou?" tanyaku dengan nada berat.

Lukas terdiam. Dia menatapku cukup lama. "Secepatnya, Rea. Pihak otoritas di China dan tim internal Arkan Tech membutuhkanku di sana untuk pemulihan total. Tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian di Jakarta jika situasinya masih berbahaya."

"Rea juga harus kembali, Luq," potong Kak Hazel. Dia menatapku serius. "Dia masih mahasiswi Universitas Zhejiang. Dia tidak bisa bolos lebih lama lagi kalau mau mempertahankan beasiswanya. Libur semesternya sudah hampir habis."

Aku tersentak. Benar. Selama drama di Jakarta ini berlangsung, aku hampir lupa bahwa aku punya kehidupan akademis yang sangat padat di Hangzhou. Proyek kodingku, dosen pembimbingku yang perfeksionis, dan tugas-tugas laboratorium menungguku di sana.

"Kita akan pulang bersama," kata Lukas tegas. Dia menggenggam tanganku di depan Kak Hazel—kali ini Kak Hazel tidak memukulnya, meski dia membuang muka dengan ekspresi tidak nyaman. "Tapi kali ini, situasinya berbeda. Kamu tidak akan tinggal di asrama mahasiswa untuk sementara waktu. Aku akan memastikan keamananmu di Hangzhou sampai semua pelaku tertangkap."

"Tapi Kak, itu akan terlihat aneh di kampus," protesku.

"Keamananmu lebih penting daripada gosip kampus, Rea," balasnya.

Siang harinya, kami mulai mengemasi barang. Jakarta terasa sangat berbeda dibandingkan saat kami baru mendarat beberapa hari lalu. Kali ini, keberangkatan kami tidak terasa seperti pelarian, melainkan seperti sebuah misi.

Sebelum berangkat ke bandara, Kak Hazel menarik Lukas ke teras rumah. Aku memperhatikan mereka dari balik jendela.

"Jaga dia, Luq," kata Kak Hazel, suaranya terdengar sangat rendah. "Di Hangzhou, aku tidak bisa menjangkaunya. Jika satu helai rambutnya jatuh karena keteledoranmu, aku tidak akan hanya memukulmu. Aku akan menjemputnya dan kamu tidak akan pernah melihatnya lagi."

Lukas mengangguk dengan rasa hormat yang mendalam. "Aku berjanji dengan nyawaku, Zel. Dan terima kasih... karena masih mempercayai Luq yang lama."

Perjalanan ke Bandara Soekarno-Hatta terasa cepat. Di dalam pesawat menuju Hangzhou, Lukas tidak membiarkanku duduk jauh darinya. Dia memegang tanganku sepanjang perjalanan, seolah-olah jika dia melepaskannya sedikit saja, aku akan menghilang ke dalam awan.

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Lukas saat kami sudah berada di atas ketinggian 30.000 kaki.

"Aku memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada teman-teman kampusku kenapa aku tiba-tiba datang dengan pengawalan," jawabku jujur. "Dan aku memikirkan tentang proyek akhirku. Kamu sudah merusak ritme belajarku, kak."

Lukas tertawa pelan, suara tawa yang paling tulus yang kudengar sejak kami mendarat di Jakarta. "Aku CEO Arkan Tech, Rea. Jika kamu butuh asisten untuk mengerjakan kodinganmu, kamu punya asisten paling mahal di dunia tepat di sampingmu."

"Sombong sekali," aku mencubit lengannya pelan.

Kami tiba di Hangzhou saat senja mulai memudar. Kota ini menyambut kami dengan hawa dingin yang familiar dan lampu-lampu neon yang futuristik. Namun, alih-alih kembali ke Universitas Zhejiang yang damai, kami langsung dijemput oleh tiga mobil hitam milik tim keamanan Lukas.

"Kita ke apartemenku dulu," kata Lukas saat kami berada di dalam mobil. "Tim IT sudah menyiapkan workstation untukmu di sana agar kamu tetap bisa kuliah secara daring untuk beberapa hari ke depan, sampai aku yakin area kampus sudah aman dari sisa-sisa pelacak digital itu."

"Apartemenmu? Lukas, ini terlalu berlebihan," kataku mulai merasa risih dengan perlakuan spesial ini.

"Ini bukan soal kemewahan, Rea. Ini soal protokol. Kamu adalah kelemahanku, dan musuhku tahu itu. Untuk melindungi Arkan Tech, aku harus melindungimu."

Apartemen Lukas terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit yang menghadap ke Danau Barat (West Lake). Tempat itu sangat modern, minimalis, dan terasa dingin—persis seperti kepribadian "Lukas Arkan" sebelum bertemu kembali denganku. Namun, di salah satu sudut ruangan, aku melihat sesuatu yang membuat hatiku bergetar: sebuah meja belajar baru yang lengkap dengan monitor besar dan kursi ergonomis yang nyaman, persis seperti yang pernah kukatakan padanya sebagai meja impianku pada saat SMP.

"Kamu menyiapkannya?" tanyaku tak percaya.

Lukas berdiri di belakangku, tangannya melingkar di pinggangku dengan lembut. "Aku ingin kamu tetap merasa seperti mahasiswi berprestasi, bukan seperti tawanan. Belajarlah di sini. Aku akan ada di ruangan sebelah, mengurus sisa-sisa badai di perusahaan kita."

Malam itu, aku duduk di meja belajar baruku di Hangzhou. Aku membuka laptopku dan melihat ribuan baris kode yang harus kuselesaikan untuk tugas mata kuliah Data Structure. Di depanku, pemandangan kota Hangzhou yang berkilau tampak begitu indah namun menyimpan banyak misteri.

Tiba-tiba, ada ketukan di pintu kamar. Lukas masuk membawa segelas susu hangat. Dia tidak lagi memakai kemeja kerjanya, hanya kaos santai. Dia meletakkan susu itu di mejaku.

"Jangan begadang terlalu lama. Besok kamu ada kelas pagi via Zoom."

"Iya, Pak CEO," balasku sambil tersenyum.

Lukas terdiam sejenak, menatap layar laptopku. "Baris ke-125 itu... logikanya sedikit cacat. Kamu harus menggunakan hash map, bukan array biasa."

Aku melotot padanya. "Kak! Jangan mulai jadi asisten dosen!. Tapi baiklah, Terimakasih!~"

Lukas tertawa lepas, lalu mengecup puncak kepalaku. "Maaf, insting. Tidurlah segera setelah ini. Aku mencintaimu, Rea."

"Aku juga mencintaimu, Kak Luq." kataku Sambil Tersenyum.

Saat dia keluar dari ruangan, aku kembali menatap layarku. Namun, fokusku teralihkan oleh sebuah email baru yang masuk ke kotak masuk pribadiku. Pengirimnya anonim.

Isinya hanya satu kalimat pendek dalam bahasa Mandarin:

"Selamat datang kembali di Hangzhou, Rea. Permainan baru saja dimulai."

Darahku mendadak dingin. Ternyata, kembali ke Hangzhou tidak berarti kami sudah aman. Musuh Lukas tidak hanya ada di Jakarta, mereka ada di sini, di jantung kota teknologi ini, mengamati setiap gerak-gerikku.

Episode 33 ditutup dengan aku yang menutup laptop dengan tangan bergetar, sementara di ruang sebelah, aku bisa mendengar suara Lukas yang sedang memberikan instruksi tegas pada tim keamanannya. Badai belum berakhir. Badai itu baru saja berpindah lokasi.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!