🌶️WARNING!! Unsur dewasa🌶️
Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klip Rambut
Sore itu, kota Aurelia seakan melambat demi menyambut langkah Aurora. Cahaya matahari musim gugur menyapu gedung-gedung bergaya Art Deco, meninggalkan jejak keemasan di atas trotoar berbatu yang sibuk. Di tengah hiruk-pikuk trem dan deru mesin mobil uap, Aurora berjalan dengan ketenangan yang ganjil.
Ia mengenakan gaun sifon sutra berwarna krem pucat. Potongan kainnya yang ringan bergerak selaras dengan angin, menciptakan siluet yang anggun setiap kali ia melangkah. Rambut hitam pekatnya dibiarkan terurai, menjuntai melewati pinggang dan berkilau di bawah siraman cahaya sore. Tanpa topi cloche yang biasanya menyembunyikan wajahnya, kecantikan Aurora terpampang nyata—dingin, murni, dan tak terjangkau.
Beberapa pria yang melintas sempat mengangkat topi sebagai tanda hormat, sementara yang lain tak mampu menahan diri untuk tidak menoleh. Namun, pikiran Aurora sedang berada di tempat lain. Ia mendorong pintu sebuah toko buku tua di sudut jalan. Bunyi bel kecil di atas pintu menyambutnya, membawa aroma khas kertas lama dan tinta yang menenangkan.
Jemari halusnya menyusuri punggung buku-buku bersampul kulit yang berjejer rapi. Di sini, ia merasa bebas. Tidak ada tatapan posesif Lucien, tidak ada siasat Adrian Morel, dan tidak ada lagi bayang-bayang tuntutan hukum yang menyesakkan dada.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Di seberang jendela toko yang berdebu, sebuah mobil hitam mewah berhenti perlahan. Di kursi belakang, Clara duduk dengan tangan yang meremas tas tangannya kuat-kuat. Matanya yang dipenuhi kebencian menatap sosok Aurora dari kejauhan. Melihat Aurora yang tampak begitu sempurna dan berkelas, Clara merasa harga dirinya seperti dihempaskan ke aspal.
"Berhenti di sini," perintah Clara ketus pada sopirnya.
Ia turun dari mobil, merapikan gaun merahnya yang mencolok—sangat kontras dengan keanggunan tenang yang dipancarkan Aurora. Dengan bunyi tumit sepatu yang menghentak keras di atas lantai kayu, Clara masuk ke dalam toko, sengaja memecah kesunyian yang sedang dinikmati Aurora.
"Wah, lihat siapa yang sedang berpura-pura menjadi wanita terpelajar di sini," suara Clara melengking halus, penuh racun yang dibalut senyum palsu.
Aurora menghentikan gerakannya di rak buku sejarah. Ia tidak perlu menoleh untuk mengenali nada suara itu. Ia menarik napas pendek, lalu berbalik dengan perlahan.
"Clara," sapa Aurora datar. "Aku tidak tahu kau punya minat pada literatur. Kukira kau lebih suka menghabiskan waktu di depan cermin."
Clara melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Aurora dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan menghina yang dipaksakan.
"Kau tampak berbeda. Sepertinya uang Lucien Valehart benar-benar bisa mengubah gadis malang yang hancur menjadi sesuatu yang layak pandang. Tapi tetap saja, kain mahal tidak bisa menutupi fakta bahwa kau hanyalah tawanan dalam kontrak emas."
Clara berdiri tegak, mencoba mengintimidasi dengan tinggi sepatunya.
"Jangan terlalu bangga dengan kecantikanmu hari ini. Pria seperti Lucien tidak membeli 'bunga' untuk dikagumi selamanya. Begitu dia bosan, kau akan kembali ke tempat asalmu yang tidak punya apa-apa."
Aurora tidak berkedip. Ia tetap tenang, membiarkan Clara menumpahkan semua kekesalannya. Sudut bibirnya terangkat sedikit.Sebuah senyum tipis yang mematikan.
"Kontrak emas?" Aurora mengulang kalimat itu dengan nada meremehkan.
"Setidaknya aku masih punya emas untuk digenggam, Clara. Dibandingkan kau... yang sekarang harus menghitung koin hanya untuk membayar sopir mobil pinjaman itu."
Aurora melangkah maju satu tindak, memaksa Clara untuk mundur secara refleks.
"Bagaimana kabar Paman Moltemer di penjara?" tanya Aurora dengan nada yang sangat sopan namun menusuk.
"Kudengar sel di Aurelia sangat dingin saat musim gugur. Apa kau sudah membawakannya selimut? Atau kau terlalu sibuk menjual perhiasanmu untuk membayar pengacara yang bahkan tak bisa menyelamatkannya?"
Wajah Clara memerah padam.
"Kau berani menghinaku setelah apa yang Lucien lakukan pada keluargaku?!"
"Lucien tidak melakukan apa-apa," potong Aurora tajam.
"Keserakahan suamimulah yang menghancurkan kalian sendiri. Aku hanya mengambil kembali apa yang memang menjadi hakku."
Aurora merapikan sedikit lipatan gaunnya, membiarkan cahaya lampu toko menonjolkan betapa kontrasnya posisi mereka saat ini.
"Aku berjalan di kota ini dengan kepala tegak, didukung penuh oleh suamiku. Sementara kau? Kau datang ke sini hanya karena tidak ada lagi klub sosial yang sudi mengundang istri seorang narapidana."
Aurora mengambil sebuah buku dari rak terdekat, lalu menyodorkannya pada Clara.
"Bacalah ini, Clara. Buku tentang 'Etika dan Kejatuhan Bangsawan'. Mungkin kau bisa belajar bagaimana caranya jatuh dengan sedikit harga diri, daripada terus menggonggong pada orang yang sudah berada jauh di atasmu."
Clara mematung, tangannya gemetar menerima buku itu. Lidahnya seolah kelu untuk membalas serangan verbal Aurora yang begitu telak.
Aurora tidak memberikan celah bagi Clara untuk bicara. Ia melirik jam tangan peraknya dengan gerakan anggun.
"Sepertinya aku sudah membuang terlalu banyak waktu untuk percakapan yang tidak penting ini."
Ia mengambil buku yang ia incar, berjalan menuju kasir, lalu membayar dengan tenang. Saat hendak keluar, Aurora berhenti sejenak di samping Clara tanpa menoleh sedikit pun.
"Satu saran terakhir," bisik Aurora, suaranya halus namun setajam sembilu.
"Sopirmu sudah menunggu terlalu lama. Sebaiknya kau segera keluar sebelum dia meminta bayaran tambahan karena kau terlalu lama berdebat. Aku ragu kau tidak punya sisa perhiasan untuk menutupi biaya parkir di kawasan ini."
Tanpa menunggu balasan, Aurora mendorong pintu kaca toko buku itu. Bunyi bel perak berdenting nyaring mengiringi langkahnya keluar.
Di trotoar, Aurora menghirup udara sore yang segar, membiarkan angin musim gugur memainkan rambutnya. Ia berjalan menjauh tanpa menoleh lagi, meninggalkan Clara yang hancur di tengah debu toko buku tua itu.
Langkah kaki Aurora membawanya menjauh dari area pertokoan mewah menuju sebuah lorong yang lebih hidup, di mana deretan stan kayu kecil berjejer menjajakan aneka barang antik. Suasana di sini terasa lebih hangat— aroma kayu tua, logam yang teroksidasi, dan harum bunga kering memenuhi udara.
Aurora berhenti di depan sebuah stan kecil yang dipenuhi dengan pernak-pernik rambut. Ada klip rambut dari tembaga, topi-topi mungil dengan jaring halus, hingga bros tua yang berkilau redup. Di balik meja kayu itu, duduk seorang pria tua dengan kacamata bulat yang bertengger di ujung hidungnya. Ia sedang sibuk membersihkan sebuah sisir perak dengan kain beludru.
"Cari sesuatu yang cantik untuk rambut seindah malam itu, Nona?" suara serak namun ramah dari pria tua itu memecah lamunan Aurora.
Aurora tersenyum tipis, jarinya menyentuh sebuah klip rambut berbentuk kelopak bunga yang terbuat dari bahan kuningan tua.
"Hanya sedang melihat-lihat, Pak. Barang-barang Anda sangat... unik."
Si penjual tua itu meletakkan sisirnya, lalu menatap Aurora dengan binar mata yang bijak. Ia mengambil klip rambut yang baru saja disentuh Aurora, lalu menyodorkannya lebih dekat.
"Barang-barang ini mungkin murah dibandingkan perhiasan di jalan utama tadi, tapi mereka punya cerita," ujar pria itu sambil terkekeh pelan.
"Klip ini, misalnya. Ini milik seorang penjahit kecil di pinggiran kota lima puluh tahun lalu. Dia memakainya setiap kali menunggu kekasihnya pulang dari laut. Sederhana, tapi penuh harapan."
Aurora terdiam, menatap klip kuningan itu dengan pandangan yang lebih lembut.
"Wajah cantikmu itu tampak sedikit terlalu serius untuk sore yang seindah ini," lanjut si pria tua sambil memberikan isyarat agar Aurora mencoba klip tersebut.
"Terkadang, wanita dengan beban berat di pundaknya hanya butuh sesuatu yang kecil untuk mengingatkannya bahwa dia berhak merasa cantik hanya untuk dirinya sendiri, bukan untuk nama besar."
Aurora tersentak kecil. Kata-kata pria tua itu entah bagaimana terasa sangat personal.
"Berapa harganya, Pak?" tanya Aurora pelan.
Pria itu menyebutkan harga yang sangat murah, bahkan tidak sampai sepersepuluh dari harga kopi di mansion Valehart. Aurora merogoh tasnya, namun saat ia hendak membayar, pria tua itu menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Simpan saja koinmu, Nona. Anggap saja ini hadiah dari seorang pria tua yang senang melihat keindahan yang jujur. Tapi berjanjilah padaku satu hal..." Pria itu menjeda kalimatnya, menatap langsung ke mata Aurora.
"Pakailah itu saat kau bertemu dengan pria yang membuat jantungmu berdebar, bukan pria yang membuatmu merasa harus selalu sempurna. Percayalah, dia akan melihatmu jauh lebih bersinar daripada berlian mana pun."
"Tapi... saya tidak bisa menerimanya begitu saja, Pak," sela Aurora lembut. Ia menahan tangan pria tua itu dengan sopan, matanya menatap deretan barang-barang sederhana di stan tersebut.
"Cerita yang Bapak bagikan tadi jauh lebih mahal daripada nilai klip ini. Saya tidak ingin merusak keberuntungan Bapak hari ini."
Aurora bersikeras meletakkan beberapa keping koin di atas meja kayu yang sudah retak-retak itu. Jumlah yang sebenarnya jauh lebih banyak dari harga yang diminta, namun diberikan dengan cara yang sangat halus agar tidak menyinggung harga diri sang penjual.
Pria tua itu tertegun sejenak, lalu tertawa kecil hingga bahunya berguncang.
"Ah, kau bukan hanya cantik, tapi juga punya hati yang keras kepala ya? Persis seperti pemilik klip ini dahulu."
Ia akhirnya menerima koin itu dan membungkus klip kuningan tersebut dengan secarik kertas koran tua yang rapi.
"Terima kasih, Nona. Semoga klip ini membawamu pada jawaban yang sedang kau cari."
Aurora mengangguk hormat, lalu menyelipkan bungkusan kecil itu ke dalam tasnya. Saat ia berbalik untuk melanjutkan langkah, ia merasakan sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan. Bukan dari dalam toko, bukan juga Clara.
Di ujung lorong pasar vintage yang remang itu, berdiri seorang pria dengan mantel panjang berwarna hitam. Sosoknya yang jangkung dan bahunya yang lebar tampak sangat tidak asing. Pria itu berdiri diam di dekat lampu jalan, memperhatikannya dengan intensitas yang membuat udara di sekitar Aurora mendadak terasa dingin namun... aman.
Itu Lucien.
Dia tidak mendekat. Dia hanya berdiri di sana, mengawasi istrinya yang baru saja membeli barang "murah" dengan senyum yang belum pernah Lucien lihat sebelumnya.