Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin
Langkah kaki Zira terasa berat saat ia memasuki ruang tengah rumah megah yang kini terasa dingin dan hampa. Ia tersentak saat mendapati Raka sudah duduk di sofa ruang tamu, menunggunya dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu sudut. Zira hanya melirik suaminya sekilas, mencoba mengabaikan keberadaan pria itu, dan berniat langsung menuju lantai atas. Namun, suara bariton Raka menghentikan gerakannya.
"Habis dari mana jam segini baru pulang? Pergi tanpa izin suami dan membiarkanku menunggu lama. Ini bukan kamu yang biasanya, Zira," ucap Raka. Suaranya mengandung nada yang dibalut kecemasan.
Zira mengembuskan napas panjang, mencoba menekan rasa muak yang tiba-tiba naik ke tenggorokan. Ia menoleh perlahan, menatap pria yang sepuluh tahun ini mendampinginya. "Toko bunga sedang ramai, kamu tahu sendiri kalau akhir pekan pesanan selalu menumpuk," sahut Zira datar.
"Ramai?" Raka berdiri, melangkah mendekat dengan tatapan menyelidik. "Aku bertanya pada karyawanmu, dan mereka bilang kamu sudah tidak ada di toko sejak siang tadi. Mereka melihatmu pergi bersama seorang pria. Siapa pria itu, Zira?"
Zira mematung sejenak, namun dengan cepat ia menguasai ekspresinya. Ia membalikkan badan sepenuhnya, menatap Raka dengan keberanian yang baru ia temukan. "Aku tidak sepertimu, Raka. Aku tahu cara menjaga diri dan batasan. Apa salah jika aku pergi dengan rekan kerja atau kenalan lama? Jangan bersikap dramatis, aku bahkan memergokimu tidur dengan wanita lain tapi aku tidak menginterogasimu seganas ini."
Kalimat itu telak menghantam Raka. Ia terdiam, membeku di tempatnya saat Zira melanjutkan langkah menuju kamar tanpa menoleh lagi. Raka menjambak rambutnya kasar, frustrasi. Ia ingat betul bagaimana ia mengejar Zira selama lima tahun sebelum akhirnya wanita itu luluh dan bersedia menikahinya. Sepuluh tahun pernikahan mereka hampir tanpa cela, kecuali satu, kehadiran buah hati. Kini, retakan itu bukan lagi sekadar retakan, melainkan jurang yang siap menelan mereka berdua.
Raka memutuskan untuk membuang egonya. Ia menyusul Zira ke kamar, mendapati istrinya sedang berdiri di depan cermin, menghapus riasan wajah dan melepas perhiasannya satu per satu. Raka mendekat, meletakkan kedua tangannya di bahu Zira dan menatap bayangan istrinya melalui cermin. Ia mencoba tersenyum selembut mungkin.
"Aku salah, aku minta maaf padamu, oke? Jangan dingin begini," bisik Raka. Ia merunduk, meng3cup lembut bahu Zira yang terbuka.
Zira memejamkan mata, namun bukan karena menikmati sentuhan itu. Ia merasa mual. Segala sentuhan Raka kini terasa seperti pengingat akan pengkhianatannya dengan Ivy. Zira tiba-tiba beranjak berdiri, menghindar dari pelukan Raka dengan dalih mengambil handuk.
"Aku capek, Raka. Aku hanya ingin mandi dan tidur," ucap Zira tanpa menatap mata suaminya. Ia langsung melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan Raka yang mengembuskan napas kasar karena penolakan yang begitu nyata.
"Oke, aku akan membiarkanmu istirahat," gumam Raka lesu sebelum akhirnya keluar dari kamar.
Di dalam bathtub, di bawah rendaman air hangat yang aromatik, Zira akhirnya bisa bernapas. Ia memejamkan mata dan ingatan tentang kejadian siang tadi bersama Kayden kembali muncul. Pria yang jauh lebih muda darinya itu benar-benar tahu cara memanjakannya yang selama ini tertekan oleh tuntutan menjadi istri sempurna. Kayden membawanya ke sebuah taman rekreasi, mengajaknya naik komidi putar, makan gulali, dan tertawa lepas tanpa memikirkan beban hidup.
Untuk sejenak, beban berat di dada Zira terangkat. Meski ia tahu, kebahagiaan itu hanya sementara. Kenyataan pahit bahwa suaminya telah mendua dan menghamili wanita lain tetap menunggunya di balik pintu kamar mandi.
"Entah apa jadinya nanti ... aku benar-benar lelah," lirihnya dengan suara serak yang tenggelam dalam keheningan uap air.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Zira kembali ke rutinitasnya di toko bunga. Ia sibuk melayani pelanggan yang silih berganti datang, mencoba menenggelamkan diri dalam aroma mawar dan lili. Tiba-tiba, seorang pria berdiri di hadapannya dengan sebuah buket besar berisi cokelat premium yang menutupi wajahnya.
Zira terkejut, matanya membulat sempurna. Saat buket itu diturunkan, senyum Zira merekah secara otomatis. "Kay? Kamu masih di sini? Kukira kamu sudah kembali ke Bali."
Kayden Julian tersenyum lebar, menyerahkan buket cokelat itu ke tangan Zira. "Cokelat manis untuk wanita paling manis," godanya.
Zira tertawa kecil, menerima pemberian itu meski ada sedikit keraguan. "Kamu tahu sendiri aku tidak terlalu suka cokelat, Kay."
"Kata Bunda, saat kecil kamu sangat suka cokelat. Kenapa sekarang tidak? Ayolah, Zira, kamu harus kembali melakukan hal-hal yang kamu suka, bukan hal-hal yang diharuskan oleh orang lain," ucap Kayden sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Zira. Ia memperhatikan buku laporan dan bunga-bunga yang sedang dikemas Zira dengan tatapan penuh minat.
Mata Kayden tidak pernah lepas dari wajah Zira. Ia seolah sedang memuja karya seni yang paling indah di dunia. Senyumnya makin lebar saat melihat Zira akhirnya mulai mencicipi satu potong cokelat pemberiannya.
"Aku akan menetap di sini," ucap Kayden tiba-tiba.
"Uhuk! Apa?!" Zira tersedak, menatap Kayden dengan pandangan tak percaya. "Maksudmu ... menetap di London?"
"Ya, aku akan menetap di sini. Bersamamu," ucapnya dengan nada yang sangat tenang namun penuh penekanan pada kata terakhir.
Zira memasang ekspresi serius, meletakkan cokelatnya kembali ke meja. "Kay, jangan bercanda. Kamu sedang tidak mencoba membuka masalah baru untukku, kan? Keberadaanmu di sini saja sudah membuat Raka curiga."
Kayden melipat tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Zira hingga jarak mereka menipis. Senyum misterius terukir di bibirnya yang tegas.
"Aku tidak datang untuk menjadi masalah, Zira. Aku datang sebagai solusi untuk semua masalahmu, Love," ucap Kayden pelan, namun getarannya membuat bulu kuduk Zira meremang.
"Kay ... jangan panggil aku begitu. Kita ...,"
Kayden menatap Zira sangat dalam, seolah sedang mencoba menembus hingga ke dasar hatinya. "Jangan buat aku menyia-nyiakan kesempatan yang selalu datang padaku, Kak. Dulu aku melepaskanmu karena kupikir kamu akan bahagia dengannya. Tapi sekarang, saat aku melihatmu hancur, jangan harap aku akan membiarkanmu menderita sendirian lagi."
Suasana di toko bunga itu mendadak hening. Zira terdiam, terkunci dalam tatapan tajam pria yang berusia enam tahun lebih muda darinya itu.
____________________________
Iyaaaa Kayden sama Zira beda 6 tahun😭 maapken othor pelupa ini😭
Hbs ni jujur sejujur²nya sm Zira...jelasin siapa itu perempuan pirang
Bilang aja klw dia emang ngejar²mu biar Zira jg menyiapkan amunisi
Jgn ada yg ditutup²i
Meski sedikit menurutmu tp klw gak tuntas bs jd mslh besar
Denger Kay...dengeeerrr
Aysss...pen kujewer kupingmu Kay