Setelah meninggalkan Planet Vermilion, Zhao Xuan, Long Chen & Gu Tianxue menginjakkan kaki di Planet Shenzue sebuah dunia yang menjadi pusat dari Tiga Puluh Tiga alam Immortal Kuno.
Planet Shenzue terbagi menjadi Empat Benua Utama (Timur, Barat, Selatan, dan Utara) yang dikuasai oleh berbagai sekte tingkat puncak, klan kuno, dan kekaisaran raksasa. Lautan Shenzue yang tak berujung dikuasai oleh Ras Laut yang arogan dan tertutup, dipimpin oleh Kaisar Laut dan para keturunan naga airnya. Permusuhan antara kultivator daratan yang serakah dan Ras Laut yang kejam telah berlangsung selama ribuan tahun, menciptakan batas wilayah yang dipenuhi peperangan dan intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Pedang Berdarah
Abu dari tombak perak yang baru saja dihancurkan oleh Api Nirwana perlahan berjatuhan di dasar kawah.
Han Jue dan Han Ming, dua Algojo God King Puncak dari Klan Han Kuno, melesat mundur sejauh seratus tombak dalam satu kedipan mata. Mereka tidak membiarkan amarah menutupi akal sehat. Insting pembunuh mereka yang telah terasah selama ribuan tahun langsung menyimpulkan satu hal: Pemuda berambut merah ini tidak bisa dilawan dalam benturan fisik jarak dekat!
Han Jue memberikan isyarat tangan rahasia.
Han Sha, algojo ketiga yang sedari tadi bersembunyi dan mengunci formasi dari atas langit, langsung merespons.
"Jangan menyerang dia itu secara langsung!" transmisi suara Han Jue menggema tajam di benak kedua rekannya. "Fisiknya kebal terhadap serangan senjata tingkat Surga. Tapi lihatlah posisinya. Kakinya terpaku di tanah. Dia tidak menghindar dari tombakku tadi, dia memilih untuk menangkapnya. Mengapa? Karena jika dia bergeser setengah inci saja, dua pelayannya akan mati."
Di balik topeng peraknya, Han Sha menyeringai licik. "Seekor naga yang dirantai oleh telurnya sendiri adalah target panah yang paling mudah."
Ketiga Algojo Surgawi itu serentak mengubah gaya bertarung mereka. Mereka tidak lagi mengeluarkan serangan pamungkas yang menghabiskan Qi dalam skala besar. Sebagai gantinya, mereka menggunakan taktik yang paling dibenci dan paling mematikan dalam dunia kultivasi: Taktik Seribu Sayatan.
"Teknik Array Klan Han: Tiga Bayangan Cermin Pembelah Jiwa!"
Han Jue, Han Ming, dan Han Sha bergerak melingkari kawah dengan kecepatan cahaya, meninggalkan ribuan bayangan ilusi yang terlihat sangat nyata. Dari ribuan bayangan tersebut, mereka menembakkan rentetan bilah angin, jarum racun spiritual, dan panah Qi hitam!
Tujuannya bukan Zhao Xuan. Setiap serangan ratusan ribu proyektil mematikan itu diarahkan dengan presisi melewati Zhao Xuan, menargetkan langsung ke arah Long Chen dan Gu Tianxue yang sedang dalam ujian Iblis Hati!
Di dasar kawah, mata Zhao Xuan menyipit tajam. Seringai Asura di wajahnya memudar, digantikan oleh keseriusan yang dingin.
"Kecoa-kecoa ini ternyata punya sedikit otak," desis Zhao Xuan.
Ia tidak bisa menggunakan Langkah Ketiadaan untuk berpindah ke belakang musuh. Ia tidak bisa maju untuk menyerang. Jika ia meninggalkan posisinya sedetik saja, badai serangan itu akan mencabik-cabik dua pengikutnya menjadi kabut darah.
"Domain Api Nirwana: Teratai Penahan Surga!"
Zhao Xuan menghentakkan kakinya. Api putih kemerahan meledak dari dalam Dantiannya, membentuk sebuah kubah setengah lingkaran berdiameter lima tombak yang menutupi dirinya, Long Chen, dan Tianxue.
TRANG! TRANG! TRANG! KRAAAK! BOOOOM!
Ratusan ribu proyektil Qi tingkat God King Puncak menghujam kubah api itu tanpa henti layaknya hujan meteor. Setiap kali proyektil menyentuh kubah, Api Nirwana membakarnya menjadi ketiadaan. Namun, daya dorong dari serangan berkelanjutan itu luar biasa kuat.
Tanah di bawah kaki Zhao Xuan terus ambles. Retakan-retakan mulai muncul di kubah api miliknya. Dantian Zhao Xuan yang sebelumnya belum sepenuhnya pulih dari fusi Primordial, kini dipaksa membakar energi dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Darah emas perlahan menetes dari sudut bibir Zhao Xuan. Menahan serangan jarak jauh dari tiga God King Puncak yang terus bergerak dan menyerang titik buta secara lansung membuat Zhao Xuan perlahan mulai kewalahan.
Ini buruk, batin Zhao Xuan, menangkis tiga jarum beracun raksasa yang menembus kubahnya dengan sabetan Pedang Ketiadaan. Api Nirwana adalah energi penghancur, bukan energi pelindung. Menggunakannya sebagai tameng perisai sangat menguras Qi ku.
Di atas langit, Han Jue tertawa dingin.
"Berapa lama kau bisa menahannya,?!" ejek Han Jue. "Dantianmu tidak sebesar lautan! Kami bertiga bisa membombardirmu selama tiga hari tiga malam!"
Namun, ejekan itu hanyalah pengalih perhatian.
Di tengah badai serangan yang membutakan mata, Han Sha Sang Pembantai telah menyatu dengan Hukum Ruang di bawah tanah. Ia bergerak seperti cacing tanah pembunuh, menyusup tepat di bawah posisi kubah api Zhao Xuan.
Di tangannya, terdapat sebuah artefak kutukan kuno: Jarum Emas Hitam Pemutus Jiwa. Senjata ini adalah barang habis pakai yang diciptakan oleh Leluhur Klan Han. Benda ini mengabaikan pertahanan fisik dan elemen api, dirancang khusus untuk menembus langsung ke Lautan Kesadaran!
Tiran itu sibuk menahan serangan dari atas dan samping. Bawahnya terbuka lebar! batin Han Sha girang.
Dari kedalaman tanah, Han Sha menembakkan Jarum Emas Hitam itu ke atas, mengarah tepat ke tulang ekor Long Chen yang sedang duduk bersila! Jika jarum ini mengenai Long Chen yang jiwanya sedang tidak dijaga, naga itu akan mati seketika tanpa sempat terbangun!
Zhao Xuan menyadari fluktuasi ruang dari bawah tanah pada detik terakhir.
"SIALAN!" Zhao Xuan meraung. Ia harus memilih: menurunkan kubah api dari atas untuk menahan serangan dari bawah (yang akan membiarkan ribuan bilah angin memotong kepala Tianxue), atau menahan atas dan membiarkan Long Chen tertusuk!
Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Benua Tengah, Ia dipaksa masuk ke dalam keadaan terdesak.
Namun, tepat di saat kemustahilan itu terjadi...
Sebuah kilatan cahaya pedang yang berkarat, bau arak yang menyengat, dan Niat Pedang yang memancarkan kegilaan murni membelah ruang di bawah tanah!
"Teknik Pedang Dewa Mabuk!"
CRAAAASSSHHH! TRANGGGG!
Jian Zui, sang Master Pedang yang sedari tadi terkapar lumpuh di luar kawah akibat tekanan Domain, entah bagaimana berhasil menembus belenggu tersebut! Ia membakar Esensi Darah dan 100 tahun umurnya sendiri untuk bergerak melampaui batasan lukanya, melesat masuk ke dalam kubah pelindung Zhao Xuan, dan melemparkan tubuh rentanya untuk memblokir jalur serangan dari bawah tanah!
Pedang Jian Zui menghantam Jarum Emas Hitam Pemutus Jiwa itu tepat di ujungnya!
Ledakan energi jiwa terjadi. Jarum itu terpental keluar dari jalur, gagal mengenai Long Chen, dan melesat menembus bahu kiri Jian Zui!
"AAARRGGHH!"
Jian Zui memuntahkan darah hitam pekat. Lengan kirinya seketika lumpuh dan layu saat racun pemutus jiwa itu menggerogoti sarafnya. Pria tua itu jatuh berlutut di sebelah tubuh Long Chen, pedangnya tertancap di tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak rubuh.
"Jian Zui!" Mata Zhao Xuan membelalak.
Pria tua itu menoleh perlahan ke arah Zhao Xuan. Wajahnya pucat pasi seperti mayat, darah hitam terus mengalir dari hidung dan mulutnya, namun ia memaksakan sebuah tawa serak. Ia mengangkat kendi araknya yang retak dan menenggaknya.
"Tuan Zhao..." Jian Zui terbatuk. "Tulang... tulang tuaku ini mungkin sudah rapuh... tapi aku belum cukup mabuk untuk membiarkan anjing-anjing ini... menggigit Pemuda-pemuda keras kepala itu"
Hati Zhao Xuan bergetar. Master pedang ini hanyalah pemandu jalan yang ia sewa, namun di saat kritis, ia mempertaruhkan jiwanya yang fana untuk melindungi kelompoknya.
Di udara, Han Jue mendengus jijik melihat intervensi itu.
"Seekor semut tua mencoba menahan lautan," ucap Han Jue dingin. "Han Sha, naik kembali ke formasi! Kita tidak punya waktu untuk bermain petak umpet. Awan Kesengsaraan di atas sana sepertinya akan segera memudar. Jika dua pelayan itu bangun, keadaan akan menjadi merepotkan."
Ketiga Algojo itu kembali berkumpul di udara. Taktik Seribu Sayatan memang berhasil melukai mereka, tapi tidak cukup cepat. Mereka butuh serangan mutlak yang tidak bisa ditahan.
Han Jue merogoh cincin spasialnya dan mengeluarkan sebuah Kompas Tulang Berdarah. Saat kompas itu dikeluarkan, udara di sekitar mereka langsung menjerit layaknya ribuan roh yang disiksa.
Ini adalah Kartu As tersembunyi yang disiapkan langsung oleh Putra Suci Han Tianyi.
"Tiran, kau sangat tangguh melindungi fisik mereka," Han Jue mencibir dengan nada kemenangan. "Tapi kau sepertinya lupa... Kesengsaraan Iblis Hati adalah ujian pikiran. Apa yang akan terjadi jika kami mengubah ujian pikiran itu menjadi kutukan kenyataan?"
Zhao Xuan menyipitkan matanya, firasat buruk yang luar biasa kelam menyelimuti benaknya.
Han Jue meremukkan kompas tulang itu dengan tangannya!
"Formasi Terlarang: Rantai Karma Pengekang Iblis Hati!"
Energi kutukan dari kompas itu tidak menyerang Zhao Xuan. Energi itu melesat lurus ke atas, menyatu dengan sisa-sisa awan abu-abu Kesengsaraan Iblis Hati yang mengambang di langit!
Seketika, hukum Kesengsaraan itu terdistorsi secara paksa. Kabut ilusi yang menyelimuti tubuh Long Chen dan Gu Tianxue mendadak memadat. Dari dalam tanah bayangan mereka sendiri, puluhan Rantai Besi Berkarat yang memancarkan energi Kematian Absolut melesat keluar, membelit leher dan dada kedua pemuda yang sedang koma itu!
Rantai ini terhubung langsung dengan jiwa mereka yang sedang bertarung di alam mimpi!
"Rantai itu akan menarik roh mereka langsung ke Neraka Avici dalam waktu sepuluh tarikan napas!" tawa Han Ming menggema. "Jika kau tidak memotong rantai itu, mereka akan menjadi mayat tanpa jiwa!"
Mata Zhao Xuan menyala. Pedang Ketiadaannya terangkat. "Kalian pikir aku tidak bisa memotong rantai rongsokan?!"
"Lakukanlah!" tantang Han Jue dengan senyum iblis di balik topengnya. "Tapi ingat... rantai itu sekarang adalah perpanjangan dari jiwa mereka. Karena kau tidak menggunakan Niat Spiritual murni dan hanya mengandalkan Api Nirwana dan Ketiadaan... detik ketika pedangmu atau apimu menyentuh rantai itu, kau akan membakar dan menghapus jiwa pelayanmu sendiri!"
Gerakan Zhao Xuan terhenti secara paksa. Pedangnya membeku di udara.
Ia terjebak dalam dilema iblis: Biarkan rantai itu menarik jiwa pengikutnya ke neraka, atau serang rantai itu dan bunuh mereka dengan tangannya sendiri.