Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14 : KEMBALI KE REALITA DAN RADAR SANG MAMA
Pesawat komersial kelas satu yang membawa mereka kembali dari Maldives mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta. Jakarta menyambut mereka dengan suhu yang lembap, polusi yang menggantung di ufuk timur, dan deru klakson yang sudah terdengar bahkan dari area parkir VIP. Bagi Anya, liburan seminggu itu terasa seperti mimpi di dimensi lain, dan kini ia harus kembali mengenakan baju zirah sebagai Nyonya Arkatama.
Namun ada yang berbeda. Jika saat berangkat mereka duduk berjauhan dengan tembok tinggi bernama gengsi, kini tangan Devan tidak pernah lepas dari genggaman tangan Anya.
"Siap menghadapi dunia nyata, Arsitek?" bisik Devan saat mereka berjalan menuju lobi kedatangan.
Anya membetulkan kacamata hitamnya. "Selama kamu tidak berubah jadi monster kantor dalam waktu lima menit, aku rasa aku akan baik-baik saja."
Devan terkekeh, mencium pelipis Anya tanpa peduli pada pandangan orang-orang di sekitar. "Monster itu hanya untuk karyawanku, bukan untuk istriku."
...****************...
Harapan mereka untuk pulang ke rumah dan beristirahat seketika sirna saat mereka melangkah masuk ke dalam mansion. Di ruang tamu, Mama Arkatama sudah duduk dengan anggun, ditemani oleh tumpukan majalah bayi dan sebuah nampan berisi jamu-jamuan yang aromanya sangat menyengat.
"Kejutan!" seru Mama Arkatama sambil berdiri dan merentangkan tangan.
Anya dan Devan membeku di ambang pintu. Devan segera melepaskan tangan Anya, mencoba kembali ke mode 'CEO Dingin' miliknya, namun wajahnya yang sedikit terbakar matahari dan senyum yang tertinggal di sudut bibirnya tidak bisa berbohong.
"Mama? Sedang apa di sini siang-siang begini?" tanya Devan, berusaha terdengar otoriter namun gagal total.
"Mama? Tentu saja menyambut anak dan menantu Mama yang baru pulang bulan madu! Ayo sini, Anya sayang, biarkan Mama lihat wajahmu," Mama Arkatama menarik Anya dan memutar tubuhnya. "Wah, auranya beda ya, Pa? Lebih... bercahaya. Sepertinya udara Maldives sangat cocok untuk kalian."
Papa Arkatama yang baru muncul dari arah dapur hanya tertawa kecil. "Sudahlah Ma, jangan buat mereka malu."
"Malu apa? Kita semua kan keluarga," Mama Arkatama menuntun mereka ke meja makan. "Mama sudah buatkan ramuan khusus. Ini jamu tradisional dari nenek Devan. Sangat bagus untuk... stamina dan kesuburan."
Anya hampir tersedak ludahnya sendiri melihat cairan berwarna cokelat pekat di dalam gelas kecil itu. "Ma... kami baru saja mendarat. Mungkin nanti saja?"
"Tidak boleh! Harus sekarang selagi hangat!" paksa Mama.
Devan mencoba membela Anya. "Ma, kami tidak butuh jamu-jamuan seperti itu. Kami masih muda."
"Justru karena masih muda harus dijaga! Devan, kamu itu kerja terus, Mama takut kamu kurang 'energi' untuk membahagiakan Anya," goda Mama Arkatama dengan kerlingan mata yang membuat Devan ingin sekali menghilang ke dasar bumi.
Kejadian lucu berlanjut saat Mama Arkatama mulai memeriksa koper mereka. "Lho, ini kok kemeja Devan banyak pasirnya? Dan kenapa piyama Anya robek sedikit di bagian talinya?" Mama mengangkat piyama satin krem itu dengan ekspresi penuh selidik yang sangat lucu.
Wajah Anya memerah sempurna hingga ke telinga. Ia melirik Devan yang mendadak sangat sibuk memperhatikan kuku jarinya.
"Itu... itu kemarin tersangkut pintu lemari, Ma!" jawab Anya cepat, hampir berteriak.
"Oh... pintu lemari ya?" Mama Arkatama tersenyum penuh arti. "Lemari di Maldives memang ganas-ganas ya kalau begitu."
...****************...
Setelah berhasil melewati "sidang" jenaka dengan Mama Arkatama, Anya memutuskan untuk pergi ke studionya, Green Soul, sore itu juga. Ia merindukan tanaman-tanamannya dan merasa perlu memeriksa perkembangan proyek The Emerald Garden. Devan bersikeras mengantarnya, meskipun ia sendiri punya tumpukan dokumen di kantor.
Namun, suasana di studio tidak seperti biasanya. Saat Anya masuk, para stafnya tampak menunduk dan suasana terasa sangat tegang.
"Ada apa? Kenapa semua wajah kalian seperti habis melihat hantu?" tanya Anya sambil meletakkan tasnya.
Laras, asisten kepercayaan Anya, maju dengan mata berkaca-kaca. "Mbak Anya... maafkan kami. Selama Mbak di Maldives, ada kejadian besar. Desain utama kita untuk tahap kedua proyek The Emerald Garden... bocor ke publik."
Jantung Anya mencelos. "Bocor? Maksudmu?"
"Perusahaan saingan, Lush Terra, baru saja merilis rencana pembangunan taman kota yang identik sembilan puluh persen dengan desain Mbak Anya. Mereka mendaftarkan hak ciptanya dua hari lalu. Pihak pengembang gedung kini menuduh kita melakukan plagiarisme dari desain mereka karena mereka merilisnya lebih dulu," jelas Laras dengan suara gemetar.
Anya terduduk di kursinya. Proyek itu adalah nyawanya. Jika ia dituduh plagiat, reputasinya yang ia bangun selama bertahun-tahun akan hancur seketika.
"Bagaimana bisa bocor? Server kita diproteksi!" Anya mulai emosi.
"Kami sudah melakukan audit internal, Mbak. Dan ternyata... ada akses dari komputer Pak Hendra," Laras menatap Anya dengan ragu.
"Hendra? Dia kan sudah lari!" Anya berteriak. Namun kemudian ia sadar. Hendra adalah orang yang menipu ibunya. Jika Hendra memiliki akses ke desainnya, itu berarti ada orang dalam di studionya yang masih berhubungan dengan pria itu.
Devan yang sejak tadi berdiri di ambang pintu mendengarkan semuanya, segera melangkah masuk. Aura CEO-nya keluar sepenuhnya. "Laras, berikan aku semua log akses server dalam dua puluh empat jam terakhir."
"Siapa kamu?" tanya salah satu staf baru yang tidak mengenal Devan.
"Saya Devan Arkatama. Dan mulai hari ini, kasus ini ditangani oleh tim legal Arkatama Shipping Lines," ucap Devan dengan nada yang membuat semua orang di ruangan itu terdiam.
Devan mendekati Anya, berlutut di depannya agar mata mereka sejajar. "Anya, lihat aku. Jangan biarkan ini menghancurkanmu. Kita akan cari siapa pelakunya. Jika ini ulah Hendra, dia baru saja menggali liang kuburnya sendiri karena sudah mengusik milikku."
Anya menatap Devan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Baru saja ia merasa bahagia, kini badai baru datang menghantam karirnya. Namun, kali ini ia tidak merasa sendiri.
"Bagaimana jika aku kehilangan kontrak itu, Devan? Bagaimana jika namaku dicatut sebagai penjiplak?"
"Itu tidak akan terjadi. Aku akan membeli perusahaan Lush Terra itu jika perlu hanya untuk menutup mulut mereka. Tapi sebelumnya, kita akan buktikan bahwa itu desainmu," jawab Devan tegas.
Konflik baru ini jauh lebih rumit daripada sekadar hutang. Ini menyangkut integritas Anya sebagai arsitek dan kemungkinan adanya pengkhianat di antara orang-orang yang ia percayai. Terlebih lagi, campur tangan Devan yang terlalu agresif dalam bisnis Anya mulai membuat beberapa pihak di lingkaran bisnis Arkatama merasa tidak senang, menganggap Devan terlalu emosional karena "wanita".
Malam itu, di ruang kerja rumah mereka, Anya dan Devan tidak tidur. Mereka duduk dikelilingi tumpukan dokumen dan data digital, bersiap untuk perang baru. Di luar, hujan Jakarta mulai turun, seolah menandakan bahwa musim tenang telah usai dan musim badai baru saja dimulai.
Anya menyadari satu hal: Menikah karena tekanan keluarga membawanya pada perlindungan, namun kini masalah pribadinya mulai mengancam stabilitas keluarga besar Arkatama. Apakah cinta mereka cukup kuat untuk menanggung beban dari dua dunia yang berbeda ini?