“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Balik Embun Pagi
Pagi itu datang dengan cahaya keemasan yang lembut, secerah raut wajah seorang gadis yang tengah sibuk di pelataran rumah. Di sela sapaan angin pagi, Ayunda Kinanti gadis berusia dua puluh tahun itu tampak asyik menyirami tanaman bunganya. Senandung kecil mengalir dari bibirnya, menciptakan harmoni manis di tengah ketenangan desa. Rambutnya dicepol asal, dipadukan dengan daster batik berwarna marun yang sederhana, namun kecantikan alaminya tetap memancar kuat meski ia hanya mengenakan pakaian rumah.
Suara deru mesin sepeda motor yang memasuki pekarangan tak lantas mengusik lamunannya. Kinanti masih larut dalam kegiatannya, hingga sebuah suara asing memecah keheningan.
"Permisi, Pak Wisnu?"
Kinanti terkesiap. Ia segera menghentikan aliran air dan berdiri tegak. Perlahan, ia menoleh ke arah sumber suara. Di sana, tepat di depan pintu rumah yang terbuka separuh, berdiri seorang pria dengan punggung yang tampak kokoh dan tegap. Meski hanya melihat dari belakang, Kinanti dapat merasakan aura wibawa yang terpancar dari sosok tersebut.
Ia meletakkan selangnya di tepi taman, lalu melangkah mendekat dengan sopan. "Maaf, mencari siapa, ya?" tanya Kinanti lembut.
Pria itu tersentak kecil, seolah terkejut mendengar suara merdu di belakangnya. Dengan gerakan cepat, ia membalikkan tubuh tegap nan kekarnya.
Pria itu terpaku. Pandangannya terkunci pada sosok gadis di hadapannya. *Siapa gadis ini?* batinnya tertegun. Matanya menatap lekat paras ayu Kinanti yang polos tanpa polesan kosmetik sedikit pun.
"Halo? Mencari siapa, ya?" Kinanti mengulang pertanyaannya, sedikit bingung karena pria di depannya hanya diam terpaku.
Pria itu segera berdehem, berusaha menguasai diri meski tatapan tajamnya masih menyiratkan kekaguman. "Saya mencari Pak Wisnu," jawabnya akhirnya.
"Bapak sedang ke sawah untuk mencari rumput pakan kambing. Ada keperluan apa, ya? Barangkali saya bisa menyampaikannya nanti," ujar Kinanti.
Fokus pria itu sedikit buyar. Wangi sabun yang segar dari tubuh Kinanti mendadak mengusik indranya. "Sa-saya hanya ingin memberi tahu bahwa nanti siang, sekitar jam sepuluh, akan ada setoran padi yang masuk ke pabrik," ucapnya sedikit gugup.
Kinanti mengangguk kecil dengan senyum tipis yang tulus. "Baik, nanti akan saya sampaikan kepada Bapak."
Pria itu tak kunjung beranjak, seolah kakinya tertanam di tanah pekarangan itu hanya untuk menatap Kinanti lebih lama.
"Ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Kinanti kembali, memecah kecanggungan.
"Tidak ada. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit pria itu singkat.
"Silakan," jawab Kinanti sopan.
Pria tersebut segera menaiki motornya dan melesat pergi. Di sepanjang jalan, pikirannya tak tenang. *Siapa perempuan tadi? Apakah dia putri Pak Wisnu?* gumamnya dalam hati. Pria yang biasanya dingin dan tak acuh pada sekitar itu kini merasa benaknya terusik oleh bayang-bayang gadis desa yang baru saja ditemuinya.
ღღღ ღღღ ღღღ ღღღ
🌾 Setoran Padi dan Juragan Muda
Siang harinya, Pak Wisnu pulang dengan rona lelah di wajahnya. Kinanti segera menyambut sang ayah dengan segelas teh manis dingin.
"Bapak, tadi ada seorang pria datang kemari," lapor Kinanti.
Pak Wisnu menyesap tehnya dengan nikmat. "Pacarmu, Nak? Wah, sudah berani ya, sekarang ke mana anaknya?" goda Pak Wisnu sambil terkekeh.
Kinanti mendesah pelan, pipinya sedikit merona. "Hush, Bapak ini bicara apa. Bukan pacar Kinan. Dia memberi tahu kalau jam sepuluh nanti ada padi masuk ke pabrik. Bapak diminta segera ke sana."
Pak Wisnu mengernyitkan dahi. "Oh, pasti Juragan Aditya itu."
Kinanti yang sedang duduk di hadapan ayahnya mengeja nama itu dengan pelan. "Adi-tya?"
"Iya, putra sulung Juragan Wijaya. Pabrik beras milik ayahnya sekarang dikelola oleh dia. Pasti yang datang tadi adalah dia," jelas Pak Wisnu. "Kamu yang menemuinya tadi, Nak?"
Kinanti mengangguk singkat. "Iya, waktu Kinan sedang menyiram bunga di depan."
"Ya sudah kalau begitu, Bapak siap-siap dulu. Sudah hampir setengah sembilan," ucap Pak Wisnu seraya bergegas ke kamar. Tak lama kemudian, ia berpamitan, "Kinan, Bapak berangkat kerja dulu, ya."
"Iya, Pak. Hati-hati di jalan," sahut Kinanti.
Sejak ibunya meninggal dunia, Kinanti tinggal berdua dengan sang ayah. Sehari-hari ia bekerja di sebuah toko bunga setelah lulus SMA. Meskipun gajinya tak seberapa, ia bersyukur bisa memenuhi kebutuhan pribadi dan membantu ayahnya. Hari ini adalah hari liburnya, waktu yang ia gunakan untuk mengurus rumah dengan telaten.
ღღღ ღღღ ღღღ ღღღ
🧐 Rasa Penasaran Aditya
Di tempat lain, seorang pria baru sampai di kediaman besar keluarga Wijaya. Tubuhnya terasa sedikit lelah, namun pikirannya tetap tajam. Ia tengah berada di dapur untuk mengambil air minum saat suara ayahnya memanggil.
"Nak?"
"Iya, Ayah," jawab pria itu seraya menoleh.
"Sudah ke rumah Pak Wisnu tadi?" tanya Pak Wijaya.
"Sudah, Ayah."
Pak Wijaya mengangguk puas. "Baguslah. Kalau begitu Ayah ke gudang dulu untuk memantau pengiriman padi."
Pria itu terdiam sejenak sebelum berkata, "Tapi saya tidak bertemu langsung dengan Pak Wisnu tadi."
Langkah Pak Wijaya terhenti. Ia berbalik menatap putra sulungnya yang bernama Aditya Sakti Wijaya berusia tiga puluh tahun itu dengan heran. "Maksudmu? Bukan Pak Wisnu yang kamu temui?"
Aditya menggeleng pelan. "Seorang perempuan."
Alis Pak Wijaya bertaut. Seingatnya, Pak Wisnu adalah seorang duda. "Setahu ayah, Pak Wisnu hanya tinggal bersama putri tunggalnya. Mungkin yang kamu temui tadi adalah anaknya," jelas Pak Wijaya santai.
Jantung Aditya seakan berhenti berdetak sejenak. *Jadi, gadis cantik nan lugu itu adalah putri Pak Wisnu?*
"Tidak apa-apa, yang penting pesannya sudah tersampaikan. Dia pasti akan memberi tahu ayahnya," tambah Pak Wijaya sebelum melangkah pergi.
Sepeninggal ayahnya, Aditya terpaku di dapur yang luas itu. "Putri Pak Wisnu?" Sebuah senyuman tipis, yang nyaris tak terlihat namun sangat bermakna, terukir di bibirnya. Tatapannya menerawang jauh menembus kaca jendela. Kini, ia punya satu alasan lagi untuk lebih sering mengunjungi pabrik beras, atau mungkin, sekadar mampir kembali ke rumah sederhana di ujung desa itu.
ღღღ ღღღ ღღღ ღღღ
🌴 Kesibukan di Hamparan Hijau
Setelah urusan di pabrik beras selesai, Aditya tidak langsung pulang ke rumah. Ia memacu mobil kabin ganda miliknya menuju area perbukitan yang menjadi lokasi perkebunan kelapa sawit miliknya. Sinar matahari siang itu terasa menyengat, namun Aditya seolah sudah terbiasa dengan panasnya iklim tropis.
Di gerbang perkebunan, beberapa truk besar tampak mengantre. Hari ini adalah puncak masa panen. Aditya turun dari mobil, mengenakan sepatu bot kulit dan topi rimbanya. Ia melangkah tegap menyusuri jalan setapak di antara pohon-pohon sawit yang menjulang tinggi dengan buah-buah merah kehitaman yang bergelantungan subur.
"Bagaimana progres blok B, Man?" tanya Aditya kepada Mandor kebunnya.
"Lancar, Juragan. Buah pasir sudah dipisahkan, dan Tandan Buah Segar (TBS) kualitas prima sedang dimuat ke truk. Perkiraan panen bulan ini meningkat sepuluh persen dari bulan lalu," lapor sang mandor dengan hormat.
Aditya mengangguk puas. Ia tidak hanya memerintah tangannya yang kekar sesekali memeriksa kematangan buah sawit dengan teliti. Ia memastikan setiap butiran sawit yang dipanen memenuhi standar pabrik pengolahan. Peluh membasahi keningnya, namun aura ketegasannya tidak luntur sedikit pun. Di bawah naungan pelepah sawit yang rimbun, ia menghabiskan waktu berjam-jam memastikan distribusi hasil panen berjalan tanpa kendala.
Baginya, perkebunan ini adalah hasil kerja kerasnya sejak muda, sebuah bukti bahwa ia bukan sekadar anak juragan yang bermanja pada harta orang tua. Namun, di tengah aroma khas buah sawit dan kesibukan para pekerja, entah mengapa ingatan tentang gadis berdaster marun pagi tadi kembali muncul. Senyum lembut Kinanti terasa jauh lebih menyegarkan daripada semilir angin di tengah perkebunan.
Bersambung__
___