❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨
AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.
Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.
Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: RUMAH YANG SEBENARNYA
Malam itu, suasana di rumah kecil mereka begitu hangat dan penuh keakraban. Ny. Savitri duduk di sofa sederhana itu, matanya tak lepas dari wajah putranya dan menantunya.
Ia melihat sekeliling ruangan dengan perasaan yang sangat campur aduk. Ruangan yang sempit, perabotan yang seadanya, dan dinding yang sederhana... namun di dalamnya terisi oleh cinta yang begitu besar dan kebahagiaan yang tulus.
Tapi, sebagai seorang ibu yang sudah terbiasa melihat anaknya hidup bergelimang kemewahan, melihat Aaryan dan Maheera hidup di tempat yang terbatas seperti ini membuat hatinya terasa perih dan sangat kasihan.
"Arya... Nak Maheera..." panggil Ny. Savitri pelan, suaranya terdengar lembut dan penuh rasa sayang.
Aaryan dan Maheera yang sedang menuangkan teh untuknya, langsung menoleh serentak.
"Ada apa, Bu?" tanya Aaryan lembut.
Ny. Savitri menghela napas panjang, lalu menatap mereka berdua dengan tatapan memohon.
"Ibu minta sama kalian... ayo pulang sama Ibu. Ayo pindah tinggal di rumah kita yang dulu."
Deg!
Aaryan dan Maheera saling berpandangan kaget.
"Bu...?" gumam Aaryan bingung. "Tapi kan Ibu dulu..."
"Dah ah, jangan bahas yang dulu-dulu lagi!" potong Ny. Savitri cepat sambil melambaikan tangan. "Dulu Ibu salah, Ibu jahat, Ibu sombong. Tapi sekarang Ibu sudah sadar. Ibu sudah berubah."
Wanita itu menggenggam tangan Aaryan, lalu menggenggam tangan Maheera erat-erat. Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Ibu lihat kalian di sini... Ibu sedih sekali, Nak. Ibu kasihan banget sama kalian. Lihat ini rumahnya kecil banget, sempit, pasti tidak leluasa kan buat gerak? Pasti susah juga kan cari barang?"
"Padahal kalian kan anak muda, pantas dapat tempat yang layak, yang luas, yang nyaman. Apalagi Maheera... Ibu lihat kamu rajin banget, kerja keras banget ngurus rumah dan ngurus Aaryan. Ibu kasihan melihat kamu capek-capek di tempat sebesar ini."
"Rumah Ibu kan besar, Nak. Luas sekali. Banyak kamar kosong. Kenapa harus numpang di tempat sempit begini kalau di rumah sendiri ada tempat yang enak?"
"Pulang yuk... anggap saja itu permintaan Ibu. Ibu ingin mengurus kalian, Ibu ingin melihat kalian setiap hari. Ibu tidak mau jauh-jauh lagi sama kalian. Ibu ingin menebus kesalahan Ibu dengan membahagiakan kalian."
Aaryan terdiam sejenak. Ia menatap wajah ibunya yang tulus dan penuh kerinduan itu. Hatinya terharu sekali.
"Tapi Bu... kami sudah nyaman di sini. Kami sudah terbiasa hidup sederhana. Dan di sini kami belajar banyak hal," jawab Aaryan pelan.
"Nyaman sih pasti nyaman, Sayangku..." jawab Ny. Savitri sambil mengusap pipi anaknya. "Tapi kan lebih nyaman lagi kalau tinggal di tempat yang lebih layak. Lagipula, itu rumah kalian juga lho! Itu warisan kalian juga!"
"Dan Ibu janji... Ibu tidak akan ikut campur urusan rumah tangga kalian lagi. Ibu tidak akan cerewet, tidak akan marah-marah. Kalian tetap bebas mengatur hidup kalian, cuma tempat tinggalnya aja yang pindah ke sana."
"Di sana ada taman luas, ada kolam renang, ada ruang kerja yang bagus buat Aaryan, dan dapur yang besar dan lengkap buat Maheera masak-masak seenak hati. Kalian tidak perlu capek-capek lagi bersih-bersih sendiri, sudah ada asisten rumah tangga yang bantu."
Ny. Savitri menatap Maheera dengan wajah memohon yang sangat manis.
"Kamu mau kan, Nak Maheera? Ajak suamimu pulang sama Ibu ya? Ibu janji Ibu akan jadi mertua yang paling baik di dunia buat kamu. Ibu akan sayang kamu seperti anak kandung Ibu sendiri."
Mendengar itu, hati Maheera langsung luluh lantak. Ia melihat ketulusan yang luar biasa dari mata mertuanya itu. Ia juga merasa terharu karena diperlakukan begitu baik dan dikasihani dengan tulus.
Maheera menoleh ke arah suaminya, lalu tersenyum tipis.
"Gimana menurut Mas, Bu? Kalau Ibu dan Mas Aaryak mengizinkan dan mengajak dengan tulus... Maheera ikut saja deh. Asalkan kita semua bisa hidup rukun dan bahagia di sana."
Mendengar jawaban itu, wajah Ny. Savitri langsung bersinar terang.
"Alhamdulillah! Syukurlah! Terima kasih Nak, terima kasih!" serunya girang.
Ia lalu menatap Aaryan dengan tatapan memohon. "Gimana sama kamu, Arya? Mau kan menuruti kemauan Ibu yang cuma sedikit ini?"
Aaryan menghela napas panjang, lalu tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah... kalau itu permintaan Ibu dan Maheera setuju... Aaryan mau kok, Bu. Kita pindah."
"YEAYYY!!!"
Ny. Savitri bertepuk tangan girang seperti anak kecil. Ia langsung memeluk mereka berdua secara bergantian.
"Makasih ya anak-anakku! Ibu janji kalian tidak akan menyesal! Mulai hari ini, kita hidup bersama lagi! Keluarga kita utuh kembali!"
Keesokan harinya, dengan bantuan orang-orang dari rumah besar itu, barang-barang mereka pun dipindahkan.
Saat sampai di kediaman megah keluarga Singhania yang megah dan luas itu, Maheera sedikit merasa canggung namun juga sangat bahagia.
Ny. Savitri benar-benar menunjukkan perubahan yang luar biasa. Ia sangat perhatian, sangat manis, dan sangat sayang pada Maheera.
"Nak Maheera, kamar ini khusus buat kalian ya. Kamar utama yang paling besar dan paling nyaman. Sudah Ibu rapikan semua seprai dan karpetnya baru semua."
"Terima kasih banyak, Bu. Kamarnya indah sekali..." ucap Maheera takjub.
"Harus indah dong buat menantu kesayangan Ibu!" sahut Ny. Savitri sambil terkekeh. "Kalau butuh apa-apa bilang sama Ibu ya. Mau baju baru, mau perhiasan, mau makan apa... bilang aja. Sekarang kamu putri Ibu juga lho."
Ny. Savitri benar-benar sangat menyayangi Maheera. Ia merasa sangat beruntung dan sangat bersyukur memiliki menantu sebaik, sehalus, dan setulus Maheera. Ia berjanji di dalam hati akan memanjakan menantunya itu sebaik mungkin sebagai bentuk penebusan dosa atas perkataannya yang dulu pernah kasar.
Aaryan yang melihat kedekatan ibunya dan istrinya itu, hatinya merasa sangat tenang dan sangat bahagia.
Impian terbesarnya selama ini terwujud sudah. Dua wanita yang paling ia cintai di dunia ini kini saling menyayangi, saling melengkapi, dan hidup bahagia di bawah satu atap yang sama.
"Terima kasih Ya Allah... Engkau telah mempertemukan kami kembali dengan kasih sayang..." batin Aaryan bersyukur.
Kini, tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi air mata kesedihan, dan tidak ada lagi kebencian. Yang ada hanyalah keluarga yang utuh, hangat, dan penuh cinta.
Air mata yang dulu jatuh karena kesedihan dan perjuangan, kini telah berubah menjadi emas kebahagiaan yang abadi.
...Air mata yang dulu jatuh karena kesedihan dan perjuangan, kini telah berubah menjadi emas kebahagiaan yang abadi.
Ny. Savitri tidak berhenti di situ saja. Ia terus memperhatikan Maheera dengan tatapan penuh kasih sayang dan rasa iba yang tulus.
"Nak Maheera..." panggilnya lembut sambil membelai rambut panjang menantunya itu. "Ibu lihat tangan kamu ini... halus dan cantik, tapi kenapa ada sedikit kapalan dan lecet halus di sini?"
Maheera tersenyum malu-malu sambil menyembunyikan tangannya. "Ah itu... biasa saja kok Bu. Karena kan di rumah kecil tadi semuanya harus dikerjakan sendiri. Masak, cuci, bersih-bersih... jadi tangan jadi agak kasihan dikit."
Hati Ny. Savitri terasa tercubit mendengarnya. Matanya langsung berkaca-kaca.
"Ya Allah... kasihan sekali anakku..." isaknya pelan. "Pantas saja Ibu merasa sedih sekali melihatnya. Kamu ini wanita muda, cantik, halus... harusnya kan tangan secantik ini tidak perlu bekerja sekeras itu."
"Sudah, mulai sekarang kamu istirahat saja ya. Di rumah ini sudah ada pembantu dan koki yang handal. Kamu tidak perlu capek-capek lagi mengangkat barang berat, tidak perlu mencuci dengan tangan, tidak perlu kepanasan di dapur kalau tidak mau."
"Kamu kan istri dari anak tunggal Ibu, kamu adalah nyonya besar di rumah ini. Tugasmu sekarang cuma satu: bahagia, berhias, dan menikmati hidup bersama suamimu. Itu saja."
Maheera tersenyum haru. "Terima kasih banyak ya Bu atas perhatiannya. Saya tidak menyangka akan diperlakukan sebaik ini."
"Harus dong! Kamu sudah berbuat begitu banyak baik untuk keluarga kita. Kamu sudah menyelamatkan nyawa Ibu, kamu sudah merubah Aaryan jadi lebih baik. Maka sudah sepantasnya Ibu membalas kebaikanmu dengan kasih sayang yang tak terhingga."
Malam itu, makan malam mereka terasa sangat istimewa.
Meja makan panjang yang megah itu dipenuhi dengan berbagai hidangan lezat khas India yang dimasak khusus oleh koki terbaik. Ada Butter Chicken, Lamb Rogan Josh, Naan yang lembut, dan berbagai jenis sayuran serta dessert manis.
Ny. Savitri sendiri yang mengambilkan makanan ke piring Maheera dengan penuh perhatian.
"Makan yang banyak ya Nak. Coba ini kari kambingnya, enak banget. Ini juga roti canainya hangat-hangat. Kamu kan pasti capek seharian, harus banyak makan biar gemukan dan sehat."
"Makasih banyak, Bu..." Maheera menunduk hormat, hatinya terasa sangat hangat dan manis.
Aaryan yang duduk di seberang sana hanya bisa tersenyum lebar melihat interaksi indah itu. Melihat ibunya yang dulu dingin dan sombong kini begitu perhatian dan sayang pada istrinya... itu adalah pemandangan terindah yang pernah ia lihat.
"Nah, begitu dong Bu... sayang sama Maheera kayak sayang sama Aaryan," canda Aaryan lembut.
"Pasti dong! Sekarang Maheera itu anak Ibu sendiri! Ibu sayang kalian berdua sama-sama!" jawab Ny. Savitri bangga.
Setelah makan malam, Ny. Savitri mengajak mereka berkeliling melihat rumah besar itu yang kini kembali menjadi tempat tinggal mereka.
"Ini ruang keluarga, ini perpustakaan, ini taman belakang... dan lihat ini..." Ny. Savitri membuka sebuah pintu besar.
"Itu... itu lemari pakaianku yang dulu?" tanya Aaryan terkejut.
"Benar dong! Semuanya masih utuh! Baju-baju mahal, jas-jas bagus, sepatu, jam tangan... semuanya masih ada di sini. Ibu tidak pernah menyentuhnya. Ibu tahu suatu hari nanti kamu pasti akan kembali memakainya."
Ny. Savitri lalu beralih ke lemari besar lainnya yang ada di kamar pengantin.
"Dan ini khusus buat kamu, Maheera..."
Seketika mata Maheera terbelalak tak percaya. Di dalam lemari itu penuh sesak dengan gaun-gaun indah, saree berwarna-warni yang terbuat dari sutra murni, perhiasan berlian yang berkilauan, dan sepatu-sepatu cantik.
"Bu... ini semua...?"
"Semua ini buat kamu, Nak. Ibu beli sedikit demi sedikit selama ini karena Ibu yakin kamu bakal pulang sama kita. Ibu ingin melihat menantu Ibu tampil secantik dan semewah putri raja."
"Jangan sungkan pakai ya. Itu semua hak kamu sekarang. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik di dunia ini."
Maheera benar-benar tak kuasa menahan air mata bahagianya. Ia merasa seperti seorang putri yang baru saja menemukan kerajaannya kembali.
Malam semakin larut. Saat mereka akhirnya masuk ke kamar tidur utama yang luas dan mewah itu, suasana terasa begitu tenang dan damai.
Aaryan memeluk pinggang istrinya dari belakang, menempelkan dagunya di bahu Maheera.
"Senang bukan, Sayang? Kita kembali ke rumah ini... tapi rasanya jauh lebih bahagia daripada dulu."
Maheera mengangguk pelan sambil memejamkan mata menikmati pelukan hangat itu.
"Iya, Mas... sangat bahagia. Ternyata benar ya kata orang, air mata kesedihan yang kita tumpahkan hari ini, akan berubah menjadi emas kebahagiaan di kemudian hari."
"Betul sekali, Sayangku. Dan ingat satu hal..." Aaryan membalikkan tubuh Maheera, menatap manik mata itu dalam-dalam.
"Walau sekarang kita tinggal di istana lagi, walau kita punya segalanya lagi... tapi janji satu sama Aaryan ya. Jangan pernah berubah. Tetaplah menjadi Maheera yang tulus, rendah hati, dan baik hati yang aku cintai."
"Janji, Mas. Aku akan selalu jadi Maheera yang sama. Cuma sekarang aku lebih bahagia karena kita semua sudah bersama lagi."
Mereka pun berpelukan erat di bawah selimut sutra yang mewah.
Malam itu menjadi awal dari lembaran baru yang jauh lebih indah, jauh lebih mewah, namun tetap dipenuhi oleh cinta yang tulus dan murni.
Keluarga Singhania kini benar-benar utuh, bahagia, dan harmonis selamanya.
...Keluarga Singhania kini benar-benar utuh, bahagia, dan harmonis selamanya.
Satu bulan kemudian...
Waktu berlalu begitu cepat. Sejak pindah kembali ke rumah besar itu, hidup Maheera dan Aaryan berjalan sangat tenang dan penuh kebahagiaan. Ny. Savitri benar-benar memanjakan mereka berdua seperti raja dan ratu.
Namun, belakangan ini ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuh Maheera.
Pagi itu, seperti biasa Maheera bangun lebih awal untuk bersiap-siap. Tapi baru saja ia duduk di tepi ranjang, kepalanya terasa berputar hebat. Dunia seakan berputar-putar di sekelilingnya.
"Ugh... kepalaku pusing sekali..." gumamnya pelan sambil memegang pelipisnya.
Aaryan yang masih berbaring langsung terbangun dan melihat wajah istrinya yang pucat.
"Kenapa Sayang? Kamu sakit?" tanyanya cemas sambil bangun dan memeluk bahu Maheera.
"Enggak kok Mas... cuma pusing dikit. Mungkin kurang tidur kali ya," jawab Maheera berusaha tersenyum, tapi senyumnya terlihat lemah.
Belum sempat Aaryan menjawab, tiba-tiba perut Maheera terasa melilit sakit. Rasa mual yang luar biasa langsung menyerang tenggorokannya.
"Blaaagh!!"
Maheera langsung berlari kecil ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Aaryan panik bukan main, ia langsung mengikutinya dan memegangi punggung istrinya dengan lembut.
"Ya Allah... Maheera! Sayang! Kamu kenapa ini?!" Aaryan terlihat sangat khawatir. Wajahnya pucat melihat istrinya lemas seperti itu.
Setelah selesai, Maheera keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih pucat pasi dan tubuh yang gemetar.
"Perutku sakit Mas... mual banget. Terus pusingnya nggak hilang-hilang. Badan rasanya enggak enak banget, lemas semua," keluhnya pelan.
Kabar tentang Maheera yang sakit cepat sampai ke telinga Ny. Savitri. Wanita itu langsung berlari masuk ke kamar dengan wajah panik.
"Ya ampun! Maheera! Nak! Kamu kenapa?!" serunya sambil langsung memegang dahi dan tangan menantunya itu.
"Duh, dingin sekali tangannya... tapi dahinya agak hangat. Kamu demam ya Nak?" tanya Ny. Savitri cemas.
"Enggak tahu Bu... rasanya aneh banget. Pusing terus, mual terus, perut juga kadang-kadang nyeri seperti mau haid tapi nggak keluar-keluar," jawab Maheera lemas.
Mendengar itu, mata Ny. Savitri tiba-tiba membelalak lebar. Ada secercah harapan dan kegembiraan yang muncul di matanya. Ia menatap Maheera dengan tatapan tajam namun penuh harap.
"Nak... coba ingat-ingat... kapan terakhir kali kamu dapat haid?" tanyanya pelan tapi tegas.
Maheera mengerutkan keningnya berusaha mengingat.
"Eh... iya ya... sepertinya sudah lebih dari sebulan yang lalu Bu... saya pikir karena saya sering capek dan stres jadi haidnya nggak teratur..."
"BISMILLAH!!!"
Ny. Savitri langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya mulai berkaca-kaca dan wajahnya bersinar bahagia.
"Ya Allah... jangan-jangan... jangan-jangan kamu hamil Nak?!" serunya tak percaya namun penuh harap.
"Ha... hamil? Bu?" Maheera dan Aaryan sama-sama terbelalak kaget.
"Iya dong! Lihat gejalanya! Pusing, mual muntah, perut kram sakit, badan lemas... itu semua tanda-tanda hamil muda yang sangat jelas! Apalagi kamu telat haid juga!" jelas Ny. Savitri dengan semangat. "Dulu Ibu juga merasakan hal yang sama persis pas hamilkan Aaryan!"
Aaryan terdiam. Jantungnya berdegup kencang bukan main. Ia menatap wajah istrinya yang masih pucat itu.
"Benarkah... Sayang? Apakah kita akan punya anak?" bisiknya dengan suara bergetar.
Maheera juga merasa dadanya sesak oleh harapan yang begitu besar. "Aku... aku juga nggak tahu Mas... tapi rasanya memang sangat aneh dan berbeda dari biasanya."
Tanpa menunggu lama, Ny. Savitri langsung memerintahkan asisten rumah tangga untuk membeli test pack yang paling akurat di apotek terdekat.
Beberapa menit kemudian...
Dengan tangan yang gemetar hebat, Maheera masuk ke kamar mandi untuk melakukan tes tersebut. Aaryan menunggu di luar dengan jantung yang hampir copot. Ny. Savitri pun ikut menunggu dengan penuh doa dan harapan.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Lima menit itu terasa seperti lima jam bagi mereka.
Akhirnya, pintu kamar mandi terbuka.
Maheera keluar dengan wajah yang masih bingung namun ada senyum tipis yang mulai mengembang. Di tangannya ia memegang alat tes tersebut.
"Mas... Bu... lihat ini..."
Mereka berdua langsung mendekat dan melihat ke arah alat itu.
"GARIS DUA!!!"
Dua garis merah yang jelas dan tegas terlihat di sana.
"ALHAMDULILLAH!!! YA ALLAH TERIMA KASIH!!!"
Ny. Savitri langsung menangis bahagia dan memeluk Maheera erat-erat.
"Syukurlah... syukurlah! Aku akan jadi nenek! Aku akan punya cucu! Ya Allah terima kasih atas rezeki yang luar biasa ini!" serunya berkali-kali sambil mencium kening Maheera.
Aaryan masih terpaku menatap dua garis merah itu. Air mata bahagia mulai mengalir di pipi pria tampan itu. Ia mendekat, memeluk istrinya dan ibunya bersamaan.
"Terima kasih Sayang... terima kasih sudah memberikan aku kebahagiaan terbesar di dunia ini. Kita akan punya anak... kita akan jadi orang tua..." bisik Aaryan penuh haru.
"Maaf ya kalau tadi aku bikin panik," ucap Maheera tersenyum manis di balik air matanya.
"Ah enggak apa-apa Nak! Justru itu kabar paling indah!" sahut Ny. Savitri sambil mengusap air matanya. "Mulai sekarang kamu harus benar-benar dijaga ekstra! Kamu tidak boleh capek-capek, tidak boleh stres, harus makan yang banyak dan bergizi!"
"Ibu akan pastikan kamu dan cucu Ibu sehat dan kuat sampai lahir nanti!"
Sejak hari itu, status Maheera berubah drastis. Ia bukan lagi sekadar menantu kesayangan, tapi kini menjadi "Putri Mahkota" yang harus dilindungi dan dimanja sepenuhnya.
Setiap kali ia merasa mual atau pusing, Aaryan akan langsung ada di sampingnya memijat pelipisnya atau menyiapkan air hangat. Ny. Savitri pun selalu memastikan makanan yang disajikan adalah makanan yang tidak memicu mual dan sangat bergizi.
Rasa sakit perut, mual, dan pusing yang Maheera rasakan kini bukan lagi rasa sakit yang menyiksa, melainkan bukti nyata bahwa ada kehidupan baru yang sedang tumbuh dan berkembang di dalam rahimnya.
Kehidupan keluarga Singhania kini semakin lengkap dan sempurna. Cinta mereka kini tidak hanya berdua, tapi akan segera bertambah dengan hadirnya buah hati yang dinantikan.