Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.
Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".
Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergulatan Hasrat dan Rasa Sakit
Sebelum sinar matahari yang menyengat memecahkan semua ketegangan dengan Shinta, terdapat satu rahasia yang tertidur dalam kegelapan malam di kamar-kamar butik yang mahal itu. Setelah Arlan melepaskan semua kemarahan, kekecewaan, dan keputusasaannya pada wanita asing yang disewanya, keheningan dingin kembali menyelimuti ruangan. Alkohol yang mengalir di dalam tubuhnya akhirnya menguasai kesadaran Arlan sepenuhnya. Ia pun tertidur nyenyak, terjebak dalam ketidaksadaran yang pekat, berbaring telanjang di bawah selimut putih, seperti bayi yang lemah setelah diterpa badai.
Di tengah malam yang tenang, terdengar suara klik lembut dari arah pintu kamar. Pintu dibuka dengan sangat hati-hati, hampir tanpa suara. Seorang wanita melangkah Pak uk dengan langkah yang sangat ringan ke dalam kegelapan ruangan yang hanya diterangi cahaya kuning hangat di sudut.
Itulah Ghea.
Selama ini, Ghea tidak benar-benar menghilang tanpa jejak. Rasa cePak dan ikatan batin yang tersisa memicunya untuk mengawasi setiap gerakan Arlan setelah pesan-pesan mendesak yang dikirimkan oleh pria itu. Dengan inforPak i yang berhasil ia gali malam itu, Ghea melangkah Pak uk, disambut oleh pemandangan yang seketika membuat jantungnya berdebar kencang.
Ghea terhenti di samping tempat tidur. Matanya menatap Arlan yang tergeletak tak sadarkan diri di bawah selimut. Di samping Arlan, wanita asing yang menemaninya semalam juga tertidur dengan pernapasan yang teratur.
Kombinasi aroma alkohol dan parfum milik wanita lain langsung menusuk indra penciuman Ghea. Pemandangan itu menyampaikan semua yang perlu diketahui tanpa kata-kata yang diucapkan. Arlan, sosok yang selama ini ia kenal sebagai pria yang kuat, berwibawa, dan selalu memiliki kendali, kini terkulai tak berdaya di tengah kekacauan dunia malam yang tidak bersih.
Ghea melangkah mendekat, sangat perlahan agar gaunnya tidak menimbulkan suara. Ia memandangi wajah Arlan yang sedang tertidur. Bahkan saat tidak sadar, kerutan di dahi pria itu menampakkan betapa besar beban yang dipikulnya. Ada rasa sakit, kemarahan, dan tekanan yang terlihat jelas di wajah tampan yang kini tampak acak-acakan itu.
Tangan Ghea perlahan-lahan terangkat, melayang di atas kening Arlan. Ia merasakan dorongan yang kuat dalam hatinya untuk mengusap dahi pria itu, membangunkannya, atau sekadar berbisik bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, jemarinya tetap terhenti di udara.
Dengan perlahan, Ghea menarik kembali tangan itu. Air mata mulai menggenang di matanya saat berpaling melihat pakaian Arlan yang berserakan di karpet tebal, bercampur dengan pakaian dalam wanita asing yang ada di sampingnya.
Rasa kecewa yang mendalam menyelimuti dada Ghea. Ia menyadari betapa hancurnya Arlan setelah kehilangan Mika dan tekanan dari Shinta. Akan tetapi, melihat cara Arlan melarikan diri dari Pak alah—dengan tenggelam dalam alkohol dan kehangatan sementara dari wanita lain—membuat hatinya seolah terobek. Pria yang ia cintai memilih jalur ini ketika pertahanannya mulai runtuh.
"Kenapa harus begini, pak ..." bisik Ghea dengan suara sangat lembut, hampir menyerupai sebuah helaan napas di tengah keheningan ruangan.
Di malam yang sunyi dan pekat, bisikan lembut Ghea yang mengambang di udara dingin ruangan seolah menembus kabut tebal yang menyelimuti kesadaran Arlan.
Walaupun tubuhnya tidak dapat bergerak karena pengaruh alkohol yang kuat, naluri terdalam Arlan merespons ketika ia mendengar suara lembut yang sangat ia kenali dan inginkan. Kelopak matanya yang terasa sangat berat pelan-pelan terbuka. Pandangannya kabur, berputar di bawah cahaya kuning keePak an, tetapi bentuk seorang wanita yang berdiri di samping tempat tidurnya terlihat sangat nyata.
"Ghea...?" Arlan menggumam, suaranya serak, hampir tertutup oleh napasnya sendiri yang berat.
Ghea terkejut mendapati mata Arlan perlahan terbuka. Ia berniat untuk mundur dan segera meninggalkan ruangan tersebut, tetapi dalam keadaan setengah sadar, Arlan bergerak lebih cepat.
Didorong oleh rasa putus asa, kerinduan yang mendalam, dan ilusi malam yang mengaburkan pemikiran rasional, Arlan tiba-tiba berdiri. Dengan langkah yang goyah namun penuh semangat, ia meraih pergelangan tangan Ghea dan menariknya dengan kuat.
Ghea yang tidak siap kehilangan keseimbangan, terjatuh ke atas ranjang, tepat dalam pelukan Arlan. Sebelum ia bisa bersuara atau memahami situasinya, Arlan sudah mengikat tubuhnya.
"Pak , lepas—" Ghea terputus.
Arlan tidak mendengar. Dalam pikiran bawah sadarnya yang dipengaruhi alkohol, ia hanya menyadari bahwa wanita yang dicintainya kini ada di hadapannya. Ia mendekatkan tubuhnya yang hangat, menatap wajah Ghea dengan tatapan penuh duka sebelum akhirnya mencium bibirnya.
Ciuman itu dimulai dengan putus asa yang mendalam—sebuah luapan emosi dari seorang pria yang merasa segalanya runtuh. Aroma alkohol yang menyengat tercampur dengan napas panas Arlan yang cepat saat ia menciumnya, berusaha menyampaikan semua rasa sakit, kemarahan, dan kesepian yang membakar jiwanya.
Ghea mencoba melawan, tangannya mendorong dada bidang Arlan yang hangat di kulitnya. Namun, pelukan Arlan di pinggangnya terlalu kuat, seolah-olah ia tidak akan membiarkan sosok yang menjadi sandarannya pergi lagi.
Perlahan, penolakan Ghea mulai melemah di bawah ciuman Arlan yang mendesak. Sentuhan hangat tangan Arlan di punggungnya menciptakan campuran emosi—ada kekecewaan yang mendalam pada apa yang dilihatnya malam ini, tetapi juga kerinduan yang tak tertahankan pada pria yang memeluknya dengan lembut.
Arlan mengalihkan kecupannya dari bibir Ghea, menyusuri rahangnya hingga ke lehernya dengan napas yang semakin tidak tetap. Setiap sentuhan terasa intim dan menyakitkan, dipenuhi emosi dari dua hati yang terluka.
"Jangan pergi lagi... tolong jangan pergi," bisik Arlan dengan suara serak di antara cumbuannya, matanya setengah terpejam saat ia menyembunyikan wajahnya di leher Ghea, mencari perlindungan di tengah keguncangan hidupnya.
Di bawah cahaya lampu kamar yang hangat, penolakan Ghea akhirnya runtuh sepenuhnya. Aroma alkohol dari napas Arlan, bersatu dengan kehangatan Pak kulin dari kulitnya, seolah menghapus semua keraguan yang melindungi hatinya. Di dalam ruang tenang itu, hanya terdengar suara napas mereka yang semakin cepat dan gesekan halus seprai katun yang membungkus keintiman mereka.
Ghea membiarkan jemarinya menjelajah rambut Arlan yang samar, menarik kepalanya agar lebih dekat. Ia menyambut setiap ciuman yang turun dengan penerimaan yang penuh gairah. Ciuman Arlan yang penuh desakan dan keputusasaan perlahan-lahan berubah menjadi ciuman yang dalam, basah, dan penuh kerinduan.
"Pak Arlan..." Ghea berbisik pelan, suaranya segera ditelan oleh bibir Arlan yang kembali menutup miliknya.
Kedua tangan Arlan yang kuat semakin erat melingkari badan Ghea, mengangkat perempuan itu agar semakin dekat dengan dadanya yang telanjang. Sentuhan kulit mereka saling bertemu, memberi rasa hangat yang menyebar cepat ke seluruh sistem peredaran darah mereka. Arlan mencium Ghea seakan wanita itu adalah satu-satunya tempat aman di tengah badai yang merusak hidupnya, sementara Ghea menikmati setiap sentuhan penuh kepemilikan yang menguasai tubuhnya.
Tangan Arlan bergerak turun dan menyentuh lekuk pinggang Ghea dengan lembut yang mendesak. Setiap gerakan jari-jarinya yang hangat di atas kulit Ghea membuat tubuhnya melengkung sedikit, mengeluarkan desahan yang terpendam yang semakin membakar semangat Arlan yang sedang terbawa suasana. Arlan mengalihkan ciumannya ke rahang, lalu perlahan turun menelusuri kulit sensitif di leher Ghea, meninggalkan jejak hangat yang membuat Ghea merinding.
Dalam pelukan Arlan yang penuh kepemilikan dan gairah, Ghea menutup matanya dengan sangat rapat. Ia membiarkan dirinya terbenam dalam gelombang perasaan malam itu - melupakan sejenak kekacauan dunia luar, melupakan rasa sakit, dan hanya terfokus pada kehangatan intim yang membara di antara mereka berdua di atas tempat tidur yang dingin.