Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: PERSIAPAN PERANG DAN KITAB LELUHUR
Matahari pagi mulai meninggi, menyinari halaman rumah Mbah Joyo yang tampak kusam dan sunyi. Suasana di dalam rumah jauh dari kata tenang. Meskipun tidak ada musuh yang terlihat, ketegangan terasa begitu padat hingga sulit bernapas.
Mbah Joyo duduk di bangku panjang dengan wajah pucat dan mata sembab. Tangannya gemetar hebat memegang gelas teh hangat yang diberikan Raga, tapi hampir tumpah karena getaran itu.
"Gila... sungguh gila..." gumam Mbah Joyo berulang kali. "Kita baru saja berbicara langsung dengan Kanjeng Raden... Bayangin, Rag... itu makhluk level penguasa... yang bahkan para leluhur kita dulu saja takut setengah mati sama dia..."
Raga duduk di samping kakeknya, mencoba terlihat tenang meski jantungnya juga masih berdegup kencang mengingat tatapan mata merah menyala itu tadi malam.
"Tapi kita selamat kan, Kek? Berarti doa kita didengar," jawab Raga pelan.
"Selamat sementara, Nak! Besok malam adalah kiamat kecil buat kita! Kalau salah sedikit saja... desa ini rata dengan tanah!"
Di ruang tengah, Eyang Sastro tampak paling sibuk dan fokus. Ia tidak duduk diam. Ia berkeliling memeriksa setiap sudut rumah, menaburkan air doa, dan mengeluarkan benda-benda tua dari tas kulitnya yang terbuat dari kulit kerbau.
"Jangan banyak bicara, Joyo. Banyak berdoa dan bekerja," kata Eyang Sastro tegas. "Waktu kita sangat sempit. Hanya tersisa satu hari satu malam untuk mempersiapkan segalanya. Kalau lengah sedikit, kita tidak akan punya kesempatan kedua."
Raga berdiri mendekati Eyang Sastro. "Eyang... apa yang harus kita siapkan sebenarnya? Lawan kita kan bukan makhluk biasa. Dia raja. Apa keris ini dan manik-manik ini cukup buat lawan dia?" tanya Raga sambil menepuk gagang keris di pinggangnya.
Eyang Sastro menghentikan kegiatannya. Ia menatap Raga dalam-dalam.
"Keris itu adalah benda kesaktian tingkat tinggi, Raga. Manik kristal itu juga benda langit. Tapi ingat... Kanjeng Raden itu adalah Jenderal Perang. Dia terbiasa menelan benda-benda sakti dan memakan nyali para pendekar. Kekuatan fisik dan benda pusaka saja tidak akan cukup buat menaklukkannya."
"Terus apa yang punya peluang buat menang, Eyang?"
"Kita butuh tiga hal utama," Eyang Sastro mengangkat jarinya satu per satu. "Pertama, Benda Sakti Pengimbang. Kita butuh sesuatu yang levelnya setara atau setidaknya bisa menahan kekuatan dia. Kedua, Mantra atau Doa Penolak Bala yang sangat kuat. Dan ketiga... yang paling penting... Restu Leluhur."
"Restu Leluhur?"
"Ya. Karena Kanjeng Raden sangat menghormati hierarki dan adat. Jika kita bisa membawa saksi atau bukti bahwa apa yang kita lakukan ini memang keinginan para pendiri desa dan leluhur keluarga kalian... dia akan agak kesulitan untuk seenaknya menghukum kita."
Mbah Joyo teringat sesuatu. "Oh iya! Eyang! Di rumah ini ada sebuah peti besi tua yang terkunci rapat di bawah tanah. Itu warisan dari Eyang Noto, leluhur kita yang pertama membuat perjanjian dulu. Katanya di dalamnya ada surat wasiat dan benda-benda pusaka peninggalan beliau. Tapi Kakek tidak pernah berani membukanya karena katanya ada pengawal jin yang sangat ketat menjaganya."
Mata Eyang Sastro berbinar. "Itu yang kita cari! Bawa aku ke sana sekarang juga!"
Mereka bertiga berjalan ke bagian paling belakang rumah, di bawah sebuah gubug kecil yang sudah tua. Mbah Joyo memindahkan tumpukan kayu bakar, lalu membuka penutup lantai tanah yang ternyata adalah pintu rahasia.
Di bawahnya terdapat lubang masuk ke ruang bawah tanah yang sempit dan gelap. Bau tanah dan bau amis tercium keluar dari sana.
"Di situlah peti itu disimpan," bisik Mbah Joyo.
Eyang Sastro tidak ragu. Ia turun lebih dulu, diikuti Raga dan Mbah Joyo.
Ruangan bawah tanah itu kecil, lembap, dan remang-remang hanya diterangi cahaya senter. Di tengah ruangan, tepat di atas alas batu andesit, terdapat sebuah peti besar terbuat dari besi tebal yang sudah berkarat merah. Bentuknya kuno, dengan ukiran motif naga dan awan yang masih jelas terlihat.
Di sekeliling peti itu, terikat rantai besi tebal yang dikunci dengan gembok raksasa yang juga sudah berkarat.
"Ini dia..." kata Eyang Sastro menyentuh permukaan peti itu. "Aura yang keluar dari sini sangat kuat. Campuran aura manusia dan aura gaib yang sudah berumur ratusan tahun."
"Bagaimana cara membukanya, Eyang? Kuncinya hilang sudah puluhan tahun lalu," tanya Mbah Joyo.
"Tidak perlu kunci besi, Kek. Kuncinya adalah niat dan doa," jawab Eyang Sastro. Ia berdiri tegak di depan peti, lalu menyalakan beberapa batang dupa dan meletakkannya di depan peti.
"Eyang Noto... para leluhur sekalian... hamba datang bukan untuk mengambil harta... tapi untuk menyelamatkan keturunanmu... dan menyelamatkan nama baik keluarga ini... izinkan hamba membuka pintu ini..."
Eyang Sastro mengangkat tangannya, lalu menepuk permukaan peti itu tiga kali dengan irama tertentu.
DUG... DUG... DUG...
Tiba-tiba...
KRAKK... TRANG...
Rantai besi yang mengikat peti itu bergetar sendiri, lalu gembok raksasa itu terbuka sendiri dengan sendirinya! Suaranya keras dan berkarat, membuat bulu kuduk merinding.
Pintu peti pun terbuka perlahan tanpa disentuh!
"Wah... hebat..." Raga dan Mbah Joyo ternganga.
Di dalam peti itu, tidak ada emas atau perak. Yang ada hanya beberapa benda bersejarah yang dibungkus kain bludru hitam.
Eyang Sastro mengambil satu per satu dengan hati-hati.
- Sebuah Keris Berluk 9: Bilahnya hitam legam dengan pamor kober yang sangat indah.
- Sebuah Gelang Tangan: Terbuat dari akar bahar hitam yang sangat keras.
- Dan sebuah Buku Tulis: Bukan buku biasa, tapi kitab yang halamannya terbuat dari daun lontar yang dijahit rapi, dan tulisannya menggunakan tinta hitam yang masih sangat jelas.
"Itu... Kitab Warisan!" seru Mbah Joyo. "Kitab catatan perjanjian zaman dulu!"
Eyang Sastro segera membuka kitab itu. Matanya membaca cepat tulisan-tulisan aksara Jawa kuno di sana. Wajahnya semakin serius dan terkadang terlihat kaget.
"Begini rupanya ceritanya aslinya..." gumam Eyang Sastro. "Ternyata... Eyang Noto dulu tidak hanya berjanji memberikan satu orang keturunannya menjadi jodoh Nyi Blorong..."
"Lalu apa lagi, Eyang?" tanya Raga penasaran.
"Dia juga membuat perjanjian pertahanan. Eyang Noto memberikan sebagian 'nyawa desa' untuk dititipkan pada Kanjeng Raden agar gunung ini tidak meletus dan desa aman dari perang. Sebagai gantinya, Kanjeng Raden bersumpah akan menjadi pelindung desa ini selamanya."
Eyang Sastro menunjuk sebuah paragraf di halaman paling belakang.
"Dan lihat ini... Ada klausul penting! 'Jika di kemudian hari ada keturunan yang merasa keberatan dengan ikatan batin... maka boleh meminta pemutusan ikatan... dengan syarat menggantinya dengan persembahan lain yang setara... dan harus disaksikan oleh kedua belah pihak secara adil.'"
Mbah Joyo melongo. "Berarti... kita punya dasar hukum yang kuat dong, Eyang?! Tertulis jelas di kitab leluhur!"
"Benar! Ini adalah kartu truf kita!" Eyang Sastro tersenyum lebar. "Jadi kita tidak melawan tanpa alasan. Kita punya bukti otentik bahwa memutus ikatan itu diperbolehkan selama ada ganti rugi atau kesepakatan baru."
"Terus apa ganti ruginya, Eyang? Kita kan orang biasa, tidak punya benda berharga buat kasih ke raja gaib," tanya Raga.
Eyang Sastro menatap keris berluk 9 dan gelang akar bahar di atas meja.
"Benda-benda ini sudah cukup berharga bagi mereka. Tapi yang paling penting adalah Pengakuan dan Hormat. Kanjeng Raden itu tipe orang yang gengsinya tinggi. Kalau kita bisa menunjukkan bahwa kita menghormatinya sebagai pelindung, bukan memusuhinya sebagai musuh... hatinya bisa luluh sedikit."
Eyang Sastro lalu menatap Raga serius.
"Raga... besok malam tugasmu sangat berat. Di tengah duel atau ujian kesaktian nanti, kau tidak boleh membenci dia. Kau harus tetap bersikap hormat layaknya menghadap orang tua atau raja yang berkuasa. Amarah akan membuat kita kalah, tapi kerendahan hati... bisa menjadi perisai yang paling kuat."
"Siap, Eyang. Aku ingat," jawab Raga mantap.
Malam itu, mereka tidak tidur. Mereka sibuk membersihkan benda-benda pusaka, membalutnya dengan kain baru, dan berlatih membaca mantra-mantra sakti dari kitab lontar itu.
Eyang Sastro juga membuatkan sebuah Bendera Putih khusus yang ditulis mantra di atasnya. Bendera itu bukan untuk menyerah, tapi sebagai tanda pembuka dialog damai di tengah medan perang.
"Besok malam... kita naik ke puncak gunung," kata Eyang Sastro sambil menatap langit malam yang mulai mendung. "Tempat itu adalah netral territory. Tidak sepenuhnya wilayah dia, tidak juga sepenuhnya wilayah kita. Di sana... kekuatan akan ditentukan oleh seberapa kuat keyakinan dan seberapa benar tujuan kita."
Raga memegang manik kristal di jarinya (yang ajaibnya bisa muncul kembali entah bagaimana caranya), lalu memegang gagang keris barunya. Perasaannya campur aduk antara takut dan semangat membara.
"Aku tidak akan mengecewakan kalian, Eyang... Kek..." bisiknya.
Pertarungan pamungkas antara manusia biasa melawan Raja Alam Baka... tinggal menghitung jam.