NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Siang itu, udara di dalam toko terasa sedikit lebih gerah dari biasanya, meski pendingin ruangan sudah disetel maksimal. Jarum jam seolah merangkak lambat, sementara kepalaku dipenuhi oleh bayangan pesan dari Mas Dika yang belum sempat kubalas. Aku masih sibuk merapikan tumpukan struk dan menghitung uang di laci kasir saat pintu otomatis toko terbuka, denting bel menyambut kedatangan rekan kerja shift kedua.

"Selamat siang, Kak Aira Natasya," sapa Mbak Selfi, asisten kepala toko yang hari ini masuk shift siang. Ia datang dengan senyum cerah dan aroma parfum yang kuat, kontras dengan wajahku yang mungkin terlihat pucat dan lelah.

"Siang, Mbak. Bentar ya, aku selesaikan serah terima dulu baru log out," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran uang di tanganku. Fokusku harus penuh, aku tidak ingin ada selisih serupiah pun yang hanya akan menambah beban pikiranku.

"Iya, santai saja, Ra. Masih ada lima menit lagi kok," ucap Mbak Selfi santai. Ia meletakkan tasnya di bawah meja kasir dan mulai mengeluarkan cermin kecil untuk memoles ulang riasannya.

"Reni belum datang, Mbak?" tanyaku, melirik sekilas ke arah pintu. Biasanya Reni adalah orang yang paling berisik saat datang.

"Makanya, jangan terlalu fokus kerja terus! Dari tadi aku sudah di sini, bahkan sudah selesai lap kaca depan. Tumben banget kan aku rajin?" cerocos Reni yang tiba-tiba muncul dari balik pintu masuk dengan lap di tangan. Wajahnya tampak sumringah.

"Iya, tumben banget kamu, Ren. Biasanya jam segini masih sibuk dandan di parkiran," sahut Mbak Selfi sambil tertawa kecil.

"Punya gebetan baru ya, Ren? Makanya semangat banget kerjanya," celetuk Fais yang baru saja datang dan langsung berlalu ke gudang untuk mengganti seragam.

"Apaan sih! Gebetan baru, gebetan baru... nggak ada ya!" seru Reni lagi sembari mulai mengelap meja kasir di sampingku.

Aku hanya tersenyum tipis mendengar hiruk-pikuk mereka. "Kalau beneran punya juga nggak apa-apa kali, Ren. Biar ada yang kasih semangat," godaku pelan, berusaha ikut mencairkan suasana agar mereka tidak mencurigai kecemasanku.

"Ngomong-ngomong, sama siapa lagi, Ren? Suami orang atau brondong?" sahut Alina yang baru saja datang membawa bungkusan makanan, ikut bergabung dalam obrolan hangat itu.

Reni menghentikan kegiatannya sebentar, lalu menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mau mendekati orang baru itu gimana ya... rasanya susah. Ujung-ujungnya pemenangnya tetap orang lama, kan, Kak Aira?" tanya Reni tiba-tiba, membuat jantungku berdegup kencang. Pertanyaannya terasa seperti sindiran yang tepat sasaran, meski aku tahu dia hanya sedang bercanda.

"Kalau tetap orang lama pemenangnya, terus orang baru yang sudah berkorban dan effort-nya luar biasa itu nggak ada gunanya dong, Ren?" Suara bariton Ali terdengar dari balik tumpukan barang di rak tengah. Ia sedang sibuk menata stok minuman, tapi rupanya telinganya tetap menyimak obrolan kami.

"Wah, kalau soal itu jangan tanya aku. Tanya sama ahlinya saja, sama Kak Aira! Hihihi," jawab Reni cengengesan sembari menyenggol bahuku dengan sikunya.

Aku merasa wajahku memanas. "Sudah, ah. Malah jadi bahas aku," ucapku berusaha memotong pembicaraan. Beruntung, Mbak Selfi segera menengahi. "Sudah, Ra, ke belakang saja siap-siap pulang. Biar Reni yang lanjut handel kasirnya."

Aku mengangguk lega. Segera kubereskan barang-barangku di bawah meja kasir dan membawanya ke gudang yang merangkap ruang istirahat. Di sana, Alina sedang membuka bungkusan makanannya.

"Nggak makan dulu, Ra?" tanya Alina ramah.

"Aku bawa pulang saja, Lin. Mau cepat-cepat istirahat di kos," jawabku pelan. Sebenarnya, tujuanku bukan istirahat, tapi menemui Mas Dika.

Aku mengambil sapu untuk membersihkan area gudang sebentar sebelum pulang. Namun, Alina segera merebutnya. "Sudah, sini aku saja yang bersihkan. Kamu rapihkan saja minuman kaleng yang di atas itu, biar cepat selesai."

"Duh, baik sekali sih. Nanti lanjut kamu yang mengepel ya?" ucapku dengan nada melas yang dibuat-buat, berusaha menyembunyikan rasa lemas di kakiku. Kehamilan enam bulan ini mulai membuat pinggangku sering terasa nyeri jika terlalu banyak berdiri.

"Haduh, kalau begini sih aku nggak bisa nolak!" keluh Alina, meski tangannya tetap lincah menyapu lantai.

Setelah semua pekerjaan beres, aku berpamitan kepada rekan-rekan kerjaku. Saat aku hendak menuju parkiran, Ali sudah berdiri di dekat motorku.

"Ra, jalan-jalan bentar yuk? Sama Alina juga, di dekat sini saja kok," ajak Ali. Matanya menatapku penuh harap, sebuah tatapan yang selalu kucoba abaikan selama ini.

"Nggak bisa, Al. Aku sudah ada janji," tolakku sehalus mungkin. Aku tidak bisa memberitahunya bahwa "janji" itu adalah bertemu dengan ayah dari bayi yang kukandung.

Wajah Ali seketika berubah lesu. "Oh... ya sudah. Hati-hati di jalan ya," ucapnya pelan. Sebelum aku sempat naik ke motor, ia mengambil helmku dan memakaikannya ke kepalaku, mengancingkan talinya dengan sangat hati-hati.

Aku terdiam, mematung menatap wajahnya dari jarak sedekat itu. Ada ketulusan yang luar biasa di matanya, sesuatu yang seringkali membuatku bingung. Sikap Ali selalu seperti ini kadang manis luar biasa, kadang dingin seperti beruang kutub. Tapi bagiku, kebaikannya justru menjadi beban karena aku tidak bisa membalas perasaannya. "Duluan ya, Lin, Al," pamitku sembari menghidupkan mesin motor dan segera berlalu, meninggalkan Ali yang masih menatap kepergianku.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di sebuah kafe kecil tak jauh dari toko, Ali duduk terdiam menatap jalanan yang ramai. Di depannya, Alina sedang menyesap minumannya, sesekali melirik sahabatnya itu dengan rasa iba.

"Sudah lama banget ya kita nggak ke sini bertiga," ucap Alina memecah keheningan. "Teman kamu itu sekarang memang susah diajak keluar, Al."

Ali mengusap wajahnya kasar. "Sebenarnya... kamu tahu kan aku suka sama Aira, Lin? Kurang apa sih usahaku selama ini? Tiap diajak pulang bareng atau jalan, nggak pernah dia tanggapi serius."

Alina menghela napas panjang. Ia merasa sudah saatnya Ali mengetahui kenyataan pahit itu agar tidak semakin tenggelam dalam harapan palsu. "Tapi kamu tahu kan, Al... Aira itu sebenarnya sudah punya cowok?"

Ali tersentak, matanya membelalak kaget. "Bentar... dia sudah punya cowok? Kok aku nggak tahu?"

"Setahuku sudah, Al. Kemarin pas aku mampir ke kosannya mau pinjam sepatu, aku lihat ada cowok di dalam kamarnya. Suasananya terlihat sangat akrab, bahkan sepertinya cowok itu sering ke sana," ungkap Alina jujur.

Ali terdiam seribu bahasa. Rasanya seperti ada bogem mentah yang menghantam dadanya. "Kenapa kamu nggak kasih tahu aku dari kemarin, Lin?" ucapnya dengan suara serak, jemarinya meremas rambutnya sendiri.

"Kamu kan tahu sendiri Aira orangnya tertutup banget, Al. Aku juga baru berani bilang sekarang karena nggak tega lihat kamu mengejar sesuatu yang sudah dimiliki orang lain," Alina mencoba menenangkan Ali sembari mengusap bahu sahabatnya itu. "Lupakan Aira, Al. Masih banyak cewek di luar sana. Kamu tampan, baik, jangan sampai kamu malah dicap sebagai perebut milik orang."

Ali tidak menjawab. Pikirannya melayang pada sosok Aira perempuan yang menurutnya sangat paradoks: lemah lembut namun kuat, supel namun misterius. Selama ini, Ali adalah pria yang selalu dikejar-kejar wanita, namun hanya Aira yang berhasil membuatnya benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Rasa sakit ini baru baginya, dan itu terasa sangat menyesakkan.

Malamnya, saat Ali sudah berada di kamarnya, ia hanya bisa menatap langit-langit, merenungi nasib cintanya yang kandas sebelum sempat dinyatakan secara resmi. Getaran ponsel di samping bantalnya membuyarkan lamunannya.

Ting!

Sebuah pesan dari Alina masuk.

(Aku tahu ini berat buat kamu, Al. Tapi mau gimana lagi, Aira sudah ada hati yang harus dijaga. Tapi ya nggak apa-apa juga sih, sebelum janur kuning melengkung, masih sah-sah saja kalau mau berjuang. Semangat Ali! 💪)

Ali tersenyum pahit membaca pesan itu. Di satu sisi, ia ingin menyerah karena menghargai privasi Aira. Namun di sisi lain, bayangan wajah Aira yang cantik dan terkadang jutek itu seolah memanggilnya untuk tetap bertahan. Ia tidak tahu bahwa Aira yang ia cintai saat ini sedang berjuang sendirian dengan perut yang kian membesar, menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian bersama "orang lama" yang Ali anggap sebagai saingannya.

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!