NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan untuk Wijaya dan Alexa

​Di lantai teratas gedung PT Aksara Murni, atmosfer tidak lagi sekadar mencekam; ia telah berubah menjadi neraka bagi mereka yang gagal. Sepuluh pria berjas hitam itu berdiri berjejer dengan kepala menunduk, namun sang ketua tim bernasib paling malang. Ia berlutut di tengah ruangan, sementara keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.

​"Kalian bilang... kosong?" suara Wijaya Aksara terdengar sangat pelan, namun setiap kata yang keluar seperti gesekan pisau di atas kaca.

​"Maaf, Tuan. Target seolah menghilang dalam hitungan detik. Motornya ada, tapi manusianya raib seperti ditelan bumi," lapor sang ketua dengan suara bergetar.

​Dor!

​Tanpa aba-aba, Wijaya mencabut pistol dari balik jasnya dan melepaskan tembakan. Timah panas itu bersarang tepat di tempurung lutut sang ketua tim. Jeritan kesakitan mengguncang ruangan mewah tersebut, namun Wijaya hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

​"Itu karena kau tidak memeriksa dengan benar, sampah!" Alexa Kejora berteriak, wajah cantiknya memerah karena amarah yang meledak-ledak. Ia menendang dada pria yang sedang mengerang itu hingga tersungkur. "Satu pekerjaan mudah untuk melenyapkan satu bayi buta dan satu tukang kerupuk, dan kalian gagal? Kalian tahu apa taruhannya?"

​Tepat saat amarah Alexa mencapai puncaknya, dari arah kamar bayi di sudut ruangan, sebuah suara raungan pecah. Itu bukan tangisan bayi yang lapar atau haus; itu adalah suara lengkingan yang mengandung frekuensi kebencian yang murni. Satya Aksara sedang mengamuk.

​Alexa segera berbalik, napasnya masih memburu. "Berhenti menangis, Satya! Ibu akan mengurus semuanya!"

​Ia menyambar botol susu yang sudah disiapkan—cairan putih yang keruh oleh warna merah darah segar. Alexa masuk ke kamar bayi dan menggendong Satya yang terus meronta. Namun, saat botol itu menyentuh bibir sang bayi, Satya tidak mengisapnya. Dengan kekuatan yang tidak masuk akal bagi bayi berumur dua minggu, Satya memukul botol itu hingga terlempar dan pecah berkeping-keping di lantai kristal.

​"Satya! Apa yang kau—"

​Kalimat Alexa terputus. Tangan mungil Satya yang pucat mendadak terangkat dan mendarat tepat di pipi ibunya. Sentuhan itu tidak terasa lembut seperti kulit bayi; rasanya dingin, kaku, dan mengandung tarikan magnetik yang luar biasa kuat.

​Seketika, pandangan Alexa menggelap. Dunia di sekelilingnya seolah terisap ke dalam sebuah lubang hitam.

​Alexa berkedip. Ia tidak lagi berada di griya tawang miliknya. Ia kini berdiri di tengah sebuah ruangan raksasa yang tidak memiliki ujung. Lantainya hitam legam, mengkilap seperti cermin yang memantulkan kegelapan langit. Di hadapannya, menjulang sebuah singgasana besar yang terbuat dari logam hitam dengan ukiran naga yang melilit di setiap sisinya.

​Di atas singgasana itu, duduk seorang pria dewasa. Rambutnya hitam panjang, diikat rapi dengan hiasan perak berbentuk taring. Ia mengenakan jubah hitam yang seolah-olah terbuat dari asap. Matanya... matanya terbuka lebar. Dua bola mata hitam legam tanpa bagian putih, berkilat seperti batu safir yang paling gelap.

​Alexa gemetar hebat. Seluruh sendinya terasa kaku. "Si-siapa kau? Berani sekali kau membawaku ke tempat ini! Di mana anakku?"

​Pria itu tersenyum tipis, sebuah seringai yang sangat akrab bagi Alexa. "Ibu... kau tidak mengenali anakmu sendiri?"

​Alexa tersentak mundur, tangannya menutupi mulut. "Satya? Tidak mungkin! Satya masih bayi, dia... dia buta!"

​Pria di singgasana itu terbahak-bahak. Suaranya menggema, menciptakan getaran yang membuat dada Alexa sesak. "Ibu, aku tidak pernah butuh mata untuk melihat busuknya dunia ini. Mata hanyalah penghalang bagi mereka yang jiwanya kerdil. Di dimensi ini, aku adalah raja yang sudah menunggu ribuan tahun untuk dilahirkan kembali."

​Meskipun pria itu memanggilnya 'Ibu', Alexa tidak merasakan kasih sayang sedikit pun. Ia merasa seperti seorang hamba yang sedang menghadap raja yang haus darah. Aura yang terpancar dari Satya versi dewasa ini begitu menekan, hingga Alexa terpaksa menjatuhkan lututnya ke lantai.

​"Satya... apa maumu?" bisik Alexa lirih.

​"Hentikan mainan konyolmu itu, Ibu," ujar Satya sembari menopang dagu dengan tangan kanannya. "Jangan mengganggu Jalaludin. Jangan kirim anjing-anjing pelacakmu untuk menyentuhnya lagi."

​Alexa mendongak heran. "Kenapa? Dia ancaman bagi takdirmu! Dia harus mati sekarang!"

​"Hanya aku yang boleh menyingkirkannya!" Satya berdiri, jubah hitamnya berkibar meski tidak ada angin. "Dia adalah musuh abadiku, keseimbangan. Dia adalah alasan kenapa aku ada. Jika kau membunuhnya sekarang, maka kemenanganku tidak akan memiliki rasa. Aku ingin dia tumbuh, aku ingin dia melihat dunia yang aku hancurkan, dan aku ingin tanganku sendiri yang mencabut nyawanya di puncak tertingginya nanti."

​Satya melangkah mendekati Alexa, setiap langkahnya menciptakan riak hitam di lantai. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Alexa. "Jangan lancang, Ibu. Jika aku melihat satu pun orangmu menyentuh Jalal sebelum waktunya tiba... maka singgasana ini akan dibangun di atas tengkorakmu dan Wijaya. Ingat! Mata Malaikat telah hidup kembali."

​Gasppp!

​Alexa tersentak, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja tenggelam. Ia menemukan dirinya kembali di kamar bayi, terduduk di lantai di samping pecahan botol susu. Wijaya sedang merangkul bahunya dengan wajah cemas yang jarang diperlihatkan.

​"Alexa! Kamu kenapa? Kamu pingsan berdiri selama dua menit!" teriak Wijaya sembari mengguncang bahunya.

​Alexa menoleh perlahan ke arah boks bayi. Di sana, Satya kembali tenang. Bayi itu tertidur lelap dengan posisi tangan yang terbuka, seolah-olah kejadian tadi hanyalah mimpi buruk biasa. Namun, rasa dingin di pipi Alexa masih terasa nyata.

​"Wijaya..." suara Alexa bergetar. "Satya... dia bicara padaku."

​"Bicara apa? Dia bayi, Alexa!"

​Alexa menceritakan semuanya. Tentang dimensi hitam, tentang singgasana naga, dan peringatan keras Satya untuk tidak menyentuh Jalaludin. Wijaya mendengarkan dengan dahi berkerut, antara percaya dan tidak. Namun, ia tahu bahwa garis keturunan mereka memang akrab dengan hal-hal di luar nalar.

​"Jadi... kita harus membiarkan bayi itu hidup?" tanya Wijaya dengan nada tidak puas.

​"Dia mengancam kita, Wijaya. Anak kita sendiri mengancam kita," bisik Alexa, air matanya menetes bukan karena sedih, tapi karena takut yang amat sangat. "Dia bilang, dia yang akan menyelesaikannya sendiri nanti."

​Tangis Satya mereda total, seolah-olah sebuah kesepakatan rahasia telah tercapai. Wijaya membantu Alexa berdiri dan menuntunnya keluar dari kamar bayi.

​Namun, di balik punggung Alexa, saat mereka berjalan menuju ruang kerja, raut wajah Wijaya berubah menjadi dingin dan penuh kelicikan. Sebagai seorang pebisnis asuransi yang selalu memegang prinsip 'menghilangkan risiko sekecil mungkin', Wijaya tidak bisa menerima perintah dari seorang bayi—bahkan jika itu anaknya sendiri yang sakti.

​Wijaya menunggu hingga Alexa masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dengan gerakan cepat, ia memanggil dua orang pembunuh bayaran paling setia yang tidak tergabung dalam tim yang gagal tadi. Dua orang ini adalah "pembersih" khusus yang tidak memiliki catatan di mana pun.

​"Dengarkan aku," bisik Wijaya di pojok balkon. "Pergi ke Indramayu. Cari keluarga Rismawati. Jangan gunakan senjata api. Buat itu terlihat seperti kecelakaan atau serangan perampok lokal. Lenyapkan bayi buta itu dan bawa kepalanya padaku secara sembunyi-sembunyi. Jangan sampai Alexa tahu."

​"Dimengerti, Tuan," jawab salah satu dari mereka.

​Wijaya menutup teleponnya, menatap langit malam Jakarta dengan seringai jahat. "Maafkan Ayah, Satya. Ayah hanya melakukan apa yang terbaik untuk masa depan bisnis kita. Takdir bisa diubah, dan aku lebih suka mengubahnya sekarang daripada menunggu kau besar nanti."

​Di dalam boksnya, bayi Satya tiba-tiba membuka mulutnya sedikit, seolah sedang tersenyum dalam tidurnya. Seolah ia tahu bahwa ayahnya sedang bermain api dengan takdir yang sudah ia gariskan sendiri. Pertaruhan di tiga dimensi ini semakin rumit, dengan darah yang siap tumpah di tanah Indramayu.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!