Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1.Perantauan Nekat Sang Arjuna Sidoarjo
Namaku Genta Arjuna. Kalau kalian dengar nama itu di kawasan pasar perbatasan Sidoarjo-Surabaya, pasti semua orang bakal menyingkir. Bukan karena aku ini kejam seperti pembunuh bayaran, tapi karena mereka malas meladeni polahku yang ajaib. Aku ini preman legendaris yang lebih sering memenangkan perdebatan harga parkir daripada perkelahian jalanan.
Namun, hari ini adalah hari bersejarah. Aku memutuskan untuk meninggalkan kenyamanan kasur busaku yang sudah kempes dan aroma bumbu petis khas Sidoarjo untuk menaklukkan kerasnya Jakarta. Modalku? Cuma nyali sekeras kerupuk udang yang baru digoreng dan satu tas ransel yang ritsletingnya hampir jebol.
"Genta! Kamu itu beneran mau ke Jakarta? Di sana itu macetnya bisa bikin orang ubanan dalam semalam, lho!" teriak Ibuku, Bu Siti, dari arah dapur. Suaranya melengking melebihi suara sirine ambulans.
Beliau sibuk memasukkan bungkusan sambal bajak ke dalam tas ranselku. Katanya, lidah orang Sidoarjo nggak bakal bisa bertahan hidup tanpa sambal rumah.
Ayahku, Pak Bambang, duduk di teras sambil menyeruput kopi hitamnya yang sudah dingin. Beliau cuma manggut-manggut sambil memandangi motor bututnya. "Udah, Bu. Biarin si Genta nyoba nasib. Siapa tahu di Jakarta dia nggak cuma jadi jagoan pasar, tapi bisa jadi orang mbois yang punya mobil mewah. Biar bapak nggak narik angkot terus," celetuknya dengan nada pasrah tapi penuh harapan.
Lalu ada Maya, adik perempuanku yang masih SMA tapi cerewetnya melebihi ibu-ibu komplek. Dia menatapku remeh sambil menyandarkan tubuh di pintu. "Halah, paling-paling Mas Genta di Jakarta cuma jadi tukang nyasar. Inget ya Mas, jangan sok jagoan di sana. Cewek Jakarta itu pinter-pinter, jangan mau dibohongi cuma gara-gara disenyumin dikit langsung baper," ejek Maya sambil tertawa renyah.
"Heh, Maya! Masmu ini Arjuna! Sekali kedip, Jakarta langsung sujud!" balasku sambil mengacak rambutnya sampai berantakan, yang langsung dibalas dengan cubitan maut di pinggangku.
Perpisahan itu penuh drama. Ibu menangis sesenggukan seolah aku mau pergi perang, padahal aku cuma mau naik bus ekonomi tujuan Terminal Pulo Gebang.
Begitu sampai di Jakarta, mataku langsung pusing melihat gedung-gedung yang tingginya nggak masuk akal. Panasnya Jakarta itu beda, seperti ada kompor raksasa yang menyala tepat di atas kepala. Dengan gaya paling 'preman' yang aku punya—jaket kulit hitam yang warnanya sudah mulai abu-abu, celana kargo banyak kantong, dan sepatu booth yang kalau jalan suaranya klotak-klotak—aku menuju kawasan Sudirman.
Tujuanku adalah Gedung Wijaya Tower. Aku dengar dari teman lamaku, ada seorang CEO muda yang butuh bodyguard kelas atas karena terus-menerus mendapat ancaman dari rival bisnisnya. Katanya, si CEO ini punya sifat yang dinginnya melebihi es batu di penjual es campur pasar Sidoarjo.
Begitu aku masuk ke lobby gedung yang lantainya mengkilap seperti kaca, semua mata tertuju padaku. Satpam-satpam bertubuh kekar menatapku penuh curiga. Mungkin mereka pikir aku ini penagih hutang atau orang yang salah alamat.
"Mau cari siapa, Mas? Ada perlu apa ke sini?" tanya salah satu satpam dengan wajah galak.
"Nama saya Genta Arjuna. Saya ke sini mau melamar jadi pengawal pribadi bos besar. Katanya butuh orang yang tangguh dan punya nyali?" kataku dengan suara yang kubuat seberat mungkin, biar kelihatan sangar.
Tiba-tiba, suasana lobby mendadak sunyi. Pintu lift terbuka lebar, dan seorang wanita keluar dengan langkah yang sangat anggun tapi tegas. Rambutnya hitam legam, jas biru tuanya sangat rapi, dan wajahnya cantiknya minta ampun, tapi tatapan matanya... aduh, tajam sekali seolah bisa membelah batu.
Dia adalah Clarissa. CEO muda yang namanya jadi buah bibir di seantero Jakarta. Dia berhenti tepat di depanku, melepas kacamata hitamnya, lalu memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Kamu pelamar itu?" tanya Clarissa dengan suara dingin yang bikin bulu kudukku berdiri.
"Benar, Mbak Bos. Saya Genta Arjuna, asli Sidoarjo. Saya siap lahir batin jagain Mbak dari segala macam mara bahaya, termasuk gangguan mantan atau godaan diskon belanja," jawabku dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigiku yang rapi.
Clarissa menghela napas panjang, tampak sangat tidak terkesan dengan jawabanku. Dia menatap asistennya di samping seolah-olah ingin bertanya, 'Siapa yang mengizinkan orang aneh ini masuk ke kantorku?'
"Jakarta itu keras, Genta. Bukan tempat untuk preman pasar yang cuma modal nekat," ucap Clarissa ketus sambil berbalik pergi.
"Justru itu, Mbak! Karena Jakarta keras, Mbak butuh orang yang 'sengklek' kayak saya. Biar seimbang!" teriakku sambil mengejarnya.
Clarissa terdiam sejenak, wajahnya terlihat antara mau marah atau mau tertawa, tapi dia tetap melanjutkan langkahnya dengan angkuh. Dia tidak tahu, bahwa kehadiranku di Jakarta akan mengubah hidupnya yang kaku dan dingin itu menjadi penuh warna, tawa, dan tentu saja... kekacauan yang hakiki.