NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Suara dering ponsel memecah kesunyian ruang kerja Aiden. Pria itu sedang duduk di belakang meja besar dari kayu ebony, dikelilingi rak buku dan jendela tinggi yang menghadap langit senja. Di tangannya, ia memegang laporan keuangan salah satu cabang Maverick Corporation, matanya fokus...

sampai melihat nama Rina tertera di layar.

Alisnya berkerut. Ia mengenal Rina sejak lama.

Wanita itu pernah menjadi kepala pelayan keluarga Maverick-tegas, rapi, dan dipercaya. Hingga dua tahun lalu, ia dicopot dari jabatannya karena serangkaian tuduhan yang membuat Aiden muak mendengarnya: "lalai", "kurang sopan pada nyonya rumah", "gagal mengatur staf". Semua tuduhan itu datang dari Anne.

Aiden mengangkat telepon. "Rina?"

Suara wanita di ujung sana terdengar tegas, sedikit terengah. "Tuan Aiden, saya minta maaf mengganggu. Ada hal mendesak. Anne dan dua pelayan-Mira dan Siska-sudah kami serahkan ke kepolisian siang ini."

Aiden duduk tegak. "Apa yang terjadi?"

Rina menghela napas. "Selama ini... Tuan kecil Liam sering mendapat perlakuan buruk dari mereka. Makanan tidak layak, dibentak, bahkan dikurung di kamar. Saya... saya punya buktinya. Semua terekam di CCTV mansion. Dan hari ini, Nyonya Thalia memergoki mereka membentak Liam lagi. Beliau langsung bertindak."

Dada Aiden mengeras. "Berikan detailnya."

Rina tak berlama-lama. Ia menceritakan kronologinya, bagaimana Thalia menampar Anne dan dua anteknya di ruang makan, memerintahkan pemeriksaan CCTV, lalu melaporkannya ke polisi. "Saya sudah mengirimkan semua rekaman ke ponsel Anda, Tuan."

Aiden menarik napas panjang, mencoba menahan emosi. "Seberapa parah?"

Rina terdiam sejenak sebelum menjawab, "Saya sarankan Tuan melihat sendiri. Tapi... Tuan kecil jelas ketakutan di beberapa rekaman."

Aiden menekan jemari ke pelipisnya. "Baik. Terima kasih, Rina. Tetap awasi rumah sampai saya kembali."

"Siap, Tuan."

Telepon terputus. Beberapa detik, Aiden hanya duduk menatap layar ponselnya. Lalu, ia membuka folder pesan masuk. Video pertama menampilkan Liam di ruang makan. Bocah itu duduk diam, menunduk, di hadapan semangkuk bubur pucat. Anne berdiri di samping, membentak dengan nada tinggi. Mira dan Siska berdiri di belakangnya, tertawa kecil sambil saling berbisik.

Rahang Aiden mengeras. Ia memutar video kedua, kali ini di koridor dekat kamar Liam. Mira menutup pintu dengan cepat, memutar kunci, lalu berjalan pergi sambil terkekeh. Dari balik pintu, suara Liam terdengar memanggil pelan, "Tolong... Ta-kut" Suara itu kecil, patah-patah, namun cukup untuk membuat darah Aiden mendidih.

Tanpa sadar, jemari Aiden mengepal di atas meja. Napasnya mulai berat. Ia menutup video itu dan menekan tombol panggilan cepat untuk pengacaranya.

Suara pria paruh baya yang tenang terdengar di ujung sana. "Tuan Aiden?"

"Victor," suara Aiden datar tapi mengandung bara. "Tiga orang pelayan dari rumahku sedang ditahan di kepolisian. Mereka melakukan kekerasan terhadap anakku. Aku ingin mereka mendekam di penjara lebih lama dari yang seharusnya. Aku tidak peduli berapa biaya yang dibutuhkan. Gunakan semua saluran hukum yang ada."

Victor tidak terdengar kaget, ia sudah lama menjadi pengacara keluarga Maverick dan tahu betapa seriusnya nada Aiden saat seperti ini. "Saya mengerti. Saya akan segera mengatur tim untuk menangani kasus ini. Bukti?"

"Sudah ada. Rina akan mengirimkannya langsung pada Anda. Pastikan pasal yang dikenakan cukup berat. Jangan ada ruang negosiasi."

"Baik, Tuan. Saya akan memberi kabar malam ini. "

Aiden menutup telepon dengan sentakan singkat.

Ia kembali menatap ponselnya, membuka video berikutnya yang dikirim Rina. Kali ini, sudut kamera dari ruang makan menunjukkan sesuatu yang tak ia duga.

Thalia.

Istrinya yang selama ini ia anggap tidak berguna. Perempuan yang biasanya menunduk setiap kali berpapasan dengannya, berbicara dengan suara sekecil mungkin, dan selalu tampak ragu mengambil keputusan. Thalia yang sering terlihat kikuk, bahkan membuatnya jijik karena terlalu lemah.

Di video itu, Thalia berdiri tegak di samping Liam. Wajahnya serius. Dalam hitungan detik, tangannya melayang-PLAK!-menampar Anne. Lalu, tanpa memberi kesempatan bicara, PLAK!lagi, lebih keras. Mira maju, langsung kena tamparan.

Siska mencoba melawan, tapi tangannya diputar dan ia mendapat dua tamparan cepat.

Aiden mengulang bagian itu. Gerakan Thalia cepat, rapi, seperti orang yang pernah berlatih. Tidak ada keraguan dalam tatapannya. Ia lalu memberi perintah tegas pada Rina untuk memanggil keamanan, memeriksa CCTV, dan membawa tiga pelayan itu ke polisi.

Aiden bersandar di kursinya. Alisnya berkerut dalam. Kenapa dia... seperti ini?

Biasanya Thalia tidak berani menatap matanya lebih dari tiga detik. Di ruang makan, ia selalu duduk paling ujung, diam, memelototi piringnya seperti takut mengganggu udara. Bahkan suaranya jarang terdengar, kecuali jika ia menjawab "iya" atau "tidak".

Namun di video ini... perempuan itu berdiri di tengah ruang makan, di hadapan para pelayan, melindungi Liam tanpa ragu. Gerakannya mantap. Nada suaranya jelas. Tidak ada bayangan ketakutan.

Aiden memutar video itu sekali lagi. Wajahnya tetap datar, tapi matanya penuh perhitungan. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Thalia?" gumamnya pelan.

Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya-perubahan ini terlalu mendadak. Ia bahkan ingat, dua minggu lalu, Thalia hampir menjatuhkan gelas saat ia menegurnya karena salah menyajikan teh.

Dan sekarang? Menampar tiga orang sekaligus dan memerintahkan mereka ke polisi?

Aiden menghela napas panjang, menyandarkan tubuh ke kursi. Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba mengurai rasa kesal yang bercampur aneh.

Ia kesal karena Thalia biasanya lemah, tapi juga kesal karena ia tidak mengerti perubahan ini.

Seolah ia tidak sedang berhadapan dengan perempuan yang sama.

Satu hal yang pasti-meski ia tidak terlalu peduli pada istrinya, Aiden tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Liam. Dan kenyataan bahwa anaknya selama ini dibully di rumah sendiri... membuatnya marah pada dirinya sendiri.

Bagaimana aku bisa tidak tahu?

Ponselnya berbunyi, pesan masuk dari Victor.

Victor: Saya sudah menerima rekaman dari Rina. Bukti kuat. Pasal kekerasan terhadap anak, penganiayaan, dan penelantaran. Dengan jalur hukum yang kita punya, kemungkinan mereka bisa ditahan minimal lima tahun penjara.

Aiden membalas singkat.

Bagus. Lanjutkan.

Ia meletakkan ponsel di meja, berdiri, dan berjalan ke jendela besar ruang kerjanya. Di luar, langit sudah mulai gelap. Lampu-lampu kota menyala seperti lautan bintang di bawah sana.

Bayangan Thalia menampar Anne kembali melintas di pikirannya. Menjijikkan, pikirnya refleks-karena selama ini ia tidak tahan melihat Thalia mencoba berlagak kuat. Tapi anehnya, kali ini... ia tidak bisa mengabaikan rasa ingin tahu yang muncul. Ada yang berbeda.

Mungkin, saat ia pulang nanti, ia akan mencari tahu. Bukan karena ia peduli, tetapi karena ia tidak suka kejutan di rumahnya sendiri.

Aiden meraih ponsel lagi, membuka folder video, dan memutarnya dari awal. Suara Liam yang memanggil "Mama" dari balik pintu terkunci terdengar jelas. Dada Aiden kembali mengeras.

"Anne," gumamnya pelan, nadanya sedingin es, "kau akan menyesal lahir di dunia ini."

Dan dengan itu, ia menutup ponsel, mengambil jasnya, dan berjalan keluar. Ada rapat penting yang menunggunya-tetapi pikirannya, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, bukan hanya pada bisnis... melainkan pada rumahnya.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!