"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Setelah deru motor Mas Dika menghilang di ujung jalan, rumah ini kembali ke sifat aslinya: sunyi dan dingin. Aku tidak berani berlama-lama di ruang tengah, takut berpapasan lagi dengan Ibu Mertua yang mungkin masih menyimpan amarah di balik pintu kamarnya. Dengan langkah cepat namun hati-hati, aku masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Aku duduk di tepi ranjang, menatap ponsel yang selama beberapa hari ini lebih sering kumatikan. Dengan tangan gemetar, kunyalakan benda itu. Ratusan notifikasi masuk, namun mataku terpaku pada satu tujuan.
Kubuka aplikasi email. Jariku bergerak lambat mengetikkan surat pengunduran diri untuk toko. Setiap kata yang kutik terasa seperti aku sedang memutus satu-satunya napas yang tersisa dari masa laluku. Pekerjaan itu adalah kebanggaanku, tempat di mana aku merasa berdaya. Namun sekarang, dengan kondisi perut yang kian besar dan situasi rumah mertua yang mencekam, aku tahu aku tidak bisa kembali ke sana sebagai "Aira yang dulu".
Klik. Terkirim.
Lalu, aku beralih ke WhatsApp. Grup toko yang biasanya ramai dengan candaan Ali, Alina, dan Reni kini terpampang di layar. Dadaku terasa sesak.
[Halo teman-teman semua, sebelumnya Aira minta maaf karena tiba-tiba menghilang. Melalui pesan ini, Aira mau pamit karena sudah tidak bisa lanjut bekerja di toko lagi. Terima kasih atas semua kebaikan kalian selama ini. Maafkan salah-salah Aira ya. Sukses terus buat kalian semua.]
Aku tidak menunggu balasan. Aku tahu jika aku menunggu, aku tidak akan sanggup pergi. Dengan satu gerakan cepat, aku menekan tombol 'Keluar dari Grup'.
Zeb. Layar kembali ke daftar obrolan. Aku menghilang dari kehidupan mereka. Aku menghilang dari satu-satunya tempat di mana aku tidak dianggap sebagai "racun" atau "aib". Di kamar yang luas namun terasa sempit ini, aku meletakkan ponselku kembali. Kini, aku benar-benar sendirian, terputus dari dunia luar, dan sepenuhnya menjadi tawanan di rumah yang megah ini.
Ponsel di atas nakas itu kembali bergetar. Getarannya terasa seperti rentetan tembakan yang menghantam dadaku. Satu per satu nama yang sangat akrab muncul di layar kunci, membuat air mataku kembali jatuh tanpa bisa dicegah.
Mbak Selfi mengirim pesan pertama.
(Ra, kenapa mendadak sekali? Kalau ada masalah bicarakan baik-baik sama Mbak. Jangan asal keluar begini, kami semua bingung.)
Menyusul Alina dan Reni yang sepertinya sedang bersama saat membaca pamitanku.
(Ra! Kamu di mana? Kita ke kosan kamu kok kosong? Kabari kami, Ra. Kamu jahat kalau tiba-tiba hilang begini!)
Bahkan Fais pun ikut mengirimkan pesan singkat namun sarat akan kekhawatiran.
(Semangat ya, Ra. Apa pun pilihannya, semoga itu yang terbaik.)
Namun, yang paling menghancurkan pertahananku adalah rentetan pesan dari Ali. Pesan-pesan yang sengaja kuabaikan selama beberapa hari ini kini tertumpuk, menuntut penjelasan yang tak sanggup kuberikan.
(Ra, kamu kenapa?)
(Pesan jus strawberry kemarin belum sempat aku tanya rasanya gimana. Kamu sakit?)
(Ra, tolong balas. Satu huruf saja asal aku tahu kamu baik-baik saja.)
(Ra, jangan keluar dari grup. Tolong...)
Dan pesan terakhirnya setelah aku keluar dari grup:
(Aku jemput ke rumah Bapak kamu sekarang kalau kamu nggak kasih tahu apa yang terjadi.)
Aku menutup wajah dengan kedua tangan, terisak sejadi-jadinya di balik bantal agar suaranya tidak menembus pintu kamar. Ali... laki-laki itu tidak tahu bahwa ia sedang mengejar bayangan yang sudah hancur. Kebaikannya justru menjadi hukuman paling berat bagiku saat ini. Aku ingin sekali membalas, memberitahu mereka bahwa aku sangat merindukan hiruk pikuk toko, tapi harga diri dan label "menantu tanpa restu" ini telah membungkamku.
Aku mematikan ponsel itu sepenuhnya. Aku tidak mau Ali nekat datang ke rumah Bapak, apalagi ke rumah megah ini. Biarlah aku dianggap jahat, biarlah aku dianggap tidak tahu terima kasih. Di dalam kamar yang sunyi ini, aku memilih untuk mati dalam ingatan mereka daripada hidup sebagai sumber aib yang membuat mereka malu pernah mengenalku.
Lantai kayu yang dingin di bawah kakiku terasa seperti medan perang yang harus kuseberangi. Perutku sudah mulai terasa perih dan melilit; sejak drama nasi goreng tadi pagi, belum ada satu suapan pun yang masuk ke lambungku. Setelah mandi dan mencoba merapikan diri agar tidak terlihat seperti mayat hidup, aku memberanikan diri membuka pintu kamar.
Namun, langkahku terhenti tepat di bordes anak tangga teratas. Suara tawa renyah Mbak Diana menggema di ruang tengah, disusul oleh suara denting cangkir teh yang beradu dengan tatakan piring. Aku mematung, merapatkan tubuh ke dinding agar tidak terlihat dari bawah.
"Ya ampun, Bu... Diana benar-benar masih nggak habis pikir Dika senekat itu. Pernikahan macem apa coba? Dadakan, nggak jelas, kayak mau nutupin bangkai," suara Mbak Diana terdengar penuh penghinaan.
"Sudahlah, Diana. Ibu sudah capek bicara. Kepalanya Dika itu sudah batu karena perempuan itu," sahut Ibu Mertua, suaranya terdengar sangat lelah namun tetap tajam.
Lalu, sebuah suara wanita lain yang asing bagiku terdengar menyela. Suaranya terdengar penuh selidik, seperti tetangga yang haus akan bahan gunjingan. "Tapi benar itu anaknya Dika, Jeng? Maksudku, sekarang kan zaman sudah edan. Bisa saja kan perempuan itu cuma cari sandaran karena laki-laki aslinya kabur? Enam bulan itu waktu yang lama untuk baru mengaku, lho."
Deg. Jantungku serasa dihantam palu besar. Genggamanku pada pegangan tangga mengerat hingga buku-buku jariku memutih. Bagaimana bisa mereka meragukan nyawa yang ada di rahimku ini?
"Itu dia yang Diana takutin, Tante," Mbak Diana menyambar dengan nada yang meledak-ledak. "Makanya Diana sudah bilang sama Bapak dan Dika. Kita nggak boleh tertipu mentah-mentah hanya karena tampang polosnya itu. Pokoknya, begitu anak itu lahir, Diana yang akan paling depan minta dilakukan tes DNA. Kalau ternyata bukan darah daging Dika, Diana sendiri yang akan seret perempuan itu keluar dari rumah ini!"
Duniaku serasa runtuh. Air mata yang baru saja mengering kini kembali menggenang di pelupuk mata. Di rumah ini, kehadiranku bukan hanya ditolak, tapi kehormatanku pun masih terus diinjak-injak meskipun aku sudah menyandang status sebagai istri sah. Mereka menyiapkan sebuah pengadilan untuk janin yang bahkan belum melihat dunia.
Aku membatalkan niatku untuk turun. Rasa lapar yang tadi menyiksa mendadak hilang, digantikan oleh rasa mual yang luar biasa hebat. Di balik dinding ini, aku menyadari bahwa status "istri" hanyalah sebuah label di atas kertas, sementara di mata mereka, aku hanyalah tersangka yang sedang menunggu waktu untuk dibuktikan kesalahannya.