NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:916
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SEBELAS

Kamar hotel lantai dua puluh malam itu sepi, hanya terdengar dengung samar AC yang berhembus dari langit-langit. Maharani duduk di ranjang, masih mengenakan gaun merah marun yang tadi siang ia pakai untuk menghadiri rapat kontrak. Make-up di wajahnya sudah luntur, eyeliner sedikit berantakan karena air mata yang tak henti-henti keluar sejak berita skandal itu meledak.

Ia baru saja meraih segelas air mineral ketika ponselnya bergetar di atas meja nakas. Maharani meraih ponsel itu dengan tangan gemetar, berharap ada pesan dari ayah atau Siska. Tapi bukan.

Nomor tak dikenal.

Dengan hati-hati ia membuka.

Unknown Number

Cantik sekali kamu malam ini, Ran. Gaun merah itu bikin aku makin gila liat kamu.

Jantung Maharani serasa berhenti. Matanya membesar. Malam ini memang tidak ada siapa pun selain dirinya di kamar. Ia buru-buru menoleh ke cermin di sudut ruangan—gaun merah itu jelas terlihat. Tangannya refleks meraih selendang untuk menutupi dadanya.

Belum sempat ia bernapas lega, ponsel kembali bergetar.

Unknown Number

Aku bisa lihat kamu sekarang. Jangan coba-coba buka tirainya.

Maharani tersentak. Pandangannya langsung menuju jendela besar yang ditutup tirai tebal warna abu-abu. Ruangan tiba-tiba terasa dingin  membeku. Kakinya lemas, tapi kepalanya terasa penuh. Ia menahan napas, tak berani bergerak.

“Ya Tuhan…” bisiknya lirih, hampir tanpa suara.

Pesan lain masuk, kali ini lebih panjang.

Unknown Number

Kamu pikir bisa lepas dari aku? Jangan mimpi. Kamu milik aku, Ran. Kalau kamu masih berani dekat sama laki-laki lain… kariermu akan tamat. Lebih cepat dari yang kamu bayangin.

Tubuh Maharani mulai bergetar. Air mata menggenang lagi, bercampur amarah. Jemarinya yang pucat menekan layar, mengetik cepat dengan tangan gemetar:

Risyad? Ini kamu? Hentikan!

Belum sempat ia tekan tombol kirim, ponselnya berdering keras. Nomor yang sama. Suaranya serak, putus asa, dan marah sekaligus ketika ia menekan tombol hijau.

“Haloo…” suara di seberang begitu familiar. Berat, dingin, penuh tekanan.

“Ran, kenapa kamu ngejauh? Aku kangen kamu. Aku sayang kamu. Kamu nggak ngerti betapa aku sakit liat kamu senyum sama laki-laki lain.”

Maharani menahan tangis, tapi suara parau itu terus mengiris telinganya. “Risyad… hentikan. Aku nggak mau lagi berhubungan sama kamu. Kamu bikin aku trauma, ngerti nggak?! Jangan pernah hubungi aku lagi!”

Tawa kecil, parau, menyelinap dari seberang sambungan. Tawa itu membuat bulu kuduk Maharani meremang.

“Aku sudah bilang, Ran. Kalau aku nggak bisa miliki kamu, maka nggak ada yang boleh miliki kamu. Ingat itu. Aku selalu mengawasi.”

Klik. Sambungan putus.

Keheningan kembali menyelimuti kamar. Tapi Maharani tak lagi merasa aman. Ia jatuhkan ponselnya ke lantai, tubuhnya merosot di samping ranjang. Bahunya bergetar hebat, tangannya menutupi wajah yang penuh air mata.

Ia merasa seluruh dinding kamar mendekat, menekan dadanya. Tirai abu-abu itu kini tampak begitu mengancam, seakan ada sepasang mata mengintai dari baliknya.

“Kenapa dia nggak pernah berhenti…” suaranya pecah, hampir tak terdengar. “Kenapa dia nggak mau lepaskan aku…”

Detik itu juga, Maharani tahu—ini bukan sekadar skandal. Ini adalah teror.

Maharani duduk terpaku di lantai, punggungnya bersandar pada sisi ranjang. Napasnya memburu, pendek-pendek, seakan udara di kamar itu tiba-tiba habis. Dadanya naik turun cepat, seperti orang yang habis berlari jauh, padahal ia bahkan tidak bergerak.

Tangannya yang gemetar berusaha meraih ponsel di lantai, tapi jemarinya terasa kaku, dingin, seperti kehilangan tenaga. Setiap kali layar menyala, Maharani takut melihat ada pesan baru masuk. Takut membaca kata-kata yang membuat darahnya kembali membeku.

Kamar hotel yang tadinya mewah kini berubah menjadi penjara. Tirai abu-abu itu tampak seperti dinding gelap yang menyimpan rahasia. Setiap bunyi kecil—dentuman lift jauh di koridor, AC yang berdesis, bahkan bunyi hentakan kecil—membuat Maharani tersentak, seolah itu pertanda seseorang masuk tanpa ia sadari.

Dalam kepalanya, suara Risyad terus terngiang. “Aku selalu mengawasi.” Kata-kata itu berputar-putar, menempel di telinga, menusuk jantungnya. Maharani menutup telinga dengan kedua tangannya, berharap suara itu hilang, tapi tetap saja bayangan wajah Risyad muncul di pikirannya: senyum obsesifnya, tatapan matanya yang dingin, dan cara dia mengucapkan kata “milik aku” seakan benar-benar mengikat.

Air mata kembali jatuh, membasahi pipinya. Rasa takut itu bukan hanya karena ia mungkin diawasi malam ini, tapi karena ia tahu Risyad bukan tipe orang yang berhenti setelah mengancam. Jika ia berani sampai sejauh ini, siapa yang bisa menjamin dia tidak melakukan hal yang lebih gila?

Maharani menunduk, memeluk lututnya erat-erat, tubuhnya gemetar. Ia merasa sendirian, rapuh, dan tak berdaya. Ia ingin sekali menelepon Reza atau Siska, ingin sekali berteriak minta tolong, tapi rasa malu dan ketakutan membungkam mulutnya.

Dan di sela-sela isaknya, ada satu bisikan kecil yang tak bisa ia abaikan:

“Bagaimana kalau dia benar-benar ada di luar sana, mengawasi sekarang?”

Maharani menoleh perlahan ke arah tirai jendela. Nafasnya tercekat. Ia tak berani mendekat, tak berani memastikan, karena hanya membayangkan kemungkinan itu saja sudah cukup membuat tubuhnya lemas.

Dengan tangan gemetar, Maharani akhirnya berdiri. Kakinya terasa lemas, seolah lantai marmer itu bisa ambruk kapan saja di bawah pijakannya. Nafasnya masih memburu, jantungnya berdetak tak karuan.

Matanya terus menatap tirai tebal berwarna abu-abu itu. Ada dorongan kuat di dalam kepalanya: Aku harus lihat. Aku harus pastikan. Tapi di saat yang sama, ketakutan membuatnya nyaris lumpuh. Bagaimana kalau benar ada seseorang di luar sana? Bagaimana kalau bayangan yang selama ini menghantuinya nyata?

“Tidak… tidak mungkin. Aku harus buktikan sendiri,” bisiknya pelan, seperti meneguhkan hati.

Dengan langkah perlahan, ia mendekat. Suara detak-detuk tumitnya di lantai terasa lebih nyaring dari biasanya. Tangannya terulur, tapi berhenti di udara. Jemarinya menggantung di dekat kain tirai, gemetar. Ia menelan ludah, matanya terpejam sejenak, mencoba menenangkan diri.

Tarik napas, Rani. Satu… dua… tiga.

Dengan sekuat tenaga, ia meraih sisi tirai dan menariknya ke samping. Kain tebal itu bergeser cepat, menyingkap kaca jendela besar kamar hotel.

Cahaya kota malam langsung menyeruak masuk. Lampu-lampu berkilau, kerlap-kerlipnya seperti lautan bintang yang jatuh di bumi. Jalan di bawah masih ramai, kendaraan berlalu-lalang. Semuanya tampak normal.

Tidak ada yang aneh. Tidak ada sosok gelap. Tidak ada wajah menyeramkan. Hanya pemandangan kota.

Tapi rasa lega yang seharusnya datang… tidak benar-benar datang. Karena di kaca jendela itu, Maharani menangkap pantulan dirinya sendiri: wajah pucat, mata sembab, dan air mata yang terus mengalir.

Ia menghela napas panjang, hampir terisak lagi. “Aku… aku cuma parno,” gumamnya pelan.

Namun tepat saat ia hendak menutup tirai kembali, sesuatu membuat tubuhnya kaku.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!