Istri Lugu Sang Cassanova
"Ma, Pa. Ini calon istriku!"
Tubuh seorang gadis diseret paksa memasuki sebuah rumah mewah oleh pria tampan yang baru pertama kali dia temui. Tubuh sedikit terhuyung saat pria itu menghempaskannya.
Gadis itu segera berdiri tegak, membetulkan letak kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya, sambil memperhatikan sekeliling. Tatapan dia kemudian terhenti pada dua wajah yang terlihat asing, tengah duduk di sofa, memperhatikan dia dengan ekspresi terkejut sekaligus bingung.
Gadis itu bernama Zuzu. Dia melompat ke belakang tubuh pria yang membawanya. Bersembunyi dari tatapan menyelidik dua orang asing yang bangkit berdiri.
"Siapa wanita yang kamu bawa, Sean?" Sandrina, wanita cantik yang memiliki tubuh ramping dan berisi di area tertentu itu merupakan ibu dari Sean, pria yang membawa paksa Zuzu.
"Dia calon istriku! Mama ingin aku menikah, 'kan? Aku akan segera menikahi dia!" tegas Sean. Dia anak tunggal dari pasangan Sandrina dan David, seorang Casanova yang gemar berganti pasangan.
Di belakang tubuh Sean, Zuzu menggeleng cepat, matanya membelalak lebar.
"Calon istri?" Sandrina berjalan mendekati, tatapannya penuh penilaian pada Zuzu yang kini mencengkram kemeja Sean dengan erat.
"Apa kamu menculik gadis kecil ini dan memaksanya untuk menjadi istrimu?!" duga Sandrina, tatapannya kemudian beralih pada wajah sang putra, penuh tuduhan.
Sean menarik tangan Zuzu, hingga gadis itu berdiri di depannya. "Dia bukan gadis kecil, Ma! Dia sudah 24 tahun. Badannya saja yang buntet!" jawab Sean, sedikit sarkas.
Sandrina sedikit mencondongkan tubuh, memperhatikan wajah Zuzu dari dekat. "Bener, umur kamu 24 tahun?" tanyanya, hampir tak percaya.
Zuzu nampak ragu, namun tidak bisa mengelak, karena pergelangan tangannya diremas kuat oleh Sean, sebagai bentuk ancaman. "Iya, Bu. Usiaku 24 tahun. Tapi, sebenarnya aku..."
"Bener 'kan, Ma? Dia bukan anak kecil seperti Mama kira," sela Sean. Tangannya beralih mencengkram bahu Zuzu.
Zuzu merasa tak nyaman, dia menoleh ke arah Sean. Namun, pria itu justru tersenyum tipis, senyuman yang nampak mengerikan di matanya. Dia mengerjapkan mata, dan beralih menatap Sandrina yang masih memperhatikannya.
"Ada KTP?" tanya Sandrina, masih belum percaya. Dia mengulurkan tangan ke depan wajah Zuzu.
Zuzu terdiam cukup lama, sambil memperhatikan telapak tangan yang putih bersih, dan nampak halus itu. Ekspresinya nampak cemas.
"Ayo, tunjukkan KTP kamu. Biar saya lihat! Kalau benar usiamu sudah 24 tahun, hari ini juga kami akan menikahkan kalian," ujar Sandrina, tak sabaran. Senyuman lebar terukir di wajahnya.
Zuzu, perlahan mengalihkan tas selempangnya ke depan perut. Dia merogoh isi tas, sambil sesekali menatap wajah Sandrina yang terlihat antusias menunggu.
Zuzu mengambil KTP sekaligus kartu identitas lainnya yang ada di dompet. Dengan tangan sedikit gemetar, dia menyerahkan benda tersebut pada Sandrina.
"I-ini, Bu. KTP saya. Ini juga ada fotocopy KK, SIM, SKCK, Kartu Kuning dan ATM saya. Tapi, saldonya kosong," ujar Zuzu sambil tersenyum kikuk.
Sandrina menerima semua dokumen itu, dokumen yang sudah seperti hendak melamar pekerjaan. Dia menoleh ke arah suaminya yang nampak menahan tawa, lalu mulai melihat satu-persatu. Namun, tidak ada yang lebih membuat dia tertarik dibandingkan sikap unik Zuzu.
"Baiklah, saya terima kamu sebagai istri putra saya," kata Sandrina sambil menahan senyum.
Zuzu, ekspresinya yang polos nampak lebih menggemaskan saat terkejut. Kelopak matanya bahkan lebih lebar dari kaca mata yang dikenakan.
"Istri?" beonya.
Sandrina mengangguk, lalu merangkul tubuh Zuzu menghampiri sang suami. "Ini Papa-nya Sean, David. Kamu juga harus memanggilnya dengan sebutan Papa. Dan, panggil saya Mama."
Zuzu, dengan ekspresi bingung menatap David dan Sandrina bergantian. "Papa, Mama," gumamnya, sesaat kemudian dia tersenyum lebar.
"Jadi, sekarang aku punya Mama dan Papa?!" pekiknya kegirangan, mata berbinar terang. "Astaga, demi apa? Ini keren sekali. Aku punya Mama dan Papa."
Gadis itu hampir jingkrak-jingkrak kesenangan, namun tatapan semua orang yang memperhatikan membuat dia diam sambil menutupi mulut.
Sandrina tertawa renyah dengan tingkah Zuzu, dia menoleh ke arah Sean sekilas sambil mengacungkan ibu jari.
Sementara Sean, menghela napas lega karena orangtuanya menyukai gadis yang dia bawa dengan asal-asalan di jalanan tadi.
Pertemuan mereka bermula ketika Zuzu tidak sengaja menyenggol badan mobil Sean dengan motor yang dikendarainya. Karena keadaan hati sedang kacau, akibat desakan kedua orangtuanya yang ingin dia segera menikah, pria itu justru membawa gadis tersebut pulang tanpa banyak bicara.
"Sudah ya, aku harus pergi!" seru Sean, lalu membalikkan tubuh. Baru saja dia akan melangkah, seruan Sandrina membuat dia terpaksa memutar tubuh kembali.
"Mau ke mana kamu, Sean? Kita akan langsung mengadakan pernikahannya nanti malam. Jangan coba-coba kabur kamu!" Sandrina mengembalikan dokumen milik Zuzu, lalu menghampiri putranya.
"Ma, aku masih ada banyak kerjaan di kantor!" desah Sean pasrah, saat tangannya ditarik paksa oleh sang ibu.
"Gak ada kerja untuk hari ini. Kamu harus bersiap menjadi pengantin nanti malam. Meskipun acaranya nggak mewah, Mama hanya akan mengundang keluarga besar kita saja. Sebagai bukti, jika putra mama ini sudah mau berubah dan berumah tangga," ujar Sandrina sambil mencubit keras pipi Sean.
Zuzu terkikik kecil sambil membenarkan letak kaca mata, saat melihat tingkah Sandrina dan Sean sudah seperti emak dan anak pada umumnya. Terlihat sangat akrab.
Sean memelototi Zuzu, sontak membuat gadis itu diam, melipat bibirnya ke dalam. Dia mengalihkan pandangan ke arah Sandrina, ekspresinya penuh harapan.
"Ma, aku harus kerja. Lagipula acaranya nanti malam 'kan? Aku akan kembali sebelum acara itu dimulai. Mama bisa lihat keseriusanku, 'kan? Aku bahkan sudah membawa calon menantu untuk Mama," kata Sean, berusaha meyakinkan.
Akan tetapi, Sandrina tidak ingin mengambil resiko, jika putranya tiba-tiba hilang dan ditemukan berada di sebuah kamar bersama wanita panggilannya.
"Enggak!" tegas Sandrina. "Sebelum kalian menikah, Mama gak akan mengizinkan kamu keluar dari rumah ini!"
Bahu Sean merosot perlahan. Ekspresinya nampak kecewa, namun pasrah. Dia kemudian memegang lengan Zuzu. "Ayo, kita ke kamar!" ajaknya tanpa pikir panjang.
"Hah!" Tubuh Zuzu bergeming. Matanya mengerjap dengan cepat. "Mau apa? Aku tunggu di sini saja!" geleng Zuzu, takut.
"Pake nanya lagi. Kita 'kan mau nikah, apa salahnya ikut aku ke kamar!" ujar Sean, memaksa, dia menarik lengan Zuzu dengan sedikit kuat.
Zuzu, bukannya menurut, dia justru melompat ke belakang tubuh Sandrina. "Bu... Eh, Mama... kita belum menikah 'kan? Memangnya boleh berdua di kamar?" tanyanya dengan ekspresi polos juga cemas.
Sandrina memicingkan mata ke arah putranya, lalu menggeleng tegas. "Zuzu akan membantu Mama menyiapkan pernikahan kalian. Kamu tunggu saja sendiri di kamar," tegas Sandrina.
David yang sejak tadi diam menyaksikan, kini mendekat pada putranya. Dia menepuk merangkul pundak Sean, seraya berbisik, "Ayo, Papa temani kamu di kamar. Sekalian Papa akan ajarkan kamu tips, sekali tembak langsung jadi anak."
Sean mendelik horor. "Aku belum siap punya anak, Pa," jawabnya, ikut berbisik.
Akan tetapi, David tidak menggubris ucapan Sean. Dia menuntun putranya, dengan sedikit dorongan menuju kamar.
"Ayo, Zuzu. Kita akan sulap halaman belakang jadi pelaminan untuk kamu dan Sean."
Dengan penuh semangat, Sandrina berjalan menuju sebuah pintu yang terhubung ke belakang rumah. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Wanita itu, nampak mengingat sesuatu. Dia kemudian memutar tubuh, menghadap Zuzu.
Zuzu yang bengong, tak sempat menghentikan langkah, hingga tubuhnya menabrak tubuh Sandrina. Dan keduanya terjatuh di lantai, saling bertumpukan.
Suara pekikan keduanya menggema di lorong rumah itu.
"Aduh-aduh, maaf, Bu!" Zuzu segera berdiri, ekspresi wajah bersalah. Dia menundukkan kepala, takut.
Sandrina bangkit sambil memegangi pinggang yang terasa sakit. "Astaga, Zuzu. Badan kamu terlihat kecil, tapi sangat berat," keluhnya.
"Bu, maafkan aku. Aku beneran gak sengaja," kata Zuzu sambil mengangkat tangan dan jarinya membentuk vis.
Sandrina mengangguk singkat. "Kamu mikirin apa sih? Kenapa melamun? Apa kamu kira saya akan meminta yang untuk membuat acara ini?" Sandrina menegakkan tubuh, setelah rasa sakit di area pinggang sedikit mereda.
Zuzu membenarkan letak kaca mata, kepala masih tertunduk. Sedikit merasa ragu, namun dia tidak memiliki pilihan lain selain jujur.
"Anu, Bu... motorku masih di jalan," jawab Zuzu, suaranya pelan.
"Oh, cuma motor 'kan? Ya gak usah dipikirin. Palingan juga motor kamu sudah diangkut sama pak polisi," sahut Sandrina dengan enteng.
Kali ini, Zuzu tidak lagi menjawab. Dia bahkan menyesal mengatakan yang sebenarnya, karena di mata orang kaya, motor bututnya tidak berarti apa-apa.
"Oh ya, Zuzu. Kamu pasti ada keluarga, 'kan? Hubungi dan minta mereka datang nanti malam," pinta Sandrina, kembali membuka pembicaraan.
"Oh, anu... keluarga?" Zuzu nampak bingung sekaligus panik.
"Kenapa?" tanya Sandrina, merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Zuzu.
Zuzu kembali menebarkan letak kaca matanya, sebagai bentuk rasa gugup yang mendera. "Itu, Bu... orangtuaku..."
"Kenapa? Orangtua kamu masih ada, 'kan?" tanya Sandrina lagi, kali ini ada desakan dalam nada suaranya.
"Itu..."
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
EndHa
Haii kakak... aq ikuti kisah zuzu,, baru baca noveltoon nih,, masih bingung.. hehe
2025-08-23
1