"Ma, Pa. Ini calon istriku!"
Tubuh seorang gadis diseret paksa memasuki sebuah rumah mewah oleh pria tampan yang baru pertama kali dia temui. Tubuh sedikit terhuyung saat pria itu menghempaskannya.
Gadis itu segera berdiri tegak, membetulkan letak kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya, sambil memperhatikan sekeliling. Tatapan dia kemudian terhenti pada dua wajah yang terlihat asing, tengah duduk di sofa, memperhatikan dia dengan ekspresi terkejut sekaligus bingung.
Gadis itu bernama Zuzu. Dia melompat ke belakang tubuh pria yang membawanya. Bersembunyi dari tatapan menyelidik dua orang asing yang bangkit berdiri.
"Siapa wanita yang kamu bawa, Sean?" Sandrina, wanita cantik yang memiliki tubuh ramping dan berisi di area tertentu itu merupakan ibu dari Sean, pria yang membawa paksa Zuzu.
"Dia calon istriku! Mama ingin aku menikah, 'kan? Aku akan segera menikahi dia!" tegas Sean. Dia anak tunggal dari pasangan Sandrina dan David, seorang Casanova yang gemar berganti pasangan.
Di belakang tubuh Sean, Zuzu menggeleng cepat, matanya membelalak lebar.
"Calon istri?" Sandrina berjalan mendekati, tatapannya penuh penilaian pada Zuzu yang kini mencengkram kemeja Sean dengan erat.
"Apa kamu menculik gadis kecil ini dan memaksanya untuk menjadi istrimu?!" duga Sandrina, tatapannya kemudian beralih pada wajah sang putra, penuh tuduhan.
Sean menarik tangan Zuzu, hingga gadis itu berdiri di depannya. "Dia bukan gadis kecil, Ma! Dia sudah 24 tahun. Badannya saja yang buntet!" jawab Sean, sedikit sarkas.
Sandrina sedikit mencondongkan tubuh, memperhatikan wajah Zuzu dari dekat. "Bener, umur kamu 24 tahun?" tanyanya, hampir tak percaya.
Zuzu nampak ragu, namun tidak bisa mengelak, karena pergelangan tangannya diremas kuat oleh Sean, sebagai bentuk ancaman. "Iya, Bu. Usiaku 24 tahun. Tapi, sebenarnya aku..."
"Bener 'kan, Ma? Dia bukan anak kecil seperti Mama kira," sela Sean. Tangannya beralih mencengkram bahu Zuzu.
Zuzu merasa tak nyaman, dia menoleh ke arah Sean. Namun, pria itu justru tersenyum tipis, senyuman yang nampak mengerikan di matanya. Dia mengerjapkan mata, dan beralih menatap Sandrina yang masih memperhatikannya.
"Ada KTP?" tanya Sandrina, masih belum percaya. Dia mengulurkan tangan ke depan wajah Zuzu.
Zuzu terdiam cukup lama, sambil memperhatikan telapak tangan yang putih bersih, dan nampak halus itu. Ekspresinya nampak cemas.
"Ayo, tunjukkan KTP kamu. Biar saya lihat! Kalau benar usiamu sudah 24 tahun, hari ini juga kami akan menikahkan kalian," ujar Sandrina, tak sabaran. Senyuman lebar terukir di wajahnya.
Zuzu, perlahan mengalihkan tas selempangnya ke depan perut. Dia merogoh isi tas, sambil sesekali menatap wajah Sandrina yang terlihat antusias menunggu.
Zuzu mengambil KTP sekaligus kartu identitas lainnya yang ada di dompet. Dengan tangan sedikit gemetar, dia menyerahkan benda tersebut pada Sandrina.
"I-ini, Bu. KTP saya. Ini juga ada fotocopy KK, SIM, SKCK, Kartu Kuning dan ATM saya. Tapi, saldonya kosong," ujar Zuzu sambil tersenyum kikuk.
Sandrina menerima semua dokumen itu, dokumen yang sudah seperti hendak melamar pekerjaan. Dia menoleh ke arah suaminya yang nampak menahan tawa, lalu mulai melihat satu-persatu. Namun, tidak ada yang lebih membuat dia tertarik dibandingkan sikap unik Zuzu.
"Baiklah, saya terima kamu sebagai istri putra saya," kata Sandrina sambil menahan senyum.
Zuzu, ekspresinya yang polos nampak lebih menggemaskan saat terkejut. Kelopak matanya bahkan lebih lebar dari kaca mata yang dikenakan.
"Istri?" beonya.
Sandrina mengangguk, lalu merangkul tubuh Zuzu menghampiri sang suami. "Ini Papa-nya Sean, David. Kamu juga harus memanggilnya dengan sebutan Papa. Dan, panggil saya Mama."
Zuzu, dengan ekspresi bingung menatap David dan Sandrina bergantian. "Papa, Mama," gumamnya, sesaat kemudian dia tersenyum lebar.
"Jadi, sekarang aku punya Mama dan Papa?!" pekiknya kegirangan, mata berbinar terang. "Astaga, demi apa? Ini keren sekali. Aku punya Mama dan Papa."
Gadis itu hampir jingkrak-jingkrak kesenangan, namun tatapan semua orang yang memperhatikan membuat dia diam sambil menutupi mulut.
Sandrina tertawa renyah dengan tingkah Zuzu, dia menoleh ke arah Sean sekilas sambil mengacungkan ibu jari.
Sementara Sean, menghela napas lega karena orangtuanya menyukai gadis yang dia bawa dengan asal-asalan di jalanan tadi.
Pertemuan mereka bermula ketika Zuzu tidak sengaja menyenggol badan mobil Sean dengan motor yang dikendarainya. Karena keadaan hati sedang kacau, akibat desakan kedua orangtuanya yang ingin dia segera menikah, pria itu justru membawa gadis tersebut pulang tanpa banyak bicara.
"Sudah ya, aku harus pergi!" seru Sean, lalu membalikkan tubuh. Baru saja dia akan melangkah, seruan Sandrina membuat dia terpaksa memutar tubuh kembali.
"Mau ke mana kamu, Sean? Kita akan langsung mengadakan pernikahannya nanti malam. Jangan coba-coba kabur kamu!" Sandrina mengembalikan dokumen milik Zuzu, lalu menghampiri putranya.
"Ma, aku masih ada banyak kerjaan di kantor!" desah Sean pasrah, saat tangannya ditarik paksa oleh sang ibu.
"Gak ada kerja untuk hari ini. Kamu harus bersiap menjadi pengantin nanti malam. Meskipun acaranya nggak mewah, Mama hanya akan mengundang keluarga besar kita saja. Sebagai bukti, jika putra mama ini sudah mau berubah dan berumah tangga," ujar Sandrina sambil mencubit keras pipi Sean.
Zuzu terkikik kecil sambil membenarkan letak kaca mata, saat melihat tingkah Sandrina dan Sean sudah seperti emak dan anak pada umumnya. Terlihat sangat akrab.
Sean memelototi Zuzu, sontak membuat gadis itu diam, melipat bibirnya ke dalam. Dia mengalihkan pandangan ke arah Sandrina, ekspresinya penuh harapan.
"Ma, aku harus kerja. Lagipula acaranya nanti malam 'kan? Aku akan kembali sebelum acara itu dimulai. Mama bisa lihat keseriusanku, 'kan? Aku bahkan sudah membawa calon menantu untuk Mama," kata Sean, berusaha meyakinkan.
Akan tetapi, Sandrina tidak ingin mengambil resiko, jika putranya tiba-tiba hilang dan ditemukan berada di sebuah kamar bersama wanita panggilannya.
"Enggak!" tegas Sandrina. "Sebelum kalian menikah, Mama gak akan mengizinkan kamu keluar dari rumah ini!"
Bahu Sean merosot perlahan. Ekspresinya nampak kecewa, namun pasrah. Dia kemudian memegang lengan Zuzu. "Ayo, kita ke kamar!" ajaknya tanpa pikir panjang.
"Hah!" Tubuh Zuzu bergeming. Matanya mengerjap dengan cepat. "Mau apa? Aku tunggu di sini saja!" geleng Zuzu, takut.
"Pake nanya lagi. Kita 'kan mau nikah, apa salahnya ikut aku ke kamar!" ujar Sean, memaksa, dia menarik lengan Zuzu dengan sedikit kuat.
Zuzu, bukannya menurut, dia justru melompat ke belakang tubuh Sandrina. "Bu... Eh, Mama... kita belum menikah 'kan? Memangnya boleh berdua di kamar?" tanyanya dengan ekspresi polos juga cemas.
Sandrina memicingkan mata ke arah putranya, lalu menggeleng tegas. "Zuzu akan membantu Mama menyiapkan pernikahan kalian. Kamu tunggu saja sendiri di kamar," tegas Sandrina.
David yang sejak tadi diam menyaksikan, kini mendekat pada putranya. Dia menepuk merangkul pundak Sean, seraya berbisik, "Ayo, Papa temani kamu di kamar. Sekalian Papa akan ajarkan kamu tips, sekali tembak langsung jadi anak."
Sean mendelik horor. "Aku belum siap punya anak, Pa," jawabnya, ikut berbisik.
Akan tetapi, David tidak menggubris ucapan Sean. Dia menuntun putranya, dengan sedikit dorongan menuju kamar.
"Ayo, Zuzu. Kita akan sulap halaman belakang jadi pelaminan untuk kamu dan Sean."
Dengan penuh semangat, Sandrina berjalan menuju sebuah pintu yang terhubung ke belakang rumah. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Wanita itu, nampak mengingat sesuatu. Dia kemudian memutar tubuh, menghadap Zuzu.
Zuzu yang bengong, tak sempat menghentikan langkah, hingga tubuhnya menabrak tubuh Sandrina. Dan keduanya terjatuh di lantai, saling bertumpukan.
Suara pekikan keduanya menggema di lorong rumah itu.
"Aduh-aduh, maaf, Bu!" Zuzu segera berdiri, ekspresi wajah bersalah. Dia menundukkan kepala, takut.
Sandrina bangkit sambil memegangi pinggang yang terasa sakit. "Astaga, Zuzu. Badan kamu terlihat kecil, tapi sangat berat," keluhnya.
"Bu, maafkan aku. Aku beneran gak sengaja," kata Zuzu sambil mengangkat tangan dan jarinya membentuk vis.
Sandrina mengangguk singkat. "Kamu mikirin apa sih? Kenapa melamun? Apa kamu kira saya akan meminta yang untuk membuat acara ini?" Sandrina menegakkan tubuh, setelah rasa sakit di area pinggang sedikit mereda.
Zuzu membenarkan letak kaca mata, kepala masih tertunduk. Sedikit merasa ragu, namun dia tidak memiliki pilihan lain selain jujur.
"Anu, Bu... motorku masih di jalan," jawab Zuzu, suaranya pelan.
"Oh, cuma motor 'kan? Ya gak usah dipikirin. Palingan juga motor kamu sudah diangkut sama pak polisi," sahut Sandrina dengan enteng.
Kali ini, Zuzu tidak lagi menjawab. Dia bahkan menyesal mengatakan yang sebenarnya, karena di mata orang kaya, motor bututnya tidak berarti apa-apa.
"Oh ya, Zuzu. Kamu pasti ada keluarga, 'kan? Hubungi dan minta mereka datang nanti malam," pinta Sandrina, kembali membuka pembicaraan.
"Oh, anu... keluarga?" Zuzu nampak bingung sekaligus panik.
"Kenapa?" tanya Sandrina, merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Zuzu.
Zuzu kembali menebarkan letak kaca matanya, sebagai bentuk rasa gugup yang mendera. "Itu, Bu... orangtuaku..."
"Kenapa? Orangtua kamu masih ada, 'kan?" tanya Sandrina lagi, kali ini ada desakan dalam nada suaranya.
"Itu..."
Bersambung...
Hari sudah mulai gelap. Seorang pria yang mengenakan baju batik berwarna coklat pudar, turun dari sebuah mobil yang terparkir di depan rumah bercat putih. Di belakangnya, seorang wanita mengenakan kebaya tradisional ikut turun. Wajah keduanya terlihat sumringah.
"Umi, bener ini rumah calon mantu kita? Calon suami anak kita ternyata orang kaya beneran!" gumam pria tersebut, bernama Jabar. Dia menatap bangunan megah yang diterangi lampu dengan mata berbinar, sambil berdecak kagum. Senyuman lebar tak henti-henti menghiasai wajah tuanya.
"Bener, Bah. Menantu kita orang kaya raya!" jawab Jamilah. Ia sampai meneteskan air mata haru, tak menyangka putri semata wayangnya itu sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari pria kaya.
"Abah benar-benar tidak percaya, Mi. Ternyata Zulaikha yang sering di buli warga kampung karena bodoh itu berhasil mengangkat harkat martabat keluarga kita. Abah sampai ingin menangis saat ini," ungkap Jabar sambil menggosok-gosok kedua mata yang berair.
Dari pintu utama, beberapa orang pria berseragam hitam muncul. Salah satu dari mereka mendekati Jabar dan Jamila.
"Bu Jamilah dan Pak Jabar," sapanya, sedikit membungkukkan badan.
"Betul, Pak. Kami ini orangtua Zulaikha, calon mantu keluarga kaya ini," jawab Jabar, dia berdiri tegak, dada membusung ke depan, berusaha menunjukkan wibawanya.
"Silahkan, Pak. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di tempat acara," ucap pria berseragam hitam itu, lalu menggeser tubuh, memberi jalan.
Jabar mengangguk. Sebelum melangkahkan kaki, pria itu mengambil beberapa barang yang berada di dalam mobil. Di tangan kiri, pria itu memegang sebuah dus yang diikat oleh tali rafia. Sedangkan di tangan yang lain, dia menenteng sebuah kiso yang terbuat dari anyaman bambu. Namun, bukan berisi ayam, melainkan dua ekor bebek.
"Zulaikha, Abah dan Umi datang!" seru Jabar sambil berlari menaiki anak tangga menuju pintu masuk.
"Tunggu, Bah!" seru Jamilah, dia mengangkat sedikit rok batik, untuk memudahkan langkah kakinya.
"Mana? Di mana acara pernikahannya?" Jabar mengedarkan pandangan ke sekeliling yang sepi. Mulutnya menganga saat melihat isi rumah yang luas dan megah. Sangat jauh dibandingkan rumah miliknya di desa.
"Sebelah sini, Pak!" kata pria yang merupakan penjaga rumah itu.
Jabar mengangguk, sambil menenteng barang bawaannya dia berjalan mengikuti penjaga tersebut, masuk ke sebuah lorong pendek dan menemukan pintu bercat coklat.
Begitu penjaga membukakan pintu, mata Jabar membelalak lebar.
"Ya ampun, Bah. Ini rumah atau istana? Apa putri kita menikah dengan seorang raja?" seru Jamilah, matanya berbinar-binar menatap halaman rumah yang telah dihias oleh meja juga lampu yang kerlap-kerlip.
"Mungkin rumah presiden, Mi," jawab Jabar, sekenanya. Tatapan mengedar, mengamati satu-persatu wajah yang berada di tempat tersebut, hingga tatapan pria itu terhenti pada seorang gadis cantik yang mengenakan kaca mata.
"Umi, itu Zulaikha kita!" seru Jabar sambil menunjuk ke arah Zuzu yang sedang berbincang dengan keluarga suaminya.
Suara teriakan Jabar yang nyaring mengalihkan semua perhatian orang yang berada di sana, termasuk Zuzu.
Gadis itu menoleh ke sumber suara, begitu melihat sosok ayah dan ibunya dia tersenyum lebar. "Umi! Abah!" teriak Zuzu sambil melambaikan tangan.
Jabar berlari kencang diikuti Jamila. Begitupun yang dilakukan Zuzu. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu, karena anak gadisnya itu harus bekerja di kota, demi membantu perekonomian keluarga.
Jabar meletakan barang bawaannya begitu putri semata wayang yang kini mengenakan gaun putih itu berada di depannya. Dia segera memeluk, meluapkan rasa rindu yang sudah terpendam sejak lama.
"Zulaikha, kamu sehat? Anak Abah baik-baik saja, 'kan?" tanya Jabar, dia memang lebih dekat dengan Zuzu dibanding Jamilah, karena istrinya itu paling sering memarahi putri kesayangannya.
"Zulaikha, kenapa kamu ngasih tahunya mendadak kalau mau nikah? Umi dan Abah 'kan jadi tidak bisa siapin apa-apa," keluh Jamilah, kesal.
"Gak perlu, besan. Semuanya sudah ada di sini. Sudah kami persiapkan!" timpal Sandrina, dia berjalan mendekati keluarga kecil yang nampak harmonis tersebut.
"Ini mertua kamu, Zulaikha? Cantik sekali, masih muda lagi." Jamilah menatap penuh kagum wajah Sandrina yang tetap terlihat awet muda.
Sandrina tersenyum tipis. Melihat penampilan juga sikap Zuzu, dia tidak begitu terkejut melihat calon besannya itu.
"Pak besan, Bu besan, silahkan. Kami sudah menunggu sejak tadi," ujar David ikut menyambut kedatangan orangtua dari calon menantunya.
Sementara Sean, pria itu justru termangu setelah mengetahui asal muasal gadis yang dia pungut dipinggir jalan.
"Astaga, wanita macam apa yang akan aku nikahi? Orangtuanya kampungan sekali," dumel Sean. Perasaan menyesal tiba-tiba menyergap, namun dia sudah tidak mungkin menggagalkan pernikahan itu, apalagi kedua orangtuanya sudah menyukai dan cocok dengan Zuzu.
Seorang MC berdiri di tengah-tengah halaman, mulai memandu acara pernikahan tersebut. Satu persatu runtutan acara dilaksanakan, hingga akhirnya Sean dan Zuzu resmi menjadi sepasang suami-isteri.
Di tengah-tengah acara yang sakral itu, Jabar justru tak bisa fokus menyaksikan peristiwa penting putrinya. Dia menggaruk-garuk kepala yang terasa gatal.
"Umi, apa Umi melihat bebek yang tadi Abah bawa? Di mana, ya tadi Abah menyimpannya? Abah lupa!" Dia berusaha bertanya pada Jamilah yang berdiri di sampingnya.
Akan tetapi, Jamilah hanya fokus pada acara yang tengah berlangsung di depan. Dia berusaha menjawab meskipun tidak nyambung, "Zuzu cantik sekali ya, Pak. Meskipun dia dari desa, tapi gak kalah cantik dengan wanita kota."
Jabar bingung, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil menggaruk-garuk kepala. Dia kemudian memutuskan pergi mencari, kembali ke depan pintu di mana dia muncul tadi.
"Tadi, saya keluar dari pintu ini. Terus berlari ke arah Zulaikha," gumamnya sambil melangkahkan kaki dengan perlahan.
Langkahnya terhenti saat melihat dus bekas mie instan yang tergeletak di atas rerumputan. "Nah, dusnya ada di sini. Tapi ke mana dua bebek itu?" Dia menyipitkan mata dan melihat ke sekeliling.
"Mana, ya?" Tubuhnya sedikit membungkuk sambil berjalan menyusuri setiap sudut halaman.
Suara riuh para tamu yang merupakan keluarga besar besannya, sedikit menarik perhatian Jabar. Dia menegakan tubuh sesaat dan ikut memberikan tepuk tangan.
Dia bahkan bersiul dengan keras, sebagai bentuk perasaan bahagianya atas pernikahan putrinya. Setelah suasana hening kembali, pria itu melanjutkan pencariannya. Hingga kerumunan orang yang berdiri di depan pelaminan berteriak dan berhamburan.
"Huahhh, apa itu?!" teriak salah seorang wanita. Dia merasakan ada sesuatu yang berbulu bergerak di antara kakinya.
"Ada apa ini?" Sandrina segera mengalihkan perhatian pada salah seorang anggota keluarganya.
"Itu, Mbak... Tadi ada yang bergerak dan nyentuh-nyentuh kakiku," adu wanita tersebut, sambil bergidik ngeri. Rasa geli itu masih terasa di kulit kakinya.
"Nyentuh-nyentuh kaki?" Kening Sandrina berkerut, bingung.
"Tolong tenang semuanya. Itu mungkin hanya perasaan Mbaknya saja. Halaman ini sangat bersih, tidak mungkin tiba-tiba ada ular yang masuk," ujar MC, bukannya menenangkan, dia justru membuat semua tamu nampak tegang.
Dari kejauhan, Jabar yang sudah bisa menebak yang dimaksud wanita itu, mendekat. Sambil membungkuk, dia memperhatikan sekitar dengan seksama. Begitu bebek yang sejak tadi dia cari terlihat. Pria itu langsung melompat, menangkapnya.
Jabar mengangkat bebek itu tinggi-tinggi sambil berseru dengan keras, "Akhirnya ketemu juga kamu!"
"Abah...," gumam Zuzu, wajahnya nampak pucat, malu oleh tingkah sang ayah.
Bersambung...
Semua tamu yang datang bernafas lega setelah Jabar berhasil menangkap bebek yang meresahkan itu.
"Abah, bebeknya kenapa bisa lepas?" Zuzu mendekati sang ayah, dengan sedikit khawatir juga malu. Dia tak ingin ayahnya dipandang sebelah mata oleh keluarga suaminya.
Tubuh Sean terjatuh di kursi sambil memijat pangkal hidung. "Entah gadis seperti apa yang aku nikahi?" Di sebelahnya, David terkekeh pelan.
"Bapak mertua kamu limited edition, Sean. Anaknya juga pasti gak jauh beda." Entah pujian atau sindiran, namun Sean benar-benar merasa malu saat ini.
"Pa, minta semua orang bubar. Aku ingin istirahat!" ujar Sean, lalu memutuskan pergi meninggalkan acara.
"Maaf, ya, Mama dan Papa mertua," kata Zuzu sambil mendudukkan kepala. "Karena bebek yang Abah bawa, situasinya jadi ricuh seperti ini," ujarnya, penuh penyesalan dan rasa bersalah.
"Betul, besan. Saya minta maaf atas keteledoran saya," timpal Jabar, ikut merasa menyesal.
"Gak papa, Pak. Itu bukan salah Pak Jabar. Ini keteledoran pelayan karena gak bisa jaga barang-barang Bapak. Kalian ini tamu, orangtua dari Zuzu. Seharusnya mereka lebih memperhatikan Anda sekeluarga," kata David, dengan bijaksana.
Sandrina mengangguk singkat, setuju dengan perkataan suaminya. "Mari, Pak. Pasti Pak Jabar dan Bu Jamilah sangat lelah. Saya akan antar kalian ke kamar," ujar Sandrina, penuh perhatian.
"Tapi, acaranya..." Jabar menetap ke sekeliling, dan baru menyadari dia menjadi pusat perhatian. Dia tersenyum lebar, merasa salah tingkah.
"Ya sudah, Bu. Saya ikut saja," katanya, sambil meraih tangan sang istri.
"Zuzu, kamu antar mereka masuk ke dalam, ya. Minta pelayan antar ke kamar yang sudah disiapkan. Sisanya di sini, biar Mama yang urus," bisik Sandrina dengan lembut, sambil mengusap punggung Zuzu.
Zuzu mengangguk, akhirnya bisa tersenyum lega, atas kebaikan ibu mertuanya. Ia kemudian pergi mengajak orangtuanya masuk ke dalam rumah.
"Zulaikha, bebeknya satu lagi belum ketemu," kata Jabar, dia mengambil kiso yang tergeletak juga dus bawaannya.
"Duh, Bah. Besok aja kita cari lagi. Sekarang udah malam. Banyak tamu juga, malu," sahut Zuzu, berbisik.
Jamilah ikut menimpali, "Betul. Besok, Umi juga akan bantu cari."
Pada akhirnya, Jabar terpaksa mengikuti permintaan putrinya. Mereka kini berada di rumah keluarga. Seorang kepala pelayan muncul dan mengambil alih bebek juga dus yang dibawa kabar.
"Biar saya simpan, Pak," ujar pelayan itu.
"Hati-hati. Itu isinya ada rengginang dan opak, nanti pecah!" seru Jamilah, terlihat cemas.
"Baik, Bu. Akan kami simpan dengan baik." Kepala pelayan itu menyerahkan kedua benda itu ke pelayan lain, lalu memandang Jabar dan Jamilah dengan senyuman lebar.
"Mari, Pak, Bu. Akan saya antar ke kamar," ujarnya, langsung memberikan jalan.
"Jangan panggil Bapak dan Ibu. Kami tidak biasa. Panggil Abah dan Umi saja seperti Zulaikha panggil kami," kata Jabar, telinganya merasa aneh dengan panggilan itu.
Kepala pelayan mengangguk dengan penuh kesabaran. "Mari, Abah, Umi," katanya lagi.
Jabar mengangguk, sebelum pergi dia menolehkan wajah ke arah Zulaikha. "Abah dan Umi mau istirahat dulu. Kami harus mengumpulkan tenaga untuk cari bebek kita yang hilang itu. Rumah ini luas, pasti perlu banyak waktu untuk mencarinya," tutur Jabar.
Zuzu mengangguk dan tersenyum kecil. Lalu tatapannya beralih pada kepala pelayan.
"Bibi, tolong kasih Abah dan Umi makan, ya. Mereka gak sempat makan tadi," pinta Zuzu, memelas.
Kepala pelayan itu kembali tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Akan saya siapkan, Nona," jawabnya.
"Kamu hati-hati ya, Zuzu. Bilang sama suami kamu, jangan keras-keras mainnya. Pelan-pelan saja, biar tidak sakit!" pesan Jabar, sambil berjalan menjauhi putrinya.
Zuzu membenarkan letak kacamata, otaknya berusaha memproses ucapan sang ayah. "Maksudnya Abah apa, ya?"
"Mari, Nona. Saya juga akan mengantar Anda ke kamar Tuan Muda Sean," kata salah seorang pelayan.
Zuzu mengangguk dan mulai melangkahkan kaki menuju anak tangga. "Nama kamu siapa? Sepertinya masih muda," tanya Zuzu, dia mendongak, karena tubuh pelayan itu lebih tinggi darinya.
"Saya Maya, Nona. Kebetulan kepala pelayan tadi ibu saya," jawab Maya sambil tersenyum kikuk.
Zuzu manggut-manggut. Dia merasa kerdil sendiri di rumah itu. Apalagi Sean, tubuhnya hanya sebatas perut pria itu.
"Ini kamar Tuan Muda Sean, Nona. Silahkan masuk," ucap Maya, begitu tiba di depan sebuah pintu yang bercat hitam.
Zuzu terdiam menatap pintu di depannya. Jantung berdebar kencang. Hatinya tiba-tiba gelisah.
"Kalau begitu saya izin kembali," kata Maya. Dia sudah bersiap pergi, sebelum Zuzu memegang tangannya.
Maya kembali berbalik. "Ya, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
Zuzu berjinjit, lalu membisikkan sesuatu, "Maya, saya bingung. Nanti di dalam kamar, apa yang harus saya lakukan? Ini pertama kalinya saya bersama pria di dalam kamar."
Maya terlihat menahan senyum. Nyonya mudanya ini memang agak sedikit lain dari wanita pada umumnya.
"Nona tidak perlu bingung. Nanti Tuan muda Sean pasti akan membantu," sahut Maya sekenanya.
"Oh, begitu ya. Baiklah kalau begitu." Zuzu manggut-manggut, meskipun dia tidak mengerti maksud dari jawaban Maya.
Maya kembali pamit dan segera pergi meninggalkan Zuzu yang termenung di depan pintu.
Tiba-tiba sebuah tangan mengusap punggung wanita itu. Zuzu terkejut dan spontan menoleh.
"Ma-ma..." Zuzu melihat Sandrina berdiri di sampingnya sambil tersenyum lembut.
"Kenapa gak masuk?" tanya Sandrina.
Zuzu menggeleng lalu menundukkan kepala. "Aku gak tahu mau apa di dalam, Ma. Ini pertama kalinya aku sekamar dengan laki-laki."
"Tapi Sean itu suami kamu loh, Zu!" ucap Sandrina lembut, namun penuh penegasan.
"Tapi, aku takut, Ma. Temanku yang sudah menikah, setelah tinggal sekamar dengan suaminya... perut dia tiba-tiba jadi kembung," kata Zuzu, ekspresinya nampak polos saat memperagakan kedua tangan membentuk bulatan di depan perut.
Sandrina terkikik kecil. "Kamu ini beneran gak tahu atau pura-pura gak tahu sih? Usia kamu udah 24, 'kan? Masa hal kayak gini aja harus dikasih tahu."
Zuzu mengerjapkan mata. "Memangnya kalau usiaku udah 24 tahun, aku harus tahu apa, Ma?" tanya Zuzu, lagi-lagi ekspresi wajahnya berhasil membuat Sandrina tergelak.
"Kamu masuk aja lah. Nanti Sean yang akan kasih tahu." Sandrina yang sudah kelimpungan menghadapi menantu lugunya, memutuskan untuk membukakan pintu kamar.
"Sean, ini Zuzu diajak masuk dong!" seru Sandrina.
Terdengar deheman dari dalam kamar, sebagai tanggapan dari Sean.
"Ayo, masuk," titah Sandrina sambil meriah tangan Zuzu.
"Kamu tanyakan aja apa yang ingin kamu tahu pada Sean. Dia pasti bisa kasih materi sekaligus prakteknya. Mama mau ke kamar orangtua kamu. Kami belum ngobrol banyak tadi." Sandrina mendorong masuk tubuh Zuzu lalu menutup pintu.
"Beres!" kata Sandrina sambil menepuk-nepuk telapak tangan. "Sekarang, aku hanya tinggal menunggu Sean junior hadir." Ia tertawa kecil sambil berjalan meninggalkan kamar putranya.
Di dalam kamar, Zuzu berdiri dengan gugup. Kebingungan terpancar jelas dalam sorot matanya.
"Tuan," panggil Zuzu pelan, hampir tak terdengar. Namun, suasana kamar yang sunyi membuat panggilan itu sampai ke telinga Sean yang duduk santai di sebuah sofa panjang.
"Mendekatlah!" titah Sean. Suaranya yang berat berhasil menciptakan suasana horor, membuat bulu kuduk Zuzu meremang.
Zuzu membetulkan kaca matanya, sembari menelan saliva, berusaha mengusir kegugupan. Dia berjalan dengan perlahan menghampiri sosok suaminya.
Rambut sedikit panjang yang diikat di belakang menjadi ciri khas Sean. Pesonanya tak terbantahkan. Dia nampak seperti CEO yang pernah dia lihat di televisi.
Zuzu kini berdiri di pinggir sofa. Dia melihat suaminya itu tengah memegang gelas yang berisi cairan berwarna merah. Matanya membelalak kaget.
'Apa Tuan Sean vampir? Dia meminum darah?' pikirnya, dalam kegugupan semua orang bisa saja kehilangan akal sehatnya, termasuk Zuzu.
"Tu-tuan, a-apa yang Anda..." Belum sempat Zuzu menyelesaikan perkataannya, tangannya dengan sigap diraih dan ditarik oleh Sean.
Tubuh Zuzu terjatuh tepat di atas pangkuan suaminya. Napas hangat yang menyapu wajahnya dengan aroma khas alkohol, membuat Zuzu hampir muntah.
Zuzu hendak memberontak, namun Sean tak memberikan dia kesempatan. Pria itu justru semakin erat mendekap tubuhnya.
"Kenapa kamu lama sekali, hah?!"
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!