"Cepat, singkirkan semua poster itu!" seru Sandrina, sambil menunjuk satu per satu poster bergambar wanita yang berpose dengan berbagai gaya, memenuhi setiap sudut dinding kamar putranya.
"Sudah saya perintahkan sejak kemarin. Kenapa kalian tidak juga melakukannya?!" lanjutnya, berteriak penuh kemarahan.
Sandrina mengerahkan semua pelayan, berjumlah lima orang, untuk membersihkan kamar putranya dari hama yang bisa merusak keutuhan rumah tangga baru seumur jagung itu.
"Maaf, Nyonya. Tapi tidak ada yang berani memasuki kamar jika Tuan Muda ada di dalam," jawab kepala pelayan, sembari membungkukkan badan di samping Sandrina.
Sandrina mendengus kesal, lalu menoleh pada Zuzu yang berdiri dengan murung di sampingnya.
"Kamu tenang aja. Semua poster itu akan Mama singkirkan dari kamar ini," ucap Sandrina lembut, sambil mengulas senyuman tipis.
Wanita itu kembali memandang ke arah dinding yang mulai bersih, lalu melanjutkan dengan sorot mata yang tegas, "Memang sudah lama Mama ingin sekali menyingkirkan semua itu. Sangat mengganggu!"
Zuzu menaikan pandangan, dan memegang tangan mertuanya dengan lembut. "Tapi, Ma... Mungkin Tuan Sean akan..."
"Jangan panggil suamimu dengan embel-embel seperti itu, Zuzu. Panggil saja namanya!" sela Sandrina, suaranya terdengar lembut namun penuh penegasan.
Zuzu mengangguk, dan kembali berkata, "Sean... dia pasti akan marah padaku, Ma."
"Kamu tenang saja," ucap Sandrina sambil menepuk-nepuk punggung tangan Zuzu. "Berani dia marahi kamu, berarti dia siap menghadapi kemarahan Mama!" Sorot mata dan nada suaranya terdengar meyakinkan.
Setelah dinding bersih dari poster-poster yang memancing birahi itu. Sandrina dan Zuzu saling bergandengan tangan, berjalan keluar dari kamar menuju halaman belakang.
"Ayo, bakar semuanya!" titah Sandrina, kali ini dia memastikan sendiri perintahnya dilaksanakan dengan baik.
Para pelayan sibuk menyalakan api di atas tempat pembakaran sampah berukuran kecil. Satu per satu poster itu dimasukan, dan perlahan berubah menjadi abu hitam.
Saat semua orang sedang sibuk, tanpa disadari seekor bebek berjalan dengan ciri khasnya menghampiri.
Mata Zuzu memicing, di antara kaki para pelayan dia menemukan bebek ayahnya yang hilang tadi malam, tiba-tiba wanita itu berteriak, "Abah, bebeknya udah ketemu!" Dia menunjuk ke arah kaki pelayan-pelayan itu, dan berlari dengan secepat kilat, berusaha menangkap hewan tersebut.
Kericuhan terjadi. Sandrina ikut berteriak, "Kalian kenapa diam saja?! Bantu Zuzu tangkap bebek itu!"
Keramaian yang tak terdeteksi itu menarik perhatian semua orang yang berada di ruang makan. David, Jabar dan Jamilah, segera bangkit dan berlari menuju halaman belakang. Sementara Sean, pria itu menghela napas lelah dan terpaksa mengikuti.
Melihat bebek yang dia bawa menjadi bulan-bulanan putrinya juga para pelayan, Jabar segera berlari dan berusaha menangkap bebek itu. Dengan keahliannya, tak membutuhkan waktu lama, unggas tersebut berhasil ditangkap.
Para pelayan segera membubarkan diri, sedangkan Zuzu berjalan dengan napas terengah-engah menghampiri semua orang yang menonton di teras rumah.
"Zulaikha, kamu tidak papa?" tanya Jamilah, sambil mengusap keringat di wajah putrinya dengan tangan.
Zuzu menggeleng pelan. "Enggak, Umi. Aku hanya capek..." Tubuh wanita itu rubuh dan terjatuh di lantai yang dingin. Ia menghela napas lega, dinginnya keramik sedikit mengobati kegerahannya.
"Abah, bebeknya dibakar aja!" Jamilah berseru pada suaminya. "Masa rumah sebesar dan semewah ini melihara bebek? Mending kalau bebeknya banyak. Abah 'kan cuma bawa dua ekor aja."
Jabar menghela napas berat. "Padahal Abah bawa bebek sepasang untuk dipelihara. Nanti 'kan bisa bertambah banyak, kalau bertelur," jawab Jabar. Ekspresi wajahnya nampak keberatan dengan permintaan Jamilah.
"Mereka tidak butuh itu, Bah. Dibakar saja. Mumpung bebeknya masih muda, rasanya juga pasti lebih nikmat. Dagingnya jelas-jelas pulen," bujuk Jamilah sambil mengacung-acungkan ibu jari ke depan wajah suaminya.
"Begitu lebih baik, Bah!" sela David, nampak antusias sambil merangkul pundak Jabar. Dia tidak mungkin mengorbankan rumahnya untuk dikotori oleh dua ekor bebek itu.
"Hari ini, saya berniat mengajak Abah mancing. Nah, itu bebek bisa kita masak dan dijadikan lauk makan nanti di sana," usul David. Dengan perbedaan kasta di antara mereka, dia mudah saja menyesuaikan diri.
Jabar terdiam sejenak, lalu manggut-manggut setuju. "Ya sudah. Ini bebeknya dimasak saja. Nanti, kalau Zulaikha mau bebek, Abah bisa antar lagi ke sini." Dia menyerahkan bebek itu pada istrinya dan segera dibawa pergi ke dapur.
"Oh, jadi Abah punya banyak bebek?" tanya David, nampak tertarik. Kedua pria itu berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah.
"Saya peternak di kampung, Pak besan. Ternak domba, ayam dan bebek. Terus juga ngurus sawah," jawab Jabar apa adanya.
David nampak terkejut. "Abah orang kaya di kampung?" tanya David lagi.
Jabar menggeleng pelan. "Kalau disebut kaya, masih jauh. Rumah kami saja masih panggung."
"Saya juga pengangguran," tambah Jabar, ekspresinya polos.
David garuk-garuk kepala sambil tersenyum tipis. Dia keheranan, namun juga penasaran dengan sosok besannya itu.
"Ya sudah. Kita lanjut ngobrol nanti di jalan. Sekarang, siap-siap dulu!" ujar David, mungkin dia akan bertanya lagi secara perlahan nanti.
Sandrina dan Zuzu masih berada di luar rumah. Tatapan mereka tertuju pada Sean yang menatap tempat pembakaran sampah dengan sendu.
"Kamu sudah punya istri, Sean. Gak ada alasan buat nyimpan semua itu di dalam kamar," kata Sandrina dengan sinis.
Sean berdecak kesal, lalu berdiri tegak sambil berkacak pinggang. "Aku tahu, Ma. Tapi kenapa harus dibakar? Kenapa gak disimpan saja?"
"Untuk apa?!" tanya Sandrina, melotot.
"Ya sebagai kenang-kenangan, juga bukti yang bisa aku perlihatkan pada anakku nanti, kalau mereka punya ayah seorang cassanova yang diidolakan banyak wanita," papar Sean dengan penuh percaya diri.
"Bukannya mereka nanti akan malu, ya?" celetuk Zuzu, nada suaranya pelan, ragu.
Mata Sean membelalak lebar, sedangkan Sandrina, justru menahan tawa dengan ucapan menantunya.
"Mama setuju sama kamu, Zu. Siapa yang akan bangga dengan julukan cassanova itu? Terlebih kalau anaknya nanti perempuan. Itu sangat memalukan," ujar Sandrina, sambil berbisik, namun masuk bisa didengar oleh putranya.
Sean mendelik, tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi, dia bergegas pergi meninggalkan kedua wanita itu. Langkahnya tegas menuju pintu utama.
Sandrina tertawa kecil, begitu juga Zuzu. Mereka menertawakan kekesalan Sean yang terlihat lucu.
"Ma, apa aku perlu melakukan sesuatu, untuk meminta maaf pada Sean? Sebenarnya, aku juga merasa kasihan melihat ekspresi dia tadi." Zuzu mencoba meminta pendapat dari ibu mertuanya.
"Meminta maaf?" Sebelah alis Sandrina terangkat, heran. "Kamu gak salah kok, kenapa harus minta maaf?"
Zuzu melipat bibir ke dalam sambil membetulkan kaca matanya. "Biar Sean gak marah lagi padaku, Ma. Aku ingin membujuk dia," ungkap Zuzu.
Sandrina manggut-manggut mengerti. "Terus, kamu ada rencana apa?" tanyanya, sambil melipat tangan di depan dada, memperhatikan ekspresi wajah Zuzu dengan intens.
Zuzu mengetuk-ngetuk dagu sesaat, berpikir. "Apa aku buatkan masakan kesukaan Sean saja?"
Sandrina menggeleng, tak setuju. "Sean gak akan luluh karena makanan, Zuzu. Harus ada rencana lain." Mata wanita itu tiba-tiba memicing, memperhatikan tubuh menantunya dari atas hingga bawah.
"Mama tau apa yang akan disukai Sean dan membuat dia luluh!" Seulas senyuman penuh arti terbit di wajah glowing Sandrina.
Alis Zuzu bertaut. "Mama punya rencana? Apa?" tanyanya, penuh keingintahuan.
Sandrina membungkukkan badan dan membisikkan sesuatu di telinga menantunya. Mendengar itu, mata Zuzu membelalak lebar.
Dia menatap wajah mertuanya dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Sandrina tersenyum lebar, dalam benaknya tengah merangkai sebuah rencana.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments