Hari sudah mulai gelap. Seorang pria yang mengenakan baju batik berwarna coklat pudar, turun dari sebuah mobil yang terparkir di depan rumah bercat putih. Di belakangnya, seorang wanita mengenakan kebaya tradisional ikut turun. Wajah keduanya terlihat sumringah.
"Umi, bener ini rumah calon mantu kita? Calon suami anak kita ternyata orang kaya beneran!" gumam pria tersebut, bernama Jabar. Dia menatap bangunan megah yang diterangi lampu dengan mata berbinar, sambil berdecak kagum. Senyuman lebar tak henti-henti menghiasai wajah tuanya.
"Bener, Bah. Menantu kita orang kaya raya!" jawab Jamilah. Ia sampai meneteskan air mata haru, tak menyangka putri semata wayangnya itu sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari pria kaya.
"Abah benar-benar tidak percaya, Mi. Ternyata Zulaikha yang sering di buli warga kampung karena bodoh itu berhasil mengangkat harkat martabat keluarga kita. Abah sampai ingin menangis saat ini," ungkap Jabar sambil menggosok-gosok kedua mata yang berair.
Dari pintu utama, beberapa orang pria berseragam hitam muncul. Salah satu dari mereka mendekati Jabar dan Jamila.
"Bu Jamilah dan Pak Jabar," sapanya, sedikit membungkukkan badan.
"Betul, Pak. Kami ini orangtua Zulaikha, calon mantu keluarga kaya ini," jawab Jabar, dia berdiri tegak, dada membusung ke depan, berusaha menunjukkan wibawanya.
"Silahkan, Pak. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di tempat acara," ucap pria berseragam hitam itu, lalu menggeser tubuh, memberi jalan.
Jabar mengangguk. Sebelum melangkahkan kaki, pria itu mengambil beberapa barang yang berada di dalam mobil. Di tangan kiri, pria itu memegang sebuah dus yang diikat oleh tali rafia. Sedangkan di tangan yang lain, dia menenteng sebuah kiso yang terbuat dari anyaman bambu. Namun, bukan berisi ayam, melainkan dua ekor bebek.
"Zulaikha, Abah dan Umi datang!" seru Jabar sambil berlari menaiki anak tangga menuju pintu masuk.
"Tunggu, Bah!" seru Jamilah, dia mengangkat sedikit rok batik, untuk memudahkan langkah kakinya.
"Mana? Di mana acara pernikahannya?" Jabar mengedarkan pandangan ke sekeliling yang sepi. Mulutnya menganga saat melihat isi rumah yang luas dan megah. Sangat jauh dibandingkan rumah miliknya di desa.
"Sebelah sini, Pak!" kata pria yang merupakan penjaga rumah itu.
Jabar mengangguk, sambil menenteng barang bawaannya dia berjalan mengikuti penjaga tersebut, masuk ke sebuah lorong pendek dan menemukan pintu bercat coklat.
Begitu penjaga membukakan pintu, mata Jabar membelalak lebar.
"Ya ampun, Bah. Ini rumah atau istana? Apa putri kita menikah dengan seorang raja?" seru Jamilah, matanya berbinar-binar menatap halaman rumah yang telah dihias oleh meja juga lampu yang kerlap-kerlip.
"Mungkin rumah presiden, Mi," jawab Jabar, sekenanya. Tatapan mengedar, mengamati satu-persatu wajah yang berada di tempat tersebut, hingga tatapan pria itu terhenti pada seorang gadis cantik yang mengenakan kaca mata.
"Umi, itu Zulaikha kita!" seru Jabar sambil menunjuk ke arah Zuzu yang sedang berbincang dengan keluarga suaminya.
Suara teriakan Jabar yang nyaring mengalihkan semua perhatian orang yang berada di sana, termasuk Zuzu.
Gadis itu menoleh ke sumber suara, begitu melihat sosok ayah dan ibunya dia tersenyum lebar. "Umi! Abah!" teriak Zuzu sambil melambaikan tangan.
Jabar berlari kencang diikuti Jamila. Begitupun yang dilakukan Zuzu. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu, karena anak gadisnya itu harus bekerja di kota, demi membantu perekonomian keluarga.
Jabar meletakan barang bawaannya begitu putri semata wayang yang kini mengenakan gaun putih itu berada di depannya. Dia segera memeluk, meluapkan rasa rindu yang sudah terpendam sejak lama.
"Zulaikha, kamu sehat? Anak Abah baik-baik saja, 'kan?" tanya Jabar, dia memang lebih dekat dengan Zuzu dibanding Jamilah, karena istrinya itu paling sering memarahi putri kesayangannya.
"Zulaikha, kenapa kamu ngasih tahunya mendadak kalau mau nikah? Umi dan Abah 'kan jadi tidak bisa siapin apa-apa," keluh Jamilah, kesal.
"Gak perlu, besan. Semuanya sudah ada di sini. Sudah kami persiapkan!" timpal Sandrina, dia berjalan mendekati keluarga kecil yang nampak harmonis tersebut.
"Ini mertua kamu, Zulaikha? Cantik sekali, masih muda lagi." Jamilah menatap penuh kagum wajah Sandrina yang tetap terlihat awet muda.
Sandrina tersenyum tipis. Melihat penampilan juga sikap Zuzu, dia tidak begitu terkejut melihat calon besannya itu.
"Pak besan, Bu besan, silahkan. Kami sudah menunggu sejak tadi," ujar David ikut menyambut kedatangan orangtua dari calon menantunya.
Sementara Sean, pria itu justru termangu setelah mengetahui asal muasal gadis yang dia pungut dipinggir jalan.
"Astaga, wanita macam apa yang akan aku nikahi? Orangtuanya kampungan sekali," dumel Sean. Perasaan menyesal tiba-tiba menyergap, namun dia sudah tidak mungkin menggagalkan pernikahan itu, apalagi kedua orangtuanya sudah menyukai dan cocok dengan Zuzu.
Seorang MC berdiri di tengah-tengah halaman, mulai memandu acara pernikahan tersebut. Satu persatu runtutan acara dilaksanakan, hingga akhirnya Sean dan Zuzu resmi menjadi sepasang suami-isteri.
Di tengah-tengah acara yang sakral itu, Jabar justru tak bisa fokus menyaksikan peristiwa penting putrinya. Dia menggaruk-garuk kepala yang terasa gatal.
"Umi, apa Umi melihat bebek yang tadi Abah bawa? Di mana, ya tadi Abah menyimpannya? Abah lupa!" Dia berusaha bertanya pada Jamilah yang berdiri di sampingnya.
Akan tetapi, Jamilah hanya fokus pada acara yang tengah berlangsung di depan. Dia berusaha menjawab meskipun tidak nyambung, "Zuzu cantik sekali ya, Pak. Meskipun dia dari desa, tapi gak kalah cantik dengan wanita kota."
Jabar bingung, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil menggaruk-garuk kepala. Dia kemudian memutuskan pergi mencari, kembali ke depan pintu di mana dia muncul tadi.
"Tadi, saya keluar dari pintu ini. Terus berlari ke arah Zulaikha," gumamnya sambil melangkahkan kaki dengan perlahan.
Langkahnya terhenti saat melihat dus bekas mie instan yang tergeletak di atas rerumputan. "Nah, dusnya ada di sini. Tapi ke mana dua bebek itu?" Dia menyipitkan mata dan melihat ke sekeliling.
"Mana, ya?" Tubuhnya sedikit membungkuk sambil berjalan menyusuri setiap sudut halaman.
Suara riuh para tamu yang merupakan keluarga besar besannya, sedikit menarik perhatian Jabar. Dia menegakan tubuh sesaat dan ikut memberikan tepuk tangan.
Dia bahkan bersiul dengan keras, sebagai bentuk perasaan bahagianya atas pernikahan putrinya. Setelah suasana hening kembali, pria itu melanjutkan pencariannya. Hingga kerumunan orang yang berdiri di depan pelaminan berteriak dan berhamburan.
"Huahhh, apa itu?!" teriak salah seorang wanita. Dia merasakan ada sesuatu yang berbulu bergerak di antara kakinya.
"Ada apa ini?" Sandrina segera mengalihkan perhatian pada salah seorang anggota keluarganya.
"Itu, Mbak... Tadi ada yang bergerak dan nyentuh-nyentuh kakiku," adu wanita tersebut, sambil bergidik ngeri. Rasa geli itu masih terasa di kulit kakinya.
"Nyentuh-nyentuh kaki?" Kening Sandrina berkerut, bingung.
"Tolong tenang semuanya. Itu mungkin hanya perasaan Mbaknya saja. Halaman ini sangat bersih, tidak mungkin tiba-tiba ada ular yang masuk," ujar MC, bukannya menenangkan, dia justru membuat semua tamu nampak tegang.
Dari kejauhan, Jabar yang sudah bisa menebak yang dimaksud wanita itu, mendekat. Sambil membungkuk, dia memperhatikan sekitar dengan seksama. Begitu bebek yang sejak tadi dia cari terlihat. Pria itu langsung melompat, menangkapnya.
Jabar mengangkat bebek itu tinggi-tinggi sambil berseru dengan keras, "Akhirnya ketemu juga kamu!"
"Abah...," gumam Zuzu, wajahnya nampak pucat, malu oleh tingkah sang ayah.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments