Malam Pertama

Zuzu menahan napas saat mencium napas Sean. Dia buru-buru menutup hidung dengan tangan. "Lepas, Tuan!" pintanya, sambil menggoyangkan tubuh.

Sean tersenyum menyeringai. "Lepas? Kamu ingin aku lepaskan? Kenapa? Bukankah kita ini sudah menikah?" Jari telunjuknya menyentuh pelipis Zuzu, bergerak turun dengan perlahan dan berhenti tepat di dagu wanita itu.

Sean sedikit mengangkat dagu istrinya, namun Zuzu yang panik justru bersin dengan keras. Cipratan salivanya mengenai wajah pria itu.

"Argh, sial! Apa ini?" Sean mengusap wajahnya yang basah, dan kesempatan itu berhasil dimanfaatkan oleh Zuzu untuk melarikan diri dari dekapan suaminya.

"Zuzu, mau ke mana kamu?!" Sean menggosok-gosok mata, pandangannya sedikit kabur. Sosok Zuzu terlihat ada tiga.

"Nanti dulu, Tuan. Jangan mendekat!" seru Zuzu panik, sambil mengulurkan kedua telapak tangan ke arah Sean, meminta pria itu berhenti.

Sean berjalan dengan gontai ke arah Zuzu yang terus bergerak mundur. Suaranya terberat saat berkata, "Ini malam pertama kita. Aku gak terima penolakan, Zu. Kecuali..." Pria itu tiba-tiba tertawa keras.

"Kecuali jika kamu ingin melihat aku bermain dengan wanita lain di sini," lanjutnya diikuti suara cegukan. Tubuh Sean limbung dan ambruk di lantai. Kesadaran mulai menipis.

Zuzu, dengan ragu mendekat. Perlahan dia berjongkok untuk memastikan kondisi suaminya yang tak bergerak.

"Apa dia pingsan?" gumamnya sambil membetulkan kaca mata. Dia kemudian mengulurkan tangan yang sedikit gemetar, hendak menyentuh pipi Sean.

Akan tetapi, tanpa diduga mata Sean terbuka lebar, dan dengan sigap menggenggam pergelangan tangan Zuzu. Ditarik mendekat, hingga bibir keduanya saling bertemu dan merasakan.

Dalam sepersekian detik, waktu seakan berhenti berputar. Zuzu membelalakkan mata, terkejut dengan sentuhan tak terduga itu. Sementara Sean, mata pria itu nampak terpejam, menikmati.

Zuzu segera tersadar dan mendorong dada suaminya hingga kembali terbaring di lantai. Ia hendak bangkit, namun tangannya masih dalam genggaman Sean.

"Mau ke mana kamu? Ayo, cepat layani aku!" Sean berdiri dengan sedikit sempoyongan, dia kemudian menghempaskan tubuh Zuzu ke atas ranjang.

Merangkak naik ke atas ranjang, mendekat seperti seekor singa yang lapar. Sean, menatap istrinya dengan tatapan buas.

"Tuan, jangan seperti itu. Aku takut!" rengek Zuzu, mencengkram gaun yang dikenakannya di depan dada.

Sean bergerak dengan cepat, tangannya begitu cekatan saat membuka gaun yang membungkus tubuh istrinya.

"Tuan, apa yang ingin kamu lakukan?" Zuzu berusaha mempertahankan pakaian dalam yang masih melekat. Dia berusaha melawan, menepis setiap kali tangan pria itu hendak menyentuhnya.

Sean geram karena Zuzu terus memberikan penolakan. Akhirnya, dengan terpaksa dia menarik kaki wanita itu hingga terbaring di bawahnya. "Diam dan menurut!" bentak Sean, seketika Zuzu terdiam, tubuh wanita itu menegang, ketakutan.

Napas Sean memburu, dikuasai nafsu. Namun, kali ini pekerjaannya lebih mudah karena istrinya itu nampak pasrah di bawah sana. Malam pertama mereka pun berlangsung dengan lancar, meski beberapa kali suara rintihan Zuzu menggema di dalam kamar.

---

Keesokan pagi, Zuzu terbangun setelah merasakan hangatnya sinar matahari yang mengenai wajahnya. Dia bergumam pelan, dan membuka mata perlahan. Matanya sedikit menyipit, sinar itu teras menusuk ke retina matanya.

Zuzu mengubah posisi tidurnya. Dia berbalik, dan terkejut melihat keberadaan Sean di sampingnya. Sejenak wanita itu terdiam, berusaha mengingat kejadian tadi malam. Tangannya tiba-tiba bergerak ke dalam selimut dan menyentuh sesuatu yang masih terasa perih.

"Rasanya sangat sakit? Apa setelah ini perutku akan kembung? Apa aku perlu ke dokter dan meminta obat?" gumam Zuzu, sembari mengigit bibir bawah. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca, ketakutan.

Dipandanginya wajah damai Sean sesaat, dan tanpa terasa air mata menetes. Zuzu memalingkan wajah, menatap ke langit-langit kamar. "Dia sudah merenggut kesucianku secara paksa? Aku juga bodoh! Kenapa aku mau menikah dengan pria itu?"

Zuzu mendudukkan tubuh, dia menoleh kanan-kiri mencari sesuatu. "Mana kaca mataku, ya? Kalau gak salah tadi malam aku simpan..." Dia terdiam sejenak, mengingat-ingat. Wanita itu mencari di bawah bantal, namun tak berhasil dia temukan keberadaan kaca mata itu.

Tatapannya kemudian tertuju pada lemari kecil yang berada di samping Sean. Sebelah tangan memegang selimut untuk menutupi dua asetnya, sementara tangan yang lain berusaha meraih benda itu, tanpa berniat mengganggu tidur nyenyak suaminya.

Zuzu bernapas lega setelah berhasil mengambil kaca mata itu dan segera mengenakannya. Setelah terpasang, mata wanita itu membelalak lebar, begitu melihat ke sekeliling kamar yang dipenuhi gambar-gambar wanita yang berpose tak senonoh.

"Astaga, apa ini?!" pekik Zuzu sambil menutup mulut. Suaranya berhasil membangunkan Sean.

Pria itu langsung bangkit, mendudukkan tubuhnya. "Apa sih? Pagi-pagi sudah teriak-teriak?" tanya Sean, suaranya sedikit meninggi, kesal.

Zuzu, dengan jari yang bergetar menunjuk ke salah satu poster yang tertempel di dinding. "Me-mereka ini siapa, Tuan?" tanyanya, tubuh gemetar, antara khawatir juga penasaran.

Sean tersenyum bangga. "Mereka-mereka ini teman kencanku. Aku memang sengaja memasang poster mereka di kamar ini, supaya aku gak lupa," jawabnya, santai.

Zuzu melongo mendengar jawaban suaminya. Timbul sedikit rasa tak percaya diri. Di bandingkan posternya saja, dia merasa bukan apa-apa. Namun, bukankah dia sekarang istri dari seorang Sean? Apakah pantas pria itu menyimpan wanita lain di kamarnya?

Zuzu terdiam sejenak, menunduk. Menyesal sudah tak lagi berguna. Dia beranjak dari tempat tidur, menyeret tubuh yang terbungkus selimut menuju kamar mandi di sudut kamar.

Sean tersenyum puas seraya memandangi punggung polos pemilik tubuh mungil itu. Dia kembali berbaring di atas ranjang, sebuah bokser menutup area intimnya.

Ingatan tadi malam melintas. Kelembutan, kenikmatan bahkan jeritan-jeritan kecil Zuzu, membuat dia ingin kembali mengulangnya. Sean berdecak, tak sadar mengagumi istri lugunya.

 

Zuzu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang, dan rambut basahnya masih meneteskan air. Di atas ranjang, keberadaan Sean sudah tak terlihat. Namun, dia melihat ada beberapa pasang baju wanita tergeletak di sana.

"Ke mana dia? Siapa yang menyiapkan semua ini?" Saat mengambil salah satu pakaian tersebut, dia menemukan secarik kertas.

"Zuzu, Mama udah siapin baju untuk kamu. Pakai yang kamu suka, terus turun. Kita akan sarapan sama-sama."

Zuzu tersenyum tipis, mengetahui baju-baju itu ternyata dari ibu mertuanya. "Mama Sandrina begitu baik dan perhatian. Semoga saja anaknya juga begitu," cicitnya.

Wajah wanita itu tiba-tiba murung. Poster yang terpasang di dinding, seakan terus mengawasi, dan membuat takut. Ia mengenakan pakaian cepat, menyisir rambut asal-asalan dan bergegas pergi, meninggalkan kamar.

Pangkal paha yang terasa berdenyut nyeri, membuat dia berjalan sedikit mengangkang. Bahkan berkali-kali Zuzu menyentuh celana dalam yang terasa tak nyaman.

Di ruang makan, Zuzu melihat kedua orangtuanya sudah duduk mengelilingi meja yang berbentuk bundar. Wanita itu berjalan dengan sedikit cepat mendekati keduanya.

"Zuzu, kamu sudah bangun?" tanya Jabar, sambil tersenyum lebar.

Zuzu mengangguk, sebagai jawaban. Di belakangnya, sosok Sean muncul dengan stelan jas kerja yang rapi. Pria itu langsung menarik kursi dan duduk.

"Zuzu, ayo duduk!" Sandrina muncul dari dapur dengan sekeranjang kecil buah-buahan. Senyuman lembut tersemat di wajah cantiknya yang awet muda.

Zuzu menunduk, ekspresinya murung.

Menyadari hal tersebut, Sandrina mendekat. "Ada apa? Kamu ini pengantin baru, kenapa malah sedih begini? Apa Sean menyakiti kamu?" tanyanya, penuh perhatian.

Mendengar namanya disebut, Sean langsung menegakkan tubuh. Dia menatap wajah istrinya.

Zuzu tiba-tiba terisak. Dia melepas kaca matanya sesaat, lalu menatap wajah ibu mertuanya dengan tatapan sendu.

"Ma, aku menantumu. Aku juga telah resmi menjadi istri putramu. Tapi kenapa, dia masih memasang poster teman wanitanya di kamar?"

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!