Sah!

Semua tamu yang datang bernafas lega setelah Jabar berhasil menangkap bebek yang meresahkan itu.

"Abah, bebeknya kenapa bisa lepas?" Zuzu mendekati sang ayah, dengan sedikit khawatir juga malu. Dia tak ingin ayahnya dipandang sebelah mata oleh keluarga suaminya.

Tubuh Sean terjatuh di kursi sambil memijat pangkal hidung. "Entah gadis seperti apa yang aku nikahi?" Di sebelahnya, David terkekeh pelan.

"Bapak mertua kamu limited edition, Sean. Anaknya juga pasti gak jauh beda." Entah pujian atau sindiran, namun Sean benar-benar merasa malu saat ini.

"Pa, minta semua orang bubar. Aku ingin istirahat!" ujar Sean, lalu memutuskan pergi meninggalkan acara.

"Maaf, ya, Mama dan Papa mertua," kata Zuzu sambil mendudukkan kepala. "Karena bebek yang Abah bawa, situasinya jadi ricuh seperti ini," ujarnya, penuh penyesalan dan rasa bersalah.

"Betul, besan. Saya minta maaf atas keteledoran saya," timpal Jabar, ikut merasa menyesal.

"Gak papa, Pak. Itu bukan salah Pak Jabar. Ini keteledoran pelayan karena gak bisa jaga barang-barang Bapak. Kalian ini tamu, orangtua dari Zuzu. Seharusnya mereka lebih memperhatikan Anda sekeluarga," kata David, dengan bijaksana.

Sandrina mengangguk singkat, setuju dengan perkataan suaminya. "Mari, Pak. Pasti Pak Jabar dan Bu Jamilah sangat lelah. Saya akan antar kalian ke kamar," ujar Sandrina, penuh perhatian.

"Tapi, acaranya..." Jabar menetap ke sekeliling, dan baru menyadari dia menjadi pusat perhatian. Dia tersenyum lebar, merasa salah tingkah.

"Ya sudah, Bu. Saya ikut saja," katanya, sambil meraih tangan sang istri.

"Zuzu, kamu antar mereka masuk ke dalam, ya. Minta pelayan antar ke kamar yang sudah disiapkan. Sisanya di sini, biar Mama yang urus," bisik Sandrina dengan lembut, sambil mengusap punggung Zuzu.

Zuzu mengangguk, akhirnya bisa tersenyum lega, atas kebaikan ibu mertuanya. Ia kemudian pergi mengajak orangtuanya masuk ke dalam rumah.

"Zulaikha, bebeknya satu lagi belum ketemu," kata Jabar, dia mengambil kiso yang tergeletak juga dus bawaannya.

"Duh, Bah. Besok aja kita cari lagi. Sekarang udah malam. Banyak tamu juga, malu," sahut Zuzu, berbisik.

Jamilah ikut menimpali, "Betul. Besok, Umi juga akan bantu cari."

Pada akhirnya, Jabar terpaksa mengikuti permintaan putrinya. Mereka kini berada di rumah keluarga. Seorang kepala pelayan muncul dan mengambil alih bebek juga dus yang dibawa kabar.

"Biar saya simpan, Pak," ujar pelayan itu.

"Hati-hati. Itu isinya ada rengginang dan opak, nanti pecah!" seru Jamilah, terlihat cemas.

"Baik, Bu. Akan kami simpan dengan baik." Kepala pelayan itu menyerahkan kedua benda itu ke pelayan lain, lalu memandang Jabar dan Jamilah dengan senyuman lebar.

"Mari, Pak, Bu. Akan saya antar ke kamar," ujarnya, langsung memberikan jalan.

"Jangan panggil Bapak dan Ibu. Kami tidak biasa. Panggil Abah dan Umi saja seperti Zulaikha panggil kami," kata Jabar, telinganya merasa aneh dengan panggilan itu.

Kepala pelayan mengangguk dengan penuh kesabaran. "Mari, Abah, Umi," katanya lagi.

Jabar mengangguk, sebelum pergi dia menolehkan wajah ke arah Zulaikha. "Abah dan Umi mau istirahat dulu. Kami harus mengumpulkan tenaga untuk cari bebek kita yang hilang itu. Rumah ini luas, pasti perlu banyak waktu untuk mencarinya," tutur Jabar.

Zuzu mengangguk dan tersenyum kecil. Lalu tatapannya beralih pada kepala pelayan.

"Bibi, tolong kasih Abah dan Umi makan, ya. Mereka gak sempat makan tadi," pinta Zuzu, memelas.

Kepala pelayan itu kembali tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Akan saya siapkan, Nona," jawabnya.

"Kamu hati-hati ya, Zuzu. Bilang sama suami kamu, jangan keras-keras mainnya. Pelan-pelan saja, biar tidak sakit!" pesan Jabar, sambil berjalan menjauhi putrinya.

Zuzu membenarkan letak kacamata, otaknya berusaha memproses ucapan sang ayah. "Maksudnya Abah apa, ya?"

"Mari, Nona. Saya juga akan mengantar Anda ke kamar Tuan Muda Sean," kata salah seorang pelayan.

Zuzu mengangguk dan mulai melangkahkan kaki menuju anak tangga. "Nama kamu siapa? Sepertinya masih muda," tanya Zuzu, dia mendongak, karena tubuh pelayan itu lebih tinggi darinya.

"Saya Maya, Nona. Kebetulan kepala pelayan tadi ibu saya," jawab Maya sambil tersenyum kikuk.

Zuzu manggut-manggut. Dia merasa kerdil sendiri di rumah itu. Apalagi Sean, tubuhnya hanya sebatas perut pria itu.

"Ini kamar Tuan Muda Sean, Nona. Silahkan masuk," ucap Maya, begitu tiba di depan sebuah pintu yang bercat hitam.

Zuzu terdiam menatap pintu di depannya. Jantung berdebar kencang. Hatinya tiba-tiba gelisah.

"Kalau begitu saya izin kembali," kata Maya. Dia sudah bersiap pergi, sebelum Zuzu memegang tangannya.

Maya kembali berbalik. "Ya, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.

Zuzu berjinjit, lalu membisikkan sesuatu, "Maya, saya bingung. Nanti di dalam kamar, apa yang harus saya lakukan? Ini pertama kalinya saya bersama pria di dalam kamar."

Maya terlihat menahan senyum. Nyonya mudanya ini memang agak sedikit lain dari wanita pada umumnya.

"Nona tidak perlu bingung. Nanti Tuan muda Sean pasti akan membantu," sahut Maya sekenanya.

"Oh, begitu ya. Baiklah kalau begitu." Zuzu manggut-manggut, meskipun dia tidak mengerti maksud dari jawaban Maya.

Maya kembali pamit dan segera pergi meninggalkan Zuzu yang termenung di depan pintu.

Tiba-tiba sebuah tangan mengusap punggung wanita itu. Zuzu terkejut dan spontan menoleh.

"Ma-ma..." Zuzu melihat Sandrina berdiri di sampingnya sambil tersenyum lembut.

"Kenapa gak masuk?" tanya Sandrina.

Zuzu menggeleng lalu menundukkan kepala. "Aku gak tahu mau apa di dalam, Ma. Ini pertama kalinya aku sekamar dengan laki-laki."

"Tapi Sean itu suami kamu loh, Zu!" ucap Sandrina lembut, namun penuh penegasan.

"Tapi, aku takut, Ma. Temanku yang sudah menikah, setelah tinggal sekamar dengan suaminya... perut dia tiba-tiba jadi kembung," kata Zuzu, ekspresinya nampak polos saat memperagakan kedua tangan membentuk bulatan di depan perut.

Sandrina terkikik kecil. "Kamu ini beneran gak tahu atau pura-pura gak tahu sih? Usia kamu udah 24, 'kan? Masa hal kayak gini aja harus dikasih tahu."

Zuzu mengerjapkan mata. "Memangnya kalau usiaku udah 24 tahun, aku harus tahu apa, Ma?" tanya Zuzu, lagi-lagi ekspresi wajahnya berhasil membuat Sandrina tergelak.

"Kamu masuk aja lah. Nanti Sean yang akan kasih tahu." Sandrina yang sudah kelimpungan menghadapi menantu lugunya, memutuskan untuk membukakan pintu kamar.

"Sean, ini Zuzu diajak masuk dong!" seru Sandrina.

Terdengar deheman dari dalam kamar, sebagai tanggapan dari Sean.

"Ayo, masuk," titah Sandrina sambil meriah tangan Zuzu.

"Kamu tanyakan aja apa yang ingin kamu tahu pada Sean. Dia pasti bisa kasih materi sekaligus prakteknya. Mama mau ke kamar orangtua kamu. Kami belum ngobrol banyak tadi." Sandrina mendorong masuk tubuh Zuzu lalu menutup pintu.

"Beres!" kata Sandrina sambil menepuk-nepuk telapak tangan. "Sekarang, aku hanya tinggal menunggu Sean junior hadir." Ia tertawa kecil sambil berjalan meninggalkan kamar putranya.

Di dalam kamar, Zuzu berdiri dengan gugup. Kebingungan terpancar jelas dalam sorot matanya.

"Tuan," panggil Zuzu pelan, hampir tak terdengar. Namun, suasana kamar yang sunyi membuat panggilan itu sampai ke telinga Sean yang duduk santai di sebuah sofa panjang.

"Mendekatlah!" titah Sean. Suaranya yang berat berhasil menciptakan suasana horor, membuat bulu kuduk Zuzu meremang.

Zuzu membetulkan kaca matanya, sembari menelan saliva, berusaha mengusir kegugupan. Dia berjalan dengan perlahan menghampiri sosok suaminya.

Rambut sedikit panjang yang diikat di belakang menjadi ciri khas Sean. Pesonanya tak terbantahkan. Dia nampak seperti CEO yang pernah dia lihat di televisi.

Zuzu kini berdiri di pinggir sofa. Dia melihat suaminya itu tengah memegang gelas yang berisi cairan berwarna merah. Matanya membelalak kaget.

'Apa Tuan Sean vampir? Dia meminum darah?' pikirnya, dalam kegugupan semua orang bisa saja kehilangan akal sehatnya, termasuk Zuzu.

"Tu-tuan, a-apa yang Anda..." Belum sempat Zuzu menyelesaikan perkataannya, tangannya dengan sigap diraih dan ditarik oleh Sean.

Tubuh Zuzu terjatuh tepat di atas pangkuan suaminya. Napas hangat yang menyapu wajahnya dengan aroma khas alkohol, membuat Zuzu hampir muntah.

Zuzu hendak memberontak, namun Sean tak memberikan dia kesempatan. Pria itu justru semakin erat mendekap tubuhnya.

"Kenapa kamu lama sekali, hah?!"

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!