Keraguan tentang ini adalah mimpi atau bukan, perlahan menguap ditelan kebahagiaan. Xiao An memutuskan untuk tidak terlalu memusingkannya. Kalaupun ini mimpi, ini adalah mimpi terbaik yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Maka ia tak akan menyia-nyiakan sedetik pun.
Ia mulai menikmati puncak bukitnya. Kaki kurusnya yang dulu hanya bisa bergerak terbatas di atas ranjang kini berjalan memutari pagar batu, menjelajahi setiap sudut. Kemudian, langkahnya berubah menjadi lari-lari kecil, sesekali ia melompat ringan, merasakan otot-ototnya yang sudah lama tak digunakan kini bekerja dengan sukacita.
Angin menerpa wajahnya, menyibak rambutnya, dan paru-parunya terasa penuh udara segar, bukan lagi udara pengap beraroma obat.
Pandangannya tertumbuk pada sekumpulan kupu-kupu beraneka warna yang menari-nari di atas bunga-bunga liar. Senyum lebar terkembang di wajah Xiao An. Tanpa pikir panjang, ia mulai mengejar kupu-kupu itu, melompat-lompat dan mengayunkan tangannya dengan geli.
Beberapa kupu-kupu berhasil ia tangkap, hanya untuk dilepaskan kembali, tertawa renyah saat mereka kembali terbang bebas. Rasanya seperti anak kecil yang baru pertama kali bertemu mainan.
Di salah satu sisi puncak, tersembunyi di balik gundukan bebatuan lumutan, ia menemukan sumber mata air kecil. Airnya bening sebening kristal, mengalir pelan membentuk kolam kecil yang dangkal.
Tanpa ragu, Xiao An mendekat, mencelupkan tangannya. Airnya terasa sangat dingin dan menyegarkan, mengusir sisa-sisa kantuk. Ia bahkan menangkupkan kedua telapak tangan, meneguk beberapa teguk air itu.
Rasanya seperti air dewa, jauh lebih enak dari air keran rumah sakit yang hambar. Ia tertawa, memercikkan air ke wajahnya sendiri, merasa seperti sedang bermain air di pemandian pribadi miliknya.
Setelah puas bermain air, Xiao An merebahkan dirinya di tengah padang rumput, memanjakan dirinya di bawah sinar matahari pagi yang hangat. Matanya terpejam, merasakan kehangatan yang membelai kulitnya, membiarkan energi alam meresap ke dalam setiap sel tubuhnya.
Inilah, persis inilah, hal-hal yang selalu ia inginkan saat dia kembali sembuh. Berlarian tanpa beban, merasakan angin, mengejar kupu-kupu, bermain air jernih, dan berjemur di bawah langit tanpa atap. Kebebasan murni, tanpa selang, tanpa jarum, tanpa monitor yang berbunyi. Ini adalah surga kecilnya.
Setelah puas berlarian, melompat-lompat, dan bermain air, tubuh Xiao An yang masih dalam fase "rehabilitasi" dari kurungan panjangnya, mulai mengirimkan sinyal lelah.
Hangatnya sinar matahari yang membelai kulitnya, semilir angin yang mendendangkan lagu pengantar tidur, dan aroma segar rerumputan, semuanya bersekongkol untuk menariknya ke alam tidur.
Mata Xiao An mulai memberat. Ia menggeliat, mencari posisi paling nyaman di antara rumput-rumput lembut. Kantuk ini berbeda dengan kantuk yang dulu ia rasakan di rumah sakit, yang sering kali datang karena pengaruh obat penenang atau kelelahan akut.
Kantuk kali ini terasa begitu alami, begitu murni, seolah-olah seluruh alam ikut berbisik, "Istirahatlah, nak."
Dia merasa seperti tidur pada mimpinya.Perasaan ini aneh, namun entah kenapa terasa pas. Jika seluruh padang rumput dan kebebasan yang ia rasakan ini hanyalah sebuah ilusi indah dalam benaknya, maka tertidur lagi di dalamnya adalah cara terbaik untuk melanjutkannya. Ia tak ingin terbangun dari "mimpi" seindah ini.
Dengan senyum tipis di bibirnya, Xiao An memejamkan mata. Detak jantungnya melambat, napasnya beraturan, dan suara-suara alam seolah menjadi melodi penenang yang sempurna.
Pikirannya kosong, bebas dari beban masa lalu dan keraguan masa kini. Ia membiarkan dirinya terhanyut, membiarkan kantuk menguasainya sepenuhnya, berharap ketika ia membuka mata lagi, keindahan ini masih menantinya.
"Hmmmm..."
Xiao An menggeliat, membuka matanya perlahan. Rasanya seperti baru bangun dari tidur paling nyenyak dalam hidupnya. Sinar matahari masih hangat di kulitnya, angin masih berbisik lembut, dan aroma bunga masih memenuhi udara.
Ia masih di tempat yang sama persis saat ia terlelap: puncak bukit datar yang diselimuti rumput hijau.
Tidak ada dinding putih. Tidak ada suara monitor. Tidak ada bau desinfektan. Hanya alam.
Sejenak, ia merasa lega. Lalu, kebingungan mulai merayapi benaknya. Ini bukan rumah sakit, tapi ia juga tidak terbangun di kamarnya sendiri, atau di tenda penginapan kumuh yang biasa. Ini adalah tempat yang, sampai beberapa jam lalu, ia kira hanya ada dalam alam mimpi terindahnya.
"Apakah ini... aku memasuki mimpi di babak berikutnya?" Gumam Xiao An pada dirinya sendiri.
Suaranya sedikit serak karena baru bangun tidur. Ini terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi, tapi terlalu sempurna untuk kenyataan yang pernah ia alami. Fisiknya terasa lebih ringan, napasnya lebih lega, seolah bertahun-tahun sakit itu hanyalah ilusi.
Ia bangkit duduk, mengusap wajahnya lagi. Keraguan itu kini berubah menjadi kewaspadaan. Xiao An mulai mengamati setiap detail sekitarnya lebih dalam. Matanya bergerak lambat, menyapu seluruh pemandangan. Dari lumut yang menempel di pagar batu, jejak kaki kecil serangga di rumput, hingga pola retakan pada batu-batu yang tersusun rapi.
Ia memperhatikan bagaimana cahaya matahari berubah sedikit, kini lebih tinggi di langit. Burung-burung masih berkicau, tapi mungkin dengan nada yang berbeda.
Ada apa di balik keindahan dan kesempurnaan tempat ini? Mengapa aku ada di sini? Dan kenapa semua ini terasa seperti sebuah jebakan mimpi indah? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, menghilangkan sisa-sisa kantuknya. Ia kini tidak lagi hanya menikmati, tetapi mulai mencari tahu.
Namun, skeptisisme Xiao An kembali merayap. Terlalu sempurna. Terlalu mirip mimpi. Dia sudah terlalu sering ditipu oleh alam bawah sadarnya yang haus kebebasan. Dengan helaan napas yang perlahan berubah menjadi pasrah, dia kembali merebahkan diri di atas rumput, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kelembutan alam.
"Kalau ini mimpi, biarlah aku kembali tidur di dalamnya," pikirnya, dan kembali memejamkan mata.
Kegelapan menyambutnya, diikuti oleh sensasi melayang yang familiar. Ini memang seperti akan kembali masuk ke alam mimpi yang lain. Namun, kali ini ada yang berbeda.
Di dalam benaknya yang gelap, sebuah cahaya kecil muncul. Dan dari cahaya itu, perlahan-lahan, sebuah teks mulai melayang, terbentuk di hadapannya. Awalnya, hanya titik-titik cahaya yang berpendar, kemudian mulai menyatu, membentuk barisan huruf. Tapi, huruf-huruf itu aneh.
Dia belum pernah melihat abjad semacam itu seumur hidupnya. Bentuknya meliuk, tajam di sana-sini, seperti tulisan kuno yang keluar dari gulungan mantra wuxia yang pernah ia baca di buku-buku lama.
Satu per satu, kata demi kata, tulisan asing itu muncul, seolah ada entitas tak kasat mata yang sedang menuliskannya langsung ke dalam benaknya. Xiao An mencoba memfokuskan pandangannya, meskipun itu hanya di alam pikirannya. Dia berusaha keras mengenali satu pun simbol, tapi nihil. Ini benar-benar bahasa yang sama sekali tidak ia pahami.
"Apa-apaan ini?" batin Xiao An, jantungnya berpacu lebih cepat. Rasa kantuknya langsung lenyap digantikan oleh gelombang keterkejutan. Ini bukan bagian dari mimpi biasa. Ini terasa... lain. Lebih nyata dari nyata, tapi juga lebih membingungkan dari teka-teki paling rumit.
Xiao An membuka matanya lagi, kali ini dengan sentakan. Keterkejutan dari teks aneh itu masih mengalir deras di nadinya. Dia terbangun sepenuhnya, namun apa daya, abjad asing yang melayang itu tetap menempel erat dalam pikirannya. Seolah ada proyektor kecil di dalam kepalanya yang terus-menerus memancarkan deretan simbol-simbol aneh itu.
Dia mencoba mengabaikannya. "Paling juga cuma efek samping kebanyakan tidur di alam bebas," pikirnya. Dia berusaha memfokuskan pandangannya pada awan putih yang berarak di langit, menghitung burung yang melintas, bahkan mencoba mengingat resep bubur ayam paling lezat yang pernah ia makan.
Namun, di balik semua pemikiran itu, di sudut retinanya—atau mungkin di sudut kesadarannya—tulisan-tulisan aneh itu tetap saja muncul.
Rasanya persis seperti saat ia dulu terbaring di ranjang rumah sakit, memandangi pemandangan di luar jendela kacanya yang kusam. Pemandangan itu, meskipun terbatas, adalah satu-satunya hiburan. Tapi lalu, ada tahi burung yang lengket di kaca itu.
Satu titik menjijikkan yang merusak seluruh pemandangan indah. Tidak peduli seberapa keras ia mencoba fokus pada pepohonan atau langit biru di balik kaca, matanya selalu saja kembali tertarik pada noda tahi burung itu.
"Sialan!" gerutu Xiao An, mengusap dahinya frustrasi. Serisih itu rasanya. Sebuah keindahan yang sempurna—puncak bukit ini, kebebasan ini—ternoda oleh gangguan tak terlihat yang tak bisa ia hapus. Ini bukan lagi mimpi. Mimpi tidak sesantai ini sampai memberikan gangguan visual yang persisten. Jika ini kenyataan, berarti ada sesuatu yang tidak beres.
Segala macam cara sudah Xiao An lakukan. Dia mencoba melompat-lompat seolah ingin mengguncang otaknya agar tulisan aneh itu jatuh keluar. Dia menggaruk-garuk kepalanya sampai rambutnya acak-acakan.
Dia bahkan membenamkan wajahnya ke dalam rumput, berharap kegelapan akan menghilangkan ilusi optik internalnya. Nihil. Abjad-abjad aneh itu tetap berpendar, mengganggu pandangannya seperti lalat yang tak mau pergi.
Dengan frustrasi yang memuncak, Xiao An akhirnya menyerah. Dia berjalan gontai menuju batu besar yang sedikit menjorok, mungkin sisa-sisa letusan gunung purba atau kursi alami para dewa. Dia menjatuhkan diri di atasnya, terengah-engah seperti habis lari maraton, bukan sekadar menghadapi teks hantu di kepalanya.
Dia tidak menyadarinya, sibuk dengan kegelisahan mentalnya, tapi tubuhnya mulai berkeringat. Butir-butir keringat dingin menetes dari dahinya, membasahi pelipisnya, dan sedikit membasahi bajunya.
Entah karena kelelahan fisik setelah aktivitas gila-gilaan tadi, atau mungkin karena ketegangan mental yang terus-menerus. Keringat itu terasa aneh, mengingatkannya pada demam-demam yang dulu sering ia alami di rumah sakit, meskipun kali ini tidak ada rasa sakit atau lemah yang menyertai. Hanya... keringat.
Ini bukan sekadar mimpi lagi. Mimpi tidak pernah membuat seseorang terengah-engah dan berkeringat sungguhan. Ini nyata, tapi dengan bonus gangguan visual yang tidak bisa dijelaskan. Xiao An menatap langit biru, pikirannya campur aduk antara kebingungan, kejengkelan, dan sedikit rasa ngeri. Apa sebenarnya yang terjadi padanya?
Teks-teks aneh itu, yang sedari tadi menari-nari mengganggu, tiba-tiba mulai bertingkah. Mereka berputar semakin cepat, membentuk pusaran cahaya di benak Xiao An, seperti air yang disedot ke lubang pembuangan.
Lalu, satu per satu, huruf-huruf aneh itu tenggelam, menyelam semakin dalam, menghilang ke dasar pikiran Xiao An.
Sesi yang terasa begitu panjang dan melelahkan itu akhirnya berakhir. Saat huruf terakhir tenggelam sepenuhnya, Xiao An bisa merasakan kesunyiannya kembali. Keheningan yang manis, tanpa gangguan visual yang merisihkan.
Sebuah beban tak terlihat terangkat dari pundaknya. Ia mendesah lega, punggungnya menyandar pada batu besar itu, menikmati kekosongan yang damai.
Namun, rasa penasaran itu tak bisa ditahan. Apa dampak dari semua ini? Jangan-jangan itu adalah kutukan kuno, atau semacam virus mental yang akan mengubahnya menjadi gila. Dengan sedikit ragu, Xiao An mencoba menguji dirinya.
Dia berpikir keras, mencoba mengingat kembali tulisan itu, memaksa otaknya untuk memanggilnya. Tidak ada. Dia mencoba merasakan jika ada perubahan pada tubuhnya, pada pikirannya, pada jiwanya.
Dia mencoba berkonsentrasi, mencari anomali sekecil apa pun. Tapi, setelah diuji dan dipaksakan, tidak ada pengaruh apa-apa. Tidak ada kekuatan super mendadak, tidak ada ingatan tentang masa depan, bahkan tidak ada keinginan tiba-tiba untuk makan tahi burung. Ini benar-benar aneh. Teks itu datang, mengganggu, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak yang jelas.
Xiao An mengerutkan kening. Jadi, apa gunanya semua ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments