Xiao An merebahkan diri miring di atas rumput tebal, pipinya menempel pada rumput yang dingin dan sedikit basah. Kepalanya miring, matanya menatap kosong pada panel transparan di hadapannya. Gelar "Gembala Kecil Lvl 1" masih terpampang jelas, seolah mengejek impiannya menjadi Raja Pedang atau Dewa Perang.
Cukup lama dia termangu, bergulat dengan kekecewaan dan kebingungan. Matahari mulai condong, bayangan pepohonan sedikit memanjang, dan Xiao An masih di sana, tidak bergerak.
Namun, di tengah lamunan panjang itu, sebuah pikiran perlahan meresap masuk. Bisikan lembut dari dalam dirinya sendiri,
"Apa artinya gelar 'Raja Pedang' jika aku tidak bisa merasakan tanah di bawah kakiku? Apa gunanya menjadi 'Dewa Perang' jika setiap napas adalah perjuangan?"
Dengan desah panjang yang keluar dari paru-parunya, Xiao An perlahan mulai menerima. Sebuah senyum tipis, penuh ironi namun tulus, tersungging di bibirnya.
"Setidaknya," gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
"Setidaknya... aku hidup sehat."
Kini, tubuhnya tidak lagi dilingkari selang dan kabel. Tidak ada lagi bau disinfektan yang menusuk hidung. Tidak ada lagi nyeri yang menggerogoti setiap sendi. Dia bisa merasakan rumput di bawahnya, angin di wajahnya, hangatnya matahari di kulitnya.
Dia bisa bergerak, berlari, melompat, bahkan mengejar kupu-kupu—hal-hal yang dulu hanya bisa ia impikan.
"Ya," katanya lagi, kali ini lebih tegas.
"Setidaknya, aku hidup dengan sehat dan tidak sakit-sakitan."
Dibandingkan dengan kurungan rumah sakit yang mematikan, menjadi 'Gembala Kecil Level 1' di puncak bukit yang indah ini adalah sebuah kemewahan yang tak ternilai. Mungkin gelar itu tidak keren di telinga, tapi kenyataan bahwa ia bisa merasakannya, itu jauh lebih penting daripada segala status atau kekuatan fiktif.
Meskipun sudah menerima takdir 'Gembala Kecil', mata Xiao An tetap tidak bisa diam. Ia menelusuri panel transparan itu, mencari-cari tombol atau informasi lain. Pandangannya jatuh pada sudut panel, di mana empat ikon berbentuk kotak dengan tanda tanya terpampang jelas.
INI
"4 Mystery Box," Baca Xiao An, suaranya pelan.
Jantungnya kembali berdegup. Ini dia! Kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang keren, mungkin Pedang Legendaris Penakluk Naga atau Jimat Keabadian. Dengan sedikit antusiasme yang tersisa, telunjuknya mengulur dan menekan pelan salah satu kotak misteri itu.
Panel berkedip sejenak, lalu tulisan baru muncul dengan cepat, diiringi suara ding! pelan yang hanya terdengar di benak Xiao An:
Selamat kepada Tuan Xiao An, telah membuka hadiah dari Mystery Box.
Hadiah Pertama: Set Tempat Tinggal.
Xiao An membaca tulisan itu.
"Set Tempat Tinggal?"
Dia mengerjap, otaknya mencoba memproses informasi. Ini bukan pedang. Bukan jimat. Bukan manual kungfu terlarang. Tapi... tempat tinggal?
Dia melihat sekeliling puncak bukitnya yang luas dan terbuka, lalu kembali menatap panel. Di satu sisi, ini sangat praktis. Dia memang tidak punya tempat tinggal. Tidur di rumput mungkin romantis untuk sehari, tapi seminggu? Belum lagi jika hujan. Di sisi lain, ini bukan hadiah epik yang dia harapkan.
"Hah,"
Xiao An mendengus, antara lega karena dapat hadiah berguna dan geli karena hadiahnya begitu 'slice of life'. "Dari Gembala Kecil, sekarang dapat set rumah-rumahan? Sistem ini memang punya selera humor yang unik."
Begitu tulisan "Set Tempat Tinggal" itu muncul di panel, Xiao An belum sempat berpikir, tapi sebuah sensasi aneh menjalar di udara. Angin seolah berbisik lebih kencang, dan tanah di kejauhan sedikit bergetar, meski tidak menimbulkan suara. Dia memicingkan mata ke arah tepi bukit yang landai, tempat ia melihat sebuah telaga-sungai kecil berkelok-kelok di sekitar bebatuan besar.
Dan di sanalah, di tepi telaga-sungai kecil yang airnya berkilauan tertimpa sinar mentari, pemandangan itu terwujud di depan matanya.
Sebuah pondok kayu kecil, mungil namun kokoh, tiba-tiba berdiri tegak di sana. Dindingnya terbuat dari kayu pinus yang baru dipotong, memancarkan aroma getah segar. Atapnya dari jerami tebal, dengan cerobong asap kecil yang tampak ramah. Di depannya ada teras mini dengan dua bangku kayu.
Tak jauh dari pondok, muncul pula kandang domba terbuka. Terbuat dari kayu dan pagar sederhana, ia tampak siap menampung kawanan domba yang entah dari mana asalnya. Di sampingnya, ada kandang domba tertutup yang lebih besar, dengan dinding kayu dan atap, lengkap dengan pintu kecil yang tertutup rapat.
Di sisi lain, agak terpisah, sebuah gudang perkebunan sederhana dengan atap miring juga telah materialisasi. Pintu gudang itu tampak terbuat dari papan kayu tebal.
Sebagai bonus tak terduga, di sekitar pondok dan kandang, beberapa tanaman pohon buah sudah tertanam rapi. Ada pohon apel dengan buah-buah merah yang menggantung menggoda, pohon persik yang daunnya hijau rimbun, dan bahkan beberapa pohon jeruk yang sudah mulai berbunga, mengisi udara dengan aroma manis yang menyegarkan.
Xiao An ternganga. Ini jauh lebih nyata dari mimpi mana pun. Pondok itu, kandang-kandang itu, gudang, dan bahkan pohon buahnya... semuanya nyata dan solid. Dia, sang 'Gembala Kecil Lvl 1', kini punya properti sendiri di tengah antah berantah.
Mata Xiao An membelalak, mulutnya sedikit terbuka. Ia tidak bisa menahan diri. Sebuah seruan takjub lolos dari bibirnya, seperti suara anak kecil yang baru melihat kembang api pertama kalinya. Ini bukan lagi sekadar panel atau tulisan, ini adalah keajaiban yang terwujud nyata di depan matanya!
Tanpa pikir panjang, kakinya langsung melangkah, berlari menuju "properti" barunya itu. Ia melewati kandang-kandang domba dan gudang perkebunan, pandangannya langsung tertuju pada beberapa pohon buah yang kini menjulang di dekat pondok. Buah-buah merah mengilap, kuning keemasan, dan oranye terang memanggil-manggil.
Dengan tangan gemetar, ia memetik satu buah apel yang paling merah merona. Wanginya langsung menusuk hidung, segar dan alami. Ia menggigitnya perlahan, dan seketika itu juga, matanya memanas. Rasa manis legit yang meledak di lidahnya, diikuti sensasi segar yang memenuhi mulutnya, membuat ia terpaku.
Kemudian, ia memetik buah persik, lalu jeruk. Setiap gigitan adalah ledakan rasa yang luar biasa. Air mata yang sudah lama ia tahan, kini memburai tanpa bisa dibendung. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan yang meluap-luap.
Dulu, ketika ia terbaring lemah di ranjang rumah sakit, semua makanan terasa hambar. Bubur yang diberi sedikit garam, roti tawar yang kering, atau sayuran rebus tanpa rasa. Para perawat memberinya sangat sedikit makan, hanya untuk menjaga agar organ dalamnya yang lemah tidak bekerja terlalu keras dan tidak menimbulkan komplikasi.
Makan adalah kewajiban yang dingin, bukan kenikmatan.
Tapi kini, buah-buahan ini... Ini adalah manisnya kebebasan, segarnya kehidupan, dan lezatnya anugerah yang tak pernah ia bayangkan. Setiap tetes air mata yang jatuh adalah ungkapan syukur atas kesempatan kedua, atas rasa yang telah lama hilang, dan atas kehidupan yang kini terasa begitu utuh.
Sembari masih berurai air mata, memori rasa hambar di rumah sakit berbanding terbalik dengan manisnya apel yang baru saja ia gigit, tangan Xiao An bergerak refleks. Matanya yang sembab kini kembali menatap panel, dan dengan dorongan rasa penasaran yang kuat, ia kembali mengklik kotak hadiah yang tersisa.
Panel berkedip, dan sebuah notifikasi baru muncul: Hadiah Kedua Terbuka! Selamat kepada Xiao An, mendapatkan Sepasang Domba.
Tepat setelah tulisan itu muncul, dari arah kandang domba terbuka yang baru saja termaterialisasi, terdengar suara mengembik yang riang dan agak canggung.
INI
Mbeeek! Mbeeek!
Xiao An menoleh cepat. Di dalam kandang, benar saja! Ada sepasang domba putih yang besar dan gemuk, dengan bulu keriting yang tampak lembut seperti awan. Kedua domba itu tampak sehat dan penuh energi, riang meloncat kian kemari di dalam kandang, seolah baru saja terbangun dari tidur siang yang nyenyak dan siap untuk petualangan. Salah satunya bahkan mencoba menjilati tiang kandang dengan lidah panjangnya.
"Domba?"
Xiao An mengulang kata itu, sejenak lupa dengan air matanya. Jadi, gelar 'Gembala Kecil' itu bukan cuma nama, tapi memang akan ada 'objek' yang harus digembalakan? Ini sungguhan. Dia sekarang resmi menjadi seorang penggembala domba, lengkap dengan asetnya.
Sambil tersenyum geli melihat tingkah laku domba-domba barunya, Xiao An kembali mengarahkan jarinya ke panel transparan. Masih ada dua kotak hadiah tersisa. Dengan rasa ingin tahu yang semakin besar, ia mengklik kotak hadiah berikutnya.
Panel berkedip, dan notifikasi baru muncul: Hadiah Ketiga Terbuka! Selamat kepada Xiao An, mendapatkan Tongkat Gembala.
Seketika, di samping kaki Xiao An yang menjejak rumput, muncul sebuah tongkat panjang berwarna cokelat. Tongkat itu terlihat kokoh, seolah terbuat dari ranting kayu tua yang telah dipoles alami oleh waktu. Permukaannya kasar namun mulus di genggaman, dengan beberapa mata kayu menonjol yang memberikan kesan otentik.
INI
Ujung bawahnya sedikit meruncing, dan bagian atasnya melengkung halus, persis seperti tongkat yang sering dilihatnya di ilustrasi buku cerita tentang gembala.
Xiao An membungkuk, meraih tongkat itu. Bobotnya pas di tangannya, tidak terlalu ringan atau terlalu berat. Dia mengangkatnya, melambai-lawaikannya di udara dengan canggung. Jadi, lengkap sudah. Gembala Kecil, domba, dan sekarang tongkatnya. Sepertinya sistem ini benar-benar serius dengan 'profesinya' yang baru ini.
Hari sudah beranjak senja. Langit mulai diwarnai gradasi oranye dan ungu, memancarkan cahaya lembut yang memantul di permukaan telaga-sungai. Xiao An, dengan tongkat gembala barunya, merasakan hawa dingin mulai menyergap. Ia memutuskan untuk akhirnya menjelajahi tempat tinggal barunya.
Dia menaruh tongkat gembalanya di teras pondok, menyandarkannya di dinding kayu yang masih berbau getah pinus. Dengan hati-hati, ia melangkah masuk.
Pemandangan di dalamnya cukup sederhana, namun terasa hangat dan nyaman. Ruangan utama adalah sebuah ruang besar multifungsi, dilengkapi satu set meja dengan empat kursi kayu polos dan area dapur mini dengan meja persiapan kecil serta rak-rak kosong.
Di sisi dinding, sebuah perapian dari batu bata kokoh menyita perhatian, di sampingnya, beberapa perkakas esensial seperti gergaji, kapak, dan golok tertata rapi. Melihat perkakas itu, Xiao An tersenyum tipis. Ternyata sistem ini benar-benar serius menjadikannya 'orang mandiri'.
Ia melangkah lebih dalam dan menemukan sebuah kamar tidur yang terpisah. Di dalamnya ada dipan kayu sederhana dengan kasur jerami yang tampak empuk, sebuah meja kecil di sampingnya, dan lemari pakaian kayu yang ringkas. Terakhir, ada satu ruang toilet di sudut, yang meski minimalis, terasa mewah bagi Xiao An yang sudah terbiasa dengan fasilitas rumah sakit.
Ini adalah tempat tinggal pertamanya yang terasa 'miliknya' sepenuhnya. Sebuah rumah mungil, sederhana, tapi penuh janji akan kehidupan baru.
Melihat dipan dengan kasur jerami yang tampak empuk, Xiao An tak bisa menahan diri lagi. Rasa lelah seharian, ditambah emosi yang naik turun bak roller coaster, membuat kantuk tak tertahankan. Dengan sisa-sisa tenaga, ia menabrakkan tubuhnya ke atas kasur.
Sensasinya lembut, jauh lebih baik dari ranjang rumah sakitnya dulu. Tak perlu waktu lama, dalam hitungan detik, Xiao An pun terlelap, mimpi-mimpi baru segera menyelimuti Gembala Kecil yang kelelahan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments