NovelToon NovelToon

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Bab 1: Sangkar di Puncak Bukit

Xiao An, menggosok-gosokkan matanya. Dia bangkit dengan merasakan lembutnya rumput di bawahnya, dia menguap dan meregangkan badan.

Musim semi kali ini memang tahu diri. Matahari sudah nongol, tapi sinarnya masih malu-malu, cuma hangat-hangat kuku kayak teh celup yang baru diseduh. Cahaya keemasannya menembus sela-sela pepohonan, menari-nari di atas daun-daun muda yang hijau segar.

Udara pagi itu rasanya seperti pelukan lembut, nggak ada lagi gigil dingin menusuk tulang ala musim dingin yang bikin napas jadi asap naga.

Angin semilir bertiup pelan, membawa aroma bunga-bunga liar yang bermekaran di kejauhan. Baunya manis, sedikit asam, campur bau tanah basah yang bikin hidung kembang kempis.

Burung-burung di dahan juga nggak mau kalah, berlomba-lomba berkicau seolah sedang audisi penyanyi terbaik di pegunungan. Kalau saja Xiao An bisa mengerti bahasa burung, mungkin dia sudah tahu gosip terbaru tentang Pangeran Katak yang baru saja putus cinta dengan Putri Kupu-kupu.

"Haahh..." Xiao An mendesah, merasakan otot-ototnya yang kaku perlahan-lahan mengendur.

Ia menatap langit biru cerah, tanpa awan sedikit pun. Saking cerahnya, rasanya kalau dilempar batu, batunya bisa mantul balik saking mulusnya. Ini hari yang sempurna untuk bermalas-malasan, atau setidaknya, mencari sarapan yang layak tanpa harus bertarung dengan babi hutan yang punya bakat kungfu. Sayangnya, dompetnya seringkali tidak sejalan dengan hasrat perutnya.

Ia membayangkan semangkuk bubur hangat dengan irisan daging babi krispi dan telur asin, atau mungkin sepiring pangsit goreng yang renyah di luar tapi lembut di dalam. Ah, lamunan pagi yang indah.

Sayangnya, yang ada di depannya hanyalah rumput yang masih basah embun, dan beberapa biji-bijian yang entah siapa yang menaburkannya di sana. Mungkin sisa sarapan burung kemarin.

Bukan lagi di sebuah kamar rumah sakit yang beraroma alkohol dan desinfektan. Jauh sekali. Tempat ini adalah antitesis dari segala sesuatu yang berbau sterilisasi dan bau obat.

Di sini, yang tercium hanyalah aroma tanah basah yang baru bangun dari tidurnya, wangi manis bunga-bunga liar yang bermekaran di sela-sela bebatuan, dan sedikit sentuhan aroma pinus dari hutan di kejauhan.

Tidak ada dinding putih kusam atau dengung AC yang monoton. Yang ada hanyalah kanvas langit biru yang dihiasi sapuan awan tipis, dan simfoni alam yang dimainkan oleh kicauan burung-burung, gemericik air sungai yang mengalir tenang di bawah sana, dan desiran lembut dedaunan yang menari mengikuti irama angin.

Xiao An, dengan mata yang kini sudah sepenuhnya terbuka, memandangi sekelilingnya. Ia berada di sebuah padang rumput yang landai, dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang diselimuti kabut tipis di puncaknya.

Beberapa pohon tua dengan dahan-dahan menjuntai berdiri kokoh, seolah menjadi penjaga abadi tempat itu. Kupu-kupu dengan sayap warna-warni beterbangan riang, seolah sedang melakukan tarian selamat datang untuknya.

"Ah, ini baru namanya mimpi yang indah," gumam Xiao An, menghirup dalam-dalam udara segar yang memenuhi paru-parunya.

"Bukan seperti kemarin, mimpi di dalam tenda saat hujan badai turun." Ia terkekeh pelan. Memang benar, tempat ini jauh lebih baik dari lokasi mimpi mana pun yang pernah ia singgahi.

Ia melangkah maju, merasakan embun pagi yang dingin membasahi ujung jari kakinya. Setiap langkahnya terasa ringan, seolah beban di pundaknya ikut terangkat oleh suasana damai ini.

Mungkin, pikirnya, inilah yang disebut "hidup yang sebenarnya" bagi seorang pengembara. Bebas, tanpa ikatan, dan selalu dikelilingi oleh keindahan alam yang tak terduga.

Memang benar, kondisi Xiao An saat ini di padang rumput yang sejuk itu adalah sebuah keajaiban, atau setidaknya, anugerah yang tak pernah ia sangka. Karena, jauh sebelum kaki kurusnya bisa menginjak rumput basah embun atau paru-parunya menghirup aroma bunga, Xiao An adalah definisi hidup dalam bilik kematian.

Sejak usianya baru menginjak lima tahun, dunianya hanya terbingkai oleh empat dinding putih kusam sebuah kamar rumah sakit. Aroma alkohol dan desinfektan adalah parfum hariannya, dan suara mesin monitor yang berdengung ritmis adalah lagu pengantar tidurnya.

Xiao An kecil menderita penyakit autoimun yang ganas, ditambah lagi gangguan fungsi organ dalam yang membuat tubuh mungilnya terasa seperti medan perang yang tak kunjung usai.

Setiap hari adalah perjuangan. Tubuhnya dipenuhi selang dan kabel yang entah terhubung ke mana saja; infus yang terus-menerus meneteskan cairan ke pembuluh darahnya, selang oksigen yang menyalurkan napas buatan, dan berbagai elektroda yang menempel di dadanya, memantau setiap detak jantung yang terasa begitu rapuh. Alat-alat medis berkedip dan berbunyi di sekelilingnya, menjadi satu-satunya 'teman' yang selalu ada.

Ia ingat bagaimana pandangannya sering kali buram, tubuhnya demam tinggi, dan rasa sakit menusuk ke setiap sendi dan organ. Dunia luar hanyalah cerita dari para perawat yang berbisik-bisik atau dari jendela kecil yang hanya menampakkan potongan langit kelabu dan gedung-gedung lain yang menjulang.

Ia sering membayangkan bagaimana rasanya berlari di bawah sinar matahari, atau memanjat pohon, atau sekadar merasakan hembusan angin yang sejati, bukan hanya angin dari kipas di sudut ruangan.

Mimpi-mimpi tentang padang rumput hijau, tentang sungai jernih, dan tentang burung-burung yang bernyanyi adalah satu-satunya pelarian dari kenyataan pahitnya. Setiap napas yang ia hirup di sana, setiap pandangan yang ia layangkan ke langit, adalah sesuatu yang dulu terasa seperti kemewahan yang mustahil.

Maka, ketika Xiao An kini berdiri di bawah langit biru, merasakan hangatnya matahari di kulitnya, dan mencium aroma segar alam, itu bukan hanya sekadar pagi biasa. Itu adalah kebebasan yang hanya ada dalam mimpinya yang paling liar.

Xiao An mengusap wajahnya lagi, sedikit mencubit pipinya sendiri. Sensasinya nyata. Rumput yang dingin di telapak kakinya, udara yang menggerakkan helaian rambutnya, kicauan burung yang begitu jernih seolah persis di samping telinganya. Tapi, benarkah ini? Bagaimana bisa?

Selama bertahun-tahun, ketika fisiknya dipenjara dalam bilik kamar rumah sakit, satu-satunya cara ia bisa merasakan kebebasan adalah dalam mimpi. Dalam mimpinya, ia bisa berlari tanpa sesak napas, melompat tanpa rasa sakit di sendi, dan terbang setinggi mungkin tanpa terikat selang.

Padang rumput ini, dengan segala keindahannya yang nyaris sempurna, sangat mirip dengan alam bebas yang selalu ia dambakan dalam tidur panjangnya.

"Jangan-jangan..." gumamnya pelan, matanya menyipit ke arah matahari terbit.

"Ini cuma ilusi? Sebentar lagi aku bangun, dan yang kulihat cuma infus lagi?"

Ia menendang kerikil kecil di depannya, lalu memungutnya dan menggenggamnya erat. Dingin dan kasar. Itu terasa nyata. Tapi, apakah mimpinya dulu tidak terasa nyata? Ia bahkan pernah "terbang" dalam mimpinya dan merasakan hembusan angin di wajahnya.

Keraguan itu menggelayuti benaknya, bercampur dengan kebahagiaan yang membingungkan. Bagaimana mungkin ia bisa berada di sini, seolah keajaiban paling mustahil telah terjadi?

Xiao An memicingkan matanya, berusaha mencerna pemandangan di hadapannya. Ia bukan hanya di padang rumput biasa, melainkan di atas sebuah puncak bukit datar yang lapang. Luasnya kurang lebih satu hektar, cukup untuk menggelar festival desa atau mungkin arena turnamen kungfu dadakan, pikirnya.

Rumput-rumput hijau terhampar mulus, diselingi bunga-bunga liar berwarna-warni yang tampak seperti taburan permen kapas di atas karpet beludru raksasa.

Rasa penasaran membuat Xiao An melangkah maju, kakinya menapak pada rumput segar yang lembut dan tanah gembur yang sedikit memantul, seolah bumi ikut bergembira dengan setiap langkahnya.

Udara di puncak ini terasa lebih jernih, membawa aroma pinus dari hutan di bawah dan embun yang belum sepenuhnya menguap. Ia berjalan santai, menikmati setiap jengkal "kebebasan" yang terasa begitu asing namun memabukkan.

Langkahnya membawanya menuju tepian batas puncak. Di sana, yang ia temukan bukanlah jurang curam atau pemandangan tak terbatas, melainkan sebuah pagar batu setinggi dada.

Pagar itu tersusun dari batu-batu alam yang ditumpuk rapi, sebagian tertutup lumut hijau yang membuatnya terlihat kuno dan misterius. Xiao An mencoba meraba permukaannya yang kasar dan dingin, merasakan setiap celah dan benjolan.

Ia mengikuti alur pagar itu, berjalan perlahan. Dan benar saja, pagar batu itu melingkar sempurna, mengelilingi seluruh puncak bukit datar ini. Rasanya seperti sebuah stadion alami, atau mungkin... sebuah sangkar raksasa.

"Hmm, ini bukan mimpi, tapi juga bukan sembarang tempat terbuka ya," gumam Xiao An pada dirinya sendiri. Perasaan aneh menyelimuti hatinya. Pagar yang melingkar itu, meskipun terbuat dari alam, justru memberinya sensasi seperti terkurung. Sebuah bisikan dari masa lalu yang dingin dan tak berdaya tiba-tiba muncul di benaknya.

Kamar rumah sakit. Dinding putih yang mengurung. Selang dan kabel yang membatasi setiap gerak.

Ia menggelengkan kepala, mengusir bayangan itu. Tidak, ini berbeda. Setidaknya di sini ada langit biru, angin, dan aroma bunga. Tapi entah kenapa, pagar batu ini terasa seperti pengingat halus bahwa kebebasan, seindah apa pun itu, kadang masih memiliki batasnya sendiri.

Bab 2: Tulisan Mantra di Pikiran

Keraguan tentang ini adalah mimpi atau bukan, perlahan menguap ditelan kebahagiaan. Xiao An memutuskan untuk tidak terlalu memusingkannya. Kalaupun ini mimpi, ini adalah mimpi terbaik yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Maka ia tak akan menyia-nyiakan sedetik pun.

Ia mulai menikmati puncak bukitnya. Kaki kurusnya yang dulu hanya bisa bergerak terbatas di atas ranjang kini berjalan memutari pagar batu, menjelajahi setiap sudut. Kemudian, langkahnya berubah menjadi lari-lari kecil, sesekali ia melompat ringan, merasakan otot-ototnya yang sudah lama tak digunakan kini bekerja dengan sukacita.

Angin menerpa wajahnya, menyibak rambutnya, dan paru-parunya terasa penuh udara segar, bukan lagi udara pengap beraroma obat.

Pandangannya tertumbuk pada sekumpulan kupu-kupu beraneka warna yang menari-nari di atas bunga-bunga liar. Senyum lebar terkembang di wajah Xiao An. Tanpa pikir panjang, ia mulai mengejar kupu-kupu itu, melompat-lompat dan mengayunkan tangannya dengan geli.

Beberapa kupu-kupu berhasil ia tangkap, hanya untuk dilepaskan kembali, tertawa renyah saat mereka kembali terbang bebas. Rasanya seperti anak kecil yang baru pertama kali bertemu mainan.

Di salah satu sisi puncak, tersembunyi di balik gundukan bebatuan lumutan, ia menemukan sumber mata air kecil. Airnya bening sebening kristal, mengalir pelan membentuk kolam kecil yang dangkal.

Tanpa ragu, Xiao An mendekat, mencelupkan tangannya. Airnya terasa sangat dingin dan menyegarkan, mengusir sisa-sisa kantuk. Ia bahkan menangkupkan kedua telapak tangan, meneguk beberapa teguk air itu.

Rasanya seperti air dewa, jauh lebih enak dari air keran rumah sakit yang hambar. Ia tertawa, memercikkan air ke wajahnya sendiri, merasa seperti sedang bermain air di pemandian pribadi miliknya.

Setelah puas bermain air, Xiao An merebahkan dirinya di tengah padang rumput, memanjakan dirinya di bawah sinar matahari pagi yang hangat. Matanya terpejam, merasakan kehangatan yang membelai kulitnya, membiarkan energi alam meresap ke dalam setiap sel tubuhnya.

Inilah, persis inilah, hal-hal yang selalu ia inginkan saat dia kembali sembuh. Berlarian tanpa beban, merasakan angin, mengejar kupu-kupu, bermain air jernih, dan berjemur di bawah langit tanpa atap. Kebebasan murni, tanpa selang, tanpa jarum, tanpa monitor yang berbunyi. Ini adalah surga kecilnya.

Setelah puas berlarian, melompat-lompat, dan bermain air, tubuh Xiao An yang masih dalam fase "rehabilitasi" dari kurungan panjangnya, mulai mengirimkan sinyal lelah.

Hangatnya sinar matahari yang membelai kulitnya, semilir angin yang mendendangkan lagu pengantar tidur, dan aroma segar rerumputan, semuanya bersekongkol untuk menariknya ke alam tidur.

Mata Xiao An mulai memberat. Ia menggeliat, mencari posisi paling nyaman di antara rumput-rumput lembut. Kantuk ini berbeda dengan kantuk yang dulu ia rasakan di rumah sakit, yang sering kali datang karena pengaruh obat penenang atau kelelahan akut.

Kantuk kali ini terasa begitu alami, begitu murni, seolah-olah seluruh alam ikut berbisik, "Istirahatlah, nak."

Dia merasa seperti tidur pada mimpinya.Perasaan ini aneh, namun entah kenapa terasa pas. Jika seluruh padang rumput dan kebebasan yang ia rasakan ini hanyalah sebuah ilusi indah dalam benaknya, maka tertidur lagi di dalamnya adalah cara terbaik untuk melanjutkannya. Ia tak ingin terbangun dari "mimpi" seindah ini.

Dengan senyum tipis di bibirnya, Xiao An memejamkan mata. Detak jantungnya melambat, napasnya beraturan, dan suara-suara alam seolah menjadi melodi penenang yang sempurna.

Pikirannya kosong, bebas dari beban masa lalu dan keraguan masa kini. Ia membiarkan dirinya terhanyut, membiarkan kantuk menguasainya sepenuhnya, berharap ketika ia membuka mata lagi, keindahan ini masih menantinya.

"Hmmmm..."

Xiao An menggeliat, membuka matanya perlahan. Rasanya seperti baru bangun dari tidur paling nyenyak dalam hidupnya. Sinar matahari masih hangat di kulitnya, angin masih berbisik lembut, dan aroma bunga masih memenuhi udara.

Ia masih di tempat yang sama persis saat ia terlelap: puncak bukit datar yang diselimuti rumput hijau.

Tidak ada dinding putih. Tidak ada suara monitor. Tidak ada bau desinfektan. Hanya alam.

Sejenak, ia merasa lega. Lalu, kebingungan mulai merayapi benaknya. Ini bukan rumah sakit, tapi ia juga tidak terbangun di kamarnya sendiri, atau di tenda penginapan kumuh yang biasa. Ini adalah tempat yang, sampai beberapa jam lalu, ia kira hanya ada dalam alam mimpi terindahnya.

"Apakah ini... aku memasuki mimpi di babak berikutnya?" Gumam Xiao An pada dirinya sendiri.

Suaranya sedikit serak karena baru bangun tidur. Ini terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi, tapi terlalu sempurna untuk kenyataan yang pernah ia alami. Fisiknya terasa lebih ringan, napasnya lebih lega, seolah bertahun-tahun sakit itu hanyalah ilusi.

Ia bangkit duduk, mengusap wajahnya lagi. Keraguan itu kini berubah menjadi kewaspadaan. Xiao An mulai mengamati setiap detail sekitarnya lebih dalam. Matanya bergerak lambat, menyapu seluruh pemandangan. Dari lumut yang menempel di pagar batu, jejak kaki kecil serangga di rumput, hingga pola retakan pada batu-batu yang tersusun rapi.

Ia memperhatikan bagaimana cahaya matahari berubah sedikit, kini lebih tinggi di langit. Burung-burung masih berkicau, tapi mungkin dengan nada yang berbeda.

Ada apa di balik keindahan dan kesempurnaan tempat ini? Mengapa aku ada di sini? Dan kenapa semua ini terasa seperti sebuah jebakan mimpi indah? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, menghilangkan sisa-sisa kantuknya. Ia kini tidak lagi hanya menikmati, tetapi mulai mencari tahu.

Namun, skeptisisme Xiao An kembali merayap. Terlalu sempurna. Terlalu mirip mimpi. Dia sudah terlalu sering ditipu oleh alam bawah sadarnya yang haus kebebasan. Dengan helaan napas yang perlahan berubah menjadi pasrah, dia kembali merebahkan diri di atas rumput, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kelembutan alam.

"Kalau ini mimpi, biarlah aku kembali tidur di dalamnya," pikirnya, dan kembali memejamkan mata.

Kegelapan menyambutnya, diikuti oleh sensasi melayang yang familiar. Ini memang seperti akan kembali masuk ke alam mimpi yang lain. Namun, kali ini ada yang berbeda.

Di dalam benaknya yang gelap, sebuah cahaya kecil muncul. Dan dari cahaya itu, perlahan-lahan, sebuah teks mulai melayang, terbentuk di hadapannya. Awalnya, hanya titik-titik cahaya yang berpendar, kemudian mulai menyatu, membentuk barisan huruf. Tapi, huruf-huruf itu aneh.

Dia belum pernah melihat abjad semacam itu seumur hidupnya. Bentuknya meliuk, tajam di sana-sini, seperti tulisan kuno yang keluar dari gulungan mantra wuxia yang pernah ia baca di buku-buku lama.

Satu per satu, kata demi kata, tulisan asing itu muncul, seolah ada entitas tak kasat mata yang sedang menuliskannya langsung ke dalam benaknya. Xiao An mencoba memfokuskan pandangannya, meskipun itu hanya di alam pikirannya. Dia berusaha keras mengenali satu pun simbol, tapi nihil. Ini benar-benar bahasa yang sama sekali tidak ia pahami.

"Apa-apaan ini?" batin Xiao An, jantungnya berpacu lebih cepat. Rasa kantuknya langsung lenyap digantikan oleh gelombang keterkejutan. Ini bukan bagian dari mimpi biasa. Ini terasa... lain. Lebih nyata dari nyata, tapi juga lebih membingungkan dari teka-teki paling rumit.

Xiao An membuka matanya lagi, kali ini dengan sentakan. Keterkejutan dari teks aneh itu masih mengalir deras di nadinya. Dia terbangun sepenuhnya, namun apa daya, abjad asing yang melayang itu tetap menempel erat dalam pikirannya. Seolah ada proyektor kecil di dalam kepalanya yang terus-menerus memancarkan deretan simbol-simbol aneh itu.

Dia mencoba mengabaikannya. "Paling juga cuma efek samping kebanyakan tidur di alam bebas," pikirnya. Dia berusaha memfokuskan pandangannya pada awan putih yang berarak di langit, menghitung burung yang melintas, bahkan mencoba mengingat resep bubur ayam paling lezat yang pernah ia makan.

Namun, di balik semua pemikiran itu, di sudut retinanya—atau mungkin di sudut kesadarannya—tulisan-tulisan aneh itu tetap saja muncul.

Rasanya persis seperti saat ia dulu terbaring di ranjang rumah sakit, memandangi pemandangan di luar jendela kacanya yang kusam. Pemandangan itu, meskipun terbatas, adalah satu-satunya hiburan. Tapi lalu, ada tahi burung yang lengket di kaca itu.

Satu titik menjijikkan yang merusak seluruh pemandangan indah. Tidak peduli seberapa keras ia mencoba fokus pada pepohonan atau langit biru di balik kaca, matanya selalu saja kembali tertarik pada noda tahi burung itu.

"Sialan!" gerutu Xiao An, mengusap dahinya frustrasi. Serisih itu rasanya. Sebuah keindahan yang sempurna—puncak bukit ini, kebebasan ini—ternoda oleh gangguan tak terlihat yang tak bisa ia hapus. Ini bukan lagi mimpi. Mimpi tidak sesantai ini sampai memberikan gangguan visual yang persisten. Jika ini kenyataan, berarti ada sesuatu yang tidak beres.

Segala macam cara sudah Xiao An lakukan. Dia mencoba melompat-lompat seolah ingin mengguncang otaknya agar tulisan aneh itu jatuh keluar. Dia menggaruk-garuk kepalanya sampai rambutnya acak-acakan.

Dia bahkan membenamkan wajahnya ke dalam rumput, berharap kegelapan akan menghilangkan ilusi optik internalnya. Nihil. Abjad-abjad aneh itu tetap berpendar, mengganggu pandangannya seperti lalat yang tak mau pergi.

Dengan frustrasi yang memuncak, Xiao An akhirnya menyerah. Dia berjalan gontai menuju batu besar yang sedikit menjorok, mungkin sisa-sisa letusan gunung purba atau kursi alami para dewa. Dia menjatuhkan diri di atasnya, terengah-engah seperti habis lari maraton, bukan sekadar menghadapi teks hantu di kepalanya.

Dia tidak menyadarinya, sibuk dengan kegelisahan mentalnya, tapi tubuhnya mulai berkeringat. Butir-butir keringat dingin menetes dari dahinya, membasahi pelipisnya, dan sedikit membasahi bajunya.

Entah karena kelelahan fisik setelah aktivitas gila-gilaan tadi, atau mungkin karena ketegangan mental yang terus-menerus. Keringat itu terasa aneh, mengingatkannya pada demam-demam yang dulu sering ia alami di rumah sakit, meskipun kali ini tidak ada rasa sakit atau lemah yang menyertai. Hanya... keringat.

Ini bukan sekadar mimpi lagi. Mimpi tidak pernah membuat seseorang terengah-engah dan berkeringat sungguhan. Ini nyata, tapi dengan bonus gangguan visual yang tidak bisa dijelaskan. Xiao An menatap langit biru, pikirannya campur aduk antara kebingungan, kejengkelan, dan sedikit rasa ngeri. Apa sebenarnya yang terjadi padanya?

Teks-teks aneh itu, yang sedari tadi menari-nari mengganggu, tiba-tiba mulai bertingkah. Mereka berputar semakin cepat, membentuk pusaran cahaya di benak Xiao An, seperti air yang disedot ke lubang pembuangan.

Lalu, satu per satu, huruf-huruf aneh itu tenggelam, menyelam semakin dalam, menghilang ke dasar pikiran Xiao An.

Sesi yang terasa begitu panjang dan melelahkan itu akhirnya berakhir. Saat huruf terakhir tenggelam sepenuhnya, Xiao An bisa merasakan kesunyiannya kembali. Keheningan yang manis, tanpa gangguan visual yang merisihkan.

Sebuah beban tak terlihat terangkat dari pundaknya. Ia mendesah lega, punggungnya menyandar pada batu besar itu, menikmati kekosongan yang damai.

Namun, rasa penasaran itu tak bisa ditahan. Apa dampak dari semua ini? Jangan-jangan itu adalah kutukan kuno, atau semacam virus mental yang akan mengubahnya menjadi gila. Dengan sedikit ragu, Xiao An mencoba menguji dirinya.

Dia berpikir keras, mencoba mengingat kembali tulisan itu, memaksa otaknya untuk memanggilnya. Tidak ada. Dia mencoba merasakan jika ada perubahan pada tubuhnya, pada pikirannya, pada jiwanya.

Dia mencoba berkonsentrasi, mencari anomali sekecil apa pun. Tapi, setelah diuji dan dipaksakan, tidak ada pengaruh apa-apa. Tidak ada kekuatan super mendadak, tidak ada ingatan tentang masa depan, bahkan tidak ada keinginan tiba-tiba untuk makan tahi burung. Ini benar-benar aneh. Teks itu datang, mengganggu, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak yang jelas.

Xiao An mengerutkan kening. Jadi, apa gunanya semua ini?

Bab 3: Panel Transparan dan Gelar Gembala Kecil

Belum sempat Xiao An menarik napas lega sepenuhnya dari gangguan teks aneh itu, tiba-tiba di depan matanya—bukan di dalam pikiran lagi, tapi benar-benar di udara kosong—sebuah panel transparan muncul.

Bentuknya persegi panjang, dengan sudut-sudut membulat, memancarkan cahaya lembut yang tidak menyilaukan.

INI

Xiao An cukup kaget. Jantungnya yang baru saja tenang kini kembali berdebar kencang, memukul-mukul dadanya seolah ingin keluar. Ia mengucek matanya, mengira itu hanya sisa halusinasi.

Tapi panel itu tetap ada, diam melayang di hadapannya, seperti sebuah layar proyeksi dari dunia lain.

Dalam hati dia merasakan sebuah firasat yang melesat cepat seperti anak panah. "Jangan-jangan... jangan-jangan ini... sistem seperti novel yang dia baca-baca sebelumnya?"

Pikirannya langsung melayang pada kisah-kisah di mana karakter utama mendadak dianugerahi kekuatan atau panduan tak terduga, biasanya setelah mengalami kejadian luar biasa.

Itu adalah genre kesukaannya, tapi ia tak pernah membayangkan akan benar-benar menghadapi hal semacam itu dalam kenyataan!

Xiao An menelan ludah. Ini bukan lagi mimpi atau tahi burung di kaca jendela. Ini adalah sesuatu yang nyata, sesuatu yang fantastis, sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Panel itu kosong, belum menampilkan apa-apa, tapi kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat dunia Xiao An berputar 180 derajat.

Dengan gugup, Xiao An menggosokkan kedua tangannya, merasakan telapak tangannya yang sedikit berkeringat. Lidahnya sedikit menjilat bibir tipisnya yang mendadak terasa kering.

Matanya yang membulat penuh rasa penasaran langsung mendarat pada kata-kata yang kini muncul di panel transparan itu. Ia tidak sabar. Ini seperti membaca halaman pertama dari novel favoritnya, langsung ke bagian yang paling mendebarkan.

Tulisan itu muncul dengan jelas, menggunakan abjad yang familier, bukan lagi tulisan aneh yang mengganggu tadi:

Nama: Xiao An

Usia: 16 tahun

Gelar: Gembala Kecil - Lvl 1

INI

Xiao An membaca ulang, memastikan matanya tidak salah lihat. "Nama: Xiao An... Umur: 16 tahun... Gelar: Gembala Kecil Level 1?" Dia mengerjap.

Nama dan usianya sudah tepat. Tapi 'Gembala Kecil Level 1'? Apa-apaan itu? Dia bahkan tidak punya domba atau sapi. Seingatnya, pekerjaan terakhirnya adalah menjadi pasien rawat inap.

Sebuah senyum kecil, campuran bingung dan geli, muncul di wajahnya. Ini benar-benar seperti sistem game atau novel fantasi. Jika begini, apakah sebentar lagi akan ada quest "Cari Sarapan, Hadiah: 10 Koin Emas dan Sepasang Sandal Anti-Jamur"?

Xiao An membaca ulang Gelar yang terpampang di panel, dan kali ini, ekspresinya bukan lagi antara bingung dan geli, melainkan lebih ke arah sebal dan sedikit putus asa.

Hmmm...

"Gembala Kecil Lvl 1?" Dia menghela napas panjang, mendongak ke langit seolah mengeluh pada Yang Maha Kuasa.

"Apakah sistem ini tidak menjadikanku dewa? Atau Raja Pedang? Atau Kaisar Bela Diri yang bisa menghancurkan gunung dengan satu jari? Gimana gitu biar keren!"

Dia memanyunkan bibirnya. Bayangannya tentang dirinya yang gagah berani, terbang di udara dengan pedang di tangan, lenyap seketika digantikan oleh citra dirinya yang mungkin harus menggembalakan kambing dengan tongkat.

"Gembala? Apa-apaan?" Xiao An menggerutu, menunjuk panel dengan jarinya seolah itu adalah benda yang membuatnya sangat kecewa.

"Setelah semua drama sakit-sakitan di rumah sakit, aku berharap setidaknya aku bisa jadi pahlawan legendaris atau semacamnya. Ini malah jadi... penggembala domba. Apakah aku harus mulai menghafal nama-nama domba sekarang?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!