Bab 5: Penjaga Sapi

Pagi kembali menjelang, membawa serta sinar matahari yang cerah dan hangat. Xiao An menggeliat, terbangun di atas dipan barunya. Ini bukan lagi mimpi, bukan lagi ranjang rumah sakit. Ini adalah kenyataan.

Dia beranjak keluar pondok, menghirup dalam-dalam udara pagi yang segar. Langkahnya membawanya ke tepi telaga air yang dingin dan sejuk. Dengan cekatan, ia membasuh wajahnya dengan air jernih itu. Sensasi dinginnya langsung mengusir sisa kantuk, membuatnya merasa segar seutuhnya.

Perutnya mulai keroncongan, dan matanya melirik pohon apel di dekat pondok. Ia memetik beberapa apel yang ranum, menggigitnya satu per satu. Rasa manis legit yang meledak di mulutnya adalah pengingat konstan akan karunia yang ia terima. Jauh lebih nikmat dari bubur hambar di masa lalu.

Setelah sarapan apel, Xiao An mendatangi kandang domba. Dengan gerakan hati-hati, ia melepaskan sepasang dombanya dari kandang untuk merumput. Kedua domba putih itu langsung berlari riang ke padang rumput, mulai mengunyah rumput hijau dengan lahap. Melihat mereka bergerak bebas, Xiao An tersenyum.

"Fiuh," desahnya, sebuah napas lega yang panjang.

Kali ini, desahan itu bukan karena frustrasi atau kebingungan, melainkan karena penerimaan. Ia menatap pondok kayunya, domba-dombanya, dan hamparan alam di sekelilingnya. Dia mulai menerima dengan baik karunia ini untuk hidup yang bahagia.

Mungkin dia bukan Raja Pedang, tapi dia punya rumah, makanan, dan udara segar. Sebuah kehidupan yang dulu hanya bisa ia impikan dari balik jendela rumah sakit. Ini adalah kebahagiaan sederhana, dan Xiao An, Gembala Kecil, siap untuk menjalaninya.

Melihat sepasang dombanya asyik merumput dengan tenang di padang, Xiao An tersenyum puas. Ada rasa damai yang menjalar di hatinya. Namun, senyumnya sedikit pudar saat ia teringat sesuatu. Ada satu kotak hadiah lagi yang belum ia buka di panel.

Matanya langsung tertuju pada ikon terakhir di layar transparan itu. Rasa penasaran bercampur dengan sedikit harapan liar kembali membuncah di dadanya. Apakah kali ini dia akan mendapatkan sesuatu yang betulan keren? Sebuah pedang legendaris? Atau mungkin... teman setia yang gagah?

Dengan jantung berdegup kencang, ia menekan kotak hadiah terakhir itu.

Suara ding! kembali terdengar di benaknya, dan tulisan baru muncul di panel:

Selamat kepada Xiao An, mendapatkan Seekor Penjaga Gembala.

"Penjaga Gembala?"

INI

Xiao An membaca dengan alis terangkat. Firasatnya langsung bekerja. Anjing! Pasti anjing! Pikirannya langsung membayangkan anjing-anjing penjaga yang gagah di film-film atau novel wuxia.

Seekor German Shepherd yang loyal dan cerdas, atau mungkin Alaskan Malamute yang berbulu tebal dan perkasa. Itu baru keren! Pemandangan dirinya berjalan di puncak bukit dengan anjing penjaga besar di sisinya, sambil tongkat gembala di tangan, akan terlihat sangat heroik.

Dengan tidak sabar, ia menggosokkan kedua tangannya, bersiap menyambut teman setia barunya yang pasti akan sangat keren.

Terdengar suara "Shinggg!" yang melengking tipis, seperti embusan angin tiba-tiba.

Xiao An refleks menutup mata sejenak, siap menyambut anjing penjaga impiannya. Namun, saat ia membuka mata, pemandangan di samping rumahnya justru membuatnya ternganga.

ITU

Di sana, berdiri tegak sebuah hewan yang sangat besar, berotot kekar, dan memiliki sepasang tanduk melengkung yang tampak kokoh. Warnanya hitam legam, mengilap di bawah sinar matahari pagi.

Matanya bulat besar dan tampak tenang, sementara mulutnya terus mengunyah rumput dengan ritme santai, seolah tak peduli dengan keberadaan Xiao An yang terkejut setengah mati.

Itu bukan German Shepherd. Itu bukan Alaskan Malamute. Itu... seekor sapi jantan.

Xiao An mematung. Impiannya tentang teman setia berbulu, yang akan berlari gagah bersamanya, hancur berkeping-keping digantikan oleh seekor ruminansia raksasa.

"Bah! Sistem scam!" seru Xiao An, tangannya teracung ke panel transparan yang masih terpampang. Wajahnya cemberut maksimal. "Atas dasar apa ini? Atas dasar apa memberiku penjaga seekor sapi jantan?! Ini 'penjaga' atau calon sarapan?!"

Domba-dombanya di kejauhan bahkan tampak ketakutan melihat sapi jantan raksasa itu, merapat satu sama lain seolah mencari perlindungan. Sementara sapi jantan itu sendiri hanya berkedip lambat, mengembuskan napas panjang, dan melanjutkan sesi mengunyahnya dengan tenang. Xiao An hanya bisa menatapnya pasrah.

Dengan kekecewaan yang masih membayangi wajahnya setelah melihat 'penjaga' barunya, Xiao An berjalan gontai menuju gudang perkebunan yang tadi pagi muncul. Pintu gudang itu terlihat besar dan terbuat dari kayu tebal. Dengan sedikit tenaga, dia menarik gagangnya.

Pintu itu terbuka dengan suara "kriet" yang sangat khas, seperti pintu gudang tua di film-film horor, namun di sini lebih terdengar seperti melodi pedesaan.

Dia melangkah masuk. Ruangan di dalamnya kosong, namun sangat luas, lebih besar dari yang terlihat dari luar. Aroma tanah dan kayu kering memenuhi indra penciumannya. Matahari pagi menyelinap masuk dari celah-celah di dinding, menciptakan garis-garis cahaya di lantai tanah yang padat.

INI

Di salah satu sisi dinding, terpampang sebuah rak besar berisi berbagai macam peralatan bertani. Semuanya tampak baru dan berkilau: mulai dari cangkul dengan gagang kayu yang kokoh, bajak mini yang entah bagaimana bisa muat di gudang ini, sekop tajam, garu, dan berbagai perkakas lain yang bahkan Xiao An tidak tahu namanya atau fungsinya.

Seolah-olah sistem ini benar-benar serius ingin mengubahnya menjadi seorang petani sejati, bukan hanya gembala.

Di rak yang lain, yang sedikit lebih kecil, perhatian Xiao An langsung tertuju pada isinya. Benar saja, rak itu penuh dengan berbagai jenis benih.

Ada kantong-kantong kecil berisi benih sayuran seperti wortel, lobak, dan bayam, serta benih bunga dengan label-label yang tidak ia kenali. Ada juga beberapa kantong berisi benih gandum dan jagung. Ini seperti toko pertanian pribadi miliknya.

Xiao An menghela napas. Dengan sapi jantan sebagai penjaga dan tumpukan peralatan serta benih ini, sepertinya nasibnya sebagai 'Gembala Kecil' akan segera berevolusi menjadi 'Petani Sekaligus Gembala'.

Episodes
1 Bab 1: Sangkar di Puncak Bukit
2 Bab 2: Tulisan Mantra di Pikiran
3 Bab 3: Panel Transparan dan Gelar Gembala Kecil
4 Bab 4: Peralatan dan Domba33
5 Bab 5: Penjaga Sapi
6 Bab 6: Petani Kecil yang Bahagia
7 Bab 7: Tangga Misterius
8 Bab 8: Sejarah Keluarga Lin dan Jalan Kultivasi
9 Bab 9: Apel Ajaib dan Janji Pertemuan
10 Bab 10: Ujian Apel Ajaib
11 Bab 11: Kulit Apel Ajaib dan Kakek Lin Zhou
12 Bab 12: Lompatan Kekuatan Kakek Lin Zhou
13 Bab 13: Kelaparan dan Bantuan Tiba
14 Bab 14: Roti Ban Karet dan Perdebatan Bisnis
15 Bab 15: Sketsa Ajaib Sang Kultivator
16 Bab 16: Sketsa yang Ditolak
17 Bab 17: Sekeping Perak dan Kebaikan Hati
18 Bab 18: Perumusan Ulang Metode Body Tempering
19 Bab 19: Ironi Kekaisaran Tianlong
20 Bab 20: Roti Pertama dan Sebuah Penemuan
21 Bab 21: Tunas Harapan dan Penjaga yang Tak Terlihat
22 Bab 22: Peta Harta Karun dan Air Mata Kakek
23 Bab 23: Mie Pertama dan Latihan Berat
24 Bab 24: Beban Kekaisaran
25 Bab 25: Sketsa Ajaib di Istana
26 Bab 26: Badai Pedang Sketsa
27 Bab 27: Kehancuran Istana
28 Bab 28: Kemarahan Kaisar
29 Bab 29: Bahasa Para Dewa dan Pencerahan
30 Bab 30: Mantra Agung
31 Bab 31: Revolusi di Kuil Mukui dan Fitnah Keji
32 Bab 32: Kedatangan Sang Pengajar Kekaisaran
33 Bab 33: Pertemuan Dua Dunia di Reruntuhan
34 Bab 34: Tawaran dari Pengajar Kekaisaran
35 Bab 35: Gengsi yang Terkoyak di Tangga Batu
36 Bab 36: Sang Pengajar Kekaisaran Menjadi Samsak Hidup
37 Bab 37: Keajaiban Telaga Embun Pagi
38 Bab 38: Misteri Candi Agung
39 Bab 39: Tujuh Puluh Dua Buddha Emas
40 Bab 40: Baptisan Jiwa dan Akhir Pemandangan Ilahi
41 Bab 41: Pemerasan di Kuil Suci
42 Bab 42: Tuduhan Tak Berdasar
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1: Sangkar di Puncak Bukit
2
Bab 2: Tulisan Mantra di Pikiran
3
Bab 3: Panel Transparan dan Gelar Gembala Kecil
4
Bab 4: Peralatan dan Domba33
5
Bab 5: Penjaga Sapi
6
Bab 6: Petani Kecil yang Bahagia
7
Bab 7: Tangga Misterius
8
Bab 8: Sejarah Keluarga Lin dan Jalan Kultivasi
9
Bab 9: Apel Ajaib dan Janji Pertemuan
10
Bab 10: Ujian Apel Ajaib
11
Bab 11: Kulit Apel Ajaib dan Kakek Lin Zhou
12
Bab 12: Lompatan Kekuatan Kakek Lin Zhou
13
Bab 13: Kelaparan dan Bantuan Tiba
14
Bab 14: Roti Ban Karet dan Perdebatan Bisnis
15
Bab 15: Sketsa Ajaib Sang Kultivator
16
Bab 16: Sketsa yang Ditolak
17
Bab 17: Sekeping Perak dan Kebaikan Hati
18
Bab 18: Perumusan Ulang Metode Body Tempering
19
Bab 19: Ironi Kekaisaran Tianlong
20
Bab 20: Roti Pertama dan Sebuah Penemuan
21
Bab 21: Tunas Harapan dan Penjaga yang Tak Terlihat
22
Bab 22: Peta Harta Karun dan Air Mata Kakek
23
Bab 23: Mie Pertama dan Latihan Berat
24
Bab 24: Beban Kekaisaran
25
Bab 25: Sketsa Ajaib di Istana
26
Bab 26: Badai Pedang Sketsa
27
Bab 27: Kehancuran Istana
28
Bab 28: Kemarahan Kaisar
29
Bab 29: Bahasa Para Dewa dan Pencerahan
30
Bab 30: Mantra Agung
31
Bab 31: Revolusi di Kuil Mukui dan Fitnah Keji
32
Bab 32: Kedatangan Sang Pengajar Kekaisaran
33
Bab 33: Pertemuan Dua Dunia di Reruntuhan
34
Bab 34: Tawaran dari Pengajar Kekaisaran
35
Bab 35: Gengsi yang Terkoyak di Tangga Batu
36
Bab 36: Sang Pengajar Kekaisaran Menjadi Samsak Hidup
37
Bab 37: Keajaiban Telaga Embun Pagi
38
Bab 38: Misteri Candi Agung
39
Bab 39: Tujuh Puluh Dua Buddha Emas
40
Bab 40: Baptisan Jiwa dan Akhir Pemandangan Ilahi
41
Bab 41: Pemerasan di Kuil Suci
42
Bab 42: Tuduhan Tak Berdasar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!