NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10: Pertemuan

Matahari bulan Juni menyengat kawasan industri Tangerang dengan hawa panas yang melekatkan kaus biru PT Mitra Kilat ke punggung Doni Salman.

Bau kain perca, debu jalanan, dan kepulan asap hitam dari angkutan kota memenuhi udara di depan gerbang besi raksasa PT garmen busana indah.

Pukul empat sore tepat, bel dari dalam pabrik berbunyi, menandakan syif kerja buruh konveksi telah usai.

Doni berdiri di seberang jalan, menyandarkan tubuh mudanya pada sebuah tiang listrik beton.

Sepasang matanya yang tajam dan sedalam sumur tua memindai ratusan wanita bermasker kain yang mulai menyemut keluar dari gerbang besi.

Jantung Doni berdegup kencang, sebuah sensasi yang sangat ia rindukan. Ini bukan debaran panik akibat racun saraf VX, melainkan debaran murni dari seorang pria yang bersiap melihat belahan jiwanya kembali dari alam kematian.

"Zahra..."

bisik Doni, suaranya bergetar tipis.

Di kehidupan pertamanya, setelah Zahra dibunuh secara brutal, Doni mengunci nama wanita itu di lubuk hati terdalam.

Ia mengira kematian Zahra adalah takdir buruk akibat perampokan acak.

Siapa yang menyangka bahwa itu adalah eksekusi berencana yang didanai oleh Amanda Santoso agar bisa menyusup ke hidupnya?

Mengingat fakta itu membuat rahang Doni kembali mengatup rapat, emosinya bergolak.

Namun, ia segera menarik napas dalam-dalam, menenangkan riak dendam di kepalanya.

Hari ini, di tahun 2006 ini, takdir itu belum terjadi. Zahra masih aman.

Di antara kerumunan buruh yang berdesakan, sosok itu akhirnya muncul.

Seorang wanita muda bertubuh ramping dengan rambut hitam yang dikuncir kuda sederhana.

Ia mengenakan kemeja katun murah bermotif kotak-kotak dan celana jins yang sudah agak pudar warnanya.

Di wajahnya yang tanpa riasan, tampak gurat kelelahan setelah delapan jam berdiri di depan mesin jahit.

Namun, sepasang mata bulatnya yang teduh tetap memancarkan ketulusan yang sama mata yang selalu menyambut Doni dengan kehangatan di masa lalu.

Zahra berjalan menunduk sambil memeluk tas kain kecilnya, bersiap menuju pangkalan angkot.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa meter di depannya, seorang pria dengan jiwa berusia 46 tahun sedang menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah sekaligus proteksi mutlak.

Doni menegakkan tubuhnya, melangkah mantap menyeberangi jalanan yang ramai oleh lalu lalang sepeda motor.

"Zahra," panggil Doni lembut, namun memiliki resonansi yang berat.

Wanita muda itu tersentak, menghentikan langkah kakinya lalu mendongak.

Begitu matanya menangkap sosok Doni yang berdiri di depannya, rona keterkejutan yang manis langsung menghiasai wajah tirusnya. Sepasang matanya berbinar jenaka.

"Mas Doni?"

Zahra menurunkan masker kainnya, memperlihatkan senyuman tulus yang seketika meruntuhkan seluruh dinding es di hati Doni.

"Kok bisa ada di sini? Bukannya hari ini Mas Doni ada syif bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok?"

Doni memandangi wajah Zahra dengan lekat, merekam setiap detail guratan wajah wanita itu ke dalam memorinya.

Ia merasa seolah-olah sedang menatap sebuah keajaiban yang paling mustahil di dunia.

Tangan Doni bergerak perlahan, ingin sekali mengelus pipi wanita itu untuk memastikan bahwa ini bukan sekadar bayangan gaib.

Namun, ia menahan diri agar tidak membuat Zahra bingung dengan perubahan sikapnya yang mendadak melankolis.

"Aku merindukanmu, Zahra," kata Doni,

suaranya terdengar begitu dalam dan tulus hingga membuat pipi Zahra merona kemerahan.

Zahra terkekeh pelan, menutupi mulutnya dengan tangan.

"Ih, Mas Doni gombal ya sore-sore."

"Biasanya kalau ke sini pasti mau pinjam uang buat bayar kosan, atau mau pamer kalau habis dapat bonus dari Pak Subagja."

Mendengar celetukan polos Zahra, Doni tersenyum tipis.

Ya, di kehidupan masa lalunya, Doni adalah pemuda payah yang sering kali merepotkan kekasihnya yang bekerja keras ini.

Zahra selalu menyisihkan sebagian upah garmennya yang tidak seberapa untuk membelikan Doni makanan atau membantunya membayar tunggakan kos.

Dan kebaikan itulah yang kelak dibalas dengan kematian tragis karena Doni terlalu buta untuk melihat ular yang mengintai di sekelilingnya.

"Kali ini tidak, Zahra,"

Doni menggelengkan kepalanya perlahan, menatap lurus ke dalam manik mata kekasihnya dengan tatapan yang penuh tekad baja.

"Mulai hari ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu kekurangan uang lagi."

"Aku tidak akan membiarkanmu kelelahan di depan mesin jahit itu lagi."

Zahra mengerutkan dahinya yang halus, menatap Doni dengan tatapan heran.

"Mas Doni bicara apa sih?"

"Aneh banget dari tadi."

"Seperti orang yang habis bangun dari mimpi panjang saja."

"Memang," bisik Doni di dalam hatinya.

"Aku baru saja bangun dari mimpi buruk sepanjang dua puluh tahun, Zahra."

Doni mengambil alih tas kain dari pelukan Zahra dengan gerakan yang lembut namun protektif.

"Ayo kita makan."

"Aku tahu tempat makan bakso yang enak di dekat sini. Kita perlu bicara banyak hal tentang... masa depan kita."

Zahra hanya bisa menurut, melangkah di samping Doni sambil sesekali mencuri pandang ke arah kekasihnya.

Wanita muda itu merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda dari diri Doni sore ini.

Cara berjalan pria itu lebih tegap, sorot matanya sangat tajam dan penuh percaya diri, dan aura di sekitarnya terasa begitu kuat seolah-olah Doni bukan lagi seorang staf logistik rendahan yang sering mengeluh, melainkan seorang pria dewasa yang siap memindahkan gunung demi melindunginya.

Doni menggandeng tangan Zahra saat mereka menyusuri trotoar.

Di bawah hangatnya matahari senja tahun 2006, Doni Salman membuat sumpah baru di dalam batinnya.

Fondasi pertama dari kekaisarannya bukan hanya tentang mengumpulkan tumpukan uang atau menghancurkan keluarga Santoso.

Fondasi terpenting dari Salman Group adalah memastikan bahwa wanita di sampingnya ini akan hidup aman, terhormat, dan menjadi satu-satunya ratu yang bertahta di puncak kejayaannya kelak.

Perang finansial akan segera dimulai dua minggu lagi, dan Doni telah menemukan alasan terbesarnya untuk menang dengan mutlak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!