NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Adrian di Pecat

Janin di dalam kandungannya seolah ikut merasakan tekanan emosional yang melanda ibunya. Aluna tiba-tiba merasakan kram yang sangat tajam di perut bagian bawah. Sambil menahan rasa sakit tersebut, Aluna melangkah maju dan langsung melayangkan tamparan keras ke pipi Sisi.

Plak!

"Kamu terlalu percaya diri," cibir Sisi. Tanpa ragu, ia membalas dengan tamparan yang jauh lebih kuat hingga tubuh Aluna terhuyung.

Dalam kondisi hamil muda, Aluna kehilangan keseimbangan dan tersandung ke belakang akibat hantaman tersebut. Tepat sebelum tubuhnya menghantam lantai marmer, sepasang tangan yang hangat dan kokoh menahan punggung bawahnya tepat waktu.

Setelah berhasil menstabilkan posisinya, Aluna mendongak dan melihat siapa yang menolongnya. Ia mengernyitkan dahi, lalu segera mengambil satu langkah mundur untuk menciptakan jarak yang aman. " Pak Adrian, terima kasih."

"Alu..."

Nama panggilan masa lalu yang terpendam di dalam lubuk hatinya hampir saja lolos dari bibir Adrian. Namun, tatapan tajam dan penuh selidik dari Sisi langsung menarik kesadaran pria itu kembali. Ia dengan cepat mengubah cara memanggilnya, "Tidak apa-apa, Bu Aluna. Apakah Anda terluka?"

"Aku baik-baik saja."

"Ck ck ck, hubungan antara sesama instruktur di sini ternyata sangat akrab. Orang yang tidak tahu pasti akan mengira kalian berdua adalah sepasang kekasih," sindir Sisi dengan nada meremehkan.

Adrian menatap Sisi dengan pandangan dingin. "Nona, jangan membuat tuduhan tanpa dasar. Jika kamu terus menyebarkan fitnah yang tidak masuk akal seperti ini, saya tidak akan ragu untuk menuntutmu atas pencemaran nama baik."

"Lihat sendiri, Nona Aluna. Kekasihmu ini begitu pasang badan untuk melindungimu.

Menurutmu, apa yang akan dilakukan oleh Tuan Gavin jika sampai mengetahui kedekatan kalian ini?" Sisi terus memprovokasi tanpa henti.

Bayangan tentang sifat Gavin yang kejam dan dominan langsung melintas di kepala Aluna. Sebutan nama itu seketika membuat akal sehatnya kembali berputar. Semua ini tidak ada hubungannya dengan Adrian. Aku tidak boleh membiarkan pria ini terseret ke dalam masalahku dengan Gavin.

Memikirkan hal tersebut, Aluna sengaja bersikap acuh tak acuh untuk menghindari kecurigaan. "Saya dan Pak Adrian hanya rekan kerja biasa. Hubungan kami murni profesional dan tidak ada urusan pribadi sama sekali."

"Oh, ya? Tapi sepertinya rekan kerjamu ini sepertinya berpikir sebaliknya."

"Silakan bicara apa saja, aku sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun."

Perdebatan itu berakhir dengan ketegangan yang tidak terselesaikan. Setelah Aluna dan Adrian melangkah pergi meninggalkan ruangan, Sisi memeriksa situasi sekitar. Setelah memastikan koridor sepi, ia berjalan ke bagian belakang kelas dan mengambil sebuah kamera mini yang sengaja ia sembunyikan di sela-sela rangka kayu piano bagian kanan.

Semua insiden tadi ternyata telah ia rencanakan dengan matang. Sisi sengaja memicu keributan hanya demi mendapatkan rekaman video tersebut. Begitu kembali ke kamarnya, Sisi segera mengedit video itu dengan lihai. Ia memotong bagian yang menampilkan Adrian, lalu merekayasa sudut pandang seolah-olah Aluna sedang berusaha menjauhkan diri dan memutuskan hubungan dengan Gavin.

Setelah menerima kiriman video yang di manipulasi tersebut, Gavin meledak dengan Amarah yang luar biasa. Begitu tiba di mansion malam itu, ia langsung mencengkeram lengan Aluna, menyeretnya masuk ke dalam kamar tidur, dan mendorong punggung gadis itu ke dinding. Gavin menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan video tersebut dengan tatapan mengintimidasi.

"Aluna, berani sekali kamu! Kamu sudah hidup bersamaku dan kini mengandung anakku, tapi pikiranmu masih saja tidak bisa tenang. Kamu begitu terobsesi untuk menyingkirkanku dan mencoba memutus hubungan denganku?!"

Sembari meluapkan kemarahannya, Gavin menarik paksa tubuh Aluna ke dalam dekapannya yang sangat erat. Sepasang matanya memancarkan gejolak emosi posesif yang tertahan.

"Kamu harus ingat, sekarang kamu adalah milikku. Apa kamu pikir ada pria lain di luar sana yang mau menerima wanita simpanan seperti dirimu?"

Kalimat penghinaan yang keluar dari mulut Gavin langsung menyulut amarah di dada Aluna. Namun, tubuhnya yang dikunci terlalu erat membuat Aluna kesulitan untuk bergerak, bahkan untuk sekadar membalas ucapan pria itu. Perlahan, pasokan udaranya menipis, pernapasannya terasa sesak, dan pandangannya mulai terlihat mengabur.

Menyadari kondisi Aluna yang sudah lemas dan hampir kehilangan kesadaran, Gavin tersentak kaget. Ia spontan melonggarkan cengkeraman tangannya dan memberi ruang bagi Aluna untuk bernapas.

Sambil terbatuk dan berusaha mengatur ritme napasnya, Aluna didera ketakutan jika Gavin akan kembali mengamuk dan melakukan kekerasan fisik. Ia buru-buru memberikan penjelasan secara logis, "Video yang kamu lihat itu tidak ada suaranya. Itu jelas rekaman yang sengaja diedit untuk menjebakku. Sisi yang mengirimkan video ini kepadamu, kan? Kamu pasti tahu betul apa motivasinya melakukan ini. Dia sengaja memanipulasimu agar aku terlihat bersalah!"

Gavin menyipitkan matanya, menatap Aluna dengan pandangan yang masih tajam dan berbahaya. "Aluna, jangan pernah mencoba memutarbalikkan fakta di hadapanku."

Melihat respons Gavin yang tetap tidak mepercayainya, Aluna mendadak merasa lelah. Ia memutuskan untuk berhenti berdebat dan memilih diam dengan pandangan pasrah.

Gavin yang melihat Aluna mendadak mengabaikannya justru semakin tersulut emosi. Ia kembali mencengkeram kedua pergelangan tangan Aluna, mencondongkan tubuhnya, dan memaksakan sebuah ciuman yang kasar serta penuh dominasi.

Di tengah situasi kritis tersebut, Aluna mengumpulkan sisa tenaganya untuk melindungi perutnya sendiri. Ia nekat melakukan perlawanan ekstrem, bahkan sempat bergerak mundur ke arah balkon dan mengancam akan melompat dari lantai atas jika Gavin tidak menghentikan tindakannya.

Aksi nekat Aluna yang mempertaruhkan keselamatan janin itu akhirnya berhasil membuat Gavin ketakutan dan memilih untuk mundur meninggalkan kamar.

Keesokan harinya, Gavin tidak memperlihatkan dirinya di mansion. Aluna memutuskan untuk berangkat menuju tempat kursus sendirian dengan menggunakan taksi.

Namun, baru saja ia melangkahkan kaki memasuki lobi utama Pusat Pelatihan Seni Cendekia, Aluna langsung menerima kabar buruk dari staf administrasi: Adrian telah resmi dipecat secara sepihak pagi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!