Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secerah harapan
"Sabar, Sha... kamu harus kuat."
"Kamu harus bangkit."
Alesha terus menyemangati dirinya sendiri.
Tangannya menggenggam erat setang motor.
Namun air mata yang terus mengalir membuat pandangannya berkabut.
Alesha berkali-kali menarik napas panjang, tetapi rasa mengganjal di dadanya tak juga hilang.
Ucapan Helena terus terngiang di kepalanya.
"Bagus lah kalau dia sudah tahu. Kamu dan Risa tidak perlu menyembunyikan lagi hubunganmu."
Alesha memejamkan mata sesaat.
Bibirnya bergetar.
Jadi selama ini, mertuanya tahu dan dia memilih diam.
Bahkan mendukung hubungan itu.
Alesha cepat-cepat mengusap pipinya yang kembali basah.
"Ternyata selama ini cuma aku yang menganggap mereka keluarga..."
Angin malam menerpa wajahnya.
Namun yang membuatnya menggigil bukanlah udara malam, melainkan kenyataan yang baru saja ia terima.
Alesha terus mengendarai motornya.
Bayangan Aldo dan wanita itu terus muncul di kepalanya.
Ia tidak menyadari bahwa dirinya telah memasuki jalur yang salah.
Suara klakson terdengar nyaring.
Tin! Tin! Tin!
Alesha tersentak.
Matanya membelalak saat melihat sebuah mobil melaju ke arahnya.
Alesha bahkan tidak sempat menghindar.
BRAK!
—
"Ya ampun, aku nabrak orang!"
Suara panik seorang wanita terdengar dari dalam mobil.
Jantungnya berdegup kencang.
Dengan tangan gemetar, ia segera membuka pintu mobil lalu berlari menghampiri orang yang baru saja tertabrak.
Wanita itu mendekat pada sosok yang tergeletak di pinggir jalan.
Langkah wanita itu langsung terhenti.
Tubuh yang tergeletak di pinggir jalan itu sama sekali tidak bergerak.
Ia segera berjongkok di samping tubuh wanita itu.
Tangannya gemetar saat mencoba membangunkan wanita yang tidak sadarkan diri tersebut.
"Mbak, dengar saya? Mbak!"
Ia menggoyangkan bahu wanita itu perlahan.
Namun tidak ada respons.
Tak ada jawaban.
Wanita itu menelan ludah dengan susah payah.
Napasnya mulai tidak teratur.
Wajahnya semakin pucat.
Pandangannya beralih ke sekitar jalan yang tampak sunyi.
Jalanan terlihat sepi.
Bahkan tak ada seorang pun yang melintas.
Wanita itu kembali menatap sosok di hadapannya dengan cemas.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ya Tuhan... bagaimana ini?"
Dengan buru-buru ia meraih ponselnya dari dalam tas.
Jarinya bergerak cepat mencari sebuah nama di daftar kontak.
Begitu panggilannya tersambung, ia langsung berbicara dengan nada panik.
"Kak, cepat ke Jalan Anggrek! Sekarang juga!"
Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, wanita itu langsung memutuskan panggilan.
Dadanya naik turun menahan panik.
Sementara itu, wanita yang terbaring di hadapannya masih belum menunjukkan tanda-tanda sadar.
Beberapa menit kemudian, cahaya lampu kendaraan terlihat dari kejauhan.
Sebuah mobil sedan hitam melaju cepat menuju lokasi.
Wanita itu langsung menghela napas lega.
"Akhirnya..."
Mobil hitam itu berhenti tepat di pinggir jalan.
Pintunya perlahan terbuka.
"Lea..."
Wanita yang bernama Lea itu langsung menoleh.
"Kak Kevin, tolong aku," ucapnya dengan suara gemetar. "Aku nabrak orang, Kak."
Kevin segera melihat ke arah sosok yang tergeletak di jalan.
Wajahnya langsung serius.
"Dia masih bernapas?"
Lea mengangguk cepat.
"Masih, Kak. Tadi aku cek."
Kevin berjongkok untuk memeriksa kondisi wanita itu sekilas.
Setelah memastikan wanita tersebut masih bernapas, ia langsung mengangkat tubuhnya dengan hati-hati.
"Buka pintu belakang."
Lea buru-buru membuka pintu mobilnya.
Kevin kemudian membaringkan wanita itu di kursi belakang.
Lea menelan ludah.
Tangannya masih gemetar hebat.
"Kak... dia nggak akan kenapa-kenapa kan?"
"Sekarang jangan pikir macam-macam. Kita bawa dia ke rumah sakit dulu."
Lea mengangguk cepat.
Mereka segera masuk ke mobil masing-masing.
Lea langsung menyalakan mesin mobil dan melaju menuju rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan, jantungnya terus berdebar tidak karuan.
Beberapa kali ia melirik ke kaca spion.
Memastikan wanita yang berada di kursi belakang itu masih bergerak.
Masih bernapas.
"Tolong jangan kenapa-kenapa..." gumamnya pelan.
Tangannya mencengkeram kemudi semakin erat.
Perasaan bersalah terus menghantuinya.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah sakit.
Lea langsung turun dari mobil.
Bersamaan dengan itu, mobil Kevin juga berhenti di area gawat darurat.
"Perawat! Tolong!" teriak Kevin.
Beberapa petugas medis segera berlari keluar membawa brankar.
Dengan sigap mereka memindahkan wanita itu dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
Lea berdiri di depan ruang IGD dengan tubuh kaku.
Matanya mengikuti brankar yang semakin menjauh, wajahnya pucat dan bibirnya gemetar.
"Ya Tuhan..."
"Aku nggak sengaja..."
"Aku benar-benar nggak sengaja..."
Lea mulai mondar-mandir di depan ruang IGD.
Sesekali ia menatap pintu yang tertutup rapat.
Lalu kembali berjalan.
Kemudian berhenti.
Lalu berjalan lagi.
"Kak... gimana kalau dia kenapa-kenapa?" tanyanya dengan suara bergetar.
Kevin menatap Lea.
"Jangan berpikir yang buruk dulu."
"Tapi aku nabrak dia, Kak..."
"Kita berdoa saja, semoga dia baik-baik saja."
Lea menundukkan kepalanya.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Kevin menghela napas pelan lalu menepuk bahu adiknya.
"Tenang. Kita tunggu dokter keluar dulu."
Lea menggigit bibirnya dan mengangguk pelan.
Meski berusaha tenang, jemarinya masih gemetar.
—
Alesha perlahan membuka matanya.
Alesha mengerjapkan mata beberapa kali.
Pandangannya masih sedikit buram saat menatap langit-langit ruangan yang terasa asing baginya.
Ia mengerjap beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih berantakan.
Kepalanya terasa pusing.
Tubuhnya juga terasa lemas.
Alesha menatap sekeliling ruangan dengan bingung, tempat ini terasa asing baginya.
"Kamu sudah bangun?"
Suara seorang wanita membuat Alesha menoleh ke samping.
Terlihat seorang wanita sedang duduk tidak jauh darinya. Wajah wanita itu dipenuhi rasa khawatir.
"K-kamu siapa?" tanyanya pelan.
Wanita itu langsung berdiri.
Begitu melihat Alesha membuka mata, bahu Lea seolah langsung mengendur.
"Kenalin, aku Lea. Aku yang nabrak kamu... Maaf, aku nggak sengaja..." ucap Lea sambil langsung memohon maaf pada Alesha.
Alesha mengernyit pelan.
"Nabrak?" ulangnya.
Beberapa detik kemudian, potongan-potongan kejadian beberapa jam yang lalu mulai kembali memenuhi ingatannya.
"Iya, aku nabrak kamu." Lea menundukkan kepala dengan rasa bersalah. "Maafkan aku. Aku janji aku akan bertanggung jawab," ucap Lea dengan sungguh-sungguh.
Tatapannya penuh penyesalan.
Alesha menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, aku juga yang salah. Aku nggak konsen bawa motor," jawabnya lirih.
Lea semakin merasa bersalah mendengarnya.
"Meski begitu, aku tetap harus bertanggung jawab."
Lea segera membuka tasnya lalu mengeluarkan sejumlah uang.
"Ini untuk biaya pengobatan dan kebutuhan kamu selama beberapa hari ke depan."
Alesha langsung menggeleng.
"Nggak perlu."
Lea terkejut.
"Kenapa nggak perlu?"
"Aku nggak apa-apa."
"Tapi kamu masuk rumah sakit karena aku."
Lea tetap menyodorkan uang itu.
"Tolong diterima."
Alesha kembali menggeleng.
"Tidak perlu, aku hanya luka ringan."
Lea menghela napas berat.
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Pikirannya terus bekerja.
Wanita di hadapannya menolak uang.
Tidak marah, bahkan tidak menyalahkannya.
Sikap Alesha malah membuat Lea semakin merasa bersalah.
Biasanya orang akan menuntut atau setidaknya memintanya mengganti kerugian.
Namun wanita yang ada di depannya ini berbeda.
Lea menatap wanita itu beberapa saat.
"Kamu aneh."
Alesha mengernyit bingung.
"Aneh?"
Lea mengangguk.
"Iya. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku sudah marah-marah dari tadi."
Sudut bibir Alesha terangkat tipis.
"Aku lagi nggak punya tenaga untuk marah."
Jawaban itu membuat Lea terdiam sesaat.
Lea merasa jawaban itu terdengar jauh lebih berat daripada yang diucapkan.
Lea lalu mengulurkan tangannya.
"Boleh aku tahu namamu?"
"Alesha."
Lea tersenyum kecil.
"Nama yang cantik."
Alesha hanya membalas dengan senyum tipis.
"Kamu kerja apa, Alesha?" tanya Lea.
"Aku driver online."
"Kamu kerja sebagai driver online?" tanya Lea.
Alesha mengangguk pelan.
"Iya."
Lea tampak kagum.
"Hebat juga, ya."
Alesha mengernyit bingung.
"Hebat apanya?"
"Nggak semua orang kuat kerja dari pagi sampai malam di jalan, kehujanan, kepanasan, macet, belum lagi harus ketemu berbagai macam pelanggan."
Alesha terdiam.
"Menurutku pekerjaan itu nggak mudah. Justru aku salut sama orang-orang yang mau bekerja keras seperti kamu," lanjut Lea.
Alesha tersenyum tipis.
"Aku cuma cari nafkah, kok."
"Tetap saja," balas Lea. "Kerja keras itu layak dihargai."
Krek!
Pintu ruangan terbuka perlahan, membuat Alesha dan Lea menoleh.
"Kak Kevin," ucap Lea.
Sementara Alesha hanya diam.
Kevin melangkah menghampiri.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya sambil melirik Alesha sekilas.
"Alhamdulillah, luka Alesha nggak ada yang serius, Kak," jawab Lea.
"Alesha..." batin Kevin sambil menatap wanita itu. Entah kenapa, namanya terasa tidak asing.
"Nama kamu Alesha?" tanya Kevin.
Alesha mengangguk pelan.
"Iya."
"Kenapa, Kak? Kakak kenal dia?" sahut Lea.
Kevin mengangguk.
"Iya," jawabnya singkat.
Alesha mengerutkan kening. Ia merasa tidak pernah mengenal pria itu.
"Kamu alumni Universitas Global Solvaro, kan?" ucap Kevin.
"Iya," jawab Alesha. "Kita saling kenal?"
"Tidak, tapi saya tahu kamu," jawab Kevin.
Alesha berusaha mengingat, namun tetap tidak menemukan sosok Kevin dalam ingatannya.
"Tidak usah dipikirkan. Oh ya, sekarang kamu kerja di mana?" tanya Kevin.
"Driver online," jawab Alesha.
"Driver online?" ulang Kevin.
Alesha mengangguk.
"Bukannya aku merendahkan pekerjaan itu, tapi kamu lulusan terbaik di kampus waktu itu. Kamu bisa bekerja di sebuah perusahaan," jelas Kevin.
Lea langsung menoleh tidak percaya.
"Tunggu dulu, Sha... kamu lulusan terbaik?"
Alesha terlihat canggung.
"Itu sudah lama."
"Ya ampun, berarti kamu pintar banget."
Alesha hanya tersenyum tipis.
Dulu Alesha pernah punya banyak rencana untuk masa depannya.
Namun satu per satu rencana itu hilang setelah ia menikah.
Sebelum menikah dengan Aldo, pria itu pernah menjanjikannya kehidupan yang layak tanpa harus bekerja. Katanya, cukup dia yang mencari nafkah dan Alesha tinggal di rumah.
Namun setelah menikah, janji itu seolah menghilang begitu saja.
"Aku sudah berusaha melamar ke sana kemari, tapi tidak ada yang menerimaku," jawab Alesha berbohong.
Kevin terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaan Lea? Kebetulan ada lowongan yang cocok untukmu," saran Kevin.
Lea langsung mengangguk setuju.
"Iya, Sha. Aku juga bukan menghina pekerjaanmu. Ini kesempatan buat kamu memulai hidup yang lebih baik."
Alesha terdiam.
Apa dirinya harus menerima tawaran itu?
Selama ini ia memang ingin bekerja sesuai dengan jurusan dan pendidikan yang pernah ia tempuh. Namun setelah menikah dengan Aldo, semua rencana itu perlahan menghilang begitu saja.
"Aku..." Alesha menggigit bibir bawahnya.
Lea langsung menggenggam tangannya.
"Sha, kali ini kamu nggak boleh menolak. Aku yakin kamu pasti bisa, meskipun harus memulainya dari bawah."
Alesha menatap Lea.
Wanita itu terlihat begitu tulus padanya.
Alesha menatap kartu nama itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah, aku mau."
Lea langsung tersenyum puas.
"Datanglah ke perusahaan kalau kondisi kamu sudah pulih," ujar Kevin sambil menyerahkan kartu nama kepada Alesha.
Alesha menerima kartu itu dengan hati-hati.
"Terima kasih."
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁