NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hantu Dari Masa Lalu

Sudah berlalu dua minggu lamanya sejak hari pertama Aldo melangkahkan kakinya masuk ke rumahku, bertemu dengan Papa dan Mama serta seluruh keluargaku. Dua minggu yang terasa indah bagaikan rangkaian mimpi yang nyata—penuh dengan kebahagiaan sederhana, kehangatan, dan kedekatan yang tak pernah aku sangka akan kurasakan sebelumnya.

Kami bertemu hampir setiap hari, meluangkan waktu bersama dengan cara‑cara yang sederhana namun berkesan. Kadang kami hanya duduk berdua di sudut kafe Senjakala sambil menyeruput teh dan kopi kesukaan kami. Ada kalanya aku ikut bersamanya ke kampus, menjadi pendamping dadakan saat ia mengajar—aku hanya duduk diam di kursi paling belakang ruang kelas, tenggelam dalam halaman‑halaman novel, namun sesekali tersenyum sendiri saat melihat wajahnya yang serius menjelaskan materi tentang psikologi kriminal dengan penuh semangat. Tak jarang pula kami hanya duduk berdua di bangku taman kampus, diam dalam keheningan yang nyaman, berbagi satu pasang penyuara telinga untuk mendengarkan lagu‑lagu lembut yang kami sukai bersama.

Hubungan Aldo dengan keluargaku pun tumbuh makin erat seiring berjalannya waktu. Mama kini sudah sangat akrab dengannya; tak jarang Mama menelepon Aldo duluan tanpa sepengetahuanku, sekadar menanyakan kabar, menawarkan makanan buatan sendiri, atau langsung mengundangnya untuk makan malam bersama. Papa yang awalnya bersikap dingin dan penuh penilaian, perlahan mulai membuka hati. Aku masih ingat jelas bagaimana aku pernah melihat mereka duduk berdua di teras rumah, berbincang panjang lebar mengenai politik dan ekonomi negara sambil menikmati kopi hitam pekat yang rasanya terlalu pahit untuk pernah aku coba.

Adikku Dinda, yang dulunya selalu curiga dan penuh selidik, kini sudah terbiasa memanggilnya dengan sapaan akrab “Kak Aldo”, bahkan sering meminta bantuannya untuk menjelaskan pelajaran psikologi yang sulit dimengerti di sekolah. Sedangkan Rangga? Baginya, Aldo sudah bukan lagi sekadar kenalan, melainkan kakak yang paling hebat—mereka saling bertukar identitas permainan Mobile Legends, dan tak jarang bermain bersama sampai larut malam tanpa ingat waktu.

Sementara itu, sosok Reza seolah lenyap ditelan bumi. Ia tak pernah muncul lagi sejak kejadian buruk di depan kosanku tempo hari. Tak ada telepon yang masuk, tak ada pesan singkat, sama sekali tak ada kabar apa pun. Menurut Aldo, kakaknya itu mungkin sedang sibuk “merenungi diri”, atau barangkali sedang mencari kesenangan dan pelarian di tempat lain agar tak terlalu memikirkan nasibnya. Aku memilih untuk tidak terlalu memikirkannya; ada terlalu banyak kebahagiaan nyata di hadapanku, sayang jika harus kuganggu dengan hal‑hal yang sudah berlalu.

Namun, seperti kata pepatah tua yang sering kudengar: di balik langit yang paling cerah sekalipun, selalu bersembunyi badai yang siap datang kapan saja.

Segalanya bermula dari sebuah pesan singkat yang masuk di sore hari hari Rabu, saat aku sedang asyik tenggelam dalam bacaan novel di kamar kos yang hening.

Pesan masuk dari Aldo:

“Tari, kita bertemu jam lima sore di kafe Senjakala ya. Ada hal yang perlu aku ceritakan padamu.”

Tak ada senyum, tak ada gurauan ringan seperti kebiasaannya. Hanya kalimat yang berakhir dengan titik‑titik yang terasa dingin dan berat, seketika membuat detak jantungku berpacu kencang karena firasat yang tak enak.

“Ada apa, Aldo? Kok terdengar begitu serius sekali?” balasku secepatnya.

Di layar muncul tanda tiga titik—tanda ia sedang mengetik—lalu hilang. Muncul lagi, lalu hilang lagi, berulang kali seolah ia bingung memilih kata yang tepat.

“Nanti saja kita bicaranya di kafe ya. Kamu tak perlu terlalu khawatir, sungguh. Tidak ada hal yang terlalu serius kok.”

Aku menghela napas panjang. Hatiku berkata sebaliknya—Aldo jelas sedang menyembunyikan sesuatu, atau setidaknya belum bicara sepenuhnya apa adanya. Namun aku tak ingin memaksanya bercerita lewat pesan. Lebih baik aku datang, duduk di hadapannya, dan mendengar sendiri apa yang ingin ia sampaikan.

***

Tepat pukul empat lema lima puluh lima menit, aku sudah duduk menunggu di meja sudut kafe Senjakala. Gerimis halus mulai turun membasahi kaca jendela, menciptakan garis‑garis air yang berjatuhan perlahan.

Rendra, pemilik kafe yang rambut keritingnya kini tampak makin panjang terurai dibandingkan saat terakhir kami bertemu, mendekat sambil tersenyum ramah dari balik meja kasir.

“Selamat sore, Mbak Tari. Aldo belum datang ya?” sapanya akrab.

“Belum, Mas. Sebentar lagi mungkin sampai,” jawabku santai.

Rendra mengangguk mengerti, lalu kembali sibuk meracik minuman untuk pelanggan lain yang baru datang. Aku memesan teh chamomile seperti biasa, lalu menyesapnya perlahan, berusaha menenangkan kegelisahan yang mulai tumbuh di dada. Mataku tak lepas memandangi pintu masuk kafe.

Tak lama kemudian, pintu kaca itu terbuka lebar.

Aldo melangkah masuk—namun ia tidak datang sendirian.

Di belakangnya, mengikuti dengan langkah yang tampak ragu‑ragu, ada seorang wanita muda. Usianya kira‑kira sebaya denganku, atau mungkin sedikit lebih tua. Rambutnya panjang sebahu yang terurai indah, wajahnya berbentuk lonjong dengan raut cantik yang diperindah riasan rapi, serta tubuh yang tinggi tegap berbalut gaun panjang berwarna hijau daun. Di bahunya tersampir tas selempang berwarna coklat tua. Namun yang paling menarik perhatianku adalah matanya—sepasang mata berwarna coklat tua yang tajam—yang sejak pintu terbuka, langsung menatap tepat ke arahku tanpa berkedip.

Jantungku seakan berhenti berdetak sesaat. Siapakah wanita ini? Kenapa Aldo membawanya kemari? Dan mengapa wajah Aldo tampak begitu tegang dan pucat pasi?

Namun seketika aku teringat kembali cerita yang pernah Aldo sampaikan padaku, tepat di tempat yang sama ini, dua minggu yang lalu.

“Dulu… aku pernah punya kekasih. Namanya Clarissa. Kami berpacaran sekitar tiga bulan lamanya, saat aku masih menempuh pendidikan S2 di Bandung.”

Benar. Ini pasti dia. Clarissa. Mantan kekasih Aldo.

Aldo berjalan mendekati mejaku dengan langkah yang kaku, disusul Clarissa yang berjalan tepat di belakangnya. Wajah Aldo tampak pucat tanpa warna, bibirnya terkatup rapat, dan kedua tangannya—yang biasanya dengan santai memegang ponsel atau menggenggam tanganku—kali ini terkepal erat di dalam saku jaketnya.

“Tari…” sapanya, suaranya terdengar berat dan serak. “Izinkan aku memperkenalkan… ini Clarissa.”

Clarissa tersenyum tipis ke arahku—senyum yang hanya terlihat di bibir saja, namun tak sampai menyentuh matanya. “Halo, Tari. Aldo sudah sering sekali bercerita tentangmu padaku.”

Aku berusaha membalas dengan senyum yang ramah, meski ada rasa asing yang mengganjal di dalam dada. “Selamat datang, Clarissa. Aldo pun sudah bercerita banyak hal tentang dirimu kepadaku.”

Terlihat sekilas raut keterkejutan di wajah Clarissa—mungkin ia tak menyangka Aldo sedari awal sudah bersikap jujur padaku soal masa lalunya.

“Silakan duduklah,” kataku sambil menunjuk kursi kosong di hadapanku.

Clarissa duduk dengan sopan. Aldo pun duduk di sebelahku, tepat di tempatnya yang biasa—namun aku bisa merasakan bahunya yang tegang kaku, sama sekali tidak santai seperti biasanya.

Rendra kembali menghampiri meja kami dengan senyum akrabnya. “Ada yang mau dipesan?”

“Untukku satu cangkir kopi Americano tanpa gula,” ucap Aldo singkat.

“Aku pesan teh tarik manis ya,” sahut Clarissa lembut, matanya sempat menatapku sekilas lalu beralih kembali ke Aldo. “Kamu ternyata masih tetap suka Americano tanpa gula ya? Dulu saat kami masih berpacaran, pesananmu selalu seperti itu, tak pernah berubah.”

Aldo diam saja, tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya menundukkan pandangan, sementara jari‑jemarinya yang panjang mulai mengetuk‑ketuk permukaan meja dengan irama teratur: tik… tik… tik… seolah sedang berusaha keras menenangkan diri.

“Clarissa…” akhirnya Aldo membuka percakapan, nada bicaranya hati‑hati dan penuh kewaspadaan, “Bukankah kita sudah sepakat sejak lama untuk tidak saling mengganggu urusan masing‑masing?”

“Aku ingat betul kesepakatan itu, Aldo. Tapi masalah ini sungguh terlalu penting untuk dibiarkan begitu saja,” jawab Clarissa tenang. Ia lalu merogoh isi tas selempangnya, mengeluarkan sebuah amplop kertas berwarna coklat yang terasa agak tebal, dengan segel lilin merah yang masih utuh menempel di bagian belakangnya. Perlahan amplop itu diletakkannya di atas meja, persis di hadapan Aldo.

“Aku sedang mengandung,” ucapnya dengan nada datar, tanpa emosi berlebih. “Usia kandunganku baru sekitar empat minggu. Dan ayah dari anak ini… adalah kamu, Aldo.”

Seluruh ruangan di sekelilingku seakan berputar perlahan.

Bukan karena aku tak tahu siapa Clarissa—Aldo sudah menceritakan segalanya sejak awal. Bukan pula karena aku merasa dikhianati—Aldo selalu bersikap jujur dan terbuka padaku. Melainkan karena pernyataan yang baru saja ia ucapkan itu… sama sekali tidak masuk akal.

Aldo pernah menjelaskan dengan jelas: hubungan mereka sudah putus lebih dari satu tahun yang lalu, dan sejak saat itu mereka tak pernah lagi saling berhubungan atau bertemu.

Lalu bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

“Apa yang kamu katakan?” seru Aldo sambil berdiri terhenyak hingga kursi di bawahnya hampir terbalik jatuh ke lantai. Wajahnya yang tadinya pucat kini menjadi benar‑benar putih pucat tanpa sedikit pun warna darah. “Ulangi sekali lagi, Clarissa.”

Clarissa tetap duduk diam tanpa bergeming. Ia menatap Aldo dengan pandangan yang sulit kutafsirkan—ada sedikit kemenangan, ada pula kesedihan yang samar; ada ketulusan, namun terselip pula tanda‑tanda kebohongan.

“Aku mengandung anakmu, Aldo. Empat minggu usianya. Dan kamu ayahnya,” ucapnya sekali lagi dengan tegas.

“Aku?” nada suara Aldo makin meninggi, hingga beberapa pengunjung lain di kafe menoleh melihat ke arah kami. “Clarissa, kita sudah lama tak saling berhubungan—bahkan tak pernah berjumpa—selama lebih dari satu tahun lamanya!”

“Aku tahu hal itu. Tapi anak ini hasil pertemuan terakhir kita, sesaat sebelum kita memutuskan berpisah,” bantahnya tenang.

Aldo terdiam sejenak, seolah sedang berhitung cepat di dalam kepalanya. Pertemuan terakhir mereka… satu tahun tiga bulan yang lalu. Jika benar kehamilan ini berasal dari masa itu, maka anak itu sekarang seharusnya sudah berusia sekurang‑kurangnya empat bulan, bahkan mungkin sudah lahir ke dunia.

“Clarissa…” nada suara Aldo berubah menjadi lebih rendah namun penuh ketegasan, terasa dingin seperti udara hujan di luar. “Kita berpisah tepat satu tahun dan tiga bulan yang lalu. Jika benar kamu mengandung anakku sejak saat itu, anak itu seharusnya sudah besar, bahkan mungkin sudah lahir ke dunia. Tapi kamu baru saja bilang usia kandunganmu baru empat minggu?”

Clarissa terdiam seribu bahasa. Sedikit saja raut wajahnya berubah—tampaknya ia tak menyangka Aldo akan meneliti hal itu sedemikian cepatnya.

“Kamu berbohong, Clarissa,” ucap Aldo pelan namun tegas.

Clarissa tetap diam. Ia hanya menundukkan pandangan, jari‑jemarinya tampak gemetar sedikit saat meremas ujung gaun panjangnya.

“Clarissa…” aku memanggilnya lembut. Suaraku terdengar tenang, entah mengapa aku sama sekali tak merasa marah atau takut. Mungkin karena aku sungguh percaya pada Aldo. Mungkin karena aku tahu kejujuran selalu memiliki cara sendiri untuk terungkap.

Clarissa mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sudah mulai basah berisi air mata yang siap jatuh.

“Kenapa kamu melakukan hal seperti ini?” tanyaku pelan.

Ia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga, berusaha menahan tangis. Hingga akhirnya air mata itu jatuh juga membasahi pipinya.

“Aku… aku sebenarnya tak punya jalan lain lagi,” jawabnya bergetar.

“Setiap orang selalu punya pilihan, Clarissa. Tak ada manusia yang benar‑benar tak punya jalan keluar,” sahutku lembut namun tegas.

Clarissa mulai terisak halus. Tangannya yang gemetar membuka amplop coklat itu, lalu mengeluarkan isinya: selembar foto hasil pemeriksaan USG, tertulis jelas nama “Clarissa Nathania” di sudut kertasnya, serta keterangan tertulis: “Usia kandungan: 4 minggu”.

“Reza…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. “Reza yang menyuruhku melakukan semua ini.”

Aku dan Aldo saling berpandangan dengan kaget.

“Reza?” ulangku untuk memastikan.

Clarissa mengangguk cepat, air matanya makin deras mengalir. “Tiga minggu yang lalu, Reza datang sendiri ke tempat tinggalku. Dia tahu aku masih menyimpan perasaan padamu, Aldo. Dia tahu aku masih sering melihat‑lihat foto kenangan kita dulu. Dia berjanji… jika aku mau membantunya merencanakan hal ini, dia akan mengangkat namaku, membuatku terkenal dan sukses. Dia punya banyak kenalan, dia punya uang, dia punya segalanya yang kubutuhkan saat ini.”

“Lalu kamu setuju mengikuti rencananya?” tanya Aldo dengan suara yang berat dan pilu.

“Aku bodoh, Aldo… aku tahu aku salah,” tangisnya makin menjadi. “Tapi aku sedang putus asa sekali. Karierku sebagai penyiar dan pembuat konten makin menurun. Penghasilanku tak menentu. Aku butuh uang… aku butuh…”

Kalimatnya terhenti tak bersambung. Ia tak sanggup lagi melanjutkan kata‑katanya, hanya bisa menangis terisak di atas meja yang penuh tatapan orang‑orang di sekitar kami.

Aku menatap wajah Aldo. Masih tampak pucat, namun di matanya tak ada sedikit pun tanda kemarahan yang membara. Yang ada hanyalah rasa iba yang mendalam.

“Aku minta maaf…” rintih Clarissa. “Aku sungguh‑sungguh minta maaf padamu, Aldo… dan padamu juga, Tari. Aku tak seharusnya… tak seharusnya menjadi alat orang lain untuk menyakiti kalian berdua.”

Aldo diam sejenak, lalu perlahan kembali duduk di sampingku. Ia menggenggam tanganku erat sekali—seolah ingin memastikan bahwa aku tetap ada di sisinya.

“Clarissa…” suaraku memecah keheningan, “Apakah kamu benar‑benar sedang mengandung anak?”

Clarissa mengangguk lembut sambil tetap menunduk. “Benar… aku memang hamil. Tapi… ayah dari anak ini sama sekali bukan Aldo.”

“Kalau begitu, siapa ayahnya?”

Ia mengangkat wajahnya kembali. Matanya merah dan bengkak karena tangis.

“Reza.”

Aku menghela napas panjang, seakan seluruh beban berat tadi ikut keluar bersamaan dengan hembusan napasku. Rasanya kepala sedikit berputar, namun bukan karena kecewa—melainkan karena keterkejutan mengetahui betapa rendahnya cara Reza bertindak.

Reza yang mempermainkan hati Clarissa. Reza yang memanfaatkan kehamilan wanita itu hanya untuk merencanakan kebohongan yang dapat menghancurkan kehidupan adik kandungnya sendiri.

“Aldo…” panggilku pelan.

“Iya, Tari?”

“Bagaimana rencanamu selanjutnya? Apa yang akan kamu lakukan?”

Aldo menatap lekat wajah Clarissa yang masih menangis.

“Clarissa, kamu harus berani berkata jujur pada Reza. Kamu pun harus bicara terus terang pada keluarga kami. Kamu tak bisa terus hidup dalam bayang‑bayang kebohongan ini selamanya,” ucap Aldo tegas namun lembut.

“Tapi aku takut…” cicitnya.

“Tak ada kata ‘tapi’ lagi untuk saat ini,” potong Aldo dengan nada yang mantap. “Reza harus tahu segalanya. Keluarga kami pun berhak tahu kebenaran. Berhentilah menjadi alat yang dipermainkan orang lain, Clarissa. Bangkitlah dan tentukan nasibmu sendiri.”

Clarissa terdiam lama, lalu perlahan mengangguk tanda setuju.

“Baiklah… aku akan bicara padanya. Aku akan berani berkata jujur.”

Aldo menghela napas lega. “Itu baru langkah yang benar. Dan ingatlah… jika kamu butuh bantuan atau perlindungan, jangan ragu menghubungi aku. Aku tetap akan menolongmu demi masa lalu kita yang pernah indah.”

Clarissa perlahan berdiri, menyeka sisa air mata di pipinya. Ia sempat menatapku sekilas, mulutnya bergerak seakan ingin berkata sesuatu, namun tak ada suara yang keluar. Akhirnya ia hanya berjalan pelan menuju pintu keluar, meninggalkan amplop coklat beserta foto USG yang kini terbentang jelas di atas meja.

Aku menoleh menatap Aldo lekat‑lekat.

“Kamu sungguh berhati sangat mulia, Aldo.”

Aldo hanya tersenyum tipis—senyum yang terasa rapuh namun tulus. “Bukan karena aku orang baik, Tari. Aku hanya… merasa kasihan padanya. Dulu Clarissa bukanlah wanita seperti ini. Ia pernah ceria, jujur, dan penuh harapan. Namun ambisi dan kesulitan hidup perlahan mengubahnya menjadi begini.”

“Aldo…”

“Tari…” Aldo membalas tatapanku dengan pandangan yang teduh dan penuh ketenangan. “Terima kasih. Terima kasih karena tak pernah mencurigai sedikit pun kejujuranku. Terima kasih karena percaya padaku sepenuh hati.”

Aku segera meraih tangannya, menggenggamnya seerat hati. “Kamu selalu terbuka dan jujur sejak hari pertama kita berkenalan, Aldo. Lalu untuk apa aku harus marah atau ragu padamu?”

Aldo tersenyum lebih lebar kali ini—senyum lega yang membuat seluruh kegelisahan di dadaku perlahan hilang berganti rasa hangat yang menenangkan.

“Aku sangat menyayangimu, Tari. Lebih dari apa pun di dunia ini.”

Aku membalas senyumnya dengan bahagia. “Dan aku pun sama… aku sangat menyayangimu, Aldo.”

Di luar sana, gerimis masih turun perlahan membasahi jalanan kota. Namun di dalam hatiku, di dalam kehangatan genggaman tangan Aldo, tak ada lagi rasa dingin atau ketakutan yang tersisa. Segalanya terasa begitu jelas, begitu nyata, dan begitu indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!