NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

"Tuan muda."

Suara itu terdengar formal dan sopan, namun tegas. Seorang pria bersetelan jas hitam rapi melangkah masuk ke ruangan dengan membawa sebuah map hitam di tangannya. Dia menyerahkannya langsung kepada Kaiden, kemudian membungkuk ringan sebagai tanda hormat, sebelum berbalik dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Langkah kakinya menghilang perlahan di balik pintu yang menutup pelan, menyisakan keheningan eksklusif di dalam ruangan.

Kaiden menerima map itu dengan satu tangan, matanya masih menatap lurus ke depan, seolah sudah menduga apa isi di dalamnya. Suasana di ruangan itu tenang, namun dipenuhi aura kekuasaan yang dingin dan tak terbantahkan. Dinding kaca besar membentang dari lantai hingga langit-langit, memperlihatkan pemandangan gemerlap ibu kota di malam hari. Kota metropolitan yang tidak pernah tidur, penuh dengan ambisi dan rahasia.

Tangannya perlahan membuka map itu. Beberapa lembar kertas ditarik keluar dan diletakkan di meja marmer hitam. Di bagian paling atas, sebuah foto menampilkan seorang gadis muda dengan senyum hangat dan mata berbinar. Gadis yang baru saja ia temui.

Diam-diam, Kaiden menatap wajah di foto itu lebih lama dari yang seharusnya. Jemarinya menyentuh tepi foto, namun tidak sampai menyentuh wajahnya. Lalu dia menaruh foto itu di atas meja, menatap informasi yang tertulis di lembar-lembar selanjutnya.

Nama: Alma Romilly Morrison.

Usia: 17 tahun.

Status: Putri tunggal dari keluarga Morrison.

Latar belakang: Tertutup. Aktivitas publik minimal. Identitas sering disembunyikan.

Catatan khusus: Menolak fasilitas istimewa. Menyembunyikan status keluarga di Athena. Tidak memiliki catatan negatif.

Alis Kaiden terangkat sedikit. Halaman demi halaman dia baca tanpa suara, namun sorot matanya menunjukkan perubahan yang tak terbantahkan. Matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, kini sedikit menyipit. bukan karena curiga, tapi karena bingung.

Sosok gadis itu... berbeda.

Ia bangkit perlahan, mengambil gelas kristal berisi vodka yang sejak tadi dibiarkan mencair bersama bongkahan es. Dengan langkah tenang, ia berjalan menuju jendela kaca besar. Dari ketinggian lantai 63 Sky Castle, gedung pencakar langit miliknya yang berfungsi sebagai klub malam elit dan kasino pribadi. Ia memandangi lampu-lampu kota yang berkelip bagaikan bintang di daratan.

Langit gelap, namun pikirannya jauh lebih dalam dari kegelapan di luar sana.

Alma.

Gadis itu bukan seperti yang ia bayangkan. Awalnya Kaiden mengira dia hanya satu dari sekian banyak gadis 'berdarah biru' yang mengenalnya dan mencoba mendekat demi nama besar Harrington. Manis di depan, licik di balik layar. Gaya hidup mewah, ego tinggi, dan penuh kepalsuan.

Namun kenyataannya...

dia salah besar.

Alma berbeda. Sederhana. Elegan. Tidak memamerkan siapa dirinya, padahal dia bisa saja mengangkat dagu dan membuat semua orang berlutut dengan satu kalimat.

Tapi dia tidak melakukannya. Bahkan saat berada di Athena, sekolah para keturunan elite, dia menanggalkan statusnya. Tidak ada mobil mewah, tidak ada pengawal pribadi. Tidak ada tuntutan atau sikap manja seperti Mereka, putri dari kolega ibunya yang menyebalkan itu.

"Kalau saja semua gadis sepertimu..." gumam Kaiden pelan, lebih seperti bicara pada bayangan dirinya sendiri di kaca.

"BRAK."

Suara pintu terbuka kasar menghentikan lamunannya. Tanpa perlu menoleh, Kaiden sudah tahu siapa pelakunya.

"Yo! Kemana saja kau seharian ini? Bahkan batang hidungmu tak terlihat di mana-mana," suara Calvin terdengar nyaring dan tidak punya rasa bersalah sama sekali karena masuk ke ruangan pribadi tanpa izin. Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan gerakan santai, bahkan melemparkan sepatunya, lalu menaikkan kakinya ke atas meja seperti di rumah sendiri.

"Tidak ada salam atau ketukan. Memang sopan santun itu mahal ya?" Kaiden menggerutu tanpa emosi sambil menyesap minumannya.

"Kalau itu masalahnya, pakai tag harga di pintu," Calvin menyeringai sambil meraih botol minuman di rak, menuangkan sendiri ke gelasnya. "Ngomong-ngomong, aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan perjodohan buatan Nyonya Caterina lagi, kan? Sabtu begini, Tante pasti sibuk menjajakanmu pada anak-anak kenalannya."

Kaiden tidak langsung menjawab. Hanya memutar gelasnya, membiarkan es di dalamnya berdenting pelan. "Tidak. Hanya urusan penting," jawabnya singkat.

"Urusan penting apanya. Apa foto calon istrimu sampai harus dibawa pakai map eksklusif begitu?" goda Calvin sambil mengedipkan mata. Tapi sorotnya langsung berubah penasaran saat melihat wajah Kaiden yang tidak seperti biasanya.

"Serius. Kau melihat apa, sih?"

Kaiden tidak menggubris pertanyaan itu. Sebaliknya, dia balik bertanya, "Dimana Leon?" Suasana jadi sedikit lebih berat saat nama itu disebut.

Calvin mendengus. "Kau benar-benar tidak tau? Jenderal Radcliffe kembali hari ini. Mana mungkin dia diizinkan berkeliaran, apalagi ke tempat seperti milikmu ini. Rumah sudah dijaga seperti benteng."

Kaiden mengangguk pelan. "Benar juga."

Kalau keluarga Harrington adalah puncak kekuasaan ekonomi, maka Radcliffe adalah singgasana militer dan politik. Dua keluarga yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun kecuali oleh takdir itu sendiri.

Calvin menyesap minumannya, lalu menunjuk foto di atas meja. "Siapa gadis ini?"

Kaiden menatap foto Alma, tapi tak mengatakan apapun.

🥀🥀🥀

Alma melangkah pelan memasuki rumah. Suara derit lembut pintu utama menyambut keheningan malam yang sudah menunjuk pukul delapan. Rasa letih menggerayangi tubuhnya, seolah semua energi terkuras habis sejak siang. Hari itu begitu panjang. Satu per satu beban di pundaknya menumpuk tanpa bisa ditolak. Begitu masuk, matanya langsung menangkap sosok Isabella yang sejak tadi duduk tenang di ruang keluarga, ditemani lampu temaram dan aroma lembut teh melati yang masih mengepul dari cangkir di meja.

"Alma..." panggil wanita itu pelan, penuh kehangatan. Tangan Isabella terulur, memberi isyarat agar Alma duduk di sampingnya. Ada kasih sayang yang tercurah dari gerakan kecil itu, semacam isyarat yang hanya bisa dibaca oleh seorang anak yang tumbuh dalam pelukan cinta.

"Lelah?" tanya Isabella sambil menatap wajah Alma yang tampak lesu.

Alma hanya mengangguk singkat. Ia tak butuh banyak kata. Letihnya terlalu nyata untuk bisa dijelaskan.

"Bagaimana keadaan Fero?" tanya Isabella lembut, tangannya bergerak mengusap pelan rambut panjang Alma yang hitam legam. Sentuhan itu terasa seperti sapuan angin tenang di tengah badai.

"Fero sudah siuman, keadaannya baik-baik saja sekarang," jawab Alma dengan suara pelan namun lega. Kekhawatiran yang sejak siang menghantuinya perlahan mereda. Setelah memastikan tak ada komplikasi lebih lanjut pada tubuh Fero, Alma memutuskan untuk menyuruh Ibu Hera dan anak-anak panti kembali ke rumah mereka. Meski awalnya mereka menolak karena tak tega meninggalkan Fero, Alma meyakinkan mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja. Demi ketenangan hati mereka juga. Ia pun tak pergi begitu saja. Seorang perawat dipanggil secara khusus untuk berjaga dan mendampingi Fero di rumah sakit hingga pulih.

Isabella tersenyum mendengar kabar itu. "Syukurlah. Tapi lain kali, kalau ada sesuatu yang mendesak, langsung hubungi Mamah, ya," ucapnya, menyelipkan nasihat ke dalam kalimat yang hangat.

"Iya, Mah. Maaf. Tadi aku cukup terkejut, jadi Tidak sempat berpikir jernih," jawab Alma, menyesal namun jujur.

"Mamah mengerti," balas Isabella, tak ingin memperpanjang. Tatapannya tetap teduh, mengerti betapa Alma sudah melalui banyak hal hari ini.

Alma sempat melirik sekeliling, menyadari suasana rumah yang lebih sepi dari biasanya. "Ngomong-ngomong, Ayah dan Kak Daniel belum pulang?" tanyanya kemudian.

"Ya, mereka masih di perusahaan," jawab Isabella santai. "Ada satu hal yang harus diurus, jadi mereka pulang agak terlambat hari ini."

Alma hanya mengangguk, tak ingin bertanya lebih lanjut. Dia tahu, urusan perusahaan kadang tak bisa diprediksi. Ada hal-hal yang tidak bisa ditunda, dan ayah serta kakaknya sudah terbiasa bergelut di dalamnya.

"Naiklah, istirahat. Mamah tahu kamu pasti lelah hari ini," kata Isabella, menatap putrinya dengan kelembutan yang tak pernah berubah.

Tanpa perlu diminta dua kali, Alma berdiri dan mencium pipi ibunya pelan. "Selamat malam, Ma." Ucapnya lirih, sebelum kemudian melangkah pelan menuju tangga. Setiap langkahnya terasa berat, namun juga ringan. Berat oleh rasa lelah, namun ringan oleh rasa lega.

🥀🥀🥀

Setelah membersihkan diri, Alma keluar dari kamar mandi dengan piyama sutra lembut yang membalut tubuhnya dengan anggun. Kain itu jatuh mengikuti lekuk tubuhnya, memantulkan cahaya temaram kamar yang hangat. Rambut panjangnya yang masih basah ia tepuk-tepuk perlahan dengan handuk, gerakannya pelan.

Langkah kakinya terarah ke meja belajar yang terletak di sisi jendela. Di sana, sebuah kotak pernak-pernik masih terbuka, memperlihatkan aneka manik-manik dan benang warna-warni. Beberapa gelang telah selesai ia rangkai dan disusun rapi di atas tatakan beludru kecil. Sementara sebagian lainnya masih berupa potongan-potongan kecil yang belum tersentuh.

Alma menarik kursi dan duduk perlahan. Ia mengambil satu untaian benang yang belum selesai dan mulai kembali merangkainya. Jemarinya yang lentik bergerak cekatan, meronce satu per satu manik menjadi pola yang indah. Dalam waktu kurang dari setengah jam, empat gelang baru telah rampung.

Ia menarik napas pelan, kemudian bersandar sejenak, meregangkan otot-otot di bahunya yang mulai terasa kaku. Helaan napasnya terdengar lirih di antara keheningan kamar.

Namun perhatiannya segera teralihkan.

Pandangan matanya jatuh pada sebuah kotak kado kecil di rak kedua meja belajarnya. Kotak itu berwarna merah muda dengan aksen biru muda di tepinya.

Dengan hati-hati, ia meraih kotak tersebut dan membuka tutupnya perlahan.

Di dalamnya, terbaring sebuah benda kecil pipih berwarna hitam. Alma menatapnya tanpa berkata apa-apa. Senyuman perlahan terbit di sudut bibirnya, bukan senyuman biasa. Melainkan senyum yang menyimpan seribu rahasia. Senyuman yang muncul dari sesuatu yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

Lalu, dengan gerakan pelan, ia menutup kembali kotak itu dan menaruhnya hati-hati di tempat semula, seolah benda kecil itu begitu berharga.

Jam di dinding berdentang pelan, menunjukkan pukul sembilan malam. Alma menoleh ke arah jendela besar bergaya Prancis yang tirainya belum ditutup. Dari balik kaca bening, malam tampak pekat, seperti menyembunyikan rahasia yang tak terucap.

Ia bangkit dari kursi, melangkah mendekati jendela, dan berdiri diam di sana. Tatapannya menembus gelap, menembus batas dunia luar yang hening. Angin malam seakan berbisik melalui celah kecil di antara jendela dan kusen. Tapi Alma hanya berdiri, memeluk kedua lengannya sendiri.

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!