"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 24
Suasana butik mendadak terasa canggung. Beberapa pegawai yang sejak tadi bercanda dengan Glenka langsung saling pandang begitu melihat kedatangan Ervin.
Sedangkan Dinda sendiri membeku di tempatnya. Jantungnya berdetak tidak nyaman.
Karena pria itu kembali datang dengan tatapan yang sama—tatapan penuh penyesalan yang perlahan terasa menyakitkan untuk dilihat.
“Mas...” lirih Dinda pelan. Namun Ervin tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada Glenka yang sedang berdiri kecil di atas sofa sambil berpegangan pada bahu Dinda.
Dan untuk beberapa detik—pria itu hanya diam. Sampai akhirnya sudut bibirnya terangkat kecil. “Dia lucu.” Kalimat sederhana itu, justru membuat suasana terasa semakin berat.
Sedangkan Glenka menatap Ervin dengan mata bulat polosnya. Bayi kecil itu terlihat bingung oleh kehadiran orang asing di hadapannya.
Raka yang sejak tadi berdiri di dekat meja pantry akhirnya melangkah mendekat.
“Lo nyari siapa?” tanyanya tenang.
Tatapan Ervin langsung beralih padanya. Dan entah kenapa—udara di ruangan terasa berubah dingin.
“Aku mau ngobrol sama istriku.”
Deg.
Kalimat itu sukses membuat semua orang terdiam sesaat. Sedangkan Dinda langsung menundukkan wajahnya pelan.
Karena sampai detik ini—status mereka memang belum berubah. Ia masih istri Ervin. Walaupun rumah tangga mereka sudah retak hampir sepenuhnya.
Raka sendiri terlihat santai, namun rahangnya mengeras samar.
“Di luar aja,” lanjut Ervin pelan tanpa mengalihkan tatapannya dari Dinda.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya pelan. Jujur, dirinya lelah berada di tengah situasi seperti ini.
Namun sebelum Dinda sempat menjawab, Glenka tiba-tiba memeluk lehernya erat sambil menyembunyikan wajah kecilnya, seolah merasa tidak nyaman.
“Eh...” Dinda langsung refleks mengusap punggung bayi tersebut pelan.
Sedangkan Ervin, tatapan pria itu berubah samar. Rasanya nyeri—sangat nyeri. Karena lagi-lagi, ia melihat Dinda begitu cocok berada di posisi itu. Menjadi tempat nyaman bagi seorang anak kecil.
Dan semua itu seharusnya bisa menjadi miliknya sejak dulu. Kalau saja ia tidak menghancurkan semuanya sendiri.
Akhirnya, Dinda tetap keluar menemui Ervin. Sedangkan Raka, memilih tetap di dalam butik bersama Glenka.
“Mas mau ngomong apa?” tanya Dinda pelan begitu mereka berdiri di area parkiran.
Ervin terlihat jauh lebih kurus dibanding beberapa minggu lalu. Wajahnya pucat, matanya juga tampak lelah. “Semalam aku nggak bisa tidur.”
“Aku kepikiran kamu terus, Din." Ervin mencoba untuk meraih tangan istrinya, sebelum wanita itu menciptakan jarak diantara mereka.
“Mas, aku nggak bisa... Maaf..." Dinda semakin beringsut mundur.
“Aku serius.” Suara pria itu terdengar putus asa. Dan entah kenapa—itu membuat dada Dinda terasa sesak.
“Aku pikir setelah semuanya kejadian, aku bakal bisa jalanin hidup kayak biasa,” lanjut Ervin sambil tertawa kecil hambar. “Ternyata enggak.”
Tatapannya turun sesaat, lalu kembali menatap Dinda lurus. “Rumah itu sepi banget tanpa kamu.”
Kalimat itu membuat napas Dinda terasa berat. Karena dulu—ia pernah merasa sendirian di rumah itu. Menunggu, berharap, dan perlahan hancur.
“Aku nyesel tiap hari, Din.” Ervin merasa tenggorokannya tercekat. Entah mengapa, ia benar-benar merasa sakit mengungkapkannya.
“Penyesalan nggak bisa ngubah semuanya, Mas.”
“Aku tahu.” Ervin mengangguk paham, dan jawaban itu terdengar sangat lirih. “Aku cuma...” pria itu mengusap wajahnya kasar. “Aku cuma pengen kesempatan.”
Dinda langsung memejamkan mata sesaat.
Kesempatan? Dulu ia sudah memberi banyak kesempatan. Namun semuanya justru berakhir semakin menyakitkan.
“Aku capek, Mas.” Suara wanita itu mulai bergetar. “Aku capek percaya terus.”
Dan kalimat itu berhasil membuat Ervin membeku. Karena untuk pertama kalinya—Dinda mengaku lelah di hadapannya.
Bukan marah, bukan membentak. Melainkan lelah. Dan ternyata—itu jauh lebih menghancurkan.
“Aku nggak minta kamu maafin sekarang,” bisik Ervin pelan. “Aku cuma nggak mau kehilangan kamu sepenuhnya.”
Air mata Dinda hampir jatuh saat itu juga.
Namun sebelum suasana semakin emosional—pintu butik tiba-tiba terbuka. Dan suara tangis Glenka langsung terdengar nyaring. “Maaaaa!”
Seketika kepala Dinda menoleh cepat. Raka terlihat keluar sambil menggendong putrinya yang menangis sambil mengulurkan tangan ke arah Dinda.
“Dia nyari lo,” ujar pria itu singkat.
Dan lagi-lagi—tanpa sadar Dinda langsung berjalan mendekat. Begitu masuk ke pelukannya, Glenka langsung diam sambil memeluk lehernya erat.
Sedangkan Ervin hanya bisa menatap semua itu dalam diam.
Sakit—sangat sakit.
Karena pemandangan tersebut terlihat begitu natural. Seolah Dinda memang ditakdirkan menjadi seorang ibu. Dan sekali lagi—Ervin sadar, ia telah menghancurkan masa depan mereka sendiri.
*****
Malam harinya, hujan turun cukup deras.
Sedangkan Dinda, duduk di ruang tamu rumah orang tuanya sambil melipat pakaian kecil milik Glenka yang tadi tidak sengaja tertinggal di mobil Raka.
Wanita itu bahkan tidak sadar sejak tadi dirinya tersenyum kecil sendiri.
“Seneng banget kayaknya.” Suara sang ibu membuat Dinda langsung tersentak.
“Ibuk bikin kaget aja.”
Ibunya terkekeh kecil sambil duduk di sebelahnya. “Itu bajunya siapa?”
“Punya Glenka.” Dinda terkekeh kecil mengingatnya. Baju berwarna pink soft itu terlihat sangat menggemaskan dan mungil.
“Anaknya Mas Raka?” tanya ibunya lagi.
“Iya.” Ibunya mengangguk pelan.
Lalu memperhatikan wajah putrinya cukup lama. “Kamu nyaman ya sama anak itu?”
Pertanyaan sederhana tersebut langsung membuat Dinda terdiam. Karena tanpa sadar—jawabannya memang iya. Sangat nyaman.
“Dia lucu aja, Buk.” Dinda kembali mengigit bibir bawahnya lantaran gemas ketika wajah lucu Glenka kembali teringat.
“Bukan karena lucu aja, kan?”
Deg.
Dinda langsung menundukkan wajahnya. Sedangkan ibunya tersenyum kecil penuh arti.
“Ibuk tahu wajah anak perempuan Ibuk sendiri.”
“Buk...” Dinda berusaha menghentikan.
“Kamu mulai hidup lagi sejak ada bayi itu.” Dan kalimat tersebut sukses membuat mata Dinda memanas. Karena ternyata—orang lain pun bisa melihat perubahan dirinya.
Perlahan, kekosongan yang selama ini ia rasakan memang mulai terisi. Walaupun bukan dengan cara yang pernah ia bayangkan.
“Dinda...” sang ibu mengusap lembut punggung tangan putrinya. “Nggak semua kehilangan datang buat ngancurin hidup kita.”
Air mata Dinda jatuh pelan. Karena untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulaiia merasa masih punya alasan untuk tersenyum lagi.
*****
Sedangkan di apartemen mewah milik Jenita—malam itu Ervin duduk sendirian di ruang tamu sambil menatap kosong layar televisi yang menyala tanpa suara.
Pikirannya penuh. Tentang Dinda, tentang Glenka. Dan tentang tatapan nyaman yang tadi ia lihat di wajah istrinya.
Sedangkan Jenita berdiri di ambang pintu sambil menggendong bayinya.
“Vin.”
Namun pria itu tidak menjawab. Tatapannya masih kosong. Sampai akhirnya Jenita berkata lirih—
“Kamu masih cinta banget ya sama dia?”
Pertanyaan itu membuat Ervin tertawa kecil hambar. Lalu dengan mata memerah, pria itu menjawab sangat pelan—
“Tentu. Dan aku nggak akan pernah berhenti.”